
Ada secercah harapan dan bahagia menyelusup di dada ketika mengetahui orang yang menelpon adalah Christopher. Stella merasa ini akan menjadi peluang untuknya memperbaiki keadaan. Tentu dengan status Chris yang masih menjadi suami Anne, lelaki itu pasti mengetahui di mana lokasi persembunyian Anne bersama komplotan Esocial lainnya.
Tapi pertama-tama, Stella bangkit dari duduknya setelah memekik cukup keras menyebut nama Chris. Dia beringsut, berjalan hingga ambang pintu kamarnya. Masih dengan posisi ponsel yang berada di telinganya, Stella membuka sedikit pintu kamar, menyemburkan kepala menelonggok untuk memastikan keadaan di luar kamar sepi.
Sungguh, untuk beberapa alasan memang menerima telpon dari Chris di rumah milik Jones, Stella yakini akan menimbulkan kesalahan pahaman. Mengingat, Reza yang nampak belum sepenuhnya percaya akan dirinya pasti pikiran-pikiran negatif akan muncul saat tiba-tiba Reza mendengar Stella bicara di telpon dengan Chris. Dia pasti akan menyangka jika diam-diam Stella sedang bersiasat untuk kabur dari sana dan bergabung dengan Esocial. Oh god, sungguh dia tak ingin itu terjadi. Untuk sekarang, Stella hanya berharap dapat menemukan Anne dan setelah itu ia dapat menerima kembali kebebasannya. Dia sudah menulis list hidup yang akan dia jalani bersama anaknya kelak, tentu itu tanpa adanya campur tangan Reza.
Setelah menyakini jika tak ada orang yang mendengar atau berada di luar kamar, Stella kembali masuk, menutup pintu dan menguncinya, lalu naik ke atas ranjang untuk duduk bersila sambil mendengarkan Chris yang mulai bicara di seberang sana.
"Stella, kau di Inggris? Apa kau baik-baik saja?" Jujur mendengar perhatian Chris kepadanya membuat Stella semakin merindukan Judika jauh di sana. Stella berharap lelaki itu tidak menyesal dengan keluar jalur hidupnya dan memilih mengikuti keinginan ibunya untuk meninggalkan dunia relawan dan penulis untuk menjadi seorang pengusaha multinasional.
"Ya, aku di Inggris, Chris. Jangan khawatir, aku baik-baik saja." Stella berkata dengan suara lemah dan pikiran masih melayang memikirkan Judika.
"Syukurlah. Beberapa hari terakhir aku berusaha menghubungi mu tapi ponselmu selalu sibuk dan tiba-tiba tidak aktif bersamaan hilangnya Anne."
Stella berdecak mendengar kabar Anne menghilang. Mungkin beberapa hari yang, Chris maksud adalah hari di mana sebelum dan saat dirinya di culik oleh Anne. Oh, entah mengapa Stella menjadi tak yakin kalau Chris mengetahui keberadaan Anne sekarang. Sia-sia. Masa depan indah bersama sang anak, tiba-tiba melayang pergi dan menjauh.
"Maaf, aku benar-benar sibuk mengurus keberangkatan ku ke..."
"Kau berbohong, Stella." Chris tiba-tiba memotong ucapan Stella. Membuat wanita itu diam seketika dan mengernyitkan dahi binggung.
"Apa maksudmu, Chris?"
"Tyler sudah menceritakan semuanya kepada ku."
Satu nama lelaki yang langsung mengingatkan Stella dengan kejadian di malam dia di sekap dan di todongkan pistol oleh dua laki-laki yang amat sangat dia kenal, tentu salah satunya bernama Tyler itu.
"Saat aku berusaha mencari keberadaan mu, satu anak buahku yang ku kirim ke Jakarta untuk melihat keadaan mu menemukan sebuah gudang yang di dalamnya ternyata berisikan jasad Sebastian. Awalnya, ku pikir itu ulah Reza yang mengetahui jika Sebastian adalah bagian dari Esocial. Namun, sayangnya dugaan ku salah," dia menjeda ucapannya untuk menghela napas panjang dan menahan sesak yang tiba-tiba menelusup memenuhi dinding dada. "Malam harinya, Tyler pulang ke Jogja dengan bersimbah darah akibat luka tempat yang bersarang di beberapa titik bagian tubuh dan kaki. Dia meninggal tak lama setelah operasi pengangkatan peluru di mulai. Tapi sebelum dia benar-benar menghembuskan napas terakhirnya, Tyler sempat memberikan ku surat tangannya yang berisikan semua yang telah terjadi kepada mu dan Anne."
