
Malam semakin larut, salju pun semakin lebat turun menghujami tanah Inggris. Orang-orang berlalu-lalang memadati jalanan Inggris untuk menyambut perayaan natal. Senyum melukis bibir mereka, merayakan malam penuh kebahagiaan bersama-sama orang terkasih. Kecuali Reza. Selepas kepergian Leo, dia tetap tinggal di dalam ruangan. Termangu menatap lembar kertas perjanjian yang baru saja di tanda tangani oleh Leo. Terlalu banyak pikiran yang mengganggunya saat ini. Ia terlalu frustasi. Amat sangat frustasi. Bahkan sakit kepala yang telah lama, tidak menghinggapinya kini datang kembali bahkan dengan tekanan lebih berat. Membuatnya kadang tidak bisa untuk tidur.
Semenjak mendengar ibunya sakit keras, juga sistemnya di retas seseorang yang ia yakini bukan Joseph. Membuat hidupnya di rundung cemas dan gusar. Menghabiskan waktunya di dalam bengkel, untuk menemukan siapa peretas asli yang telah membobol sistemnya terus ia lakukan walaupun hasilnya nihil, sia-sia. Ia tak menemukan apapun selain anonim tak terbaca. Hanya riwayat hidup Joseph yang seakan-akan sengaja ditulis di sana sebagai kamuflase menutupi kebusukan peretas asli. Reza yakin, hacker yang sedang ia hadapi bukanlah seorang hacker biasa. Dia sudah begitu handal, ulung yang tak bisa di anggap sebelah mata.
Tubuh kekar berbalut jas navy dengan dasi merah itu bangkit dari duduknya. Berjalan menghampiri jendela restoran yang setengah terbuka, menampilkan pemandangan kota antik London yang tertutup selimut kapas putih, yang terbentang begitu luas. Dingin langsung menyeruak memasuki tubuhnya yang hanya dilapisi pakaian tak terlalu tebal seperti jas. Rasanya begitu dingin, seperti hatinya kini. Tak ada rasa yang dapat ia rasakan, selain ketakutan dan cemas. Begitu cemas, memikirkan bagaimana jadinya jika peretas itu nekad menyebarkan rahasia besarnya ke hadapan publik. Sudah tentu pasti, reputasi yang selama ini ia bangun akan hancur dan luluh lantak. Tak ada yang pernah menyangka, seorang miliarder dermawan yang begitu amat tertutup dengan kehidupan pribadinya memiliki kelainan seksual yang menyimpang yaitu; sadisme, seperti Reza. Takkan ada. Sudah pasti berita itu akan menjadi buah bibir yang pasti akan trending di dunia.
Ah, sial! Reza mengumpat keras. Memukul dinding bercat kuning emas dengan keras. Jones, sang asisten setia hanya bergeming di dekat pintu. Tak ada yang bisa, ia lakukan selain berdiam diri. Dirinya bahkan tak tau apa yang saat ini mengganggu tuannya.
"Apa kau sudah mendapatkan info terbaru tentang Joseph?" Suara parau dan berat itu bertanya kepada Jones. Ia menatap punggung tuannya, berdehem sejenak sebelum kemudian melangkah mendekat.
"Joseph menyuruh beberapa anak buahnya mengawasi tiga orang; tuan Leopard, seseorang dari Spanyol, dan jurnalis sahabat tuan muda Judika yaitu Stella."
Tubuh tegap Reza berputar, menatap Jones dengan tatapan nanar bercampur marah. Entah mengapa, Reza begitu yakin jika ada sesuatu yang tidak beres dengan jurnalis bernama Stella itu. Ia yakin, jika Joseph memiliki dendam kepada Stella atau Stella yang memiliki rahasia besar Joseph. Reza harus mencaritahu.
"Apa kau sudah menemukan informasi tentang Stella?"
__ADS_1
Kepala Jones mengangguk. Tentu, titah tuannya selalu akan dia turutin apapun itu. Meskipun harus menaruhkan nyawanya sekalipun. Dan, untuk mencari informasi tentang Stella itu bukanlah hal yang terlalu sulit untuk Jones. Gadis itu sama dengan wanita Indonesia lainnya, mungkin hanya saja profesi dan sikapnya yang abnormal.
"Tidak sulit menemukan informasi tentang gadis itu, sir. Anak buah yang ku kirim ke Indonesia, sudah menemukan beberapa informasi valid mengenai kehidupan pribadi gadis berusia dua puluh tujuh tahun itu."
Mata Reza berbinar tak sabar, ia kembali berjalan dan menjatuhkan dirinya di sofa. menjentikkan tangannya menyuruh Jones untuk duduk bersamanya. Matanya terus tertuju kepada Jones, sesekali ia melirik kertas perjanjian dengan Leo atau jendela kaca tempat ternyaman untuknya menuangkan semua beban di dalam pikirannya.
