
Gunung yang menjulang tinggi tertutup kabut tebal mulai menyelimuti seisi pemandangan Kastil kuno yang konon katanya di bangun pada abad ke 19. Padang rumput hijau mulai basah karena hujan embun yang mulai turun dan menyebabkan bau khas rumput basah menyeruak pada indra penciuman. Air sungai yang menggenang jernih indah sebagimana mata memandang. Stella menghirup dalam-dalam oksigen sekelilingnya, sambil memejamkan mata merasakan hawa sejuk nan asri yang tidak akan pernah ia temui di negaranya tercinta.
Sedang di sebelahnya, Reza nampak hanya memperhatikan Stella dengan seksama. Mengerjapkan mata cepat, binggung dengan ucapan yang tadi Stella katakan.
"Apa maksud mu?" tanya Reza yang mulai di tutupi rasa penasaran. "Kau mengenal Chris sedekat itu?"
Stella menganggukkan kepala. Mungkin ini adalah waktu yang tepat baginya untuk berbicara jujur kepada Reza. Tentang apa yang terjadi kepada dirinya yang tentu juga ada hubungannya dengan Chris.
"Dia lelaki yang baik. Jika dia belum menikah, mungkin rasa suka ku kepada Judi teralih kepadanya." Sambil tersenyum, Stella menjatuhkan dirinya kembali duduk di sebelah Reza. Memandang hamparan hijau padang rumput yang mengelilingi kastil tinggi menjuntai yang sangat begitu indah.
Namun, hal itu justru membuat Reza semakin di runduk kebingungan. Pasalnya, dia tidak tau bahkan sama sekali tidak tau apapun tentang Chris yang sudah menikah.
"Chris menikah?" Kening Reza terangkat. Suaranya begitu berat bertanya kepada Stella dengan nada yang sedikit meninggi.
"Ya. Mereka menikah di Afrika."
"Afrika?" tanya Reza kembali dengan wajah terheran-heran.
Sekali dalam hidupnya, Reza benar-benar tidak tau apapun mengenai adiknya satu itu. Padahal sedari kecil dan sedari ayah baptisnya tiada, Chris tidak pernah lepas dari pengelihatannya.
Apa yang terjadi sebenarnya. Mengapa Jones tidak juga memberitahu berita sepenting ini kepadanya. Apa jangan-jangan, Jones juga tidak mengetahui akan hal ini? Sungguh, kini Reza di hantui rasa penasaran dan kekecewaan yang amat sangat kepada adiknya itu.
"Ya. Namanya Anne McGregor."
Deg...
Tunggu, Reza seperti pernah mendengar nama belakang itu. Entah dimana? Tapi dia sangat menyakininya.
"McGregor?"
"Kau pasti mengenalnya bukan?" seru Stella. "Nama itu pasti asing di telingamu. Jika kau lupa akan ku ingatkan siapa McGregor itu."
Diam, Reza tidak menjawab sedikitpun ucapan Stella. Otaknya masih terus memutar mencari satu wajah di otaknnya yang dia ingat sebagai pemilik nama McGregor.
"Phil McGregor adalah salah satu tahanan mu yang di bunuh oleh seorang mafia dengan julukan Wolf Man. Jujur saja, aku juga mengenal mafia itu melalui dunia Cyber. Namun, kami tidak pernah bertemu secara langsung."
Penjelasan yang diucapkan Stella, seketika membangun ingatan Reza kepada satu sosok lelaki yang pernah dia temui beberapa tahun lalu. Sosok lelaki yang jelas-jelas pernah berurusan dengannya dan terdaftar masuk ke dalam musuh besarnya.
"VIVA." Hanya kata itu yang mampu Reza ingat mengenai sosok McGregor.
"Ya. Phil pernah mencoba meledakkan reaktor Nuklir VIVA milikmu beberapa tahun lalu."
"Dan, Chris menikahi anaknya?" Reza menerka-nerka yang langsung di anggukan kepala lantang oleh Stella.
Tubuh Reza mengejang. Tangannya mengepal erat. Stella menoleh mendengar Reza yang mendengus dan mendapati lelaki itu mati-matian menahan amarah.
"Ini hanya pikiran ku saja, Mr. Oxley. Aku berharap kau tidak menerkanya seperti pikirannku."
