Hello, Mr Mafia!

Hello, Mr Mafia!
S2: Menjelaskan (Part 1)


__ADS_3

bungkam tak menjawab, Jones berkecamuk dalam pikirannya. Mencoba mencari seribu satu alasan apa yang mendasari perubahan sikap drastis tuannya kepada Abraham. Binggung, tentu. Pasalnya tak ada satu alasan pun di pikiran Jones yang mampu menjawab pertanyaan yang menggelitik hatinya sendiri mengenai situasi yang justru terbalik ini.


"Kau tidak mendengarkan ku, Jones?"


Jones tersentak dari lamunannya, ketika suara bariton Reza menyadarkan dia. Wajah yang semula menundukkan menatap rerumputan hijau, seketika terangkat dan beralih menatap Reza penuh dengan selidik.


"Ya, sir..."


"Apa?" Reza bertanya. Merasa ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiran Jones.


Cepat, Jones kembali memalingkan wajahnya. Menundukkan kepala patuh tak berani lebih lama menatap Reza.


Sedang di sebelahnya, Abraham berdiri dengan suasana hati dongkol tak terima dengan keputusan yang Reza buat. Di langkahkan kaki beberapa langkah mendekati Reza. Segera, tanpa Reza sadari di cengkeramannya kerah kemeja rapih Reza hingga membuat Reza terperangah kaget.


"Kau gila. Lepaskan aku!" Berontak Reza mencoba melepaskan diri.


Di layangkannya satu bogeman keras yang telak mengenai leher besar tertutup lemak. Ambruk dan tersungkur, Abraham meringis kesakitan merasakan denyutan di lehernya.


Tanpa rasa kasian melihat lelaki yang sudah bisa di katakan berumur itu kesakitan, Reza melayangkan satu tendangan ke perut Abraham. Sangat keras, hingga membuatnya terbang dan tersungkur dengan memuntahkan darah segar.


Melihat keributan yang berarti di halaman kastil, serentak para penjaga kastil berkumpul. Berbaris berbentuk lingkaran mengelilingi Abraham yang terkulai lemas di halaman kastil dengan mulut berlumuran darah sambil mengangkat senjata mereka masing-masing dan mengacungkannya ke arah Abraham.


"Cih, Sialan! Kau mau bermain-main dengan ku, huh?" Geram melihat tingkah berani dan kurang ajar Abraham, Reza meludahi wajah lelaki itu penuh dengan penghinaan.


Namun, bukan merasa takut akan situasinya yang nyaris membuat nyawanya melayang. Abraham justru menunjukkan sikap lain yang semakin membuat Reza naik vital. Lelaki itu justru terkekeh. Memicingkan mata menatap Reza penuh penghinaan.


"Apa yang wanita itu berikan kepada mu, hingga membuat mu berganti haluan menjadi melindungi dirinya? Tubuhnya? Atau harga diri murahannya?"


Mendengar ucapan Abraham yang amat begitu menghina Stella, Jones yang sejatinya sebenarnya binggung dengan situasi di hadapannya, kinii ikut berubah haluan mengikuti jejak Reza yang membenci Abraham.


Di angkatnya tubuh Abraham dengan amat kasar oleh Jones. Di dorongnya tubuh yang setengahnya di penuhi lemak hingga membentur sisi dinding kastil. Di layangkannya pukulan bertubi-tubi kepada wajahnya kanan kiri, kanan kiri bergantian sampai darah segar terkucur menodai tangan Jones.


Lemas, Abraham kembali terkulai lemas dan babak belur ambruk ke padang rumput halaman kastil. Kepalanya amat pening, sampai-sampai membuatnya tak mampu mengerjapkan mata menangkap sinar matahari yang mulai turun berganti senja. Perih amat mendera, ia rasakan. Kini bukan hanya di sekujur tubuhnya, tetapi juga wajahnya yang sebelah nampak bak sesosok monster menyeramkan dibuku dongeng anak-anak.


Dia meringis, berusaha bangkit dan menahan rasa sakit di seluruh bagian tubuh dan wajahnya. Berdiri dengan tertatih-tatih sambil terkekeh melengking yang membuat baik Reza dan Jones heran.


Orang tidak waras.


Bedebah sialan!


"Mari membuat kesepakatan."


Kening Reza mengerut menyerupai busur panah. Dia memandangi wajah menyeramkan Abraham dengan tatapan heran penuh tanya.


Apa yang sedang otak liciknya pikirkan.


Ide apa yang akan dia buat kepada Stella.


