
Kepala Reza rasanya seperti baru saja dihantam oleh benda yang tak kasatmata. Pening, pusing tujuh keliling dia rasakan. Ngidam Stella benar-benar kelewatan sekali. Jika hanya meminta nonton konser Coldplay saja tak masalah untuk Reza. Dia tinggal memerintahkan Jones untuk memanggil Chris Martin CS untuk mengadakan konser dadakan di sini. Tapi mencari Sate Padang di tengah malam seperti ini, juga mengelus jenggot Chris Evan ini sudah benar-benar konyol bin tidak masuk akal.
Karena permintaan aneh Stella semua pada akhirnya berimbas kepada Jones. Asisten setianya itu akhirnya berkorban pergi keluar di tengah malam hanya untuk mencari Sate Padang yang di inginkan Stella. Meskipun dia sendiri ragu akan menemukan Sate Padang di kota Manchester plus di tengah malam seperti ini.
"Jangan pake bawang, Satenya jangan yang alot dan keras, terus bumbunya cari yang kentel dan lontongnya jangan yang keras atau lembek." Permintaan konyol itu di selingi teriakan Cahyo Stella sebagai penyemangat Jones.
"Setelah ini minta apa lagi?" tanya Reza setelah Jones pergi mencari sate padang.
"Uhmm..." Mengetuk-ngetuk rahangnya dengan jari telunjuk berpikir.
"Jangan katakan kau masih ingin mengelus jenggot captain amerika?"
Stella menggeleng kepala cepat. "Tidak, kok."
Syukurlah. "Lalu?"
"Uhmm, aku ingin melihat mu memakai celana boxer."
Seketika mata Reza melotot lebar. Wanita gila, tidak waras. Gerutunya dalam hati. Bagaimana bisa, dia memintanya untuk memakai celana boxer sudah sakit jiwa seperti wanita ini.
"Kau sudah tidak waras, huh? Mana mungkin aku memakai celana boxer di depan mu?"
"Tapi kau pernah, kan memakai celana itu?" tersenyum geli memandangi wajah Reza yang tiba-tiba saja berubah merah padam. Malu. "Tidak mungkin, kau tidak pernah menggunakan celana boxer."
"Pokoknya tidak! Mau aku pernah memakai atau tidak. Jangan harap aku mau memperlihatkannya di depanmu?"
"Kenapa kau malu?" tanya Stella dengan wajah polos tak berdosa. "Aku bahkan sering melihat Judika memakai celana Boxer, dan numpang mandi di indekos ku."
__ADS_1
"Apa kau bilang?"
"Dia terlihat seksi, apalagi dengan tubuhnya seperti roti sobek." Tersenyum geli, mengingat saat Judika menumpang mandi di indekosnya dulu karena keluar dari rumah akibat bertengkar dengan Liliana.
Mendengar Stella yang begitu bangga mengatakan jika Judika pernah mandi di indekosnya, dan juga pernah hanya memakai boxer saja di depannya entah mengapa hatinya tak terima.
"Kau..." Menujuk Stella dengan telunjuknya sambil menghela napas berat. "Jangan sekali-kali melihat tubuh lelaki lain selain aku. Tidak perduli itu Judika atau pun laki-laki lain."
"Kenapa?"
"Tidak usah banyak tanya. Lakukan saja atau kau mau menemani ikan pelihara Jones?"
Stella menggeleng kepala cepat.
"Bagus. Lebih baik sekarang kau masuk ke kamar. Ini sudah malam."
Setelah pintu kamar Stella tertutup, Reza juga ikut naik ke lantai tiga tapi tidak untuk ikut masuk ke dalam kamar Stella. Lelaki dengan tinggi badan 175 sentimeter itu masuk ke dalam ruangan minuman, dan membawa salah satu minuman beralkohol ke teras lantai tiga.
Di sana masih terdapat helikopter yang tadi di naikin, dia duduk di kursi besi taman yang sengaja di sediakan untuk bersantai sambil menikmati pemandangan luar biasa indah dari atas sana; hamparan hutan lebat berwarna hijau, tebing tinggi curam yang sangat cocok untuk para pencinta olahraga menantang adrenalin, juga deru ombak laut yang letakknya tepat di sebrang hutan itu. Tempat yang sempurna untuk membangun sebuah keluarga. Jones sangat pintar memilih tempat ini untuk di jadikan rumah masa depannya. Meskipun, sayang orang yang dia harapkan akan menjadi pendampingnya di masa depan pergi tanpa alasan bersama lelaki lain dengan turut membawa kedua putra kecilnya.
Wine terbaik buatan Swiss meluncur masuk ke dalam tenggorokan Reza. Dia meresapnya dengan khidmat dan nikmat. Sesekali dia mendesah merasakan sensasi manis yang wine ini berikan.
Jujur memang untuk beberapa alasan pikiran begitu sangat terganggu. Bahkan saking terganggunya sakit kepala yang di deritanya beberapa malam terakhir menyerang Reza tanpa henti, hingga terkadang membuatnya mimisan.