Reza bersungut-sungut menahan kekesalan menatap wajah Stella. "Memang apa yang kau pikirkan, huh?"
"Aku berpikir Chris hanya di jadikan sebuah tameng oleh anne untuk melindungi dan menutupi ide jahatnya."
Beringsut, Reza memposisikan diri lebih dekat kepada Stella. Dia bahkan menarik lengan wanita itu hingga menempel pada tubuhnya.
"Jelaskan apa saja yang kau alami bersama Esocial," bisiknya tepat di telinga Stella.
Mendengar suara bisikan nan dingin namun berhasil membuat pipi Stella memerah bersemu, seketika tubuhnya bergetar hebat. Jantungnya melompat-lompat seperti kodok yang dia takutkan akan keluar dari dalam sana.
__ADS_1
"Aku bertemu dengannya di sebuah halte bus beberapa bulan lalu." Stella mulai bercerita. Sedangkan Reza masih tetap menggenggam tangan stella positif enggan melepaskan. "Dia mengaku sebagai BIG BOS. Beberapa hari kemudian dia tiba-tiba datang ke apartemen ku dan mulai menceritakan segalanya."
"Apa yang dia ceritakan kepadamu."
"Tentang dia yang sebenarnya adalah adik tiri mu. Secara hukum juga sebagai kakaknya Judika."
Reza menghela napas mendengar fakta yang terdengar begitu menyakitkan saat Stella yang mengatakannya. Padahal sudah sedari dulu, dia tau tentang fakta mengerikan yang di perbuatan oleh ayahnya.
"Malam itu, Chris mulai bercerita tentang pertemuannya dengan Anne saat dirinya bertugas fi perdalaman Afrika. Hingga dia menceritakan tentang ke irian hatinya kepada Anne dengan mu, dan Anne mulai mencuci otak Chris dengan ucapannya yang menyuruh Chris mendirikan Esocial. Padahal sebenarnya Esocial sudah lama ada hanya saja..."
"Tak ada pemimpin yang membawa mereka melangkah lebih dekat kepada ku."
Bibir ranum Stella tertarik dalam, dia menganggukkan kepala mengamini.
"Dia berkata kau memiliki kehidupan yang sangat-sangat baik. Kasih sayang yang berlebih dari kedua orangtua kalian, yaitu Mr. Abute dan Mr. Oxley. Aku masih ingat perkataan Chris malam itu tentang sakit hati dan iri hatinya kepadamu. katanya saat Reza berhasil menciptakan senjata pertamanya di sekolah, betapa bangganya tuan Emmanuel memperkenalkan dia kepada kolega-koleganya. Mendeklarasikan, jika Reza akan mengantikan dia duduk di perusahaan miliknya. Tapi sikapnya berbeda kepadaku. Saat aku memenangkan kejuaraan sains tingkat internasional, tak ada yang memberikan ku selamat. Justru mereka bilang sains membosankan, menjenuhkan dan hanya orang kutu buku yang mau melakukan itu. Sungguh, itu sangat menyakitkan. Mereka tak tau bagaimana aku mati-matian menyiapkan diri menjadi seorang pemenang. Berusaha membuat mereka bangga kepada ku."
Perkataan Stella tentu sukses menohok hati Reza. Selama ini dirinya tak pernah menyangka jika seorang periang dan humble seperti Chris juga menyimpan iri hati kepada kakaknya sendiri. Tentu hal itu membuat Reza terpukul dan merasa bersalah yang amat sangat.
Di perhatikan wajah Reza yang menyinari gurat kesedihan yang amat sangat.
"Apakah ibu kandung Chris masih hidup?" Dengan hati-hati Stella bertanya. Bukan tanpa alasan dia menanyakan hal itu. Stella berpikir mungkin dengan menghadirkan ibu kandung Chris, rasa iri hati dan sakit Chris kepada Reza sedikit akan berkurang.
"Dia sudah lama mati."
"Sayang sekali."
"Dan aku yang membunuhnya."
Mata Stella mengerjap cepat. Refleks, dia beringsut menjauh dari Reza.
Tuhan apa yang sedang aku hadapi. Manusia macam apa yang ada di depan ku ini?
