
🚫🚫 Warning konten ini mengandung unsur 18+. Harap bijak dalam membaca. Sebelum membaca tradisikan untuk membiarkan vote dan hadiah untuk Author agar Author semangat update. Tinggalkan komentar kritik dan saran, jangan hanya "lanjut thor" atau "semangat thor". Tinggal beberapa episode lagi akan sampai di akhir season 1. Semoga masih tetap setia dan suka baca ceritaku. Terimakasih
****
"Sejak kapan kau berdiri di sana?" tanya Stella dengan suara yang ia buat-buat untuk tetap agar terdengar tenang.
"Cukup lama, untuk mendengarkan kau berbicara dengan Big Bos perihal Red Army."
Sepasang bola mata biru itu, melirik gerak-gerik Stella awas. Seperti seorang pemburu yang baru saja menandai mangsanya dan siap menembakkan peluru ke arah mangsa tersebut. Stella tercekat, menurunkan ponselnya dan menyembunyikan di belakang bahu sembari mundur beberapa langkah untuk menghindari Reza yang berjalan hendak mendekatinya.
"Reza. Uhmm... Maksudku tuan Oxley, aku bisa jelaskan kepada mu?"
Bungkam, Reza tak menjawab ucapan Stella. Balkon apartemennya yang hanya berukuran enam kaki itu, terasa begitu sempit bagi Stella. Padahal sebelumnya, dia merasa begitu nyaman duduk setiap malam disana dengan setumpuk tugas yang di berikan oleh Alisya sebagai ketua team barunya setiap hari.
"Jelaskan kepada ku, Stella," tegas Reza akhirnya menghentikan langkahnya tepat saat, Stella sampai di ujung balkon yang di batasi penyangga kaca transparan. "Kau mau bermain-main lagi dengan ku, huh?"
Kepala Stella menggeleng cepat. Menampik pikiran kotor yang Reza pikiran. Meskipun nyatanya memang benar, dia sedang ingin bermain-main dengan Reza.
"A... Aku menjelaskannya," katanya dengan suara sedikit tercekat.
"Jelaskan."
"Dia... Dia Alisya," berbohong, dan tersenyum. Menyebutkan nama Alisya sebagai tameng untuk menutupi kebobrokannya. "Aku memanggilnya Big Bos, karena dia baru di angkat sebagai ketua team ku. Aku dan dia sedang menyelidiki sebuah masalah yang ada kaitannya dengan Anonymous. Hacker terbesar di dunia, dan dia baru saja bilang ada Hacker dari Amerika bernama Red Army. Dan, aku tau tentang Red Army karena kau tau aku ini juga hacker."
Maniak yang berpura-pura menjadi seorang CEO perusahaan persenjataan itu tergelak, bersedekap dan menatap Stella dengan tatapan masih awas.
"Oh ya? Alisya, ya? Wartawan nyentrik, yang pernah bertemu dengan ku malam dimana aku meminta mu menemaniku minum kopi."
"Ya, dia. Kau mengingatnya?" Berhasil. Nampaknya Reza percaya akan ucapan bohong Stella. Melihat senyum sumringah Reza dan tatapan mengintimidasi yang perlahan menghilang, membuat rasa percaya diri Stella kembali naik bertahap.
"Oh, jadi dia. Ya... Ya aku tau."
"Ya, dia. Dia selalu menelpon di saat yang kurang tepat." Terus tersenyum dan berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
"Lalu siapa yang menelpon mu melalui telpon kabel barusan, huh? Mengatakan namanya sebagai Alisya?"
Mata Stella mendelik melirik Reza. Tubuhnya membeku, sebeku kristal es. Dia ketahuan berbohong, dan sialnya tiba-tiba otaknya langsung mengingat seberapa kejam dan ganas Reza ketika sedang marah. Saraf-saraf otaknya, tiba-tiba memutar video-video penyiksaan yang di lakukan oleh Reza terhadap wanita-wanita yang dia tiduri. Itu sungguh menyeramkan. Stella takkan bisa membayangkan jika dirinya yang akan menjadi salah satu dari korbannya.
"A... Alisya menelpon ku?" tanya Stella pura-pura bego dengan tatapan polos, masih berusaha mencari-cari kebohongan untuk menutupi kebohongannya yang lain.
