Hello, Mr Mafia!

Hello, Mr Mafia!
S2: Mengelilingi Kota London Bersama


__ADS_3

Malam telah menjemput Alam, London malam itu menampilkan sejuta pesona keindahan untuk para pelancong yang ada. Sambil berjalan santai, Reza dan Stella menikmati malam indah di sepanjang jalan Belgrave Square. Malam itu tidak seperti malam-malam sebelum pandemi melanda dunia, biasanya jalanan yang hanya beberapa puluh meter dari istana Buckingham tempat keluarga Inggris tinggal selalu di padati turis. Namun, sayang setelah pandemi melanda dunia, dan Inggris menutup akses masuk ke negaranya, sepanjang jalan Belgrave Square, hingga Trafalgar Square sepi hanya berlentara cahaya ramai di sepenjang jalan berwarna warni.


Namun, meskipun begitu Stella merasa bersyukur karena dapat menginjakkan kakinya di kota kelahiran Duke of Cambridge dan Duke of Sussex itu. Dia mungkin menjadi satu dari sekian banyak orang-orang yang beruntung dapat menghujudkan cita-citanya berada di tanah eropa seindah Inggris itu.


"Kau tau..." Stella membuka percakapan, "Dulu ketika aku di culik oleh cyberfriend aku memiliki impian bertemu dengan pangeran Harry. Sama seperti wanita lainnya di dunia, mungkin aku salah satu fans fanatik pangeran Harry yang gagal move on karena di tinggal menikah olehnya."


Sambil berjalan beriringan, Reza terkekeh. "Meskipun publik mengenal dengan Image nakal dan bad boy, aku mengenalnya sebagai kepribadian yang baik."


"Kau mengenal, Duke?"


"Hey, come on dia bukan lagi anggota keluarga kerajaan. Bahkan gelar Pangeran dan kebangsawanannya saja sudah di lepas oleh Queen. Jadi jangan memanggilnya dengan embel-embel Duke atau gelar terhormat lainnya."


Stella mengerucut bibir mendengar ucapan Reza. "Jadi kau masuk dalam kategori orang yang kontra dengan Harry dan Megan?"


"Tidak juga." Jawab Reza cepat.


"Lalu?"


Sejenak Reza menghentikan langkahnya. Tubuhnya berbalik menghadap Stella yang masih berdiri di belakangnya dengan muka di tekuk.


"Apa?" Sambil memicingkan mata, Stella bertanya kepada Reza.


Reza mendongakkan kepala dan berbisik tepat di telinga Stella yang mana membuat Stella bergedik Stella mati.


"Kau berisik seperti kecoak." Katanya kemudian kembali melanjutkan langkahnya menunju stasiun kereta bawah tanah Victoria.


Stella berdecak tak percaya. Matanya mengerjap cepat menatap punggung Reza yang menghilang di balik kerumunan orang-orang.


"Kita ingin kemana? Kenapa kita naik kereta api?" Sambil bergelantungan di pegangan kereta, Stella bertanya.


"Chelsea," jawab Reza singkat.


"Kenapa kita harus naik kereta? Bukankah harusnya naik bus untuk sampai sana?"


Sejenak Reza berpikir. "Benarkah?"


Hingga kereta berjalan meninggal stasiun bawah tanah Victoria, Reza masih diam berpikir. Sedangkan, Stella memilih melemparkan pandangan ke luar jendela kereta memandangi terowongan gelapnya rel kereta.


"Kau kedinginan?" tanya Reza akhirnya memecahkan keheningan mereka.


"Sedikit."


"Bersabarlah. Kita akan turun di pemberhentian pertama."


"Oke."


Tak lama kereta pun berhenti, mereka segera turun dari dalam sana dan berjalan menaiki anak tangga keluar dari stasiun bawah tanah. Jujur saja, untuk beberapa alasan Reza memang tidak mengetahui seluk-beluk kota London, baik jalan maupun transportasi. Dia terbiasa pergi bersama dengan Jones yang notabene adalah orang Inggris asli. Tak perlu repot-repot melihat Google map atau salah naik transportasi seperti tadi, Reza cukup diam duduk di bangku penumpang Audi kesayangan Jones. Namun entah mengapa saat bersama Stella, dirinya menjadi begitu bersemangat mengajak wanita itu jalan-jalan. Mengajaknya keliling kota London sebagaimana yang dia tau kalau Stella sangat menyukai kota ratu Elizabeth itu.