Reza tau, jika Abraham tidak akan semudah itu melepaskan musuh besarnya. Mereka sejatinya sama. Sama-sama pendendam yang amat sulit berdamai dengan masalalu mereka yang suram tanpa bertindak membalaskan dendam.


"Tidak ada negosiasi," seru Reza yang berusaha untuk mengakhiri percakapan sore itu. Dia ingin secepatnya pergi dari sana, mengejar Stella dan mencari wanita itu lalu menjelaskan duduk kesalahpahaman yang terjadi.


"Bawa dia. Kurung dia dalam sel tahanan, dan jangan lepaskan dia sebelum dia menemukan Chris sesuai janjinya kepadaku." Satu titah yang Reza ucapkan lantang bukan hanya kepada Jones, tetapi para penjaga kastil yang jumlahnya sekitar 10 orangan.


Para penjaga kastil mengangkat tubuh Abraham secara paksa. Menyeretnya untuk masuk ke dalam kastil tanpa memperdulikan keadaannya yang amat sangat memperihatinkan.


Namun, saat Abraham di seret paksa oleh para penjaga kastil dirinya sempat berteriak lemah kepada Reza.


"Jal*ng tetaplah jalang tuan Casanova. Kami hacker takkan mempercayai siapapun termasuk kepada diri kami sendiri."


Reza berkacak pinggang, memejamkan matanya dan menulikan telinga dengan ucapan yang dikatakan Abraham. Tak ada yang penting kali ini selain janin di dalam kandungan Stella. Janin yang akan digadang-gadang menjadi penerus dirinya. Karena hal itu, Reza tentu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Walau sebagaimana pun sepak terjang Stella, Reza berusaha untuk tetap menunaikan kewajiban sebagai seorang ayah untuk menjaga anaknya hingga lahir dan dewasa nanti.


Maka dengan itu, apapun yang akan terjadi dengan dirinya yang membawa Stella masuk lebih dalam ke dalam kehidupannya, Reza sudah dengan siap mempersiapkan dan mengantisipasinya.


"Sir, boleh aku menuntut sesuatu kepadamu." Jones sudah berdiri di sebelah Reza, dan ikut memandangi bahu lebar Abraham yang di seret paksa para penjaga kastil.

__ADS_1


"Apa?"


"Apa Stella menjampai-jampi mu?"


Si bodoh ini mulai berulah lagi dengan mulutnya.


"Kau gila, ya Jones! Mana mungkin aku di jampi-jampi." Mendelikkan mata melucuti Jones dengan tatapan mata jengkel.


Mendengus malas, Jones menautkan kedua tangannya. "Jika bukan seperti itu, berarti kau menyukai nona jurnalis itu kan, sir?"


"Dia hamil. Anak ku."


"Uhuk... Uhuk... Uhuk..." Tersendak, Jones mengerjapkan mata cepat dan berusaha mencerna ucapan Reza barusan.


"Ha... Hamil?" katanya terbata.


Reza hanya menganggukkan kepala enggan, sambil berlalu melangkahkan kaki hendak keluar dari kastil.


Jones kaku termenung di tempatnya berdiri. Tubuhnya seakan mati rasa melihat anggukan kepala tuannya. Pertanyaan-pertanyaan yang menyelimuti otaknya tadi seketika lenyap di tampik dengan sebuah kenyataan yang sedikitpun tidak terlintas di dalam benaknya.


"Dimana wanita itu?" Reza sudah tiba di pintu gerbang kedua kastil. Bertanya kepada seorang lelaki berbadan kekar sambil celingak celinguk mencari keberadaan Stella yang tidak mungkin dapat pergi jauh dari sana.


"Wanita itu duduk di sana." Menunjuk sebuah kursi panjang yang letaknya tepat di bawah pohon rindang bercabang besar. Ek.


Pandangan Reza teralihkan mengikuti kemana tangan penjaga itu menunjuk. Stella terlihat tengah duduk termenung seorang diri sambil mengguncang-uncang kaki. Wajahnya terlihat cemberut, menekuk bagaikan selembar uang kertas dua ribu di dalam dompet.


Reza memandangi Stella beberapa saat, sesuatu tak kasat mata tiba-tiba menyelubungi dirinya. Ada rasa bersalah yang ia rasakan karena kedatangan Abraham hingga membuat Stella terpaksa harus mengingat masa lalunya yang kelam.


Di ambil sesuatu dari pos penjaga gerbang dua. Sebuah tote bag putih dan membawanya ke arah Stella.


"Kau menunggu ku?"


Stella terperanjat menyadari kehadiran Reza yang secara tiba-tiba.


