
Jantung Stella berdetak begitu hebatnya. Dia tak dapat bergerak sedikit pun di atas tubuh Reza. Meskipun Reza saat ini dalam keadaan mabuk dan menimbulkan bau alkohol yang begitu menyengat, tetapi aroma tubuh segar Reza pun tak kalah memenuhi indra penciuman Stella. Dalam diam, Stella sejenak membenamkan kepalanya di dada bidang Reza. Menghirup banyak-banyak aroma maskulin dari tubuh lelaki itu. Segar dan menenangkan.
"Aku mencintaimu, bodoh." Reza bergumam tak jelas dalam tidurnya.
Penasaran, Stella mendongakkan kepalanya sedikit melihat apakah Reza terbangun dari tidurnya atau tidak. Dan ternyata memang benar Reza sedang mengigau.
"Apa ada wanita yang membuat seorang seperti mu menjadi bucin?" Bisik Stella dan dia kemudian terkekeh.
Tanpa di duga, Reza mengerjapkan matanya dan menatap Stella lekat. Hampir saja, Stella terjungkal saking kaget melihat mata Reza yang melotot menatapnya.
"Kau..." Sambil berusaha melepaskan diri dalam-dalam Stella menghela napas.
"Wanita bodoh," ucap Reza.
"Kenapa kau sudah sadar? Apakah kau Captain Amerika yang tidak bisa mabuk?" Masih dalam posisi di peluk Reza, Stella berpikir dan membayangkan apakah Reza benar-benar Chris Even Aka Steve Roger yang tidak bisa mabuk meskipun minum sebanyak mungkin.
"Kau bodoh, kau pikir aku prajurit super serum, huh?"
Cenggesan, Stella memamerkan deretan giginya yang putih. Dia kembali mencoba membebaskan diri dari pelukan Reza. Tapi entah mengapa, semakin dia bergerak semakin Reza mengeratkan pelukannya.
"Lepaskan aku. Tubuhku kedinginan jika terus berada di atas mu." Menguyel-nguyel tubuh Reza, sesekali memukul tubuh kekarnya berharap Reza melepaskannya.
"Kau mau yang hangat?" tanya Reza datar.
Tubuh Stella yang semula terus meronta berusaha melepaskan diri dari pelukan Reza mendadak terdiam. Dia tersadar sedaritadi tubuhnya menggesek-gesek dada Reza menggunakan dua gundukan miliknya yang mana sukses membuat milik Reza sedikit berdiri.
"Ti... Tidak. Cukup menyalahkan penghangat ruangan saja."
Tiba-tiba tubuh Stella menegang saat tangan kekar Reza dengan lembut membelai puncuk rambutnya, terus turun ke bawah dan menyelipkan rambut yang menutupi sebagai wajah Stella ke belakang telinga.
__ADS_1
"Yakin, kau tidak mau?"
Dengan cepat, Stella menggelengkan kepala. Bayangan menyakitkan malam dimana Reza memperkosanya kembali terlintas di benak Stella. Dia tak ingin malam malapetaka itu terulang hari ini.
"Tolong lepaskan aku, perut ku sakit." Bual Stella. Mungkin dengan mencari alasan perutnya sakit Reza akan percaya dan mau melepaskan dirinya.
Dan memang benar saja, Reza langsung melepaskan dirinya. Buru-buru Stella berdiri dan beranjak menjauh dari ranjang.
Namun dengan cekatan Reza yang sudah dalam posisi duduk meraih tangan Stella, kembali menarik wanita itu lembut hingga jatuh kepangkuannya.
Jantung Stella berdegup dengan kencang menyadari betapa dekatnya dia dengan Reza. Bahkan saking deketnya, bibir keduanya pun hanya meninggalkan jarak kurang dari satu senti. Stella mengigit bibir bawahnya, menahan degup jantung yang membuatnya ingin meledak saat itu juga.
"Re..." Stella tak dapat melanjutkan ucapanya saat tiba-tiba saja Reza menciumnya.
Wanita itu mengerjapkan mata kaget, tapi sialnya dia tidak berusaha menolak sentuhan bibir itu. Reza terus menyapu bibir mungil Stella lembut, memperdalam ciuman itu menjadi lumutan yang mengarahkan.
"Za, cukup." Stella melepaskan ciuman itu ketika Reza mulai lepas kontrol. Wanita itu berdiri dan mulai melangkah menjauh.
"Kau tertawa?" Kesal Stella mendengus melihat Reza yang tersenyum karena ulahnya tadi.
"Apa kau belum pernah ciuman, Stella?"