Stella binggung harus bereaksi seperti apa. Haruskah dia bersedih karena Tyler si pengkhianatan itu meninggal meskipun ketika menghembuskan napas terakhir dia telah berbalik haluan berpihak kembali kepada Chris, atau justru bahagia karena nyatanya Chris telah mengetahui kebusukan istrinya.
"Aku turut berduka cita, Chris." Hanya kata itu yang mampu Stella ucapkan. Stella sadar saat ini, Chris pasti sedang menahan gejolak di dalam dadanya akibat perbuatan Anne, yang menikahinya hanya untuk memanfaatkan status dan masa lalu Chris dengan Reza.
Namun tanpa di sangka disebrang sana, Chris justru terdengar terkekeh. Membuat Stella nampak bodoh, dan binggung tak mengerti.
"Aku tak apa, Stella. Jangan mengasihani ku."
Stella melebarkan senyuman. Ya, meskipun sebernarnya itu tak perlu karena Chris sendiri pun tak dapat melihat.
"Aku tidak mengasihani mu, Chris. Aku benar-benar tulus mengucapkan itu."
"Tentang siapa? Tyler atau justru Anne?"
Bahu Stella bergedik. "Mungkin keduanya."
"Lalu di mana kau sekarang?"
Kini gantian, Stella yang malah terkekeh. Tidak mungkin Chris tidak mengetahui dirinya berada di mana. Bahkan nomer ponsel barunya saja dia Mengetahuinya, mustahil sekali jika dia tak mengetahui koordinasi lokasi.
"Kau bercanda?" Masih dengan terkekeh tetapi kini dia memutuskan untuk turun dari ranjang karena mendengar suara deru mobil yang amat sangat nyaring.
__ADS_1
Di sibaknya gorden berwarna navy tebal yang menutupi jendela. Terlihat sebuah mobil Audi hitam baru saja tiba di halaman rumah. Tak lama, Jones keluar dari dalam mobil namun tanpa membawa apapun di tangannya.
Kening Stella mengerut. Asisten itu sudah pergi lebih dari 4 jam lamanya, dan dia pulang tanpa membawa pesanannta? Sungguh ironi.
"Kau pasti mengetahui keberadaan ku di mana, Chris." Sambil mengelus-elus perutnya, dia menyemangati janinnya untuk bersabar karena paman Jones tidak menemukan sate padang keinginannya.
"Ya, beberapa jam lalu aku memang mengetahui lokasi mu. Castil Glory Sunday, itu tempat di semayamkannya jasad ayah ku, dan..." Chris tak dapat melanjutkan ucapannya. Takut jika Stella malah takut.
"Bekas penjara Oxley General, right?"
"Ya. Tapi kau tak apa, kan? Mengapa kau bisa berada di sana? Hanya orang-orang tertentu yang memiliki akses untuk masuk tempat creepy itu."
Setelah melihat Jones masuk ke dalam rumah, Stella kembali menutup jendela, berjalan dan duduk di sofa tepat di depan ranjangnya yang berhadapan dengan televisi layar datar. Dia menyalahkan televisi, untuk mengisi kekosongan ruangan itu dan agar supaya suara dia menelpon Chris tidak terdengar dari luar.
"Kau benar Kastil itu sangat menyeramkan. Lebih cocok di sebut banker atau benteng bekas perang. But, kau tau pemandangan di luar kastil itu sangat indah. Aku bahkan rasanya ingin mendirikan tenda dan kemping di sana."
"Haha, aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali menginjakkan kakiku di sana." Tiba-tiba sekelebat ingatan tentang kastil Glory Sunday terlintas di benak Chris.