"Aku ingin pergi dari kastil ini. Tapi aku sudah lima kali berputar dan mencari jalan keluar, tapi tidak menemukannya."


Merasa jarak diantara mereka tidak aman, Stella beringsut menjauh. Degup jantungnya berdebar begitu kencang. Dia mulai di runduk kepanikan.


Apa yang di mau? Kenapa duduk dekat-dekat aku sih.


"Pakai ini. Sebentar lagi senja tiba. Udara dingin akan segera datang." Dia meletakan tote bag di sebelah Stella, kemudian pandangannya beralih memandangi sungai yang mengalirkan air begitu jernih di depan matanya.


Dengan gerakan patah-patah, Stella meraih tote bag itu. Mengeluarkan isi di dalamnya.


Itu sebuah mantel bulu tebal.


Sejenak Stella tertegun, lebih-lebih dengan merek yang tertera di mantel bulu itu. Merek dari rumah model mewah dan terkenal prancis.


"Pakailah aku tidak ingin ada apa-apa dengan anakku."


Stella memakai mantel bulu berwarna cokelat itu, dan benar saja angin kencang bertiup menerbangkan rambut panjang Stella. Hawa dingin mulai terasa, meskipun sudah memakai mantel yang begitu tebal stella masih dapat merasakan hawa dingin yang menusuk dan mencoba mencari cela masuk ke dalam mantel.


"mengapa kau melakukan itu kepadaku, Mr. Oxley? Apa ini cara mu membalas perbuatan ku? Apa dengan perbuatan mu malam itu kepada ku hingga menghasilkan benih belum cukup membuat mu melepaskan ku dan memaafkan ku?"


Reza diam bergeming tak menjawab. Pandangannya masih tertuju memandangi hamparan sungai indah yang di kelilingi padang rumput hijau.


Melihat tak ada jawaban atau ekspresi yang berarti dari Reza, Stella tersenyum kecut. "Terimakasih telah menyadarkan diriku, jika aku memang tidak berhak mendapatkan kehidupan yang layak seperti manusia normal lain. Terimakasih telah menunjukkan ku masa depan ku sesungguhnya yang memang akan terus di kendalikan oleh orang lain."


Sambil berkata-kata yang menohok hati, Stella menggelap airmatanya yang tanpa permisi mengucur membasahi pelupuk. Dia sesegukan, hatinya terasa begitu perih dan amat sakit. Kini, dia sadar sejauh apapun dirinya melangkah hingga ke negeri Inggris pun masa lalunya yang kelam takkan pernah hilang dari bayangan hidupnya. Kini, dia sadar jika masa depan yang selama ini dia kejar takkan pernah tercapai. Dia akan tetap kembali kepada masa lalunya bersama orang-orang yang terus mengendalikan hidupnya hingga dia mati.


"Maafkan aku..." Gumam Reza dengan nada yang begitu lemah dan lembut. "Aku memang seorang pendendam, Stella yang takkan mudah melepaskan musuhku begitu saja hingga dia mati tersiksa. Awalnya memang aku memberikan pelindungan kepada Abraham dengan iming-iming mengembalikan mu kepadanya dan tentu dengan syarat dia harus menemukan Chris dengan komplotannya. Namun, jujur saja mendengar mu sedang mengandung anakku itu seperti sebuah tamparan yang telak pada hidupku. Aku bimbang dengan apa yang terjadi di depan ku sekarang. Aku masih belum dapat percaya dengan semua yang ada di depan ku."


Mata Stella berkaca-kaca mendengar penjelasan Reza. Hatinya yang hancur semakin bertambah hancur dengan kejujuran yang keluar dari mulut Reza.


"Kau tidak percaya jika aku hamil anakmu?" Bangkit, Stella melucuti Reza dengan tatapan geram mengepalkan tangan erat. "Kamu pikir aku wanita murahan? Yang tidur dengan lelaki lain?"

__ADS_1


Reza menghela napas. Lagi-lagi Stella salah paham kepadanya.


"Listening. Bukan seperti itu, Stella Sasmita." Reza ikut bangkit dari duduknya. Mencoba menenangkan wanita di depannya itu yang mulai kalap tertutup amarah. "Aku hanya bimbang, Stella. Karena... Karena sekali dalam hidupku musuh besarku malah mengandung benihku sendiri. Aku hanya... Hanya takut..."


"Dengan kutukan keluarga Abute?" Stella memotong ucapan Reza yang membuat Reza menyipitkan mata binggung.


Darimana Stella mengetahui kutukan keluarganya? Apakah Judika atau Chris yang memberitahu kannya?


