
Untuk beberapa saat, Reza tetap diam menatap ke arah jendela yang menampilkan sosok Judika yang diam bergumam tak jelas di beranda utama. Dia sedikit mendesah, melihat sang adik dengan gurat wajah bersedih. Entah apa yang sedang di pikirkan olehnya, Reza tak tau. Mungkin ucapannya tadi yang mengatakan jika Liliana, ibunya sedang sekarat.
"Sir, sepertinya ada sesuatu yang salah dengan diri anda hari ini." Jones telah kembali menjadi pribadinya; mngeritik Reza tanpa mengenal takut. Dia masih sibuk tepekur dengan tablet kesayangannya, duduk di sebelah Reza.
"Apa maksudmu?"
Dia mendesah mematikan laptopnya dan beralih pandangan ke arah Reza. "Sikapmu tak seperti biasa. Kau bahkan pernah mengatakan kepadaku, jika sangat memuakkan bicara dan berkumpul dengan orang-orang Hartanto. Tapi malam ini kau terlihat begitu bahagia bercekrama ria dengan mereka semua."
"Semua orang dapat berubah bukan, Jones?" Dia tersenyum. Meletakan tangannya di jendela kaca tertutup mobil dan mengusap wajahnya.
"Ya aku setuju, sir. Namun, sikap mu bukan menunjukkan perubahan. Lebih terlihat sedang memaafkan sesuatu," katanya blak-blakan. Reza hanya mengulum senyum, kembali menyelami kesunyian hatinya. Jones memang benar, bukan Reza namanya yang tiba-tiba berubah sifat hanya untuk keluarga yang telah membuangnya. Dia pasti sedang menyiapkan sebuah rencana. Entah rencana apa, tetapi feeling Jones mengatakan tuannya akan kembali ke dalam dunia hitam yang telah cukup lama ia tinggalkan.
Sementara itu di bawah shalter, Stella duduk termangu seorang diri dengan sweater rajut abu-abu menyelimuti tubuhnya. Kakinya terlihat terluka, lecet karena berlari-lari tadi. Dia mendesah frustasi, sambil menyenderkan kepalanya di pilar shalter. Sesekali membentur-benturkan kepalanya, mencoba mencerna apa yang terjadi malam ini.
Di persimpangan jalan, Jones meminta supir menghentikan laju mobil, saat irisnya melihat sesuatu yang tak asing untuknya. Reza terkesiap, kembali menegakkan tubuhnya.
"Apa yang kau lakukan?" tanyanya sedikit meninggikan nada.
__ADS_1
"Lihat, tuan. Bukankah itu Stella Sasmita." Jones menunjuk ke arah seorang gadis yang tengah duduk seorang diri di shalter dengan penerangan yang remang-remang.
Reza menyipitkan matanya, mencoba melihat dengan jelas siapa sosok yang di maksud oleh Jones. Saat, dirinya menyadari siapa sosok itu dia menghela napas, kembali ke posisinya semula; meletakan tangannya di jendela kaca dan meminjat kening.
"Sepertinya dia sedang menunggu bus. Dan satu hal, aku lebih suka dengan nama aslinya Nadila. Itu lebih lebih cocok untuknya, di bandingkan dengan Stella."
"Rumahnya di Bekasi, sir. Sebenarnya dia bisa menggunakan transportasi kereta yang berada tepat di belakangnya. Itu stasiun kereta, dan yang sedang ia duduki bukan sebuah halte. Tak ada bus yang berhenti di sana memiliki rute ke Bekasi." Jones menjelaskan begitu terperinci kepada Reza. Layaknya seperti ia sudah sangat lama tinggal di Indonesia. Padahal itu adalah kali keduanya berada di Indonesia, dan tak perduli dengan nama asli Stella.
"Mata-matai saja dia. Aku ingin tidur. Sakit kepalaku sepertinya semakin parah." Ya! Untuk sekian kalinya, Reza harus merasakan sakit yang amat sangat menghantam kepalanya. Ini sudah terlalu sering. Amat sering. Semua pengobatan bahkan telah ia lakukan. Hingga jalan operasi. Namun, tetap saja sakit kelapanya tak kunjung membaik dan malah semakin bertambah parah dari tahun ke tahun.
