Hello, Mr Mafia!

Hello, Mr Mafia!
Episode 64


__ADS_3

Sebelum baca jangan lupa vote, like, dan beri komentar positif ya guys. Boleh mengeritik, asal jangan menyama-nyamai karyaku dengan yang lain. Aku cinta karyaku seperti aku cinta kalian. Jangan lupa selalu jaga kesehatan ya guys.


***


Dua pasang mata di depan Stella memandanginya dengan tatapan penuh selidik. Stella tak dapat lagi menyembunyikan apa yang ada. Mau tidak mau, dia harus mengakui jika dirinya adalah kekasih Judika. Tidak lebih tepatnya kekasih pura-pura, orang yang juga seharusnya menjadi bos besar mereka.


"Gue... Gue..." Stella menghela napas berat, menjatuhkan bahunya dan menatap pasrah kepada kedua teman barunya. "Ya! Gue pacar Judika."


"Eh buset." Ridwan mengebrak meja, nyaris membuat jantung Alisa lompat keluar.


"Lo kalau mau gebrak meja bilang-bilang, kenapa." Tidak terima dirinya hampir gagal jantung. Dengan keras, Alisa memukul kepala bagian belakang Ridwan. Agak keras, hingga membuat tapi yang lelaki itu gunakan jatuh terlepas.


"Kaget gue, Sa. Ini bocah ternyata bukan sembarang bocah, ya." Ridwan memungut topinya yang jatuh, dan kembali memakainya.


"Gue juga kaget. Tapi rasa kaget gue ambyar gara-gara elo, Paijo." Alisa mengedus sebal menatap Ridwan.


"Udah-udah dong, kalian jangan ribut." Stella kembali duduk. Menjambak rambutnya sendiri dengan kedua tangannya frustasi. "Sekarang bantuin gue dong, gimana caranya biar gue kesana cepat. Gak mungkin gue naik mobil kantor, sementara Jakarta macetnya melebihi India. Naik ojek, disini mana ada ojek yang mangkal." Bibirnya mengerucut frustasi.


"Naik motor si Ardy aja. Minjem. Tar gue yang anterin."


Mendengar penawaran Ridwan, seketika mata Stella berbinar cerah, dan bahagia. Dia segera bangkit dari duduknya lagi, namun dengkulnya sedikit mengenai meja. Menimbulkan suara yang membuat Alisa yang sedang minum kaget, nyaris tersendak.


"Lo berdua mending gelud ama gue, yuk." Meletakan es tehnya dan meraih tisu.


Melihat Alisa emosi, baik Stella maupun Ridwan hanya dapat nyengir kuda sambil menggaruk-garuk tengkuk lehernya.


"Maaf," katanya berdua bersamaan.


"Udah sana deh ke kantor pusat, daripada lo kelamaan." Alisa mengibas-gibaskan tangannya. Menyuruh kedua orang di depannya yang membuat moodnya sedikit memburuk untuk segera pergi. Bukan niat mengusir hanya khawatir, dan takut Stella kehabisan waktu dan tak dapat menyelamatkan Judika.


Sebelum keduanya benar-benar pergi dari sana, Ridwan melepaskan tas kameranya. Meletakan tas itu dengan hati-hati di atas meja. Alisa mengerutkan keningnya, melihat aktivitas Ridwan. Beberapa detik matanya menatap tas kamera itu sebelum akhirnya naik menatap Ridwan dengan tatapan galak penuh tanya.


"Tolongin ya, neng." Menepuk-nepuk dengan lembut tas kameranya. "Bawain tas gue ke dalam. Alisa baik dah, cakep pula." Berjalan mundur berlahan-lahan dan langsung kabur meninggalkan kantin.

__ADS_1


"Emang temen gak ada otak. Udah bikin kaget, nyusahin juga lagi." Alisa berdiri dan berkacak pinggang. Memaki-maki Ridwan yang sudah ngacir mencari keberadaan Ardy.


"Gue pergi dulu ya, Sa."


Kepala Alisa menoleh. Ah, dia baru menyadari jika Stella masih tinggal disana.


"Iya. Lo hati-hati, ya. Kalau ada apa-apa hubungi gue." Alisa meraih tangan Stella. Mengusap dengan lembut punggung tangan mulus itu.


"Iya. Pasti. Makasih, ya."


Alisa tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


****


"Stel, lo tau gimana caranya masuk ke kantor pusat?" Ridwan berteriak kepada Stella, sambil terus fokus mengendarai motor metik milik Ardy.


"Kan tinggal masuk, kak. Emang ada peraturannya?" Stella sedikit melonggarkan helm yang ia pakai. Mencoba mendengarkan ucapan dari Ridwan.


Mendengar ucapan Ridwan, Stella sedikit agak terkejut. Pasalnya dia memang baru tau jika kantor pusat memiliki sistem semacam itu. Tidak sembarang orang yang boleh masuk ke dalam gedung. Hanya orang-orang yang memiliki kartu khusus yang di perbolehkan masuk ke dalam gedung itu. Namun, bukan Stella namanya yang langsung putus asa dan pasrah dengan keadaan.


"Udah kak, kita nyampe aja dulu deh baru mikirin gimana caranya masuk ke sana."


"Yaudah. Pegangan, gue mau ngebut nih. Jangan sampe lo terbang gara-gara ga pegang." Stella menuruti perkataan Ridwan. Di eratkannya pegangan dia di jaket Boomber Ridwan, dan Ridwan pun segera menambahkan kecepatan motor metik yang di beli Ardy tiga tahun lalu itu.