"Maaf, aku tidak biasa berkeliling menggunakan transportasi umum seperti tadi untuk berpergian." Duduk di halte bus, Reza memberikan jaket yang ia kenakan dan memakaikannya untuk membungkus tubuh Stella.


"Tidak apa, aku mengerti." Sambil tersenyum, Stella mengeratkan jaket yang membungkus tubuhnya.


"Aku akan membawamu ke apartemen milik ku di London. Tempatnya berada di kawasan Chelsea. Dan untuk sampai ke sana, ku pikir kita bisa menggunakan kereta api bawah tanah."


Terkekeh, Stella memaklumi ketidakbecusan Reza mencari jalan. "Kita bisa naik bus tingkat berwarna merah sampai sana."


"Kau tau?"


"Ya tentu. Sebelum ke sini, sudah sangat lama aku mempelajari seluk beluk kota Inggris. Dahulu aku memiliki impian menikah dengan Harry dari Sussex. Makanya aku belajar menghapal kota Inggris dan segala transportasi di sini."

__ADS_1


Rasa terkejut bercampur takjub tak bisa di Reza sembunyikan. Dia menatap wajah Stella dengan tatapan yang sulit di artikan. Membuat, Stella yang di tatap merasa aneh sekaligus malu.


"Jangan menatap ku seperti itu."


Kali ini, Reza terkekeh. Sambil bersedekap matanya menyapu sepanjang jalan London malam itu.


"Aku tidak menyangka wanita seperti mu memiliki impian ingin menjadi cinderella juga."


"Well, karena aku juga wanita," jawab Stella cepat sembari mengangkat kedua bahunya dan menekan kedua bibirnya.


"Kau tidak berharap atau memiliki impian menikah dengan bule selain Harry?"


Cepat Stella menggelengkan kepala. "Mana mungkin. Sama yang lokal aja gak dapat dapat apa lagi sama yang produk import."


Mendengar kata import Reza membeliakkan mata. "Import?"


Keduanya pun terkekeh bersama. Sekali dalam hidup keduanya, mereka dapat tertawa lepas tanpa beban untuk menertawakan hal-hal sederhana seperti itu.


"Lihat bus kita tiba." Bus tingkat berwarna merah khas Inggris itu mendekati mereka. Dengan penuh antusias, Stella berdiri menyambut kedatangannya.


"Aku benar-benar tidak percaya akan menaiki bus itu," seru Stella sambil berjingkrak seperti anak kecil.


"Kita memang tidak akan menaiki bus itu." Tiba-tiba Reza berkata, membuat seketika air muka Stella berubah drastis.


Stella mengerlingkan mata binggung. "Maksud mu?"


"Kita akan naik itu." Reza menunjuk ke sebuah mobil Jeep hitam yang berada di seberang mereka.


Tercengang, Stella hanya mampu melongok. Sejak kapan mobil Jeep itu berada di sana? Dirinya bahkan tidak menyadari kedatangan mobil tersebut padahal jalanan di hadapan sepi melompong.


"Siapa yang mengendarai mobil itu?" tanya Stella tak juga mengalihkan pandangan menatap mobil besar, keren, buatan Mitsubishi itu.


Segera, Reza meraih tangan Stella. Menggenggamnya dan menuntut wanita itu menyeberangi jalan menuju mobil Jeep yang sudah menunggu.


Terlihat di balik mobil, Jones dengan setelan jas sama seperti pagi tadi berdiri menyambut keduanya. Sebuah senyuman yang terlihat begitu mengerikan bagi Stella tercipta dari bibirnya. Seketika membuat Stella terpaksa membalas senyuman itu.


"Di mana Audi mu?" tanya Reza saat masuk ke dalam mobil.


"Di gunakan oleh Mrs.Wheels, tuan."


"Benarkah? Tumben sekali kau memperbolehkan orang lain mengendarai Audi mu."


Jones nampak menghela napas keras di balik kursi pengemudi. Sedikit menarik gas mobil Jeep.


