
Byur...
Tergelagap, Stella terjengit bangun ketika seember air membasahi seluruh tubuhnya. Matanya mengerjap perlahan, matahari telah meninggi saat dia siuman dari pingsannya semalam. Samar-samar, dia menemukan dirinya terikat dengan posisi berdiri di sebuah tiang panjang menjuntai.
Berusaha memungut ingatannya semalam, Stella sadar jika dia telah di pindahkan ke sebuah tempat yang berbeda dari yang semalam. Ruangan itu nampak seperti area time zone. Banyak sekali mini game, mesin makanan dan minuman. Namun, penerangan ruangan itu cukup temaram. Hanya ada satu lampu pijar di ujung ruangan berwarna hijau.
Dimana dia?
Apa yang terjadi semalam?
Mengapa tubuh Stella terasa remuk semua?
Derit suara langkah kaki membuat mata Stella awas. kepalanya menengadah, menelisik setiap inci ruangan aneh itu. Tak beberapa lama, pintu terbuat dari besi yang memisahkan antara ruangan itu dan dunia luar terbuka. Nampak Anne dan beberapa laki-laki memasuki ruangan itu. Mata, Stella terbelalak melihat wajah lelaki yang tak lain adalah orang-orang Esocial yang pernah dia temui dulu bersama Chris. Apa mungkin, lelaki itu juga kemarin menculiknya? Menyetrum, dan menyakiti dirinya?
"Good morning, Stella?" Anne berjalan menghampiri Stella. Membelai pipi gadis itu menggunakan tangan berjari cat merah mudah dengan lembut.
Stella meringis, mencoba mengenyahkan tangan sialan itu dari wajah. Sungguh, dia benar-benar tak sudi sehelai rambut di sentuh dengan tangan kotor Anne.
"Lepaskan aku, sialan."
"Woah!" Anne tergelak yang di susul oleh para anggota Esocial lainnya. Kencang, Anne mencengkeram rahang Stella dengan kasar.
Matanya melotot menatap Stella yang terlihat begitu berantakan. Rambut urak-urakan, napas menderu, dan pelu yang terus membasahi wajahnya.
"Seberapa pun kau mengumpat, aku tidak akan melepaskan mu, *****."
"Cih. Kau yang *****, rela melakukan apapun demi membalaskan dendam mu. Kau tak lebih dari seorang wanita murahan yang menjual diri mu untuk memperdaya, Chris."
Plak...
Satu tamparan keras mendarat di pipi Stella. Cairan kental berwarna merah lekat keluar dari ujung pipinya dan menetes mengotori lantai tanah ruangan. Bukan menangis, Stella justru tersenyum kecut. Mengeluarkan ludahnya tepat mengenai sepatu Anne.
"Itu cocok untuk seorang murahan seperti mu."
Kesal, Anne memutar tubuhnya geram. Melewati kedua anggota Esocial berbadan kekar sambil menjentikkan tangannya menyuruh kedua anggota itu untuk mengikuti dirinya. Mereka pun patuh, membalikkan badan dan berjalan mengikuti Anne keluar dari ruangan itu.
Tinggal lah Stella seorang diri disana. Dia membentur kepalanya di tiang yang menyangga tubuhnya, menengadahkan kepalanya sambil berdoa agar Tuhan mengirimkan malaikat penolong yang akan membantu keluar dari sini.
Sedangkan di luar, Anne masuk ke dalam mobil Panjero hitam metalik. Dia duduk di kursi penumpang, memasang sabuk pengaman dan kacamata hitamnya. Dengan angkuh, dia menurunkan kaca jendela mobil dan berkata kepada kedua anggota Esocial yang tadi mengikutinya
"Buat wanita itu mau menjalankan misi kita. Paksa dia bagaimana pun caranya. Aku ingin sore ini, virus itu sudah jadi dan siap di sebarkan untuk menghancurkan lalu lintas Oxley General."
Patuh, kedua anggota Esocial itu menganggukan kepala paham. Anne pun menutup kembali jendela mobilnya, dan hanya seperkian detik pajero itu pergi.
Derit pintu kembali terbuka, membuat Stella yang terpejam mengerjapkan mata cepat dan menoleh ke arah pintu. Dua orang anggota Esocial tadi kembali masuk, mereka berjalan berlawanan arah. Yang satu pergi ke mesin makanan, memasukan selembar uang ke dalam mesin makanan dan memilah-milah makanan yang berada di dalam mesin itu. Sementara lelaki satunya, tengah asik bermain game. Memasukan terus menerus koin-koin ke dalam mesin sana tanpa perduli berapa jumlahnya.
"Hei aku mengenal kalian berdua." Stella bicara dengan setengah berteriak. "Kau Sebastian, huh? mantan anggota militer yang seluruh keluarganya di bantai dengan senjata buatan Oxley General." Stella tersenyum kepada lelaki yang sedang menunggu makanannya keluar dari dalam mesin. "And you, Tyler anak mantan pegawai Oxley General yang terlilit hutang hingga membuat kedua orangtua mu mati tak kuat membayar hutang-hutang mereka kepada Reza." Kali ini, Stella berkata kepada lelaki yang masih asik bermain game.
