
Keposesifan Judika terus berlanjut. Berjalan sambil menuntun Stella seperti anak kecil, Judika terus berseloroh. Menceramahi dan mengomentari kedekatan wanita itu dengan Abangnya. Awalnya, Stella tetap diam tak menanggapi. Namun, semakin lama ucapan Judika sudah semakin melantur dan kemana-mana. Membuat Stella akhirnya geram, marah, hingga memukul tubuh Judika dengan sangat keras.
"Lo gak ngapa-ngapain kan sama si macan? dia kok sampe gitu banget sama lo? Sumpah gue ga akan setuju kalau lo sama dia apalagi sampe jadian sama dia. Gak bakal ridho gue, Stella hidup dan mati..."
Plak... Plak... Plak
"Sakit, Stel.." Mengelus-elus punggungnya kemudian berpindah ke dada dan perut.
"Kalau ngomong itu jangan ngaco. Lo kira gue ayam kampus yang mau sama om-om kaya Reza." Bersedekap tak lagi memerasakan panas di tangannya.
"Bahahaha..." Judika tergelak hingga membuat mata orang-orang yang berjalan di sekitarnya melirik ke arah mereka dengan tatapan aneh.
"Judika!" pekik Stella merasa malu di lihatin seperti itu oleh yang lain.
"Sorry-sorry, sumpah gue ga tahan sama omongan lo, njir. Abang gue om-om? hahahaha." Tak memperdulikan Stella yang sudah sedaritadi menutup wajahnya menahan malu.
"Tapi benar juga, sih umur dia aja udah tiga puluh dua tahun. Udah masuk kategori om-om sih bentar lagi."
Plak...
Stella kembali memukul Judika. "Udah ayo, jadi anterin gue ke rumah sakit gak nih?"
"Jadi dong, sayang. Ayo biar abang gandeng."
"Ish..." Memasang wajah jijik tetapi tetap menerima gandengan tangan Judika.
Judika mengandeng tangan Stella kembali menujuh halaman gedung TTV, masuk ke dalam area parkir khusus mobil.
"Tunggu, tunggu." Berhenti dan melepaskan gandengan tangan Judika. "Lo markir si jago di sini?" tanya binggung Stella.
Si jago sendiri adalah motor metik keluaran tahun 2004 milik Judika. Motor itu, sangat-sangat di sayang oleh Judika. Kemanapun lelaki itu pergi, si jago selalu setia menemani. Bahkan untuk melancong bersama Stella pun, Judika selalu membawa si Jago. Tapi kali ini, Judika tak membawa si jago melainkan mobil sport yang pernah dia bawa sewaktu ke kampus sebelum pandemi melanda dunia. Mobil sport keluaran dari BMW itu adalah kado dari sang ibu, yang amat jarang ia pakai apalagi ketika bersama wanita. Judika takkan pernah mau membawa BMW itu, meskipun wanita incarannya ilfil dan tidak lagi mau melanjutkan PDKT dengannya.
__ADS_1
"Gue gak bawa si jago."
"Kenapa?" tanya Stella penasaran. Pikirannya tumben sekali dia ga bawa sobat klopnya itu.
"Yah, karena gue ga mau kalah saing dan pamor lah sama abang gue. Dia bawa Audi gue juga bisa bawa BMW."
Astaga, Stella berdecak. Lagi-lagi ini soal abangnya.
"Jud, gue gak suka lo ngerubah sikap dan sifat lo karena seseorang. Apalagi orangnya itu gue. Jangan!"
Judika menepuk punggung Stella pelan, kemudian tersenyum, "gue cuma bercanda, Stella. Masa, ia gue bawa mobil gue sendiri harus pake alasan," kilah Judika sambil terkekeh.
"Yakin?"
"Sure."
"Ok, ayo kita ke rumah sakit."
"Lo pokoknya jangan dekat dan harus menghindar dari dia kalau dia deketin lo, ok?"
"Hmmm." Pura-pura main ponsel dan mengecek tugas besok.
"Lo tau, dia itu jauh beda sama gue. Bahkan orang-orang Inggris aja nyebut dia miliader berhati es. Udah gitu, cewek-cewek yang deket sama dia gak ada sampai seminggu bertahan sama dia. Yah, karena sifatnya itu galak kaya macan betina lagi PMS."
Stella melirik Judika lalu tertawa. "Gitu-gitu dia abang lo, Judika Dwi Hartanto."
