
Sementara ketiga orang itu masih melongo kaget melihat Reza. Stella malah terlihat bergetar ketakutan. Rasanya, ia sedang melihat sesosok hantu tersenyum. Itu sangat menakutkan sekaligus menakjubkan. Dia mengigit bibir bawahnya. Pasti, ketiga temannya barunya itu akan menerjangnya dengan pertanyaan bertubi-tubi.
Lo mengenalnya?
Darimana?
Kok bisa?
Jangan bilang lo...?
Oh, kepalanya yang terasa berat, semakin terasa berat. Rasa-rasanya seperti ada seonggok batu besar yang baru saja menghantam tulang belakang lehernya. Hingga menimbulkan rasa sakit luar biasa menjalar ke kepalanya.
Berlahan kaki-kaki jenjang berbalut sepatu kulit mahal itu berjalan menghampiri mereka. Lagi-lagi degup jantung Stella berdebar-debar begitu kencangnya, seiring langkah kaki Reza semakin mendekatinya. Sial, ada apa dengan Stella? Mengapa seakan di sekelilingnya tak ada gravitasi di tempatnya berpijak. Dia serasa melayang-layang bebas di angkasa. Stella begitu terpana akan sosoknya, gayanya, juga pastinya wajahnya. Hingga, ia sampai tak menyadari kini lelaki itu berdiri tepat di depannya. Di dekat pintu otomatis hotel. Untungnya di sana para awak media telah pergi, dan hotel sepi karena pademi. Membuat suasana di sana, menjadi cukup kondusif dengan kehadiran Reza yang sangat mengejutkan jantung.
"Good night everywhere?" Reza tersenyum dengan ramah, tapi tentu terselip sesuatu dari tatapannya.
"Ma... Malam Mr.Oxley." Ketiganya membalas dengan nada terbata dan senyum yang sangat kaku.
"Hello, Miss Sasmita? Kejutan yang luar biasa dapat berjumpa lagi denganmu?" Kini tatapannya berpindah. Menatap Stella dengan tatapan biru khasnya; begitu lekat, tajam, juga mengintimidasi.
"Mr.Oxley," bisiknya pelan. Keluh tiba-tiba menerjang otot-otot lidahnya. Hanya kata itu yang dapat Stella keluarkan.
"Senang bisa melihat mu di sini, Miss Sasmita." Pandangan birunya begitu intens. Dan suaranya begitu lembut dan hangat. Seperti sebuah coklat cair yang di tuang di dalam cangkir.
Stella mengerjapkan mata cepat mencoba mengumpulkan akalnya. Sementara ketiga temannya masih melongo untuk menemukan isi pikiran mereka. Untuk beberapa alasan, tak heran baik Stella maupun ketiga temannya berdebar syok melihat kemunculan Reza di hadapan mereka. Seperti sebuah mimpi, yang mencapai titik keberhasilan.
"Kalian saling mengenal?" Akhirnya fungsi kognitif Alisa berfungsi lagi dan menghubungkan kembali dengan seluruh tubuhnya. Dia tersadar dari alam bawah sadarnya.
"Ya. Tentu," kata Reza kembali menyungingkan senyum menawan.
Hati Stella berdebar begitu kencang, ia menundukkan kepalanya. Bersembunyi dari wajah merona akibat tatapan begitu indah milik Mr.Oxley.
"Woah sungguh luar biasa." Alisa menyenggol Stella. Memberikan tatapan dan senyum penuh selidik kepadanya.
"Dia..."
__ADS_1
"Sahabat pak Judika. Kalian pasti tau kan?" Dengan cepat Stella memotong ucapan Reza. Dia tak ingin, teman-teman barunya mengetahui sandiwara yang sedang ia dan Judika mainkan. Bisa-bisa semua akan semakin kacau balau.
"Sahabat?" tanya Reza binggung.
"Euhmm, ya sahabat." Tersenyum penuh muslihat kepada teman-teman barunya.
Melihat ada yang tidak beres pada diri Stella, tiba-tiba raut wajah Reza berubah seperti semula; dingin dan kaku. Dia memandangi Stella dari atas hingga bawah kaki. Seorang gadis berpakaian begitu sederhana, dengan kaos polos, dengan blazer berwarna pastel, juga celana bahan cream, dan sepatu kets lusuh. Sedang berdiri dengan raut wajah pucat namun begitu cantik, sedang menarik tangan ketiga temannya untuk menjauh darinya, dan berusaha menjelaskan kepada mereka.
Dewi Aphrodite. Gumam Reza dalam hati.
"Jadi kalian tau kan gue sahabatnya pak Judika?" Ketiganya mengangguk serentak. "Jadi ya... Ya... Gue sebenernya udah tau kalau Mr.Oxley kakaknya pak Judika." Menundukkan kepalanya, merasa tak enak. Dia seperti baru saja membohongi ketiga teman barunya itu.
Alisa, Ardy, dan Ridwan saling melemparkan tatapan binggung, syok, dan linglung. Sebelum kemudian sama-sama kembali menatap Stella penuh dengan banyak pertanyaan.
"Miss Sasmita?"
Keempatnya menoleh, saat nama itu kembali di panggil oleh Reza. Saling berdiri dengan posisi serba salah dan salah tingkah.
