
Dua hari berlalu sudah semenjak acara minum kopi mendadak antara Stella dan Reza. Stella juga kini telah kembali di kehidupan normalnya sebagai jurnalis. Sibuk mengejar berita dan mengetik artikel. Sudah dua hari pula, Stella mematikan ponselnya, jaringan komputernya dan alat komunikasi lainnya, selain nomer pribadi yang di khususkan menerima telpon dari kantor dan teman-teman sesama jurnalis lainnya. Dia menghilang bak di telan bumi dengan teman dan keluarganya. Bersembunyi entah dengan alasan apapun. Dia juga menghindari Judika, kekasih pura-puranya. Pulang agak larut, supaya tak bertemu Judika yang terus menerus datang ke indekosnya.
Dia sudah berpikir panjang selama dua hari ini. Berpikir tentang kebodohannya yang bermain api dengan Oxley General. Sungguh, tidak pernah terbayang di benak Stella jika uang yang ia bayang-bayangkan dari Big bos harus ia dapatkan dengan jalan serumit ini. Sesulit ini bahkan seterjal ini. Andai kata, Reza bukanlah kakak kandung dari Judika sahabat karibnya. Mungkin Stella masih memiliki nyali untuk menjual data pribadi milik Reza. Namun, nyatanya dunia begitu sangat sempit. Reza bukanlah hanya seorang pendiri Oxley General saja, tetapi juga kakak kandung Judika. Dia tidak mungkin, menjatuhkan dan mempermalukan keluarga sahabatnya sendiri. Meskipun nyatanya, Liliana ibunda Judika dan Reza telah melakukan itu kepadanya. Dia tak sampai hati melakukan itu, sayangnya kepada Judika sama seperti ia menyayangi ketiga kakak kandungnya, tentu termasuk juga kepada keluarganya. Juga, jangan lupakan status rahasia Reza yang seorang mafia. Walaupun itu masih Stella cari tahu kebenarannya.
"Woy, bengong aja. Mikirin apa sih? Biaya hidup?" Tiba-tiba dari belakang Alisya yang baru selesai meliput berita datang mengagetkan Stella yang sedaritadi tepekur kosong menatap jalanan di kantin depan kantor.
"Lagi banyak pikiran aja. By the way, gimana beritanya udah dapat?" Stella menyingkirkan sisa piring makannya. Mendekatkan gelas berisikan es teh manis ke hadapannya dan segera menyeruputnya hingga setengah.
"Udah sih, tapi gitu deh biasa lah politik simpang siur gak jelas. Lo tau sendiri deh."
"Iya. Gue udah dua tahun jadi jurnalis politik, salah satu kata aja beritain lima puluh buzzer siap bombardir gue. Jelek-jelekin gue sampai karier gue ancur."
"Ya begitulah politik. Keras melebihi ibukota."
Keduanya pun terkekeh bersamaan. Melepaskan penat sejenak beban pekerjaan mereka, dan mengisi kekosongan dan kejenuhan masing-masing melalui guyonan garing yang mereka ciptakan sendiri. Begitulah pahit getirnya menjadi seorang jurnalis atau wartawan. Selalu akan ada aral yang mengiringi langkah mereka untuk meliput dan mencari berita. Baik itu aral yang ringan maupun terjal. Mereka berdua tetap melewati aral itu, berpegang teguh dengan sumpah janji mereka menjadi seorang jurnalis yang berdedikasi tinggi dan jujur untuk menyebarkan berita. Tidak melebih-lebihkan atau mengurang-ngurangkan berita untuk membuat masyarakat berselisih paham. Meskipun bagai kerap kali mengguncang keduanya, baik Stella maupun Alisa tetap setia dengan sumpah mereka menjadi seorang jurnalis jujur dan bersih.
"Gimana report lo tentang riwayat hidup Joseph? Udah lo kasihin ke atasan?"
Kepala Stella mengangguk. Mulutnya masuk asik menyeruput es teh manis mengenakan sedotan plastik.
"Udah tinggal cetak aja. Semua ok."