"Stella ada gadis pintar yang sedang menempuh pendidikan S2nya di sebuah universitas swasta di Bekasi. Mengambil jurusan jurnalistik sama dengan pendidikannya sebelumnya. Sedari menempuh pendidikan S1 hingga S2 Stella selalu mendapat beasiswa karena kecerdasannya." Jones menghentikan ucapannya sejenak, menatap tuannya sedetik dan mencoba membaca pikiran tuannya. Apakah dia tertarik dengan informasi ini? Atau tidak? "Ayahnya seorang aktivis kemanusiaan, yang aktif pada masa orde baru. Ayahnya kemudian hilang bersama aktivis lainnya saat kerusuhan menentang orde baru menyeruak di Indonesia. Hingga sekarang tak ada yang tau apakah ayahnya masih hidup atau justru telah meninggal. Stella begitu mengidolakan ayahnya, hingga ia mengikuti mengantikan ayahnya menjadi aktivis kemanusiaan seperti sekarang bersama tuan muda Judika. Membela kaum lemah, dan menentang pemerintahan yang menurutnya tidak benar. Justru itu Stella sekarang juga mendapatkan masalah dengan pekerjaannya sebagai jurnalis politik."
Reza menyeringai, melonggarkan dasinya sambil memejamkan mata. "Dia salah jalur mengambil keputusan untuk masa depannya. Sudah tau politik adalah musuh bebuyutan hidupnya. Ia malah masuk ke dalam lubang kotor yang penuh bedebah berdasi itu."
"Dia seorang jurnalis jujur yang berdedikasi tinggi dengan pekerjaannya." Jones kembali melanjutkan ucapannya, dan Reza kembali tersenyum. Bagaimana tidak, ia tidak berdedikasi tinggi akan pekerjaannya. Toh dia bekerja sebagai jurnalis atas dasar dendam yang membara akibat kehilangan idola di hidupnya. Reza sudah dapat berpikir seperti itu. "Dia selalu melaporkan apapun yang ia lihat di lapangan. Termasuk yang sedang trending di Indonesia saat ini. Saat pemerintahan melawan pemuka agama." Jones mengeluarkan ponselnya memperlihatkan sebuah artikel berbahasa Inggris yang memberitakan tentang topik yang sedang hangat di Indonesia baru-baru ini. "Stella memberitakan ini, dan dia menulis berita tersebut dengan nada yang begitu kontras membela pemuka agama. Dan menyebabkan dirinya di sebut sebagai penghianat negara."
Reza mendesah, menyenderkan tubuhnya di sofa empuk dengan nyaman. Matanya terpejam dan telinganya terus mendengarkan ucapan demi ucapan yang Jones katakan tentang jurnalis bernama Stella itu.
"Lalu bagaimana bisa Judika dan dia berteman bahkan bersahabat?"
__ADS_1
Kali ini Jones terlihat begitu berat mengatakan kepada tuannya. Mungkin informasi ini, yang akan memberikan penjelasan mengapa tuan Judika menjadi lelaki bebas yang berjalan sesuai dengan arah hatinya.
"Saat Stella masih menempuh pendidikan S1nya. Tak sengaja tuan muda Judika melemparkan kulit pisang yang di injak dan membuat Stella terpeleset di lapangan kampus tempat mereka berdua berkuliah. Dari sana, mereka mulai berkenalan dan dekat..."
Mata Reza mengerjap. Ia kembali memposisikan tubuhnya tegap dan menatap Jones dengan tatapan penuh tanya. Mengapa dirinya menjeda ucapan yang membuat ia penasaran setengah mati?
"Lanjutkan..."
"Uhm... Semenjak berkenalan dan dekat dengan Stella, tuan Judika menjadi berubah total. Menjadi anak yang bebas dan bisa di katakan berandalan, yang hidup sesuai keinginan hatinya. Dia juga masuk ke dalam komunitas aktivis dan aktif menjadi seorang relawan kemanusiaan semenjak dekat dengan Stella. Dia juga berhenti belajar bisnis dan beralih mengambil jurnalistik seperti Stella. Bisa dibilang Stella merubah hidup tuan Judika."
Alis Reza bertautan, membentuk anak panah. Ia menyeringai. Bertepuk tangan dan kemudian tergelak. Tubuh Jones refleks memundur, bergetar hebat mendengar reaksi tuanya yang tidak sesuai dengan ekspektasi yang ada di dalam pikirannya.
"Wanita luar biasa, yang dapat mengubah hidup seorang lelaki. Saya ingin kau mencari lebih detail sosoknya. Mata-matai kehidupan gadis itu, dan laporkan apapun yang ia lakukan kepada saya."
TO BE COUNTINUE...
__ADS_1