Perusahaan persenjataan yang dia bangun sedang dalam kondisi krisis, meskipun tidak berdampak begitu besar tapi tentu karena kejadian ini reputasi sebagai perusahaan persenjataan dan amunisi perang terbaik di dunia akan rusak. Belum selesai dengan masalah itu, datang lagi masalah tentang Stella yang ternyata sedang hamil anaknya. Tentu mau tak mau, Reza juga harus memikirkan hubungannya baik dengan Stella dsn anak didalam rahim wanita itu. Pasti cepat atau lambat Stella akan mempertanyakan statusnya dengan dia. Dan bodohnya Reza belum dapat menemukan jawaban. Dia amat begitu membenci wanita itu, asal muasal perusahaan bisa krisis seperti sekarang sejatinya karena campur tangan darinya, tetapi melihat dia yang juga sedang mengandung anaknya ada rasa tak tega untuk menyakiti ibu dari darah dagingnya. Dan yang terakhir tentang Chris dan Anne itu juga tak luput dari pikirannya. Reza terus menerus memikirkan keadaan adiknya, membayangkan jika tau kalau istrinya selama ini hanya memanfaatkan dirinya untuk membalaskan dendam akan kematian sang ayah. Sungguh, Reza tak pernah berpikir jika hukuman-hukuman yang ia layangkan kepada musuh-musuh Oxley General akan berefek samping kepada anggota keluarganya yang lain.
Kembali, Reza meresapi wine di tangannya. Menengguk wine itu hingga habis dan kembali menuangkannya lagi, terus begitu hingga beberapa saat. Mungkin dengan cara seperti ini sejenak, Reza dapat melupakan masalahnya. Hanyut ke dalam ketenangan yang memabukkannya. Meskipun tak berangsur lama, tapi cukup membuat Reza senang untuk sesaat.
__ADS_1
Sementara itu di dalam kamar, Stella tak henti-henti berdecak kagum dengan kamar barunya yang luasnya melebihi indekosnya dulu sewaktu kuliah. Ranjang yang empuk itu, seperti sedang melambai-lambai ke arahnya. Menyuruhnya untuk mendekat dan berbaring di atas sana. Santai.
Tapi sayang godaan ranjang double king size itu tidak berpengaruh bagi Stella, ketika manik indahnya memangkap seperangkat komputer di meja yang letaknya di ujung ruangan. Segera Stella menghambur, duduk di kursi putar berbantalan empuk sembari menekan tombol power pada komputer.
Seperti baru menang lotre ribuan pounds, mata Stella berbinar bahagia. Dia bertepuk tangan kegirangan saat mengetahui sistem yang di gunakan jaringan itu adalah linux.
Aku akan mencari keberadaan mu, Anne.
Tanpa berpikir panjang lagi, Stella segera tepekur menatap layar komputer, beraksi untuk mencari keberadaan Anne dan komplotannya.
Tangan berjari panjang-panjang itu mengetik papan keyboard, sesekali menggeser mouse berwarna hitam senada dengan warna komputer. Mimik wajah pun memancarkan mimik berbeda-beda; kadang mengerut, kesal, tersenyum, kembali mengerut, dan tersenyum lagi.
"Akh, apa yang dia lakukan kepada virus ku? Kenapa aku tidak dapat melacak lokasinya?" Pusing, menggaruk-garuk kepala kesal dan kembali berusaha menemukan di mana titik keberadaan Anne.
Morat marit sambil mulutnya berkomat kamit, Stella terus berpikir bagaimana caranya menemukan Anne. Hingga dering ponsel berhasil mengagetkannya. Stella buru-buru meraih ponselnya takut-takut ketahuan oleh Reza yang dia yakinin belum tidur.
Nomer tak dikenal yang berasal dari Indonesia. Kening Stella mengerut, binggung. Apakah itu Judika? Ah, kayaknya tidak mungkin. Sekaya-kayanya dia sekarang ini, rasanya tidak mungkin menemukan Stella semudah itu. Stella tau Judika orang yang bagaimana. Lalu siapa? Apakah Michael? Sepertinya juga tidak. Pasalnya, Stella menyimpan nomer Michael dan baru saja dia memberitahu Michael jika dia tidak bisa bergabung dengan rekan jurnalis lainnya karena suatu perihal. Tapi, dia janji akan tetap melaporkan apa saja yang dia dapatkan mengenai situasi terkini di Oxley General. Jadi tak mungkin juga itu adalah Michael.
"Lalu siapa yang menghubungi ku?"
Tak mau menghabiskan waktu hanya untuk menerka-nerka di gesernya layar ponsel yang baru di belikan Michael saat dia hendak pergi ke Inggris itu dan menempelkannya di telinga.
"Hallo, dengan jurnalis TTV Stella disini?"
"Stella, ini aku Chris."
"CHRIS?"
__ADS_1
TO BE CONTINUE....