
Dahi Stella mengerut menyerupai busur panah. Karena masalah Anne yang menculik dirinya dan memaksa Stella membuat Virus Friday 13 itu dirinya hingga melupakan hari kebebasan untuk pimpinan keji Cyberfriend. Seharusnya, dia tidak melupakan hari itu. Tapi dengan statusnya yang akan pindah ke Inggris untuk beberapa waktu itu sudah cukup membuat bernapas lega. Cyberfriend tidak akan mengejar. Dia dapat hidup tenang untuk beberapa saat, sambil memikirkan lagi bagaimana masa depannya. Akankah, dia kembali ke negara kelahirannya atau tetap bertahan di negara ratu Elizabeth itu.
Pengumuman keberangkatan menujuh Dubai terdengar. Segera, Stella meraih tas ranselnya dan menyeret koper besar dengan langkah tergesa-gesa. Dia ingin cepat pergi meninggalkan Indonesia. Memulai kehidupan yang baru di Inggris, sembari berusaha membantu Oxley General menemukan musuh sesungguhnya.
Perjalanan Indonesia Inggris memakan waktu tempuh sekitar 16 hingga 18 jam itu sudah termasuk transit di Turki terlebih dahulu. Selama perjalanan yang cukup panjang itu, Stella tak henti-hentinya mendengar pemberitaan tentang Oxley General. Dirinya juga baru mengetahui jika ada gelombang unjuk rasa besar-besaran di kota Manchester hingga membuat bandar udara internasional Manchester (IATA: MAN, ICAO: EGCC) beberapa saat lalu di tutup. Mendengar hal itu, degup jantung Stella berdebar begitu kerasnya. Rasa bersalah dan berdosa kian mendera menerjang dirinya. Berkali-kali di dalam hatinya, Stella terus mengerutuki tindakan bodohnya, serakahnya, dan egoisnya. Andai, dia tidak percaya dengan Chris, andai dirinya tak berniat mencuri data pribadi Oxley General, andai dirinya tak termakan dendam karena Reza telah memperkosanya. Andai... Andai... Andai semua itu tidak ia lakukan, mungkin saat ini Oxley General masih tetap berdiri.
Ketika dia masih terus memikirkan tentang Reza dan hancurnya Oxley General, tiba-tiba saja perutnya mual bukan main. Menghambur, Stella cepat-cepat bergegas ke kamar mandi pesawat. Memuntahkan isi di dalam perutnya semua, hingga tak terasa lagi rasa mual sialan itu.
Peluh mengucur membasahi pelupuknya. Stella menyeka dengan tisu yang memang sengaja di letakkan di sana. Mengusap bibirnya dengan setengah menekan, Stella merasa ada sesuatu yang aneh pada dirinya.
Dia mengenyahkan pikiran apapun mengenai dirinya, saat pilot mengumumkan bahwa sebentar lagi pesawat akan mendarat. Segera Stella keluar dari dalam kamar mandi. Duduk kembali di kursinya dan memasang sabuk pengaman sesuai arahan dan instruksi yang di berikan oleh pramugari.
Pesawat jenis Boeing itu akhirnya selamat dan mendarat dengan mulus di bandar udara internasional Manchester (IATA MAN). Dan benar saja apa yang di katakan oleh berita yang tadi dia dengarkan selama perjalanan, kalau kota Manchester sedang mengadakan demonstrasi besar-besaran menuntut Oxley General karena ledakan nuklir yang terjadi di beberapa wilayah.
"Miss Sasmita." Seorang lelaki dan perempuan melambaikan tangan, memegang papan bertuliskan nama lengkap Stella. Meneriaki nama Stella berharap salah satu penumpang yang baru saja tiba dari Turki adalah Stella.
Melihat namanya di teriakan, Stella berjalan mendekat tersenyum ramah dan memperkenalkan diri sebagai Stella sambil menunjukkan Id card yang di berikan oleh Michael di Indonesia.
"Welcome to Manchester, friends. Saya Douglas dan ini Kate. Kita akan menjadi satu tim." Lelaki yang bernama Douglas itu membentangkan tangannya dan hendak berhambur memeluk Stella. Namun dengan sigap, Stella segera mundur dan menjauh.
__ADS_1
"Maafkan aku, tetapi aku baru saja dalam perjalanan jauh dan harus melakukan tes bebas covid. Aku tidak ingin terjadi apapun kepada kalian." Membual, Stella memang sejujurnya tidak menyukai orang-orang. Terlebih orang itu bersikap seenaknya pada dirinya. Dia tak suka di sentuh. Amat benci.
Dan, nampaknya pun Kate mengetahui hal itu. Diam-diam, wanita berambut hitam pendek itu menyikut pinggang Douglas dan berbisik sesuatu di telinganya.
"Dia nampak tidak tertarik kepada manusia lainnya." Terka Kate yang langsung di balas delikan mata oleh Douglas.
"Benarkah? Bukan katamu orang-orang Indonesia cinta persahabatan?"
"Tidak semuanya. Mungkin salah satunya dia."
Stella yang tak perduli dengan obrolan bisik-bisik teman yang akan menjadi satu timnya itu memilih untuk membuang pandangannya melihat ke arah luar bandara yang menampilkan ribuan massa dari berbagai tempat membeludak memadati jalanan hingga masuk ke area bandara.
"Uhmm, kau tau apa yang sedang terjadi dengan negara ini?"
Kepala stella mengangguk mengamini.
"Mereka datang bukan hanya dari Britania raya, bukan hanya dari Eropa. Tetapi seluruh dunia. Entah bagaimana caranya mereka datang dan lolos dari pemeriksaan bandara." jelas Dauglas.
"Seriously?"
__ADS_1
"Ya. Mereka menuntut Reza pendiri Oxley General untuk bertanggungjawab. Karena sebagaimana kita tau manajer perusahaan itu melakukan aksi mengerikan beberapa hari lalu."
Jari tangan Dauglas terangkat membentuk huruf L dan meletakan jari itu di kepalanya seakan-akan itu adalah sebuah pistol.
"Dor..."
"Itu sangat menyeramkan."
"Ya. Mari aku bantu bawa barang-barang mu. Kau harus segera melakukan tes anti Covid supaya kita cepat bekerja."Dauglas merampas koper di genggam Stella, dan berjalan yang di buntuti oleh Kate dan Stella dari belakang menujuh parkiran bandara. "Ada banyak yang harus kita kerjakan, salah satunya kita akan mengunjungi Oxley General tiga hari lagi."
Derap langkah kaki Stella seketika berhenti, mendengar ucapan Dauglas barusan. Dia berlari dan berjalan beriringan di samping Dauglas. "Kita akan ke Oxley General? untuk apa?"
"Mewawancarai Reza."
Seketika senyum mengembang di bibir ranum Stella. Dia langsung melompat kegirangan seperti anak kecil.
"Kau sepertinya senang sekali bertemu lelaki itu, Stella." Seru Kate yang di selingi gelak.
TO BE COUNTINUE....
__ADS_1