Hello, Mr Mafia!

Hello, Mr Mafia!
Episode 105


__ADS_3

Maaf baru Update, karena beberapa hari ini Authornya sibuk banget. Insyaallah satu bab lagi akan tamat season 1.


****


Mata, Stella mengerjap-ngerjap cepat terperangah dengan permintaan Greta barusan. Stella mengatupkan mulutnya, menghela napas dalam-dalam untuk menyeimbangkan kesadarannya. Setelah merasa, dirinya sedikit lebih seimbang dia kembali menatap kedua orang di depannya secara bergantian lalu berkata.


"Aku mengenalmu bukan hanya satu dua tahun." Ucapan itu di tujukan kepada Greta. "Kau akan berencana memasukkan virus itu dan menyabotase perusahaan Oxley General bersama, kan?"


Mendengar pernyataan, Stella yang begitu jujur membuat hati Greta tergelitik. Dia bahkan tak mampu menyembunyikan tawa khasnya yang melengking.


"Ku pikir setelah kau menjadi bucin dengan seseorang, otakmu akan mati dan tidak berfungsi untuk berpikir. Tetapi ternyata kau masih begitu pintar untuk menebak keinginan ku."


Stella berdiri, menggebrak meja dan memasang wajah marah. "Kau tidak akan pernah mendapatkan." Bergegas hendak keluar dari dalan ruangan itu.


Namun, sesaat dia keluar dari rumah itu sebuah gas air mata mendatar tepat di depannya. Stella merunduk, jongkok dan menyembunyikan wajahnya agar tidak terkena gas air mata memerihkan itu. Tak beberapa lama setelahnya, beberapa laki-laki besar muncul entah darimana.


Tersungkur, Stella terkejut dengan kehadiran lima laki-laki yang datang secara tiba-tiba. Dia merangkak, berniat kembali masuk ke dalam untuk bersembunyi dan meminta bantuan Greta.


Sial, baginya kali ini dia tertangkap sebelum berhasil lari. Tangannya di cengkraman dari kedua arah dan di seret masuk ke dalam sebuah mobil. Stella berteriak, berharap Greta mendengar.


Mendengar suara gaduh di depan, Diaz dan Greta segera beranjak dan memeriksa apa yang sedang terjadi. Tapi pada saat mereka tiba di luar halaman, mobil itu sudah melesat membawa Stella dan hanya meninggalkan sisa-sisa gas air mata yang langsung terasa perih di kedua mata mereka.


Di dalam mobil, Stella di bekap. Di ikat dan tubuhnya di setrum. Dia tergeletak lemas, kesakitan, karena sengatan listrik itu.


"Kalian mau apa?" Di sisa-sisa kesadarannya, dan rasa sakit yang mendera Stella masih berusaha berkata kepada mereka yang menculiknya.

__ADS_1


"Kami mau kau segera menjalankan misi mu untuk menghancurkan Oxley General." Salah satu dari mereka menjawab. Stella tak mengenalinya, dia memakai penutup wajah yang hanya terlihat dua mata hitam tajam dan hidung sedikit pesek.


"Kalian bukan Cyberfriend?" Stella mengerutkan keningnya. Beberapa saat lalu, pasalnya dia berpikir jika kelima lelaki itu adalah Cyberfriend yang di perintahkan Reza untuk menangkapnya. Semua itu juga di perkuat dengan mobil yang mereka gunakan untuk menculik Stella sama dengan mobil yang dia temui tadi siang. Namun, sayangnya dia salah. Mereka bukan Cyberfriend.


"Cih, kau pikir aku mau masuk kedalam organisasi kriminal seperti mereka?"


"Lalu? Akh..." Stella meringis, ketika tiba-tiba lelaki lainnya yang duduk di belakangnya menjambak rambut dia dengan begitu kencang.


"Tidak usah banyak tanya. Lakukan apa yang kami inginkan, atau nyawamu dan orang yang kau cintai akan melayang."


Tertegun, Stella meraba-raba. Mencoba menerka siapa orang yang di maksud orang yang dia cintai. Dengan penuh rasa percaya diri dan kesombongannya, Stella pun berkata.


"Kau pikir aku takut, huh? dalam hidupku, tidak ada seorang pun yang bisa mengambil hatiku."


"Oh, ya?" mereka semua tergelak. Membuat Stella semakin di rundung rasa was-was. "Lalu bagaimana dengan kedua kaka beradik itu, huh? kau mau siapa yang akan kami bunuh terlebih dahulu? Reza kah atau Judika?"


