
Dia adalah batu, yang mencoba merangkak menjadi karang yang kokoh meskipun senantiasa di hempas ombak. Batu itu bernama Judika. Judika Dwi Hartanto, bule humble berotak penuh konspirasi yang lahir di sebelah barat kota Sisilia, Italia. Lahir dari seorang keluarga diktator perampas hak masyarakat secara paksa, tidak menjadikan Judika tumbuh dan besar layaknya abangnya Reza, yang begitu dingin, sombong, penuh ambisi, hasrat akan jabatan. Batu itu malah menjelma menjadi seorang yang begitu baik hati, mudah bergaul dan begitu di senangi oleh banyak orang. Namun, begitu keras kepala yang pada akhirnya menjelang dewasa selalu berselisih paham dengan ibunya akan masa depannya.
Berbeda dengan sang kakak, yang sukses dalam bidang teknologi dan persenjataan serta namanya begitu terkenal bahkan di puja-puji dan menjadi motivator banyak orang, Judika adalah seorang pembelot yang selalu berjalan dan singgah di suatu tempat yang di cap banyak orang tak berguna untuk modal di hari tua.
Meskipun gelar dua sarjana pernah di sandang oleh Judika, saat usianya masih belia yakni Jurnalistik dan Sastra Inggris tak membuat Judika mengikuti rekam jejak sang kakak. Baginya, hidup seperti Reza adalah hidup yang begitu membosankan. Dia tak ingin selalu menunduk dan mengikuti suatu peraturan yang mutlak. Baginya, hidup normal versi Judika adalah hidup bebas sesuai dengan apa yang ia inginkan.
Semua pikiran itu tak langsung ada di otaknya. Semua itu bermula ketika jaman dia masih berkuliah dulu. Awalnya, memang Judika seperti laki-laki lainnya yang setelah lulus, berencana membangun sebuah pilar untuk masa tuanya. Namun, itu semua berubah saat ia sering mengikuti demo antar mahasiswa lainnya, dan masuk ke dalam organisasi kampus yang dari sana perlahan ia berubah menjadi seorang yang kritis.
Setelah menyelesaikan kuliahnya di bidang jurnalis, Judika memutuskan untuk berkecimpung dan lebih mendalami dunia sastra. Dia mengajukan kembali kepada sang ibu saat usianya menginjak dua puluh tiga tahun. Saat itu, dia baru saja di nobatkan sebagai mahasiswa strata dua termuda. Dia mengajukan permohonan kepada sang ibu, untuk melanjutkan pendidikannya di bidang sastra. Di selangi dengan bekerja menjadi seorang penulis, dan editor lepas di sebuah perusahaan penerbit di ibukota.
__ADS_1
baginya di setiap kata yang ia rangkai sebagai syair puisi ataupun cerita bagai tersimpan sebuah sihir yang mampu membuat asah yang menggebu-gebu pada dirinya. Apalagi seperti karya-karya Chairul Anwar, Kahlil Gibran, Wiliam Shakespeare, atau Sapardi Djoko Damono. Dan dari situ Judika menyadari jika rutinitas kantor bukan jalan hidupnya.
Judika bertemu dengan Stella, ketika ia baru saja menyelesaikan studinya sebagai mahasiswa akhir sastra. itu dia masih menjabat sebagai asisten dosen dan jurnalis kampus. Judika takkan lupa bagaimana dia pertama kali bertemu dan berkenalan dengan wanita itu. Cukup lucu untuk diceritakan atau dikenang.
kalau itu di sore hari selepas Judika selesai membuat artikel tentang pentingnya menjaga kesehatan. Dia bersama teman-teman lainnya berkumpul bersama di lapangan kampus untuk bermain basket. Saat permainan dimulai tanpa sepengetahuan Judika maupun teman-teman yang lainnya, tiba-tiba sesosok wanita cantik berambut gelombang berjalan dengan wajah kebingungan melintasi lapangan. Dan tanpa diduga dan Judika sadari dia melemparkan bola di genggaman tangannya tepat mengenai kepala wanita malang tersebut. seketika tubuh wanita itu ambruk dan dia tak sadarkan diri karena kerasnya lemparan bola dari Judika.
Judika dan teman-teman lainnya panik bukan kepalang. Segera mereka membawa tubuh wanita itu ke ruangan kesehatan. Merawat wanita itu hingga wanita itu sadarkan diri. Setelah wanita itu sadar mereka berdua saling berkenalan. Judika tau jika namanya adalah Stella. Stella Sasmita, mahasiswa baru yang mendapat beasiswa di kampus itu. Sikap misterius dan dingin Stella lah yang membuat Judika begitu penasaran akan sosoknya
Setahun mengenal Stella dan menjalin persahabatan dengan wanita itu, Judika debut sebagai seorang penulis. mengandalkan pengalaman pribadinya yang sering melancong kota orang akhirnya buku pertamanya berjudul 'jemput rasa di negeri Pertiwi' dengan nama pena J.D Abute. tak disangka buku bertemakan petualangan alam itu laku keras di pasaran, membidik para pembaca yang mencintai alam membuat buku itu menjadi best seller beberapa minggu di toko buku. Membuat namanya mencuat di permukaan, itu menjadi prestasi sendiri bagi Judika. Bukan hanya bangga pada dirinya akan pencapaian sebesar itu, tetap itu juga sebagai ajang pembuktian Judika kepada sang ibu, jika jalan yang ia pilih juga bisa menghasilkan modal di hari tuanya. Ya, walau nyatanya penghasilan seorang penulis tidak sebesar dibandingkan dengan penghasilan seorang pengusaha besar seperti ibunya atau kakaknya. Tapi tetap saja Judika bangga akan hal itu.
__ADS_1
Setelah merilis buku pertamanya, tidak membuat Judika haus akan ketenaran untuk menulis dan menulis lebih banyak buku seperti penulis lainnya. Dia justru meninggalkan dunia kepenulisan, melangkah dan mengambil keputusan untuk menekuni dunia jurnalis. Bersama dua sahabatnya yakni Ariel gimbal, dan Bayu ambon mereka mulai menjelajah negara-negara berkonflik. melaporkan perkembangan perkembangan negara-negara dengan perang atau masalah ekonomi besar di dunia, juga terkadang membuat film dokumenter tentang keindahan keindahan tersembunyi di berbagai kota di Indonesia. Dia banyak berkelana menjelajah berbagai tempat yang menurut orang lain adalah neraka atau lubang kematian seperti Afrika negara timur tengah hingga Amerika sekalipun karena ia sambangi untuk mencari berita. Menjelajah berbagai wilayah di Indonesia, bahkan hingga pernah tertangkap dan hampir mati di tangan suku-suku perdalam Indonesia.
Itu sangat menyenangkan baginya. Judika merasa lebih hidup setelah melakukan itu. Menjelajah suatu tempat asing, dan belajar cara mereka hidup.
Hal itu pula, membuat Stella begitu kagum akan sosok Judika, dan berharap suatu hari nanti ia dapat menjelajahi dunia dan memberitakan apa yang ia lihat kepada dunia. Baik itu kabar buruk maupun kabar baik bersama-sama Judika.
TO BE COUNTINUE...
Mari kenalan dengan Judika Dwi Hartanto
__ADS_1