"Kau berbohong, Stella," kata Reza sudah berada di depan wajah Stella. Dia menghambur melompati meja kecil, tempat Stella biasa meletakan laptop dan mencekal tangan Stella kuat.
Merasa sakit, Stella meringis meronta dengan satu tangan yang masih setia tak melepaskan ponselnya.
"Ini menyakitkan, Mr.Oxley." Lelaki ini benar-benar sangat tempramental. Dia bahkan tega menyakiti Stella seperti ini, hanya karena dia pikir Stella adalah sekutu dari musuh yang sedang dia cari.
"Aku tau, kau berkerja sama dengan Big Bos, ketua Esocial untuk menjatuhkan aku, Stella." Matanya memicing tajam menatap Stella. Suara napasnya terdengar masih begitu stabil, meskipun nada ucapannya terdengar dingin dan sangat-sangat tidak bersahabat.
"Kau salah paham, Reza. Aku tidak pernah berniat menjatuhkan mu atau siapapun." Berusaha berteriak. Melirik ke bawah, berharap ada seseorang yang melihat dirinya bersama Reza di atas sana.
__ADS_1
Namun, sialnya seperti area apartemen ini telah di sterilkan lebih dahulu sebelumnya. Tak ada siapapun yang lewat memenuhi area apartemen seperti biasanya. Mobil-mobil berpoles licin yang biasa terparkir di sana pun nampak kosong. Sialnya juga, Stella baru menyadari akan hal itu setelah melihat asisten Jones yang berdiri bersama empat anak buah berperawakan tinggi, kekar, dan berwajah khas orang barat.
"Salah paham? Jangan menguji kesabaran ku, Stella!" bentakan Reza, sukses membuat nyali Stella ciut. Rasa percaya diri yang tadi sudah perlahan terbangun, seketika runtuh mendengar bentakan Reza yang amat terdengar menakutkan.
"Aku tau kau bekerja sama dengan Nick dan Big Bos untuk menjatuhkan ku, Stella. Aku tau kau yang memasukkan Joseph kepenjara dan memblokir situs gelap miliknya di dark web. Aku tau segala tentang mu, nona Nadila."
Tubuh Stella bergetar hebat, mendengar Reza memanggil namanya dengan Nadila bukan Stella. Sudah sangat lama, dirinya tak mendengar orang-orang memanggil nama asli yang amat dia benci itu. Sudah sangat lama. Dan, Stella tidak menyukainya.
Dia menengadahkan kepalanya, berani menatap Reza dengan binar mata menantang balik. Tak perduli hatinya yang memberontak kepada, Stella untuk tidak berbuat hal nekad lainnya kepada Reza. Wanita itu menampiknya, tetap memberanikan diri menatap Reza dengan tatapan yang tak kalah nyalang.
"Jangan panggil aku Nadila." Teriak Stella tak tertahankan. Dia mendorong tubuh Reza, yang membuat ponselnya jatuh ke bawah apartemen, dan hancur seketika. Dan tanpa di sadari pula, jika panggilannya dengan Chris belum terputus, yang mana Membuat lelaki itu tentu masih dapat mendengar dengan jelas apa yang sedang terjadi pada Stella.
Chris yang berdiri juga di sebuah balkon yang menghadap langsung ke lautan lepas, mengerutkan dahi binggung. Hatinya bergetar, saat Stella menyebutkan nama Mr.Oxley. Tentu, dia langsung berpikir jika panggilan itu bukan di tunjukkan kepadanya, melainkan kepada Reza.
Lelaki itu menghambur, keluar dari kamarnya dan turun ke bawah dengan raut wajah penuh kecemasan menghampiri salah satu anggota Esocial pria berkulit hitam juga, dengan rambut yang di kepang kecil-kecil ala anak pencinta musik Reggae.
"Chris, what happened?" Melihat suaminya yang nampak begitu cemas, Anne yang semula sedang berada di dapur keluar, dan menghampiri Chris.
"Stella dalam bahaya."
Anne menyipitkan matanya. "Why?"
"Dia bersama Reza. Dan aku mendengar, Reza mengetahui segalanya tentang, Stella."
Mendengar itu, Anne tak dapat menyembunyikan rasa keterkejutannya. Dia bahkan sampai ternganga, sama halnya dengan para anggota Esocial lainnya.
