Hello, Mr Mafia!

Hello, Mr Mafia!
Episode 56


__ADS_3

Stella berjalan menelusuri koridor hotel dengan lutut yang bergetar. Kepalanya terasa begitu berat, tapi ia masih dapat menetralkannya. Jantungnya seperti ada di dalam tenggorokan dan siap ia muntahkan. Begitu berdebar-debar. Oh, dia akan minum kopi bersama Mr.Oxley. Itu seharusnya menjadi sesuatu yang begitu bahagia dan terhormat. Namun, tidak baginya. Dia malah, merasa hidupnya berada di ujung tanduk. Seperti berjalan mengekori malaikat maut menujuh alam baka, untuk di cabik-cabik.


Tubuhnya bergedik, darah berdesir cukup hebat. Dan sialnya, dia tetap mengikuti langkah Reza, sesekali mencuri pandangan menatap bahu lebarnya.


Mereka terus berjalan menelusuri koridor hotel menujuh lift. Stella binggung harus berbuat apa sekarang. Haruskah di memulai pembicaraan? Tapi hatinya tak seberani itu. Pikirannya tiba-tiba lumpuh, dengan ketakutan. Apa yang akan terjadi kepadanya setelah ini? Oh, dewa bantu aku. Gumam Stella dalam hati.


"Sudah berapa lama kau mengenal Judika?"


Stella meliriknya sesaat. Mereka kini telah berada di dalam lift, menujuh lantai dua dimana kafe dan restoran berada.


"Sejak tahun pertama aku berkuliah. Saat itu Judika adalah asisten dosen di fakultasku dan seorang jurnalis kampus. Uhm... Sama seperti sekarang."


"Hmmm. Dia lelaki bebas," jawabnya. Stella merasa jika pertanyaan itu sebenarnya tidak benar-benar ingin Reza tanyakan kepadanya.


Lalu apa?


Matanya memancarkan biru kelabu. Stella berdiri binggung dan kikuk di sebelahnya. Lutut-lutut sialan itu masih saja bergetar tak mau berhenti. Membuat sarafnya bekerja berlipat-lipat ganda. Ketakutan.


Di dalam lift, Stella berjuang menjaga wajahnya agar terlihat biasa-biasa saja. Dia memandangi lantai lift, mencoba menyembunyikan pipinya yang merah tomat. Diam-diam Stella melirik Reza yang berdiri di sebelahnya. Dan sial, dia ketauan! Reza tersenyum melihat Stella terkejut saat meliriknya. Mata biru itu memancarkan binar menakjubkan. Oh, Stella kau mati kutu sekarang!


Pintu lift terbuka, dan tanpa di duga tiba-tiba Reza menggenggam tangan Stella. Membawanya untuk keluar dari lift dan menelusuri lorong panjang hotel. Stella bukan lagi hanya merasakan keterkejutan, tetapi juga rasa ingin pingsan yang mati-matian ia tahan.


"Jalan mu sangat lambat. Seperti seekor siput." Dia menyeringai menghina Stella. Tapi tatapannya begitu menggelikan, dan tidak seperti seorang yang sedang melakukan sarkasme melainkan sebuah gombalan.


Mereka sampai di kafe yang berada di dalam hotel. Tak terlalu jauh ternyata dari datangnya lift yang mereka naikin tadi. Segera dengan cekatan, Reza melepaskan tangan Stella berdiri untuk menahan pintu ganda kafe dan mempersilahkan Stella masuk.


"Kau tidak perlu melakukan itu Mr.Oxley." kepala Stella menggeleng cepat. Dia merasa ada sejuta kupu-kupu yang terbang di dalam hatinya.


"Kau pantas mendapatkannya, Miss Sasmita."


"Just Stella. Hanya Stella."


"Ok." Tersenyum.


Stella melangkah masuk ke dalam kafe. Woah... Dia terkejut saat kaki-kakinya berada di dalam. Di sana sangat sepi, bahkan nyaris tak ada pelanggan. Apa mereka salah masuk tempat? Atau mungkin kafe itu sedang di pesan oleh seseorang untuk acara pribadi?


Stella menatap Reza dengan ekspresi wajah bodoh. Dan, Reza hanya mengangkat kedua bahunya dan alis tebalnya.

__ADS_1


"Bagaimana aku yang memesan dan kau menentukan meja mana yang ingin kau diduduki?" Reza menawarkan kesepakatan dengan nada yang begitu sopan.


Kening Stella mengeryitkan, ada gelak yang tertahan di dalam hatinya. Lihatlah, tuan kau bisa duduk dimana saja. Kafe ini kosong. Kosong melompong. Teriaknya dalam hati.


"Baiklah. Satu esspreso dengan es. Please, thank you."