Apa yang harus mereka perbuatan dan lakukan?
"Mau menemani ku minum kopi?"
Apa mereka membiarkan Stella pergi asal dengan sebuah informasi? Tentu! Itu pasti yang mereka harapkan dari senyuman menyebalkan itu.
"Bagaimana, Miss Sasmita?" Reza mendongakkan kepalanya sedikit. Tak sabaran menunggu jawaban dari Stella.
"Uhmm, ya. Tentu," katanya. Benar-benar tak menyangka, dia akan menerimanya. Mungkin karena terlalu gugup, atau karena senyuman penuh muslihat ketiga teman barunya.
Reza menganggukkan kepala, dan memancarkan mata biru berbinar. Namun, sebelum mereka berdua benar-benar pergi dari sana, Alisa maju beberapa langkah. Menghampiri Stella, yang sedaritadi berdiri di dekat Reza. Dia mengulum senyum kikuk menatap Reza, dan tanpa di sangka Reza membalas senyuman itu. Meninggalkan jejak-jejak ketampanan pada wajahnya.
"Biar gue bawa barang-barang lo." Mencoba mengambil alih apa yang saat ini Stella bawa.
"Tapi, lo nanti ribet." Stella tak mau melepaskan barang-barangnya. Tak enak menyusahkan teman teman barunya. Mereka sama-sama sudah bekerja keras hari ini. Pasti mereka sangat kelelahan. Stella tak ingin menambahkan rasa lelah itu pada pundak mereka.
"Gak apa-apa. Cuma bawa ke mobil aja, gak akan masalah. Lagi juga ada Ardy dan Ridwan. Ya, kan gengs?" Membuang pandangannya kearah Ardy dan Ridwan yang diam berdiri beberapa langkah di belakang Stella sambil Menaik-turunkan alisnya, memberikan sebuah kode untuk meng-iyakan.
__ADS_1
"I... Iya benar. Gak apa-apa kok, Stel," jawab Ardy sedikit kikuk.
"I... Iya cuma bawa ransel aja gak apa-apa kok," timpa Ridwan, berpura-pura menyakini Stella. Padahal dia sendiri binggung, harus berbuat apa dan melakukan apa.
Dengan berat hati dan rasa tak enak, akhirnya Stella memberikan tas kameranya kepada Alisa. Melepaskan gendongan tas ransel besarnya, dan meletakannya di lantai lobi hotel sebelum akhirnya di ambil alih oleh Ardy. Karena bawaan di tangan Alisa sudah banyak dan tak memungkinkan untuk menenteng tas ransel milik Stella.
"Yaudah kalau gitu gue pergi dulu, ya?" Malu-malu Stella berpamitan.
Namun, lagi-lagi sebelum Stella melangkah. Tiba-tiba Alisa menghambur memeluk Stella. Dia mendekap Stella erat-erat, sambil berpura-pura mengecek suhu tubuhnya.
"Duh badan lo anget. Lo baik-baik, ya. Kalau butuh jemput biar mang Bakrie gue suruh jemput loh."
"Tidak perlu." Tiba-tiba Reza memotong ucapan Alisa. Alisa menoleh dan menatap Reza binggung. "Biar saya yang akan mengantarkannya pulang."
"Oh. Baiklah, Mister."
Kembali Alisa memeluk Stella. Mendekatkan mulutnya di telinga Stella, dan tak beberapa lama dia pun berbisik.
"Kalau badan lo enakan, dikit-dikit boleh lah ngorek satu atau dua informasi dari dia. Pasti gampang, apalagi lo minum kopi cuma berdua."
Sudah Stella duga, bukan? Senyuman menyebalkan penuh muslihat tadi yang di tunjukan olehnya adalah sebuah kode untuk Stella. Ah, Alisa ternyata gadis itu benar-benar seorang yang gigih.
Stella tak menjawab, dia hanya melirik Alisa dengan lirikan mata yang sulit untuk di artikan.
Tak perduli dengan lirikan Stella itu. Alisa melepaskan pelukannya.
"Yaudah, gih sana nanti keburu kemalaman." Tersenyum. "Kita duluan, ya? Sampai ketemu besok di kantor." Melambaikan tangan kemudian berjalan mendekati Ardy dan Ridwan. Kemudian menarik kedua lelaki yang masih dalam mode melongok untuk meninggalkan hotel.
Mereka berjalan tergesa-gesa, sambil berbisik-bisik dan sesekali tertawa. Dapat di simpulkan, jika mereka sudah menjadi rekan kerja yang begitu dekat. Bahkan, Alisa pun tak sungkan dan malu mengandeng kedua tangan Ardy dan Ridwan. Membawanya ke halaman parkir mobil dan menghilang di balik Van mobil perusahaan.
"Apa kau masih akan tetap berdiri di sana, Miss Sasmita?"
Stella tersadar dari lamunannya memandangi kepergian teman-teman barunya.
"Maaf."
__ADS_1
Dia memberikan kode kepada Stella untuk masuk ke dalam hotel dengan kepalanya, dan dengan ajaib Stella menurut dan berjalan membuntuti Reza masuk ke dalam hotel.
TO BE COUNTINUE...