
Bond Street adalah lokasi pertama yang di kunjungi oleh Reza dan Stella. Shopping center satu ini memang sudah tidak asing lagi bagi para pemburu barang branded. Luxury brand seperti, Chanel, Cartier, LV hingga Rolex semuanya tersedia. Bahkan keluarga kerajaan Inggris, artis Holywood, sosialita internasional menjadikan Bond Street ini sebagai tempat favorit untuk shopping. Letaknya ada di pusat kota Inggris yaitu West End of London menghubungkan Piccadilly di selatan ke Oxford Street di utara. Sejak abad ke-18, jalanan ini telah menampung banyak pengecer mode bergengsi dan kelas atas.
Mobil mewah milik Reza berhenti di persimpangan jalan. Mereka turun dari sana dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Info yang Reza dapat dari Jones, lokasi ini adalah tempat yang cocok untuk menghabiskan isi dompet para suami. Dahulu, mantan istri Jones pun sering membelanjakan uangnya di Bond Street, entah itu membeli kosmetik, tas, atau baju-baju yang sebenarnya ibunya sendiri memproduksi.
"Ini pusat perbelanjaan bangsawan," ucap Stella terkagum kala tau dirinya akan di ajak ke tempat itu.
Reza hanya menanggapi dengan deheman sembari memakai kacamata hitam dan berjalan beriringan dengan Stella.
Pusat pembelanjaan itu nampak tidak terlalu ramai. Meskipun begitu, semua toko yang menjual barang-barang branded semua buka dan menjajalkan dagangan mereka. Stella berdecak, kala melihat toko baju ternama Dior yang sedari dulu hanya dia lihat dari televisi atau internet saja. Dirinya terpaku, tepat di depan pintu masuk ganda kaca toko. Reza yang melihat Stella hanya termangu, dengan mulut sedikit ternganga menarik lengan wanita itu untuk masuk ke dalam toko. Stella mengerjap, terkejut akan sikap Reza yang tiba-tiba.
"Selamat datang Mr. Oxley. Ada yang bisa saya bantu?" Seorang wanita berbaju super ketat menghampiri mereka. Tersenyum, dan menyapa keduanya dengan ramah.
Sambil menunjuk Stella Reza berkata, "Dia yang mau belanja. Aku hanya mengantar saja."
Mendengar ucapan santai Reza, Stella menoleh menatap Reza. Tangan berjari-jari panjang itu terjulur sedikit, dia mulai menghitung harga barang di dalam toko itu dengan gaji bulanannya.
Jika aku membeli satu apakah gaji ku sebulan akan habis? Menggaruk kepalanya yang tak gatal, bimbang untuk memilih membeli barang branded itu atau tidak.
Sampai dirinya terjaga dari lamunannya ketika Reza menyenggol lengannya, memasang wajah sangar, dengan memelototkan mata.
"Aku sedang berpikir, jika aku membeli satu barang dari toko ini apa gaji sebulan akan habis." Sambil berjinjit, Stella berbisik di telinga Reza.
Membuat Reza yang mendengar hanya mampu mengusap wajah kasar dan menghela napas.
"Tolong... Tolong carikan barang yang cocok untuknya," kata Reza kepada wanita berbaju seksi itu. Dia juga mengeluarkan sebuah black card dari dalam dompetnya, memberikan black card itu kepada Stella sembari melanjutkan perkataannya. "Pilih semua barang yang kau inginkan. Pakai kartu ini untuk membayar. Aku akan menjemput mu 2 jam lagi. Jangan pergi dari kawasan ini, atau kau mati di tangan ku."
Romantis namun kejam, Stella hanya mampu menggigit bibir bawah dan menganggukkan kepala mengamini perkataan Reza. Sementara wanita seksi yang masih berdiri di depan mereka, terlihat sedikit terkejut dengan ucapan gamplang Reza.
Setelah berkata demikian, Reza benar-benar keluar meninggalkan Stella. Pergi mengunakan mobilnya entah kemana. Seperti tak rela kehilangan sosok itu, Stella terus memandangi Reza hingga lelaki itu benar-benar pergi dari sana. Mengangkat tangannya, melambaikan tangan seorang diri sambil tersenyum tersipu.
"Nona, bisa aku melihat gaun hamil keluaran terbaru mu?"
****
Reza mengemudikan mobil memecah jalanan kota London siang itu. Tujuannya adalahnya kawasan hunian Chelsea. Di sebuah apartemen Penthouse mewah mobilnya berhenti, tak lama seorang paruh baya berusia 60 tahunan membukakan pintu mobil kepada Reza dan menyambutnya dengan penuh hormat.
"Apa dia sudah tiba?* tanya Reza kepada paruh baya yang di ketahui bernama Mr. Lennon.
"Aye, sir. Mereka sudah tiba sekitar lima belas menit yang lalu," jawabnya dengan suara yang serak dan bergetar. Mungkin efek umurnya yang sudah uzur.
__ADS_1
"Aku akan menemuinya. Tolong siapkan segalanya sekarang."