Kastil itu dulu sering ia kunjungi bersama ayahnya dan Reza. Kadang-kadang, Jones juga ikut bersama. Mengingat mendiang ayah Jones, Sir Arthur Anderson adalah junior ayah baptis Chris di angkatan darat dulu. Mereka sering mendirikan tenda di sana, memancing dan kemping di sana. Itu masa-masa yang indah, sebelum akhirnya Emmanuel meninggal dan Reza mengalihkan fungsi kastil itu menjadi tahanan dan kuburan massal.
"Chris, apa kau tau di mana, Anne?" Akhirnya Stella mengatakan apa yang menjadi bebannya.
"Dia ada di Manchester, sama dengan mu," jawabnya dengan begitu santai. Seolah-olah dia tidak terkejut atau takut kalau Reza akan memburu wanita yang masih berstatus istrinya.
"Manchester?" tanya Stella dengan nada staccato memastikan jika telinganya tak bermasalah.
"Dalam surat Tyler, dia mengatakan jika virus yang kau ciptakan telah di modifikasi oleh Anne dan Esocial. Anne bahkan mengetahui, kau menaruh alamat IP nya dan mengganti dengan alamat IP siluman (tak teridentifikasi). Juga tentang kau yang mengirimkan bala bantuan kepada WolfMan, dia menghapusnya sebelum WolfMan membacanya."
"Chris, aku butuh bantuan mu untuk menangkap Anne."
Di sebrang sana Chris terdiam tak menanggapi ucapan Stella. Nasi sudah menjadi bubur, pikir Stella. Mungkin Anne berhasil mengecoh Stella, tapi kali ini tidak. Stella bertekad akan menangkap Anne apapun yang terjadi. Meskipun harus berperang melawan Chris sendiri.
"Aku tau dia istri mu, but dia sudah membuat kekacauan atas nama dendam pribadinya sendiri."
"Stella," Di seberang sana suara Chris terdengar sumbang, Stella tau lelaki itu sedang menahan tangisannya. "Ini sulit untukku. Tapi aku akan membantu mu untuk menyadarkan, Anne."
Kepala Stella mengangguk setuju.
"Kau benar. Lalu apa rencana mu?"
"Lusa akan ada festival warna tahunan yang Anne suka di pusat kota. Datanglah, tapi sebelum itu temui seseorang bernama Keira. Keira adalah adik satu-satunya Anne yang tak tercium oleh publik, kau bisa meminta bantuan kepada Reza untuk menemuka Keira, Stella."
"Pertanyaan ku, bagaimana caranya memancing Anne untuk keluar dari persembunyiannya?"
"Aku yang akan menghubunginya. Mengatakan jika Reza akan menangkap Keira dan kau di Inggris. Setelah Anne percaya, tinggal ku tunjukan jalan ke arah mu."
"Chris, kau yakin Anne akan percaya?" Stella merasa jika rencana Chris yang kurang mantang akan gagal. Dia tak ingin itu terjadi, bisa-bisa Reza semakin tak mempercayainya dan just malah akan mencelakai janin di perutnya.
"Tentu saja. Karena tak ada satu orangpun di dunia ini mengetahui Keira, termasuk Reza."
__ADS_1
Mendengar nada suara Chris yang amat sangat menyakinkan tidak salahnya untuk Stella coba. Di kondisinya yang sekarang, Nadila takkan tau pihak mana yang benar-benar berada di sisinya. Nadila patut mencoba apapun cara yang ada di depannya semua demi hidupnya juga janin di dalam perut.
"Ok. Aku akan menuruti cara mu. Beri aku waktu untuk berunding dengan Reza dan Jones sebentar, setelah itu akan ku hubungi kau lagi."
"Ok, deal."
Telpon berakhir, Stella berdiri dan menghempaskan ponselnya ke atas ranjang. Dia menghela napas panjang, mengusap wajah kasar sambil mendongakkan kepala menatap dinding kamar megah.
Apakah dia harus menjalankan rencana, Chris untuk mendapatkan Anne? Memang tak ada salahnya mencoba rencana Chris. Namun entah mengapa, dirinya merasakan sesuatu besar akan terjadi.