"Darimana kau mengetahui itu?"


"Karyawan TTV berlanjut ke salah satu Channel YouTube milik youtuber Indonesia yang di unggah dari beberapa tahun lalu."


Sungguh, Reza tak percaya dengan ucapan yang dikatakan Stella. Bagaimana dirinya bisa tidak tahu jika keluarga besarnya sudah menjadi buah bibir sejak lama sekali.


"Kau menontonnya?"


"Hingga selesai."


"Kau tidak takut?"


"Untuk apa?"


"Kehilangan ku atau dirimu sendiri?"


Kening Stella mengerut tak mengerti. "Apa si maksudmu? Kau percaya dengan tahayul macam itu?"


"Tahayul katamu?"


Kepala Stella mengangguk yakin. "Ya."


"Itu bukan tahayul, Stella. Selama berpuluh-puluh tahun kami sangat menjauhi berhubungan dengan musuh kami. Apalagi memakai feeling dengan mereka yang telah mengacaukan Klan kami."


"Feeling (Rasa)?"


"Ya. Sekali dalam hidupku, aku menanam benih pada musuh ku sendiri. Dan sialnya benih itu tumbuh dan berbuah." Mengacak-acak rambut frustasi.


Yaudah lagi pula aku tidak menyukaimu, dan aku harap kamu juga tidak ada niatan menyukai ku. Jaga-jaga supaya nyawa kita tetap berada di raga kita masing-masing."


"Yakin kau tidak akan menyukaiku?" Tiba-tiba Reza mendekatkan wajahnya ke wajah Stella. Stella terhenyak, refleks memundurkan tubuhnya.


"Ka... Ka... kau mau apa, huh?" tanya Stella sambil membuang pandangannya. Tak berani memandangi wajah Reza dari jarak sedekat itu.


"Jangan salah paham lagi, Stella. Akan ku pastikan Abraham tidak berani mengganggu hidupmu lagi. Hidupmu dan masa depanmu ada di tangan mu sendiri. Itu milikmu bukan milik ku apalagi dia." Suaranya terdengar begitu meyakinkan. Reza kembali menegakkan tubuh dan duduk di kursi panjang yang terbuat dari batang pohon jati.


Senja mengisi cakrawala kota Manchester. Di kota ini, matahari seakan begitu lamban untuk terbenam. Meskipun waktu telah menunjukkan pukul tujuh malam, tapi di ufuk timur matahari masih bertengger memancarkan sinar jingga indahnya.


Di kursi kayu jati itu Reza termenung. Meratapi dirinya sendiri sambil memandangi indahnya kastil megah kepunyaannya. Stella tak pernah melihat Reza termenung seorang diri dengan raut wajah menyedihkan seperti itu. Entah mengapa hati menggelitik di selimuti rasa bersalah.


Dia kembali beranjak duduk di samping Reza. Mengancingkan mantel bulunya serta memasukkan kedua tangannya ke dalam kantung hangat mantel. Di tatapnya wajah teduh namun tegas dan menyeramkan milik Reza. Satu tangannya pun terangkat, dengan lembut Stella menepuk-nepuk bahu lebar Reza.


"Aku sangat menyayangi Chris seperti aku menyayangi Judika. Dia sama bagiku. Adik, saudara, dan keluarga ku. Tapi... Tapi aku benar-benar tak mengerti dan percaya bagaimana bisa dia menusuk ku dari belakang seperti ini."


Kali ini, Stella benar-benar amat sangat prihatin dengan keadaan Reza. Dia tau hati Reza saat ini sedang tidak baik-baik saja. Setelah lama, dia mencari keberadaan adiknya yang hilang tanpa penemuan yang berarti, lalu kini adiknya muncul dan menabuh genderang peperangan kepadanya. Reza sungguh benar-benar terluka.


"Dia hanya iri kepadamu, Mr. Oxley."


TO BE Continue...


Pengumuman


Hai semua semoga masih setia membaca Hello, Mr. Mafia!


Alhamdulillah sebentar lagi umat muslim akan menyambut bulan suci ramadhan. Untuk memeriahkan bulan suci ramadhan Author akan mengadakan Giveaway.


Caranya gampang, kalian hanya tinggal Vote dan beri komentar Semenarik mungkin pada cerita Hello, Mr.Mafia! Pemenang yang beruntung akan Author pilih secara langsung dan berhak mendapatkan hadiah pulsa sebesar 25k untuk 2 orang pemenang.

__ADS_1


Pengumuman pemenang giveaway akan author umumkan pada tanggal 12 April.


__ADS_2