"Kalian tidak akan pernah punya kesempatan untuk membunuh mereka."


"Benarkah, kami tidak mempunyai keberanian? Kami bisa menembak kepala Reza dari jarak jauh menggunakan senjata ciptaannya sendiri, dan menikam Judika saat lelaki itu lengah. Kami bisa melakukan apapun, Stella."


Mendengar ancaman mereka, sendi-sendi di dalam tubuh Stella seperti mati rasa. Mereka nampaknya bukan orang sembarangan. Mereka berani membunuh Reza yang notabene adalah orang berpengaruh di Eropa. Siapa mereka? Apa mereka salah satu dari sekian banyak musuh Reza yang mencoba memanfaatkannya?


Mobil berhenti di sebuah perumahan elite di kawasan Tanggerang. Segera, mereka menurunkan Stella dari dalamnya. Menyeret tubuh wanita lemah itu dengan begitu kasar memasuki salah satu rumah mewah.


Stella di tempatkan di sebuah ruangan bawah tanah lembab dengan penerangan ala kadar. Dia di duduki di sebuah kursi dan tubuhnya di ikat kuat-kuat. Stella meronta-ronta, memohon untuk di lepaskan. Namun, bukannya iba dengan airmata yang mulai mengalir di pelupuk pipi Stella mereka malah menampar pipi itu dengan keras.

__ADS_1


"Lakukan apa yang kami minta."


"Tidak akan pernah."


Kembali, salah satu dari mereka menjambak rambut Stella dan berniat menampar kembali pipi Stella. Namun, saat tangannya berada di udara suara bariton menghentikan aksinya. Lelaki itu menoleh dan mendapati seorang wanita tengah berdiri ambang pintu.


Di sisa-sisa kesadarannya, Stella samar-samar menangkap sosok wanita yang berdiri di ambang pintu itu. Dia nampak tak asing baginya. Lekuk tubuhnya dan suaranya seperti Stella pernah bertemu dan berbincang dengannya. Namun entah dimana.


Perlahan wanita itu masuk ke dalam dan mendekati Stella. Perlahan itu pula, Stella dapat melihat dengan jelas sosok wanita yang ada di sana. Matanya terbelalak, saat mengetahui siapa wanita itu. Anne.


Stella menghela napas, dan tersenyum kecut melihat Anne di sana. Dia tidak kaget melihat Anne berada di sana karena artikel yang tadi siang di baca. Meski awalnya, Stella ragu Anne adalah wanita jahat kini dirinya yakin dengan pikiran.


"Dimana, Chris? Kau tidak melakukan apapun kepadanya, kan?"


"Chris lelaki yang baik, Stella. Namun, sayangnya dia lelaki bodoh, yang mudah di tipu hanya dengan kecantikan dan keluguan ku."


Stella berusaha melepaskan diri dari jerat itu, sembari matanya menatap nanar penuh kebencian kepada Anne.


"Kau wanita jahat, Anne. Kau memanfaatkan Chris untuk menghancurkan kakaknya sendiri." Tak dapat lagi menahan rasa geramnya, Stella berteriak sembari terus mencoba melepaskan jeratan tali yang mengikat tubuhnya.


Bergeming, Anne tak menjawab perkataan Stella. Dia berlalu menghampiri satu dari lelaki yang menculik Stella tadi, berbisik di telinganya sebelum kemudian pergi dari ruangan bawah tanah.


Mata Stella memicing benci menatap kepergian Anne. Dirinya benar-benar tidak menyangka jika wanita lembut penyayang seperti Anne memiliki hati jahat dan dendam yang membara. Tidak! Stella bergumam, menggelengkan kepala dan bermonolog dalam hatinya sendiri. Dia tidak boleh memendam dendam seperti Anne. Tidak! Itu hanya akan membunuh dirinya sendiri.


Matanya terpejam, pening mendera di kepalanya. Dia menyerah mencoba membuka tali yang menjerat tubuhnya dan memutuskan untuk menyederhanakan tubuhnya. Sengatan listrik tadi membuat tubuhnya berasa mengigil. Giginya bergemetakan, tubuhnya bergetar hebat. Napasnya semakin tersengal-sengal. Stella tak sanggup untuk membuka matanya lagi. Dia pun terpejam, kelopaknya menutup, dan tangannya terkulai lemah.

__ADS_1


TO BE COUNTINUE...


__ADS_2