Mata Stella melotot nyaris copot karena ucapan Reza yang gamplang tanpa berpikir dulu. Ingin rasanya, ia menempeleng kepala Reza hingga membuat lelaki setengah sadar menjadi sadar sepenuhnya. Tapi memang tak bisa di pungkiri dalam hati kecilnya, jika ciuman tadi adalah ciuman pertamanya dengan lelaki. Lelaki yang dia sukai.
"Kau suka sekali si meledekku. Sudah membohongi aku dengan berpura-pura mabuk, menyusahkan aku memapah mu naik ke sini, sekarang kau malah mencium bibir ku tanpa seizin ku. Bukan minta maaf dan berterima kasih, kau malah mengejekku. Dasar kurang ajar."
Stella melengos, memandangi kota London dari balik jendela apartemen sambil mengerucutkan bibir kesal. Dia mendengus seperti memberikan kode kepada Reza jika dia sedang ngambek.
Namun bukannya menghampiri Stella dan menghibur wanita yang sedang mengandung anaknya itu. Reza justru kembali membaringkan tubuhnya dan memejamkan mata. Stella menoleh melihat kearah Reza yang sudah tertidur kembali. Kesal seketika menjalar di seluruh tubuhnya, sambil mengepalkan tangan Stella menghampiri Reza dan memukul dada lelaki itu.
__ADS_1
"Nyebelin... Kamu ngeselin." Pukul terus tak peduli Reza kesakitan atau tidak dalam tidurnya.
Meski sudah di pukul berulang kali dengan keras, Reza tetap diam bergeming. Hanya ada suara helaan napas yang begitu teratur membalas setiap pukulan Stella.
"Benar-benar tidur, ya?" Tidak ada harapan lagi untuk membuat lelaki itu merasa bersalah karena telah mengganggu dan membohongi dirinya, Stella berdiri dan hendak merangkak untuk tidur di sofa.
Namun, saat tubuhnya berputar tangan kekar Reza lagi-lagi mencekalnya. Kali ini dengan sigap, Reza bangkit dari tidurnya dan membawa tubuh Stella ke atas ranjang. Menindihi tubuh Stella dan membentangkan kedua tangan wanita itu di atas kepala. Reza tersenyum sembari mengunci pergerakan Stella.
"ka... kamu mau apa, Za?" ucapnya terbata. Tubuhnya sudah bergetar panas dingin. Takut takut kejadian malam itu kembali terulang lagi.
Mata yang sudah di tutupi nafsu itu menatap Stella lekat. Reza menyeringai, memperlihatkan barisan giginya yang putih. Tak mempedulikan pertanyaan Stella, Reza dengan rakus mencium bibir Stella. Memberi gigitan kecil supaya Stella membuka mulutnya agar dia dapat menjelajahi lebih dalam.
"Uhmm..." Stella melenguh, ketika satu tangan Reza mulai menyusup ke balik bajunya.
"Za..." Stella melepaskan ciumannya ketika Reza membuka paksa kancing kait branya.
Reza yang sudah di rasukin nafsu tak mempedulikan panggilan Stella. Kini, dia beralih menciumi leher Stella, membuka satu persatu kancing baju Stella hingga membuat dua gundukan dada yang tak terlalu besar itu menyembur keluar.
Jantung Stella berdetak seperti berlomba-lomba ingin keluar. Pipinya merah padam saat melihat Reza yang memandangi dadanya dengan wajah yang mengiurkan. Tak ada perlawanan seperti biasanya dari wanita itu saat lelaki asing menyentuh tubuhnya. Entah mengapa malam itu, dia seperti pasrah Reza akan kembali menjamahnya.
"Hhh..." Stella mendesah kuat ketika Reza menjilat dadanya. Dia mengigit bibir bawahnya, menengadahkan kepala sambil merem melek menikmati perilaku Reza yang membuatnya terasa terbang hingga ke awan-awan.
Melihat tidak ada perlawanan dari Stella. Reza melepaskan cengkraman tangannya dari tangan Stella. Membiarkan kedua tangan wanita itu bebas perkeliaran kemana-mana.
"Kau menyukainya?" Bisik Reza di telinga Stella.
Stella hanya mengangguk kecil, berusaha menyembunyikan wajahnya yang sudah merah padam di dada bidang Reza.
"Jangan kasarin aku," mintanya pelan.
__ADS_1
Dengan lembut Reza mengusap rambut Stella, mengecup kening wanita itu dan kembali memanggut bibirnya. Membawa Stella ke dalam surga dunia yang tak mungkin ia lupakan rasa nikmatnya.
TO BE CONTINUE...