"Of course. Gue ga nampik itu dia emang abang gue, tapi sorry to say nih yes, meskipun gue sama dia kakak beradik tapi untuk urusan sifat dan kelakuan jauh berbeda." Terus menjelek-jelekkan Reza dan membanggakan dirinya sendiri. "Gue udah jelas dong aktivis, penulis, pencinta alam. Teman-teman gue juga banyak gak kaya dia si anti sosial yang ga bisa di ganggu kalau lo ga mau kena omelan tujuh hari tujuh malam. Ia si dia ganteng pake banget, tapi tetep aja cewek jaman sekarang gak mandang dia cuma dari tampang..."
"Kaya lo, kan?" potong Stella.
"Lo kok kaya gue?" Kening Judika mengerut tidak mengerti dengan ucapan Stella.
__ADS_1
"Ia. Cewek jaman sekarang ga mikirin tampang doang, kalau gak kaya, gak sukses, gak punya rumah dan harta tujuh turunan lima tanjakan gak abis-abis juga ga ada yang mau. Bagi cewek jaman sekarang duit itu segalanya, bahkan sampe rela jual badan demi iPhone keluaran terbaru. Apalagi cowok playboy, pura-pura miskin penampilan gembel kaya lo udah pasti cewek juga gak mau, meskipun lo punya tampang gandeng mirip David Beckham sekali pun."
Senyap sesaat Judika terdiam. Tanpa sadar dia mengepal setir mobilnya.
"Kalau lo bakal lebih milih siapa, kalau benaran di antara gue dan Abang gue suka sama lo."
Jadi Judika masih berpikir, jika pengakuan Judika tadi tentang perasaannya di kafe bersama Reza adalah sebuah lelucon hanya untuk menjauhi dirinya dengan Reza. Meskipun sebenarnya itu adalah pengakuan perasaan Judika yang sebenarnya kepada Stella.
"Oh tentu, Reza." Tertawa terbahak-bahak. "Jelas, dia gak cuma ganteng, tapi juga pemilik sekaligus pendiri Oxley General perusahaan persenjataan terbaik di dunia, siapa yang gak mau sama dia. Walaupun dia serem kaya macan betina yang lagi PMS." Mengibas-gibas tangannya. "Udah pasti hidup gue aman dan sejahtera."
Benar. Jadi itu yang di pikiran oleh Stella, jika di suruh memilih antara Judika dan Reza.
"Pemikiran klasik, dan logis. Yah, gue akui hidup tanpa uang di jaman sekarang itu gak akan mungkin. Kalau jaman dulu masih sistem barter masih berlaku. Jaman sekarang sistem monarki yang berlaku."
Merasa nada suara Judika berbeda, dengan gerakan patah-patah Stella menoleh untuk melihat Judika. Ekor matanya langsung menatap sebuah manik yang berbinar penuh kecewa dan kesedihan. Sebuah gurat wajah dingin sedingin kristal es.
Stella mengerti, nampaknya Judika tersinggung akan ucapannya barusan. Dengan tenang dan kelembutan Stella mengusap punggung Judika. Judika yang masih fokus menyetir, seperkian detik menoleh dan menatap Stella heran.
"Gue cuma bercanda kok, Jud. Mustahil untuk gue cewek banyak kekurangan dan jauh dari kata sempurna di rebutkan oleh dua pangeran kaya raya seperti kalian. Gue harus sadar diri, gue ini siapa, kalian ini siapa. Gue datang dari orangtua yang udah gak ada dan kakak-kakak yang nelantarin gue, Lo datang dari keluarga yang sempurna penuh tradisi dan peraturan hebat." Menggelangkan kepala. "gue bukan tuan putri yang bermimpi di miliki dan di cintai seorang pangeran."
Tiba-tiba tak tau alasannya apa, Judika menepikan mobilnya di pinggir jalan.
"Loh kenapa berhenti?"
Tak menghiraukan perkataan Stella, Judika melepaskan sabuk pengaman yang terpasang di tubuhnya dan meraih tangan Stella.
"Jud..." Binggung Stella tak mengerti dengan sikap Judika hari ini.
"Gue benaran suka sama lo, Stella Sasmita. Dari pertama kali, gue gak sengaja ngelempar basket sampai kena kepala lo. Gue suka sama. Gue cinta sama lo. Kalau lo mandang gue dsri harta dan jabatan, gue bakal ninggalin dunia gue dan mengambil jabatan CEO itu. Asalkan lo jangan deket-deket sama Abang gue, dan terima gue jadi pacar lo."
TO BE COUNTINUE...
__ADS_1