"Ah... Apa semesta emang ga izinkan gue untuk bahagia." Stella mengerutu kesal. Untuk beberapa kali, ia terus membentur kepala di pilar shalter. Seperti orang bodoh, yang kehilangan akal. Untung saja malam itu gelap, dan sepi tak ada yang melihat tingkah lakunya, kecuali mobil mewah di seberang jalan sana yang bersembunyi di balik kegelapan.
"Sir, apa mungkin gadis itu memiliki masalah kejiwaan? Atau stress berat seperti anda?"
"Mungkin kewarasannya telah hilang karena sikap ibu." Tak di sangka, Reza yang di pikir sudah melayang pergi ke alam mimpi, ternyata sedang duduk tegak fokus menatap Stella juga sama seperti Jones.
Kedua mata orang itu terus terbenam menyelami tingkah laku aneh sekaligus menghibur Stella. Lihat! Wajahnya yang cemberut dan merah merona karena menahan hawa dingin Jakarta terlihat begitu lucu. Itu bahkan berhasil membuat kedua orang di dalam mobil tersenyum geli. Terlihat bodoh, layak seorang yang sedang tertarik kepada lawan jenis.
__ADS_1
"Dia lucu."
"Saya setuju, sir."
Tanpa sengaja keduanya berucap demikian. Meruntuhkan rasa curiga kepada gadis itu, dan mengubur dalam-dalam perkataan Liliana yang sebenarnya tadi sempat mempengaruhi pikiran mereka. Tingkah lucu dengan wajah cantik naturalnya mampu membenamkan sel-sel arogan ke dua orang itu. Mereka terbius akan pesona kekasih penerus Hartanto Grup. Tak perduli lagi, bagaimana Liliana tadi sudah mewanti-wanti agar mereka berhati-hati dengan sosoknya.
Dan, saat kesadaran mereka pulih. Keduanya nampak bagaikan orang bodoh, yang salah tingkah. Baik Reza dan Jones mengerutu dalam diam. Bersumpah serapah pada kebodohannya tadi memuji gadis itu, hingga berucap yang tidak seharusnya mereka ucap. Keduanya tiba-tiba terlihat canggung. Sama-sama berdehem dan mulai salah tingkah. Mereka benar-benar terlihat bagai dua orang bodoh yang tidak tau habis berbuat apa. Berdiam diri, dengan gerak tubuh kaku mencoba mencairkan suasana.
"Dia kekasih adikku." Reza berucap pertama. Mencoba menekankan kalau Jones tidak boleh menyukai Stella.
"Saya pun, masih belum melupakan mantan istri saya, sir." Menggaruk-garuk kepalanya yang sebenar tidak terlalu gatal.
"Baiklah." Menepuk punggung sopir. "Ayo kita jalan."
Mobil pun berlahan melaju kembali. Meninggalkan Stella yang masih terbenam di shalter seorang diri. Gadis itu masih terus membentur-benturkan kepalanya di tiang shalter. Sesekali berteriak dan mengacak-acak rambut kusutnya.
"Ah! Masalah satu kelar kenapa masalah lain muncul. Bisa gila gue kalau tiap saat ketemu psikopat macam Reza." Berteriak seperti orang tak waras sambil menghentak-hentakan kakinya. "Stella, kenapa hidup lo penuh dengan masalah, sih? Sehari hidup tanpa masalah apa gak bisa?" Gadis itu benar-benar sudah frustasi. Bagaimana tidak, seseorang yang seharusnya paling dia hindari di muka bumi ini justru berada di dekatnya. Menjelma menjadi kakak dari lelaki yang amat ia cintai pula. Oh, bumi telan lah Stella. Benamkan dia di kerak paling dalam, agar dia dapat bersembunyi dari sosok seorang Reza Eerste Oxley.
__ADS_1
TO BE COUNTINUE...