"Berikan ponselmu, Chris." Anne yang nampak ikut khawatir dengan Stella, meraih lengan tangan Chris. Mengambil ponsel Chris dan genggamannya. Anne ingin mengetahui keadaan Stella di seberang sana.
Dan, benar saja saat dia menyalahkan tombol power disisi kiri ponsel Chris terpampang jelas, jika Stella sudah mematikan panggilannya.
"Chris, apa yang kau dengar? Bagaimana dengan kondisi, Stella sekarang?" Mulai ikut khawatir, Anne mencengkeram kedua lengan suaminya. Menggoyang-goyangkan lengan itu tak sabaran menunggu jawaban dari Chris.
"Reza mengetahui segalanya tentang Stella. Tentang dia yang berteman dengan Nick, dia yang menjebloskan Joseph ke dalam penjara, dan tentang dia yang ikut ambil bagian bersama kita."
"Chris, Stella dalam bahaya."
Kembali ke apartemen Stella yang memasuki malam hari, keduanya masih sama-sama berdiri di balkon dengan tatapan saling menantang satu sama lain. Reza yang sudah tak tahan dengan kelakuan Stella yang semakin menjadi, rasanya ingin segera menghabisi wanita itu hingga tak tersisa. Begitupun dengan, Stella yang tidak tahan dan amat benci mendengar seseorang memanggil namanya dengan nama yang paling ia benci dan ia kutuk itu. Rasa takut yang awalnya menjalar di tubuh Stella berlahan pergi tergantikan rasa marah dan emosi yang siap-siap meledak.
Namun, Stella keliru menanggapi kemarahan Reza dengan api kemarahan juga. Tanpa basa-basi, Reza menjambak rambut Stella, menariknya masuk ke dalam apartemen.
Reza melepaskan jambakannya, melemparkan tubuh Stella ke lantai hingga berhasil membuatnya terpentuk sofa.
Stella meringis, memegang keningnya yang terasa amat sakit itu. Dengan kepayahan, Stella berusaha mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya untuk bangkit. Tetapi, belum kesadaran pulih semua, Reza sudah terlebih dulu kembali mencekalnya.
Lelaki itu berdiri dengan lutut yang bertumpu di kanan dan kiri tubuh Stella. Memegang kedua tangan Stella di atas kepala, dan langsung menampar pipi mulus Stella bulak-balik.
Rambut bergelombang hitam milik Stella berterbangan mengikuti kemana arah tamparan Reza melayang. Darah segar bercampur keringat dan air mata banjir seketika memenuhi wajah cantik Stella.
Tangisannya pecah tak dapat tertahankan lagi. Bayang-bayang akan penyiksa Reza kepada wanita yang selalu ia bayangkan, kini benar-benar terjadi menimpahnya.
__ADS_1
"Aku sudah mencoba menahan ini kepada mu, Stella. Hanya karena aku benar-benar memiliki perasaan kepadamu. Tetapi, kau benar-benar wanita tak tau diri yang menabuh genderang peperangan kepadaku. Dan, membuat kau terjatuh sendiri ke dalam jurang."
"Aku tidak pernah berniat menghancurkan mu, Reza. Apalagi menabuh genderang peperangan denganmu." Di setengah kesadarannya dan rasa sakit yang begitu amat mendera, Stella masih terus berusaha memberikan penjelasannya kepada Reza. Tetapi, lelaki yang kini sudah di selimuti api kemarahan tak lagi mau mendengarkan ucapan Stella.
Dia pun bangkit dan berdiri. Melepaskan sabuk celananya dan melemparkannya kesembarang arah. Di tengah rasa sakitnya itu, Stella masih dapat melihat samar-samar apa yang Reza lakukan. Kepalanya menggeleng, Stella tau apa yang akan maniak seperti Reza lakukan kepada wanita lemah sepertinya.
"Ja... Jangan apa-apa aku. Aku mohon." Stella memelas di setengah kesadarannya. Suaranya begitu lemah dan menyayat hati.
Bukan merasa iba mendengar permohonan Stella, Reza justru tersenyum sinis sembari menggulung lengan kemejanya. Dia segera jongkok, saat lengan kemeja telah tergulung rapih.
Reza menarik tubuh Stella. Menggendongnya ala bridal dan langsung membawanya menujuh lantai atas di mana kamar Stella berada.