"Guys, please listen to me. Dendam tidak akan pernah membuat hidup kalian tenang. Lupakan dendam itu, sebelum dendam itu membunuh kalian. Berdamai pada diri sendiri itu adalah jalan terbaik untuk melupakan rasa sakit hati kalian."
Tak menjawab, Sebastian dan Tyler tetap sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Stella yang biasanya tidak suka mengeluarkan kata-kata mutiara dari dalam mulutnya, hari ini untuk pertama kali dia mengatakannya. Persetan dengan idealisme yang selama ini dia junjung. Anggap saja, mulut manisnya dan kata-kata bijaknya ini sebagai senjata untuk dirinya agar dapat keluar dari sana.
"Come on, boy. Kalian jangan mau di peralatan oleh gadis licik seperti Anne. Dia hanya mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri." Berteriak, Stella masih berusaha meluluhkan hati kedua lelaki itu.
Namun, sialnya bukan luluh hati kedua lelaki itu mereka justru mendatangi Stella dan memperlihatkan sebuah video yang berhasil membuat matanya terbelalak lebar.
Video itu memperlihatkan seorang wanita berumur empat puluhan tengah berdiri di depan sebuah toko bunga dengan baju polkadot penuh warna ceria. Stella mengenal wanita itu. Dia adalah saudara perempuan Stella. Stella meringis mengumpulkan energinya kembali untuk membuka jerat menyakitkan yang mengikat tubuhnya.
"Jangan pernah coba-coba menyentuh kakakku, sialan!" Bentak Stella dengan mata menyalang.
__ADS_1
"Seorang teman terbaikku yang juga seorang sniper handal dari pasukan elite Amerika telah ku tempatkan di titik tak jauh dari keberadaan kakakmu." Sebastian berbisik di telinga Stella
Tertegun, Stella meringis semakin menjadi. Tak perduli rasa sakit tali yang dia paksa lepaskan, Stella terus berusaha membuka jeratan tali itu.
"Buatkan kami virus itu, maka kami tidak akan menyentuh siapapun termasuk keluarga mu dan juga orang yang kau cintai."
"Kalian benar-benar licik. B*jingan."
"Pikirkan lah." Kini gantian Tyler yang berbicara. "Waktu mu hanya lima detik."
Bagiamana ini, mereka benar-benar gila.
Lima...
Aku tidak mungkin membiarkan kakakku terbunuh. Dia sudah cukup menderita karena kehadiran ku.
Empat...
Tapi jika aku melakukannya, bagaimana dengan Reza?
Tiga...
Dia pasti akan semakin membenciku dan benar-benar mengganggapku musuh sesungguhnya.
Dua...
Dan jangan lupakan dengan Cyberfriend.
"Waktu kau habis." Sebastian meraih ponsel dan hendak melakukan panggilan yang Stella yakini kepada teman snipernya.
"Wait... Wait. Aku mohon jangan libatkan saudara perempuan ku. Please." Stella memasang muka melas, mengiba kepada Sebastian.
Bagiamana ini?
"Hallo?"
Sial. Persetan dengan Cyberfriend.
"Oke, aku akan melakukannya. Aku akan membuatkan Friday 13 (baca Thirteen) itu untuk kalian."
Mendengar Stella berkata demikian, sejenak Sebastian menjeda panggilan telpon. Mengeryitkan kening binggung dengan ucapan Stella. Friday 13 apa maksudknya?
"Apa itu Friday 13?" tanya Sebastian kepada Stella.
"Itu adalah virus paling berbahaya untuk internet di dunia. Bukan hanya dapat membuat malfungsi sistem, tetapi juga dapat mengambil alih sistem yang kita masukan virus itu. Gilanya virus itu belum dapat di perbaiki. Meskipun kalian mematikan seluruh lampu lalulintas sistem seperti Rootkit pada umumnya."
Tersenyum, Sebastian dan Tyler membuang pandangannya. Sebastian mematikan panggilannya, sebelum dia menyuruh untuk teman snipernya itu untuk membatalkan misi.
"Mengambil alih?" Tyler bertanya sambil bersedekap.
"Ya. Seperti sistem milik kalian. Kalian dapat melakukan apapun sesuai keinginan kalian, layaknya sistem itu milik kalian sendiri."
"Termasuk senjata nuklir dan pemusnahan massal miliknya?"
Ragu, Stella menganggukkan kepalanya mengamini.
"Great. Aku akan melepaskan tali mu." Sebastian melemparkan ponselnya kepada Tyler dan langsung bergegas mendekati Stella untuk membuka tali yang menjeratnya.
Saat tali terlepas, Stella menghela napas lega. Diusapnya kedua tangannya secara bergantian untuk menghilangkan rasa sakit yang tadi begitu amat pedih menjalar di sekujur tubuhnya.
__ADS_1
"Jangan macam-macam." Tiba-tiba Tyler menodongkan senjatanya ke kepala Stella.