__ADS_1
"Canggih." Alisa berdecak, bertepuk tangan dengan begitu berisik. "Baru dua hari lo kerja disini, dan di kasih tugas begitu sama atas dan langsung selesai. Hebat-hebat."
"Kayanya kadar kekepoan gue lebih parah di bandingkan jurnalis umum lainnya."
"Benar juga si. Mana mungkin ada orang yang di kasih tugas sehari nyari riwayat hidup seorang mafia misterius langsung dapat, kalau bukan yang namanya ambisius..." Alisa menjeda ucapannya, mendongakkan kepalanya mendekati wajah Stella. "Jangan bilang lo ada niatan mau naik pangkat." Bisiknya di telinga Stella.
"Ya gila kali gue! Masa baru dua hari kerja udah ada niatan begitu. Gaklah, sa."
Ketika keduanya tengah asik mengobrol, dari arah belakang Ridwan datang dan mengagetkan mereka. Masih dengan tas kamera di tangannya, lelaki berusia tiga puluh tahunan itu berdiri tepat di depan mereka. Dengan napas menggebu-gebu dan keringat yang mengalir di pelupuk kening. Dia nampak seperti seorang atlet lari, yang baru saja menyelesaikan garis akhir.
"Kenapa lo?" Alisya bertanya.
"Lo berdua ga mau liat siaran langsung dari kantor pusat?"
"Kantor pusat?"
"Iya, siaran khusus dari ruangan rapat di kantor pusat."
Tetap saja tidak mengerti dengan maksud yang Ridwan katakan. Kedua gadis itu tetap memasang wajah bodoh, dan polos.
"Astaga. Itu loh, kan Pak Judika gak mau menjadi CEO Hartanto Grup dan memegang kedudukan. Mau gak mau, ibu Liliana mencari pengganti. Nah, dewan ngasih kelonggaran waktu untuk dia menemukan siapa penerus Hartanto Grup sampai hari ini."
__ADS_1
Ya tuhan! Stella tiba-tiba saja berdiri. Tersadar akan sesuatu hal. Oh, sial dia melupakan hari ini. Dia memukul-mukul kepalanya karena telah bodoh dan melupakan hari penting ini. Bagaimana bisa dia melupakan hari bersejarah untuk sahabatnya. Bodoh! Bodoh! Stella menghentak-hentakan kakinya mengerutuki kebodohan dirinya sendiri.
"Heh, lo kemasukan jin apa si, neng sampe begitu?"
"Aduh, kak gue lupa. Seharusnya gue ke kantor pusat buat nemanin Judika. Aduh pantesan aja di nelpon gue terus dari semalam. Ah gimana dong?" Stella tak bisa diam. Dia terus mondar-mandir tak karuan, memukul-mukul kepalanya sambil menyalah ponselnya dan berusaha menghubungi Judika.
"Hah, emang kenapa?" Jiwa jurnalis dalam diri Alisa mulai berkobar. Menyelidiki sesuatu yang bisa saja menjadi bahan berita untuk di tulis.
"Ia. Kalian kan pada tau kalau Judika itu gak mau jadi penerus Hartanto Grup mengantikan ibu Liliana. Nah, sebagai gantinya ibu Liliana minta Judika cari pacar yang siap dia nikahi dan di bawa hari ini untuk diperkenalkan kepada anggota dewan."
"Terus apa hubungannya sama lo, Stella Sasmita?"
"Masalahnya gue pacaran Judika. Kalau gue ga ke sana bisa-bisa Judika di paksa buat tanda tanganin pengalihan jabatan Hartanto Grup dari ibu Liliana ke Judika."
"Hah, gue gak salah denger? Lo pacarnya pak Judika."
Langkah kaki Stella seketika berhenti. Dia menoleh kikuk ke arah Alisya dan Ridwan yang sudah memasang wajah shock.
"Eh, maksudnya gi... Gini..."
Aduh mati aja lah gue. Kenapa harus keceplosan si ini mulut.
__ADS_1
TO BE COUNTINUE...