Dia membaringkan tubuh lemah tak bertenaga Stella ke ranjang empuk bersprai putih itu dengan begitu hati-hati, sebelum kemudian mulai melepaskan satu persatu kancing kemejanya.
Melihat apa yang sedang Reza lakukan, sekuat tenaga Stella berusaha bangkit dari ranjangnya. Dia duduk dan merentangkan tangannya mencoba melawan Reza yang semakin di sulut nafsu.
"Aku mohon jangan begini." Tangisannya pecah, Stella mencoba mendorong tubuh Reza yang telah telanjang itu, yang hanya mengisahkan celana boxer saja.
"Aku akan memberikan mu pelajaran berharga, Stella." Reza mendorong Stella hingga membuat wanita itu kembali telentang di atas kasur.
Tanpa menunggu lama, Reza merangkak naik ke kasur. Mengikat kedua tangan Stella menggunakan tali sepatu yang dia dapatkan dari meja kerja Stella. Mengikat dengan cara menautkan kedua tangan Stella di atas kepalanya. Stella meronta berusaha melepaskan diri, tetapi usahanya sia-sia karena tenaganya jauh dibandingkan Reza.
Melihat ketidakberdayaan Stella di bawah tubuhnya, Reza semakin beringas. Dia mencengkram tengkuk leher Stella dan membawanya ke dalam mulutnya. Reza mencium bibir Stella dengan rakus, tangannya tak tinggal diam, dia menggerayangi tubuh Stella. Mulai dari leher, dada, perut, hingga ke bawah milik Stella.
Stella mengeliat, tubuhnya bergetar. Mencoba melepaskan dirinya dari Reza. Namun, semakin dia bergerak semakin Reza ruang gerak tubuhnya menipis.
Ciuman kini berpindah. Reza menjilati leher Stella dengan begitu nafsu. Membuat Stella yang mati-matian menahan rasa gejolak yang tak bisa ia jelaskan.
"Mulut mu berkata tidak. Tetapi tubuhmu menyukainya, Stella." Bisik Reza dengan nada yang begitu sensual. "Kau merindukan ini, Stella."
Mata Stella terpejam, mati-matian ia menahan agar mulutnya tak bersuara, mengeluarkan desahan. Sungguh, Reza begitu pandai membuat rasa sakit pada dirinya berganti rasa nikmat tak terhingga.
"Uhmmm..." Stella mengigit bibir bawahnya, saat merasakan sesuatu menerobos masuk ke dalam inti miliknya.
Melihat Stella yang seperti itu, Reza menyeringai penuh kemenangan. "Sepertinya kau sudah tidak sabar, Stella?"
Kepala Stella menggeleng. "Bukan. Tolong jangan lakukan itu." Raung Stella, saat Reza mulai membuka paksa seluruh pakaiannya.
"Hari ini aku akan memberikan pelajaran berharga untuk seseorang yang berani bermain-main dengan ku." Reza masih terus berucap dengan nada dingin dan tetap terus memaksa kehendaknya.
"Tidak... Tidak... Akhh..." Teriakan Stella memenuhi seisi kamar, ketika Reza memaksakan diri memasuki Stella dengan kasar.
Stella menangis, menjerit, memberontak hingga mencakar-cakar tubuh Reza. Namun, semua usahanya sia-sia bukan kasian dan merasa iba, Reza justru semakin bernafsu memiliki Stella.
Malam itu tanpa ampun Reza memasuki Stella dengan kasar, tak perduli jeritan atau rintihan kesakitan dari Stella karena miliknya robek akibat ulah Reza. Dia sudah tak dapat lagi menahan gejolak yang ada di dalam dirinya. Dan, malam itu juga dirinya telah berhasil memiliki Stella sepenuhnya. Dia kini berhak atas diri Stella. Meskipun begitu, dirinya tak tau di malam itu juga adalah awal dari bencana besar yang akan menimpah dirinya di mulai.
TO BE COUNTINUE...
NP:
__ADS_1
ADA KESALAHAN YANG TERJADI DI LATAR WAKTU SEBELUMNYA YA GUYS... TETAPI SUDAH AKU PERBAIKAN. SEMOGA SUKA DENGAN TULISAN KU, KARENA AKU TIDAK AHLI DALAM MENULIS ADEGAN 21+... TERIMAKASIH, JANGAN LUPA DUKUNGAN KALIAN