"Kau tau, aku bahkan akan menyerahkan nyawaku untuknya."


Reza hanya membalas dengan anggukan kecil dan mengalihkan pandangan keluar jendela. Sementara Stella sendiri hanya duduk diam di sebelah Reza sambil meremas dress yang ia kenakan dan berkecamuk dalam pikirannya sendiri.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang memecah jalanan kota London malam itu. Jones begitu lihai mengendarai mobil Jeep tersebut hingga tak terasa mereka telah tiba di jembatan menara. Dengan sigap, Jones keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Stella.


Mata Stella berbinar saat tau dirinya akan di ajak bulan ke kawasan Chelsea tetapi ke Tower Bridge London. Dia terpanah, saat jembatan yang membentang di atas sungai Thames itu naik keatas dan seakan-akan terbelah menjadi dua. Gema suara klakson kapal laut terdengar di gendang telinga Stella. Membuat tubuh Stella seketika bergetar hebat saking takjub dan terpanah.


"Amazing." Hanya satu kata yang mampu keluar dari kerongkongan lehernya.


Tak lama setelah kapal laut besar lewat, perlahan jembatan itu kembali tersambung. Setelahnya dua tower of London yang di kanan kiri jembatan memancarkan lentera merah marun indah menerangi pusat kota London.


"Kau suka?" Di sebelah Reza berujar.


Tanpa di duga, Stella menitihkan airmatanya melihat maha karya perpaduan antara ciptaan tuhan dan manusia di depan matanya. Tak pernah Stella menyangka akhirnya dia dapat menginjakkan kaki untuk menyaksikan kota impiannya selama ini.

__ADS_1


"Sangat... Sangat suka." Terbata Stella menjawab.


Reza melihat Stella menitihkan airmata. Seperti sebuah sihir, Reza mengeluarkan sapu tangannya dari kantung celana. Menyerahkan sapu tangan itu kepada Stella sambil menunjuk ke pipinya sebagai isyarat untuk menyeka airmatanya yang menetes.


Ragu, Stella menerimanya.


"Terimakasih, Reza."


Lama mereka berdiri di seberang jembatan menara. Berdiri memandangi keindahan kota kuno milik ratu Elizabeth itu. Stella masih belum dapat percaya pada dirinya sendiri dapat berdiri di atas kota dan negara impiannya tinggal. Air mata kebahagiaan masih mengenang di pelupuk pipi. Di sebelah, Reza hanya memperhatikan dengan seksama. Diam memandangi raut wajah Stella yang membuat hatinya bergetar dan bergejolak yang sulit untuk dia pahami.


"Sir, hari sudah malam." Tiba-tiba Jones datang menghampiri.


Stella pun menolehkan kepala, menatap kedatangan Jones seraya berkata "apa kita akan kembali ke Manchester?"


"Kita akan di London sampai besok, nona. Setelah itu kau bisa bekerja untuk menemukan Keira besok," jelas Jones yang di balas anggukkan kepala oleh Stella.


Stella kembali menatap indahnya jembatan yang membentang di atas sungai Thames itu lagi. Andai Tower of London tak tutup karena pandemi, mungkin wanita itu sudah memaksa Reza untuk mengajaknya masuk untuk melihat isi di dalam kedua tower.


Setelah puas memandangi jembatan menara dari jarak dekat, mereka kembali masuk ke dalam mobil dan bergegas pergi dari sana. Sekarang tujuan mereka selanjutnya adalah London Eye. Jaraknya tak terlalu jauh dari jembatan menara. Hanya beberapa km saja dari sana. Dan untuk sampai di bianglala raksasa itu, mereka membutuhkan waktu sekitar sebelah menit. Tergantung bagaimana lalu lintas di pusat kota London.


Mobil melaju melewati jalan tower hill menuju Stamford st. Melewati beberapa tikungan hingga tiba di jalan Belvedere Rd. Tanpa menunggu Jones membukakan pintu, Stella tampan tak sabaran keluar dari mobil. Berlari menuju jubilee park & garden dan berhenti tepat di tengah-tengah taman. Dari sana, dia dapat melihat dengan jelas kincir angin raksasa berdiri di atas sungai Thames.