Motor berplat T itu meliuk-liuk dengan lincahnya, menerobos macetnya jalanan ibukota. Sang pengendaranya pun begitu pandai mencari jalan alternatif supaya mereka sampai di gedung pusat tepat waktu.


Dan, benar saja motor metik berwarna merah itu tiba di sebuah gedung besar, luas, dengan bentuk kubus yang di pagari oleh kaca-kaca besar super tinggi. Hampir semua gedung berlogo H yang di bangun besar tepat di tengah-tengah halaman itu berwarna biru tua dan abu-abu.


Stella langsung menghambur turun, saat motor itu berhenti. Ia segera berlari tanpa memperdulikan Ridwan yang terlihat binggung mencari area parkir motor. Pasalnya jauh mata memandang, sama sekali Ridwan tak nampak ada kendaraan yang lewat di halaman kantor, motor milik Ardy lah satu-satunya kendaraan yang berada di sana. Di terlihat binggung. Garuk-garuk kepala limbung, dengan keberadaannya sendiri.


"Lah gimana ceritanya ini? Tempat parkir segala gak ada. Apa karyawan disini gak ada yang pada bawa kendaraan apa, ya?"


Tak memperdulikan Ridwan yang tengah kebingungan mencari tempat parkir. Stella berlari dengan tergesa-gesa menghampiri pintu masuk otomatis gedung Hartanto. Dia terus berlari hingga tiba di ambang pintu. Saat kakinya hendak melangkah masuk, tiba-tiba dua orang berbadan besar berpakaian serba hitam layaknya satpam di rumah Judika menghadap. Membawa tongkat yang entah sampai sekarang dia sendiri binggung fungsi untuk apa masing-masing satu di tangan mereka.

__ADS_1


Nyaris saja dia terpental dan jatuh tersungkur tanah, karena mencoba menghentikan laju larinya mendadak.


"Mana kartu masuknya?" Salah satu dari mereka meminta kartu khusus kantor pusat sambil menggoyang-goyangkan tangannya.


"Pak, saya ini Stella. Stella Sasmita. Pacarnya Judika..." Stella menggelengkan kepala cepat. "Maksudnya pak Judika. Saya mau masuk ketemu sama dia, boleh ya?" Stella langsung saja berjalan menerobos blokade yang di lakukan oleh kedua lelaki yang Stella yakini sebagai security keamanan.


"Tidak bisa." Kedua lelaki itu dengan kasar menarik tangan Stella dan menghempaskan keluar dari kantor pusat. "Jangan mengaku-ngaku jika anda itu mengenal atau bahkan kekasih dari pak Judika."


"Ih... Saya memang pacarnya Judika." Meskipun hanya pura-pura. Lanjutkan dalam hati. "Kalau Kalian gak percaya tanya aja sana sama Pak Judika."


"Alah kami banyak kerjaan. Tidak ada waktu untuk mendengarkan kehaluan mu itu."


Mata Stella mendelikkan kesal. Ia berdecak sebal dengan ucapan yang dikeluarkan dari mulut kedua security tersebut.


Tak peduli dengan perilaku kasar kedua security itu. Kembali Stella menerobos masuk ke dalam kantor Hartanto Grup. Mendorong kedua tangan besar milik lelaki itu yang begitu kuat menghalangi jalannya.


"Minggir, ih. Saya mau masuk." Stella terus mendorong-dorong dua tangan milik security itu sekuat tenaganya. Sambil dengan keras memukul dan menjengut-jengut rambutnya kedua security tersebut, hingga keduanya mati-matian menahan pedih di kepala mereka.


"Izinkan saya masuk, pak satpam." Teriak Stella terus menjengut-jengut kedua rambut security itu.


"Kau benar-benar tidak waras, nona. Lepaskan kami." Tak ingin mengalah juga, kedua security itu berusaha melawan dan melepaskan jengutan keras dan perih dari Stella.


Saat Stella masih terus berusaha menerobos masuk ke dalam gedung. Sebuah Audi berhenti tepat di depan lobi. Tak beberapa lama, Jones keluar dari sana. Berlari kecil mendekati kursi penumpang, dan sigap membukakan pintu kursi penumpang belakang.


Stella yang menyadari akan kedatangan mobil tersebut menghentikan aksinya menarik-narik rambut dua security itu dan melepaskannya. Kepalanya menoleh mencoba melihat siapa yang baru saja tiba di sana.


Saat kepalanya menoleh, sebuah tatapan mata tajam bak seekor burung elang menyambut. Mengunci pandangan begitu lekat kepada Stella dengan raut wajah datar sedatar-datarnya. Stella tertegun, refleks memundurkan tubuhnya sampai tak sengaja mendorong kedua security yang sedang mengelus-elus kepalanya yang terasa pedih akibat jambakan Stella.


Sebuah tubuh kekar milik Reza yang berbalut setelan jas dan kemeja tanpa dasi berjalan mendekatinya. Berlahan dengan seorang asisten setia berwajah tak kalah tampan darinya di belakang. Reza mengentikan langkah kakinya, tepat di depan wajah Stella yang terlihat terguncang melihat kedatangan. Sesaat Reza menatap Stella nanar, dari ujung kaki hingga kepada sebelum kemudian membuang pandangannya dan menatap kedua security di belakang Stella yang berdiri tegap dengan kepala yang menunduk dalam tak berani menatapnya.


"Apa yang kalian bertiga perbuatan, huh?" tanyanya dengan nada suara yang begitu amat dingin.


TO BE CONTINUE...

__ADS_1


__ADS_2