Cemas tiba-tiba melanda diri Stella. Dia mundar mandir tak jelas di kamar itu, menimbang-nimbang akan kah dia menjalankan rencana Chris atau tidak. Sampai tiba-tiba sebuah suara ketukan membuyarkan lamunannya. Stella segera menutup pikirannya, berjalan menuju pintu dan melihat siapa yang mengetuk pintu kamar. Mungkin itu Jones yang telah gagal menemukan sate padang keinginannya.
"Stella, ternyata kau belum tidur."
Stella salah menerka. Di kira yang datang adalah Jones, tapi nyatanya adalah Mrs.Wheels. Nampaknya paruh baya itu sudah selesai dengan pekerjaannya. Merancang baju alias designer. Stella sedikit kecewa, huh asisten itu benar-benar tidak bertanggungjawab sekali dengan pekerjaannya. Bagaimana bisa dia tidak melaporkan apapun kepada Stella dan pergi begitu saja entah kemana melupakan tugasnya. Sungguh kali ini, Stella akan berpihak mendukung Mrs.Wheels untuk menghinanya habis-habisan.
"Ya, aku baru saja hendak pergi tidur. Tapi karena aku masih menginginkan sate padang, aku jadi tak dapat tidur." Biarkan Stella melebih-lebihkan dan berbohong. Stella yakin jika habis ini, Mrs.Wheels geram dan akan mencari Jones dan memarahinya.
"Dasar asisten gak becus. Kau tenang, dear biar nanti aku akan memarahi ketidak becusannya." Benar bukan Mrs.Wheels marah. Mungkin seperti, Stella sedikit jahat kepada Jones tapi tak apa lah mengingat bagaimana sifatnya yang mirip Reza wajib untuknya sekali-kali mengerjai. "Tapi pertama-tama, kau harus ikut dengan ku ke kamar Reza."
"Untuk apa?" Refleks tiba-tiba, Stella memundurkan tubuh. Menutup dadanya yang masih terbungkus baju dengan kedua tangan. Pikiran-pikiran kotor segera menyerang otaknya, berpikir jika Reza malam ini memintanya untuk menghangatkan ranjangnya lagi. Ah! Tidak! Itu menjijikan, Stella tidak akan mau. Tak akan.
"Aku juga tidak tau, dear. Dia hanya memintaku menemui mu, dan membawanya ke kamar dia."
Tiba-tiba, Stella mendongak dan berbisik di telinga Mrs. Wheels.
"Apa dia mabuk? Jujurlah, hidupku sedang di ujung tanduk."
Tentu ucapan, Stella yang souzon itu membuat Mrs.Wheels terbelalak. Tapi sepertinya, wanita paruh baya itu sudah melatih dirinya untuk tetap tenang dalam kondisi apapun. Terlihat meskipun terkejut seketika raut wajahnya kembali datar dengan bibir tersenyum dan mata datar tak berekspresi.
"Seperti Reza tidak mabuk, meskipun ku lihat ada botol-botol minuman beralkohol di kamarnya."
Dugaan Stella semakin kuat. Bagaimana ini?
"Dear, mari kau tak ingin membuatnya menunggu, kan? Dia bukan tipe laki-laki yang suka menunggu."
Stella cengegesan berusaha menutupi rasa takut yang tiba-tiba saja mendera. "Baik Mrs.Wheels, mari."
Dia keluar dari kamar, menutup pintu kamar dan berjalan membuntuti Mrs.Wheels menuju kamar Reza. Degup jantungnya benar-benar seakan mau copot, rasanya dia seperti ingin di bawa ke tiang gantung untuk di eksekusi mati.
Tuhan bantu aku. Aku tidak mau tidur dengannya. Meskipun dia tampan, kharismatik, juga tentunya anak dari janin ini, tapi aku tidak suka caranya meniduri ku.
Derap langkah yang begitu pelan seperti sebuah hitungan bagi Stella. Hitungan untuk nyawanya yang sebentar lagi akan melayang.
Tok... Tok... Tok
"Reza, Stella ada di sini?"
Wajah pias nampak terlihat jelas, terlebih ketika pintu kamar di buka. Stella tak berani menegakkan kepala, dia tunduk sedalam-dalamnya berkomat kamit membaca mantra kepada sang dewi untuk menyelamatkan hidupnya malam ini.
__ADS_1
TO BE CONTINUE...