Pelan, Mr.Lennon membungkukkan badan dan berbalik, berlalu meninggalkan Reza masuk ke dalam apartemen sebelahnya.
Dengan langkah angkuh, Reza berjalan masuk ke dalam Penthouse dengan dinding bata merah kuno khas Inggris. Dia berjalan menelusuri lorong panjang apartemen, naik ke lantai atas menggunakan lift yang cukup besar dan berhenti di lantai 5. Ketika pintu lift terbuka, menampakkan satu pintu ganda di lantai itu, tanpa menunggu lama, Reza menekan sandi pintu dan masuk ke dalamnya.
Sebuah Penthouse megah yang langsung menghadap ke jalanan kota London menyambut. Hunian mewah yang hampir delapan puluh persen dindingnya terbuat dari kaca tembus pandang yang di tutupi dengan tirai besar nan tebal berwarna abu-abu. Ada beberapa ruangan yang semuanya terlihat begitu mewah dan megah, seperti; ruang tamu yang di lengkapi dengan sofa besar lengkap dengan beberapa minuman bersoda dan makanan ringan di atas meja, televisi layar datar super besar, dvd, dan video game. Di ujung ruangan tamu tepatnya menempel dengan dinding kaca super besar, terdapat tangga berkapret merah yang menghubungkan lantai satu dengan lantai dua di mana tiga buah kamar lengkap dengan Rooftop berada. Di bawah tangga, juga terdapat sebuah pintu geser kaca yang langsung terhubung dengan kolam renang private dengan jacuzzi lengkap dengan kanopi. Sedangkan di tepat di sebelah ruang tamu, terdapat dapur yang juga terhubung dengan ruang makan di sebelah kanan, dan perpustakaan pribadi di sebelah kiri.
Reza berjalan masuk ke ruang tamu, di sana sudah menunggu tiga orang pria Italia bertubuh besar, satu orang Italia dengan topi koboi berbadan kurus kerempeng yang usianya terpaut tidak terlalu jauh dengan Reza. Mereka tengah duduk di sofa putih tulang yang tersedia, menyesap nikotin bersama segelas wiski.
"Mr.Abute," sapa pria kurus dengan senyum mengejek membekas di bibirnya.
Reza enggan menjawab. Dia lebih memilih duduk di sebrang pria kurus itu sambil menatap awas dan hati-hati kepada ketiga lelaki di kanan dan kirinya nanar.
"Apa yang ingin kau laporkan?" tanya Reza dengan suara serak dan dingin.
"Beberapa barang kita harus berhenti mengirim ke kawasan Texas dan Canada. Para polisi bedebah Amerika sedang gencar-gencarnya melakukan pemeriksaan kepada setiap kapal-kapal yang bersender di perairan mereka. Ini semua dampak dari pemilu yang akan berangsur di negara itu, tuan."
Beberapa saat, Reza menggerakkan rahangnya. Tangan mengepal erat, dia mati-matian berusaha menahan emosi yang segera meluap menguasai diri.
"Kau tau, aku tidak peduli dengan hal-hal semacam ini, bukan? Kau datang jauh-jauh dari Italia menemuiku hanya untuk mengatakan ini?"
"Oh bukan hanya itu, tuan." Pria kurus itu masih dalam posisi duduknya, bahkan dirinya sekarang terlihat lebih santai dengan menyenderkan tubuhnya ke sandara sofa sembari mengangkat satu kakinya menatap Reza dengan angkuh.
Kening Reza saling bertautan, "Informasi apa?"
Tangan pria kurus itu terangkat, dia menjentikkan jari kepada salah satu Pria Italia berbadan besar menginstruksikannya untuk menyerahkan amplop coklat besar yang sedang dia pegang.
"Aku menemukan informasi mengenai seorang wanita muda bersuami yang memiliki hubungan dengan sabotase perusahaan mu dan Joseph Antonio."
Reza meraih amplop coklat yang di lemparkan pria kurus di hadapannya dan perlahan membuka amplop tersebut.
"Namanya Anne," jelas pria kurus bermata coklat ketika Reza mengeluarkan sebuah foto yang memperlihatkan seorang wanita tengah mengunjungi sel tahanan tempat Jones di tahan.
"Aku tidak mengetahui siapa nama lengkapnya, tapi yang menurut sumber yang ku dapati dari lapangan dia adalah keturunan dari seorang musuh yang kau bantai. Bisa di bilang, Anne termasuk salah satu orang di dunia ini yang memiliki dendam kepadamu. Melihat itu Joseph merekrutnya menjadi patner in crime untuk menghancurkan mu."
Panjang lebar pria kurus itu menjelaskan, Reza hanya diam membisu sembari terus memperhatikan setiap detail isi dari dalam amplop coklat di tangannya.
"Menurut sumber ku juga, Joseph menyuruh Anne yang saat itu ternyata telah memiliki seorang suami dan dua orang putri untuk menggoda adik tirimu, dan mencuci otakknya agar berpihak kepada mereka."