"Satu esspreso." Reza mengangkat jari telunjuknya, lalu berjalan mendekati meja pesanan.


Memilih-milih kursi yang cocok untuknya minum kopi bersama miliader muda sekaligus musuhnya. Stella begitu hati-hati, tak ingin membuat dia semakin terjerambab merobos jurang semakin dalam yang hanya akan mengusahakan hidupnya lagi, hanya karena salah memilih tempat. Maka dari itu, sepertinya cocok untuk dia yang sedang dalam mode ketakutan duduk di dekat jendela hotel lebar yang langsung menyuguhkan pemandangan gunung salak Bogor dan bentang sawah dan kebun teh.


"Ada sesuatu yang kau pikirkan?"


Oh, lagi-lagi Reza membuat Stella terkejut akan kehadirannya. Dia hampir saja jatuh, karena kaget dengan suara serak miliknya. Stella menatap Reza lembut, yang kini tengah berdiri di depannya dengan nampan berisikan satu cangkir kopi panas, es esspreso miliknya dan beberapa makanan ringan manis dan asin.


Apa ini? Katanya hanya menemani minum kopi. Tetapi mengapa nampannya berisikan makanan juga?


Dengan cekatan Reza meletakan nampan di atas meja. Mengulurkan es kopi kepada Stella. Ia kembali tersenyum, kali ini senyuman begitu amat tulus. Stella dapat merasakan. Dia meletakkan semua makanan yang ia pesan di tengah meja, kemudian menyisihkan kopi miliknya yang berpola unik di dalam cangkir dari susu, sebelum kemudian meletakkan nampan di ujung meja.


"Kau sedang memikirkan apa?" Selidiknya lagi. Ia melepaskan kacamatanya, dan menaruh kacamata itu di meja.


"Hanya pekerjaan yang begitu rumit." Suaranya lembut, namun terdengar tegas dan sedikit desahan. Sungguh, untuk beberapa alasan Stella masih belum percaya duduk minum kopi bersama Reza di Indonesia.


"Hanya sebuah kesepakatan gila dengan tiga temanku tadi."


Dia mengeryitkan dahi. Jelas, Reza tahu Stella sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


"Ceritakan."


Apa ini? Apa sungguh aku perlu menceritakan kepadanya tentang apa yang diminta Alisa tadi?


"Uhmm... Sebuah wawancara eksklusif dengan mu."


Mata biru miliknya tiba-tiba menahan pandangan kepada Stella. Sedikit mendelik membuatnya terlihat begitu mengerikan. Tidak! Apa dia tersinggung?


"Kau marah, tuan?"


Kepalanya menggeleng cepat. Jelas terlihat eksepsi tidak menyenangkan terpencar dari wajah tampannya.

__ADS_1


"Tidak, hanya saja... Jika kau ingin wawancara eksklusif denganku, datanglah ke gedung utama Hartanto dua hari lagi." Tiba-tiba dia merogoh kantong celana flannelnya. Mengeluarkan sebuah kartu nama dan memberikannya kepada Stella. "Itu kartu nama asistenku. Jones. Kau bisa menghubunginya kapan pun kau ingin mewawancarai ku. Tidak mesti dua hari lagi." Suaranya begitu menyakinkan. Seperti dia ingin, Stella datang untuk menemuinya di kantor, tempat kekuasaannya. Duduk berdua dengan keadaan yang sedikit intim dan formal.


"Anda sangat baik, baru saja kemarin anda memberikan ku kartu nama anda?" Stella tak bisa berkata-kata lagi. Dia takjub merasa begitu spesial sekaligus ketakutan dengan entah kebaikan atau jebakan yang Reza berikan.


"Aku akan menjadi kakak ipar mu. Tentu aku harus bersikap baik kepada mu. Dan, bisa kah kau memanggilku Reza?"


Stella melongok.


"Tidak. Kau kakak kekasihku."


"Kenapa memangnya? Di negaraku bahkan anak asistenku berusia empat tahun memanggilku lantang dengan panggilan Oxley."


Stella terkekeh.


"Tidak bisa."


"Harus."


"Baiklah. Tuan Reza."


Reza berdecak tak percaya.


"Reza." Protesnya.


"Pak Reza."


"Reza."


"Bang Reza."


"What? Kau mau memanggilku abang? Seperti Judika?" Muka Reza merah membara. Tapi jelas terselip humor jenaka dari tatapan matanya. Membuat sekali lagi gelak tak tertahankan keluar dari mulut Stella.


"Secara negara umurmu dan aku berbeda sebelas tahun." Meraih gelas berisikan kopi miliknya dan meminumnya." Itu penawaran terakhir untukmu. Jika tidak, aku akan memanggil mu dengan panggilan lain."


"Apa?"


"Om?"

__ADS_1


TO BE COUNTINUE...


__ADS_2