Stella yang masih berusaha menghilangkan rasa perih di tangannya tertegun. Tubuhnya bergetar hebat, dan dengan gerakan patah-patah dia mengangkat kedua tangannya.
"Itu komputer dan perangkat lainnya milikmu." Sebastian menunjukkan seperangkat komputer dan sebagainya tak jauh dari tempatnya tadi di ikat. Dan masih di dalam ruangan yang sama.
"Oh, sorry. Aku benar-benar tidak bisa memakai Windows. Aku butuh linux untuk menjalankan program itu dan membuat virusnya."
Sejenak Sebastian dan Tyler saling melemparkan pandangan. Sebelum akhirnya Sebastian pergi untuk menghubungi seseorang. Dia kembali beberapa saat, seraya berkata.
"Tunggu Anne membawakannya. Sebelum itu, lebih baik kau makan dulu." Tyler menurunkan pistolnya dan menyuruh Stella untuk memakan apa saja yang ada di dalam mesin makanan.
waktu bergulir, kedua lelaki itu tak sedetikpun meninggalkan Stella. Bahkan untuk pergi ke kamar mandi pun, Stella harus di antar hingga pintu dan di jaga sampai ia selesai.
Memutar otak untuk mencari cela melarikan diri dari mereka. Namun, semua tak berhasil dia lakukan. Bosan, Stella mencoba meminta ponselnya. Tak bodoh, kedua orang itu malah langsung menodongkan pistol mereka seraya berkata "Kau menelpon Reza maka nyawa keluarga mu gantinya." Kini dirinya tak mampu berbuat apa-apa lagi, selain menuruti kemauan Anne untuk membuat virus yang dia namai Friday 13.
"So, apa itu virus Friday 13, Stella?" Setelah sekian lama akhirnya Anne datang dengan beberapa anggota Esocial. Terdiam sejenak, Stella memperhatikan satu persatu anggota Esocial yang ada di sana. Berharap jika salah satunya adalah Chris. Namun sayang, dari tujuh anggota Esocial yang datang tak nampak Chris salah satunya.
"Yang ku ambil dari mitologi Nordik dan ketakutan orang Amerika."
Kening Anne mengerut.
"Kau tau kepercayaan orang-orang Nordik?" Stella berdiri dari duduknya. Anne menggelengkan samar.
"Dulu mereka punya 12 dewa utama yang hidup damai dan sejahtera. Hingga suatu ketika saat ke 12 dewa itu sedang mengadakan acara makan bersama, datanglah satu dewa. Dewa perusak dan licik. Kau tau siapa?"
"Loki?"
Stella tersenyum sumringah. "Yes, kau benar. Loki menjadi dewa utama ke 13 mitologi Nordik, dewa perusak yang membawa kekacauan dan kematian. Makanya orang-orang Eropa percaya jika angka 13 akan membawa sial. Termasuk Oxley General." Stella menjeda ucapannya sejenak. Menenggak sebotol air mineral, tanpa perduli kedua lelaki itu masih menodongkan senjata kemanapun langkahnya berderai.
"Kau pasti tentu tau tak ada senjata buatan Oxley General yang di memakai angka 13 di setiap produknya. Lift, kantor, dan lain-lainnya juga tak ada berangka 13. Karena apa? Mereka percaya tentang mitos angka 13 yang membawa malapetaka. Begitupun dengan hari Jumat. Setiap hari Jumat yang bertepatan dengan angka 13, akan selalu ada kejadian buruk yang menimpa orang-orang Amerika. Bencana akan selalu datang kepada mereka, kau bisa dengan mudah mendapatkan list bencana apa saja yang bertepatan pada hari Jumat bertanggal 13 di internet. Mereka yang percaya akan hal itu bahkan sampai memperingatinya dan menamainya 'Friday the
Thirteen'".
"Dan kau percaya akan mitos aneh itu?"
"Aku lebih percaya dengan konspirasi yang meliputi kedua angka dan hari itu."
Hening, sejenak Anne dan Stella saling melemparkan pandangan dengan tatapan yang berbeda-beda. Atmosfer di dalam ruangan itu sungguh begitu mencekam, di tambah dengan Sebastian dan Tyler yang tak lelah menodongkan senjatanya ke arah Stella.
"Kalau begitu, lakukan sekarang. Aku mau malam ini Oxley General hancur."
Stella tetap berusaha tenang. Dia membuang pandangannya dan terlihat tersenyum simpul
"Aku butuh linux untuk menjalankan program itu."
Kepala Anne bergerak menunjukkan seperangkat alat komputer yang sudah terpasang rapi di salah satu meja ruangan.
"Waktumu 30 menit, Stella."
Dengan angkuh dan sombongnya Stella berjalan ke arah komputer itu berada seraya berkata
"Aku hanya butuh waktu lima menit untuk membuat virus itu."
TO BE COUNTINUE...
**NP.
Tadinya mau endingin di bab ini ternyata kepanjangan huhuhu. Jadi Author bagi dua bab aja ya biar pembaca gak bosen**.
__ADS_1