__ADS_1
Tiba-tiba Reza mengangkat sebuah foto yang memperlihatkan seorang lelaki berbaju militer tengah berdiri di depan sebuah mobil lapis baja lengkap dengan senapan laras panjang yang dia genggam.
"Phillip Georgia. Suami dari Anne yang seperti kau lihat adalah seorang tentara khusus yang saat ini sedang bertugas di Afganistan."
Reza meletakkan foto-foto yang dia dapati dari dalam amplop ke atas meja kaca gelap. Kini dia beralih ke sebuah dokumen yang juga ada di dalam amplop tersebut.
"Setelah berhasil menggoda adik tirimu Christopher, Anne mulai melancarkan aksinya. Dengan korban seorang hacker ulung bernama Stella, Chris dan Anne mulai mengumpulkan kepingan-kepingan kehidupan mu. Mulai dari urusan pribadi mu, hingga pekerjaan kotor yang selama ini kau tutupi. Mereka juga menjanjikan hacker itu imbalan berpuluh ribu pounds jika hacker itu dapat membobol pertahanan Oxley General dan menciptakan virus untuk menyabotase sistemmu. Sayangnya, hacker ulung itu hanya gadis polos yang di korban kan. Beberapa minggu lalu, anak buahku mendapatkan kabar jika hacker ulung itu telah di culik oleh komplotan Anne dan di paksa untuk menjalankan misi menyabotase sistem perusahaan mu. Aku tidak tau apa yang terjadi setelah itu, yang jelas hacker itu tidak mendapatkan bayaran sepeserpun dari Anne dan mungkin nyawanya sudah melayang untuk menutupi konspirasi ini semua."
Tak ada balasan berarti dari Reza mendengar ucapan pria kurus di depannya. Dia tetap tepekur melihat satu persatu dokumen yang berada di tangannya.
"Apa kau sudah menyusun rencana dengan wanita itu berserta adik tiri mu?"
Kini pertanyaan pria kurus itu berhasil memancing Reza menolehkan kepala. Dia menatap nanar pria kurus itu dan berkata.
"Aku butuh informasi tentang Philip." Seraya melemparkan dokumen terakhir, Reza bergegas berdiri.
"Dia seorang tentara pasukan khusus Inggris, Mr.Abute."
"Aku tau. Tapi aku butuh informasi lebih banyak tentang kehidupan pribadinya."
Tanpa banyak berpikir, Pria kurus itu menganggukkan kepala tanda menyanggupi permintaan Reza. Sejurus kemudian datang Mr. Lennon dengan sebuah kotak besar di tangannya.
Mendapati Mr.Lennon tiba di apartemen, pria kurus berserta tiga pria besar lainnya ikut bangkit menyusul Reza. Mereka kemudian berpamitan kepada Reza dan meninggalkan apartemen Penthouse.
"Mungkin hari ini aku akan menginap di sini," kata Reza kepada Mr.Lennon.
Mr.Lennon meletakkan kotak besar yang di bawa di atas meja sofa. Pandangan sejenak melirik dokumen dan foto yang berceceran di atas meja sana. Penasaran, diam-diam Mr.Lennon melirik dan menelisik apa isi dokumen tersebut sebelum kemudian kepalanya mengangguk mengamini ucapan Reza.
"Aku akan mempersiapkan semuanya, tuan."
"Oke. Aku pergi." Tubuh Reza berbalik dan berniat meninggalkan penthouse tersebut. Namun, langkahnya berhenti sejenak dan tubuhnya kembali berputar kearah Mr.Lennon.
"Oh, satu lagi, aku akan membawa seorang wanita malam ini. Tolong siapkan makanan terbaik khas Indonesia. Jangan ada makanan mentah atau setengah matang, juga jangan ada minuman dengan kadar alkohol."
Sejenak, Mr.Lennon mengernyitkan dahi. Berpikir dalam benaknya. Tidak biasanya bos besarnya itu membawa seorang wanita, hendak melakukan dinner, dengan request makanan dan minuman seperti ini. Siapa wanita itu? Jelas itu membuat Mr.Lennon penasaran.
Tapi, buru-buru Mr.Lennon menutup pikirannya. Menyimpan rasa penasarannya sejenak dan kembali menganggukkan kepala mengamini permintaan Reza.
Setelah yakin tak ada lagi yang di butuhkan di sana, perlahan Reza meninggalkan apartemen di iringi dengan tatapan aneh bercampur penasaran dari Mr.Lennon. Bahkan hingga mobil Reza pergi dari apartemen itu, Mr.Lennon masih terus mengawasi di balik balkon apartemen.
__ADS_1
Emmanuel seperti anak lelaki mu satu itu sudah mulai membuka hatinya kepada seorang wanita. Semoga, dia benar-benar melakukan itu. Tergopoh-gopoh, Mr. Lennon masuk kembali ke dalam apartemen dan mengeluarkan barang di dalam kotak yang dia bawa.
TO BE COUNTINE....