
Dua bulan kemudian...
Setelah kejadian di kantor pusat, juga kehadiran seseorang yang bernama Big bos. Akhirnya Stella memutuskan untuk pindah dari indekos lamanya. Dengan bermodal uang gaji pertamanya, Stella menyewa satu unit apartemen yang tidak terlalu besar tetapi cukup nyaman, yang letaknya berada tak jauh dari tempatnya bekerja. Itu baik, untuknya. Selain demi menghindari sesuatu yang tak di inginkan, ia juga dapat menghemat ongkosnya yang bisa terbilang cukup mahal.
Selama dua bulan itu juga, Judika yang jauh di tanah Papua tak ada kabar. Memang satu bulan terakhir dia masih rutin mengirimkan pesan singkat kepada Stella. Entah itu berupa puisi, kabar ataupun syair seperti hobinya merangkai kata. Namun, setelah satu bulan berikutnya lelaki itu bagai menghilang di telan bumi. Tak ada kabar, dan tak tau di mana keberadaannya. Pihak keluarga Hartanto, sudah menghubungi asosiasi yang memberangkatkan Judika kesana. Reza bahkan telah mengirimkan tim sar, untuk mencari keberadaan adiknya di seluruh tanah Papua termasuk yang di kuasai oleh para pemberontak yang selama ini menginginkan Papua lepas dari bagian Indonesia. Namun, sudah satu bulan lamanya kabar baik dari Judika pun tidak pernah sampai.
Sedih bukan hanya menyelimuti keluarga Hartanto, Stella yang notabene kini dianggap sebagai kekasih Judika tak mampu menyembunyikan gurat kepiluan di wajahnya. Sehari-hari, wanita itu bahkan menjalankan hari penuh dengan derai airmata. Bak benar-benar seorang yang di tinggalkan oleh sang kekasihnya.
Setiap kali rindu tak dapat lagi di tahan, Stella selalu pergi menyambangi tempat-tempat biasa mereka berdua datangi dahulu. Itu berhasil, sedikit mengurangi beban hati yang sangat berat. Meskipun tetap saja hatinya terasa kosong tanpa kehadiran Judika.
Bagai menunggu sebuah pesan yang dikirimkan melalui burung hantu, Stella begitu setia menunggu kabar dari Judika. Setiap hari selepas pulang dari tempat kerja, dia selalu datang ke kantor pusat tempat organisasi yang memberangkatkan Judika. Setiap hari gadis itu selalu bertanya akankah beradaan Judika, walaupun nyatanya jawaban sama yang selalu menjawab pertanyaannya.
Ini baru satu bulan. Batinnya berkata. Judika pasti baik-baik saja. Banyak relawan dan jurnalis sepertinya yang tak ada kabar bahkan lebih dari setahun. Itu sudah lumrah bagi kalangan mereka. Judika pasti hanya sibuk tidak memiliki sinyal atau berada di hutan belantara untuk mendokumentasikan keindahan tanah Papua. Stella yakin itu, pasti tak lama lagi Judika akan kembali berkumpul bersama dirinya seperti dulu.
__ADS_1
Namun sayangnya asa yang ia yakini dalam hati tak kunjung juga datang sehingga tepat satu bulan kabar hilangnya Judika beredar. Media-media pun mulai gencar memberitakan hilangnya tiga jurnalis yang pergi ke tanah Papua termasuk Judika. Tak luput bagi Stella, wanita itu harus berbesar hati dan menguatkan jiwa untuk memberitakan dan menulis artikel mengenai sahabatnya sendiri. itu berat baginya, tetapi ada kebanggaan juga pada diri dia karena telah menjadi bagian dari sosok seorang Judika. jurnalis hebat dan tangguh yang berani melawan maut demi menunjukkan kepada dunia bahwa Papua termasuk dalam bagian dari Indonesia juga.
"Lo nggak balik?" Alisa bawa dua cangkir berisi kopi, letakkan satu cangkir di meja kerja Stella dan satu lagi di mejanya.
Ini sudah pukul delapan malam, seharusnya lagi Stella seorang jurnalis koran elektronik sudah absen untuk pulang. Tidak biasanya wanita itu berlama-lama di kantor. Biasanya setiap jam waktu pulang kerja tiba dia amat begitu semangat untuk pulang. Mengunjungi kantor tempat Judika bekerja untuk menanyakan keberadaan Judika. Namun kali ini berbeda. Nampak jelas raut putus asa tergambar di wajahnya. Kantung-kantung mata itu pun tergambar jelas seperti seekor panda yang tidak tidur selama lebih dari tiga hari.
"Gue tahu ini berat buat lo." Alisa berdiri kembali. Menyentuh bahu Stella dan mengelusnya dengan lembut. Dia sadar jika partner kerjanya itu benar-benar dalam kondisi terpuruk saat ini.
"Gue cuman takut ya nggak pulang lagi, Sa."suaranya terdengar begitu lemah. Bahkan serak, dan bibirnya juga nampak pucat pasi.
Sudah lama Stella meyakinkan diri seperti itu. yakin jika Judika di sana baik-baik saja dan akan kembali kepadanya tak lama lagi. Tapi, apa boleh buat hanya seorang manusia yang juga memiliki kekurangan, ketakutan, dan kelemahan. Dia tak sanggup jikalau di suruh menanggung beban rindu yang semakin lama. Hatinya benar-benar tak kuat, rasanya dia ingin sekali menghilang atau menyusul Judika agar rasa rindu ini ikut melenyap.
"Lo udah nanya sama keluarganya? Menurut info katanya keluarga juga mencari pak Judika secara pribadi."
__ADS_1
Terlalu takut bagi Stella untuk bertemu, baik Liliana maupun Reza. Dia amat takut. Takut di hina kembali juga takut nyawanya melayang di tangan Reza. Dia belum mau, menyerahkan jari telunjuknya sebagai koleksi terbaru museum Abute. Dia masih ingin menggunakan jari telunjuknya untuk mengetik dan mendapatkan berita.
"Belum."
"Kenapa?"
Kepala Stella menoleh, menatap Alisa lekat. Beberapa saat, sebelum kemudian dia menghambur memeluk Alisa dan terisak di dekapannya.
"Gue takut. Orangtua Judika selalu memandang rendah gue, Sa."
Alisa mengerti. Sifat sombong dan arogan Liliana memang bukan hanya Stella saja yang mengetahuinya. Semua karyawan Hartanto Grup tau itu. Wanita paruh baya itu, terkenal amat sombong dan selalu merendahkan derajat orang ketika bicara. Lebih-lebih ketika anak sulungnya, mendeklarasikan diri dan mengakuinya sebagai ibu. Liliana semakin besar kepala.
"Lo harus sabar. Percaya sama tuhan kalau pak Judika baik-baik saja."
__ADS_1
Dan malam itu, untuk sekian kali Stella harus bersabar menunggu pesan dari sang fajar untuk membawakan berita tentang orang terkasihnya.
TO BE COUNTINUE...