"Bolehkan kita masuk ke sana?" gumam Stella penuh harap.


"Course. Jones telah menyewa tempat itu untuk kita."


Melirik Reza, Stella tak dapat menyembunyikan rasa bahagianya. Stella langsung menghambur memeluk Reza erat, menautkan kedua tangannya mendekap tubuh atletis lelaki itu dan membenamkan kepalanya di dada bidang milik Reza. Tak henti, Stella mengucapkan rasa bersyukur kepada sang Pencipta karena telah mengirimkan Reza yang awalnya amat sangat ia hindari dan takuti yang kini telah berubah menjadi orang yang berhasil membuatnya bahagia. Dalam hati, Stella berjanji dan mengucapkan sumpah kepada tuhan untuk membantu Reza menyelesaikan masalah yang kini menimpa dirinya.


"Sebaiknya kita masuk."


Stella melepaskan pelukannya, dan menuntun Reza menuju London Eye.


Tempat penukaran atau pembelian tiket yang biasa terlihat begitu ramai dan padat, hari ini terlihat kosong melompong. Padahal jam baru menunjukan pukul setengah delapan malam dan matahari pun baru saja tenggelam. Reza berdecak sambil sesekali meneriaki Stella yang berlari seperti anak kecil tak sabaran ingin menaiki London eye. Kakinya dengan lincah menaiki satu persatu anak tangga menuju bianglala yang memiliki 32 kapsul itu.


Sesampainya di atas, ternyata sudah ada dua petugas berjaket oren abu-abu yang menyambut kedatangan mereka. Dengan wajah sopan dan ramah, kedua petugas itu tersenyum sambil mengucapkan selamat datang dalam bahasa Inggris kepada mereka.


Stella membalas sapaan hangat mereka, kemudian menuntut Reza kembali untuk masuk ke dalam kapsul London eye. Di ambang pintu kapsul kedua petugas melambaikan tangan kepada mereka sejurus dengan pintu otomatis London eye yang tertutup.


"Goodbye guys," kata petugas yang bekerja di sana sebelum kapsul itu benar-benar bergerak naik.


Di dalam kapsul London eye terdapat kursi panjang tanpa sandaran dan Reza memilih untuk duduk di sana. Mengeluarkan ponselnya menikmati putaran kincir angin yang berdurasi sekitar tiga puluh lima menit itu. Sementara Stella, wanita itu sudah berdiri berpegangan dengan pembatas dinding kapsul melihat dari dalam sana bentangan sungai Thames yang panjang.


Saat mesin London Eye berjalan dan mereka mulai merangkak naik, semakin terlihat jelas keindahan kota London dari atas sana. Stella dapat melihat jalanan kota London yang tidak terlalu padat di isi dengan baik kendaraan pribadi maupun angkutan kota seperti bus tingkat berwarna meras, dan black car taksi khas kota London. Di sungai Thames pula banyak kapal-kapal pengangkut barang atau minyak yang tengah bersandar, juga terdengar beberapa kali suara klakson kapal yang berhasil membuat tubuh Stella bergetar namun terasa menyenangkan. Tak ingin menyia-nyiakan momen yang mungkin tidak akan datang dua kali di kehidupannya, Stella menarik tangan Reza untuk berdiri dari duduknya dan melakukan selfie bersama menggunkan kamera ponsel milik Reza.


Awalnya, Reza ragu dan kikuk ketika Stella mengajaknya berswafoto. Namun melihat antusiasme dan raut bahagia yang terpancar di wajah Stella membuat Reza terpaksa menuruti peminta bumil itu.


Cekrek apus...


Cekrek simpan...


Cekrek apus...


Cekrek simpan...


Begitu terus hingga galeri foto yang awalnya kosong melompong tak berpenghuni di penuhi dengan wajah datar Reza dan bahagia Stella.


TO BE CONTINUED...


**Note:

__ADS_1


Mohon maaf jika ada pengucapan dan pengejaan kata nama tempat yang salah. Maklum Author bukan orang Inggris. Semoga yang baca cerita ku bisa juga merasakan jalan-jalan ke Inggris seperti Stella**.


__ADS_2