"Ka... Kau yang membunuh ibu mu sendiri?" Terbata Stella bertanya. Rasanya tenggorokannya begitu akat kering dan seperti ada sesuatu yang mengganjal hingga membuatnya sulit untuk mengeluarkan kata.
"Kau tau, ketika aku belum bertemu ayah baptis ku, setiap hari aku selalu menerima keluh kesah Chris yang merindukan ibunya. Aku bersusah payah mendatangi wanita itu dan memintanya untuk membawa Chris tinggal bersama suami barunya. Pikirku, tak masalah jika hanya aku yang dia buang, yang terpenting Chris jangan. Dia masih kecil, cukup kecil untuk menjadi gelandangan. Namun sayangnya usaha ku sia-sia. Aku di usir dan di pukuli orang suami barunya. Leherku di jerat menggunakan seutas tali yang dia ambil dari bekas kail pancingannya."
Terperangah, Stella berdecak tak percaya mendengarkan cerita yang amat sangat menyedihkan dari seorang Casanova terkenal seperti Reza. Dia sungguh tak percaya, jika lelaki tampan penuh kuasa sepertinya juga pernah menjalankan kehidupan yang amat sangat mengerikan.
"Aku tergeletak lemas bersimbah darah dan di biarkan begitu saja hingga polisi datang menyelamatkan ku. Dan kau tau apa yang mereka lakukan kepada Chris?" Reza melirik Stella dengan pandangan mata berkaca-kaca. "Suami wanita itu melemparkan Chris dengan sangat kasar, hingga dia nyaris mati terkena aspal. Saat-saat seperti itu tidak akan pernah aku lupakan, meskipun pada akhirnya adikku yang ku bela dan ku jaga mati-matian juga berusaha menghancurkan ku."
Dada Stella bergemuruh. Dia menghirup udara segar halaman kastil dalam-dalam, sambil menenangkan dan menetralkan pikiran. Sungguh, ini kali pertamanya dia mendengar langsung sebuah fakta yang menyakitkan dari seorang mafia kejam seperti Reza. Tak pernah, Stella sangka di balik sifat dingin, kejam, dan cueknya Reza berjuang mati-matian menjaga dan melindungi adiknya. Chris.
"Aku tidak pernah tau, jika ada ibu yang lebih kejam ketimbang ibuku yang menjual ku kepada orang lain." Di pelupuk pipi Stella tanpa dia sadari sudah tergenang buliran kristal bening. "Nyatanya kalian juga memiliki jalan hidup yang lebih menyakitkan daripada aku."
Reza tersenyum getir. "Kau tidak perlu mengasihani kami. Aku sudah membunuh wanita itu seperti cara suaminya menyiksa kami. Aku menyekik lehernya menggunakan tali pancingan, dan melemparkan dua bayi kembarnya ke irigasi pertanian. Dendam ku sudah tuntas, Stella. Tak ada lagi rasa sakit hati ku kepadanya."
Ya, Stella tau itu. Tidak mungkin juga, hingga saat ini Reza menyimpan dendam kepada orang yang sudah tidak bernyawa. Walaupun di dalam lubuk hati Stella sendiri menyakini jika Reza belum melupakan kehidupan kelam masa kecilnya dulu.
Sejenak suasana menjadi hening. Hanya terdengar suara gemuruh daun yang tertiup angin, juga burung pipit yang mengudara di atas cakrawala.
Dalam diam, Stella bermonolog di dalam dirinya. Mencoba menimbang-nimbang sesuatu yang amat sangat ingin dia katakan.
"Lebih baik kita pulang. Hari mulai malam, hawa dingin ini tidak baik untuk wanita hamil seperti mu."
Setelah 10 menit akhirnya Reza membuka kembali percakapan. Dia bangkit dari duduknya, membetulkan tatanan jas mahal miliknya dan siap melangkahkan kaki meninggalkan tempat itu.
Namun, rasa bersalah sudah membuncah di hati Stella. Rasanya ingin segera Stella mengatakan kebenarannya kepada Reza sekarang juga. Maka tanpa basa-basi dan permisi, dengan berani Stella menarik lengan kekar Reza.
__ADS_1
Reza menoleh dan mengamati lengannya yang di tarik Stella kemudian naik menatap Stella lekat-lekat.
"Ada sesuatu hal penting yang ingin ku sampaikan kepadamu. Aku mohon duduklah lagi."
"Apa apa?" Reza menuruti permintaan Stella. Kembali, dia jatuhkan tubuhnya duduk di sebelah Stella. Tak sabaran mendengarkan perkataan yang ingin Stella sampaikan kepadanya.
"Ini soal perusahaan mu."
Jujur saja, meskipun hati kecil Stella ingin sekali berkata jujur. Tapi melihat wajah Reza yang serius bukan main seperti itu, membuat nyalinya seketika ciut. Reza sangat menyeramkan, seperti seorang singa yang siap menerkam kapan saja dia mau.
"Ini tentang siapa dalang di balik ledakkan reaktor nuk..."
Tiba-tiba Reza mengangkat tangannya, dan menghentikan ucapan Stella.
Pias, wajah Stella berubah drastis. Nyalinya semakin down terlebih melihat gurat wajah Reza yang tersungut kesal.
"Kau yang menciptkannya, bukan? Anne yang menyuruhmu, bukan?"
Stella tidak terkejut mendengar Reza menebak dengan benar. Orang seperti Reza pasti tahu apa hal-hal sepenting ini, tanpa orang yang bersangkutan jujur kepadanya lebih dulu.
Dengan berat hati, dan rasa bersalah yang semakin mendalam Stella menganggukkan kepalanya pelan. "maaf. Aku benar-benar tidak punya pilihan lain. Dia mengancam ku. Keluarga ku, Judika, bahkan kamu yang akan dia bunuh jika aku tidak menuruti keinginannya."
Diam, Reza tak menjawab.
"Tapi... Tapi... Aku bersumpah telah mengirimkan kode delcon one (kode genting dalam militer Amerika) kepada Wolf Man yang ku kenal di dunia Cyber itu. Tapi... Tapi... aku tidak mengerti mengapa Wolf Man tidak menjawabnya. Apa dia salah satu musuhmu juga?"
"Kau bercanda?" Bukan marah atau tersinggung dengan ucapan Stella mengenai Wolf Man, Reza justru terkekeh dan kembali bangkit dari duduknya.
"Jadi kau sudah menyesali perbuatan mu kepadaku?"
Kepala Stella mendongak menatap bahu lebar Reza.
"Tentu."
"Jika seperti itu, tebus lah dosa mu dengan cara membantu ku melacak keberadaan mereka. Termasuk keberadaan Chris."
Mendengar itu, Stella langsung berjinjit kegirangan. Ikut bangkit dari duduknya dan melompat-lompat senang seperti seorang anak kecil.
"Itu mudah, beri aku waktu hingga besok sore. Aku bersumpah akan menemukan Anne beserta komplotannya."
"Bagus. Aku suka semangat mu,"seru Reza kemudian berjalan dan benar-benar pergi dari sana.
Tapi belum jauh kakinya berjalan meninggalkan Stella, dia tiba-tiba menghentikan langkahnya. Terdiam dan terlihat seperti sedang menimbang-nimbang sesuatu, sebelum kemudian dia membalikkan tubuh menatap Stella.
"Dan..." menunjuk jari telunjuknya. "jangan lupakan Chris. Bawa dia kehadapan ku apa pun caranya."
"Ta... Tapi Chris tidak ada kaitannya dengan ini," seru Stella dengan nada sedikit. Pasalnya Reza telah berjalan cukup jauh, dan suara-suara hewan penghuni hutan mulai terdengar membuat suara bising di sekitarnya.
"Masa bodo. Ada 3 hal fatal yang harus membuat pria itu di hukum dengan caraku."
TO BE Continue...
Pengumuman
Hai semua semoga masih setia membaca Hello, Mr. Mafia!
Alhamdulillah sebentar lagi umat muslim akan menyambut bulan suci ramadhan. Untuk memeriahkan bulan suci ramadhan Author akan mengadakan Giveaway.
__ADS_1
Caranya gampang, kalian hanya tinggal Vote dan beri komentar Semenarik mungkin pada cerita Hello, Mr.Mafia! Pemenang yang beruntung akan Author pilih secara langsung dan berhak mendapatkan hadiah pulsa sebesar 25k untuk 2 orang pemenang.
Pengumuman pemenang giveaway akan author umumkan pada tanggal 12 April.