Hello, Mr Mafia!

Hello, Mr Mafia!
Episode 80


__ADS_3

"Itu tak semudah yang kau bayangkan, Tuan Big Bos. Mereka takkan pernah lagi mengusikku." Stella mengembalikan fotonya.


Gelak tiba-tiba terdengar dari mulut lelaki itu. Stella menoleh dan melihat lelaki itu tertawa terpingkal-pingkal dengan ucapannya. Apa ada yang salah dengan ucapan dia?


"I'm sorry?" Stella mengangkat kedua tangannya, dan menaikan kedua bahunya menatap lelaki itu dengan tatapan penuh tanya.


"Sorry. Mendengar ucapan lucu mu, aku tidak dapat menahan gelak ku."


"Lucu?" Stella mulai naik vital.


"Ok baiklah. Jangan membohongi dirimu Stella." Lelaki itu menatap lekat wajah Stella, menghapus gelaknya dan merubah airmukanya menjadi begitu serius. Namun meskipun begitu, wajahnya nampak begitu teduh dan enak di pandang, terlebih senyumannya yang begitu manis, membuat siapapun wanita yang melihat pasti akan jatuh hati.


"Aku tau kau sedang ketakutan dengan berita kebebasan Cyberfriend beberapa minggu lagi. Kau yang selama sepuluh tahun ini hidup menjadi seorang Stella bukan Nadila diam-diam masih terus berjuang untuk melawan mereka. Mengajukan banding ke pengadilan untuk memberatkan Cyberfriend. Aku juga tau, kau telah lama meninggal dunia Cyber. Tetapi sayang berita kebebasan Cyberfriend memaksamu untuk kembali ke dunia cyber. Mencuri data Oxley General dan menjualnya kepadaku, untuk modal kau kabur dari negara ini. Menghindari Cyberfriend yang pastinya akan menuntut balas dendam kepadamu."


Kepala Stella menunduk. Dengan khidmat dia mendengar fakta-fakta menyakitkan yang selama ini dia pendam sendiri.


"Come on, Stella. Kau tidak bisa selamanya bersembunyi. Lambat laun mereka pasti akan menemukan mu disini. Jangan kau kira mereka hanya seorang mafia jaringan kelas teri, mereka lebih dari Mafia kelas kakap Stella, dan kau tau itu."


Tanpa di duga, airmata turun membasahi pipi Stella. Dengan kasar dia menghapusnya. Kembali menegakkan kepalanya dan menatap lelaki yang masih setia berdiri di depan unit apartemennya.


"Karena aku tau mereka mafia kelas kakap, maka dari itu aku sangat takut." Suaranya terdengar lemah. Lelaki itu dapat merasakan kepiluan yang mendera di hati dan perasaannya.


"Reza adalah seorang pembunuh, mafia perdagangan senjata ilegal di pasar gelap. Sedang Cyberfriend adalah mafia jaringan yang sering menculik dan membunuh siapapun yang berani menganggu mereka. Keduanya adalah monster yang mustahil kita lawan."


"Hey." Lelaki itu mencengkeram kedua bahu Stella. Memutar tubuh wanita itu hingga kini berdiri menghadap kearahnya. "Kau memiliki bakat. Kau adalah ciptaan terhebat dari Cyberfriend. Tak ada anggota Cyberfriend yang memiliki otak sejenius dirimu. Bakat meretas mu, tak ada yang dapat menyaingi Stella. Kau harus ingat ini. Jika kau membantuku menghancurkan Reza, maka sama saja kau menyelamatkan hidupmu sendiri. Dan, jika kau tidak mau membantuku itu berarti sama saja kau menyerahkan diri untuk menjadi santapan para singa kelaparan seperti mereka."

__ADS_1


Beberapa saat Stella terdiam, memikirkan ucapan yang dikatakan lelaki itu di dalam pikirannya masak-masak.


"Apa motif mu ingin menghancurkan Oxley General selain balas dendam?"


Lelaki itu mendesis. Bersedekap dan kembali menyandarkan tubuhnya di dinding apartemen.


"Jika aku berkata jujur, apa kau akan menertawakan ku?" Dia melirik Stella dan menyungingkan senyuman sarkasme.


"Tergantung."


"Aku ingin menjadi superhero, Stella."


Kening Stella mengeryit.


"Kau pasti pernah mendengar slogan ini 'takkan ada kemenangan di medan perang jika tidak menggunakan senjata buatan Oxley General.'"


"Dia ada seorang monster. Tirani yang begitu serakah ingin menggenggam dunia di tangannya. Memaafkan otaknya yang cerdas untuk memusnahkan manusia dari muka bumi ini dengan senjatanya. Membombardir siapa saja para pembelot yang berkhianat dan tak sejalan dengannya..."


"Wait. Kau membicarakan elite global dan konspirasi-konspirasinya?" Stella meminjat keningnya. "Please jangan katakan itu kepadaku hari ini. Kau bisa menghubunginya nomer YouTubers Nessie untuk membicarakan ini." Stella membuka pintu apartemen dan langsung masuk ke dalam meninggalkan Big Bos yang masih berada di luar.


Terdengar jelas Big Bos menggedor-gedor pintu Stella. Stella tak menjawab, terlalu malas untuk meladeni lelaki seperti dia.


Namun, saat ia hendak masuk ke dalam apartemen dan membiarkan big bos berkata apa, tiba-tiba langkahnya terhenti saat Big Bos mulai berucap lagi.


Berucap yang kata-katanya berhasil membuat Stella menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Setiap hari orang tanpa dosa mati dengan senjata buatan Oxley General, Stella. Setiap hari, pembantaian terjadi dimana-mana menggunakan senjata milik Oxley General. Kau sadar, dunia akan hancur jika para elit-elit dunia bekerjasama dengan Oxley General?"


Tok... Tok... Tok


Stella tak menggubris. Dia masih dia di tempat dan Khidmat mendengarkan ucapan Big Bos.


"Reza menjual barang-barangnya di pasar gelap, Stella. Kepada Taliban, ISIS, dan terorisme dunia lainnya. Dia membiayai hampir setengah perang di Sudan, Afrika hanya untuk mengeruk berlian-berlian yang terkubur di tanah itu. Setiap hari anak kecil tak berdosa mati akibat ulahnya Stella. Entah mereka terbunuh, ataupun mati karena kelaparan. Para elite dunia menyembunyikan fakta-fakta itu Stella, dan kau tau alasannya."


Stella memejamkan matanya. Kembali airmatanya tumpah membasahi pipi mulusnya.


"Mereka, para elite dunia sama tiraninya dengan Reza. Ingin mengeruk dan menguasai dunia, menyengsarakan kita, membuat kita semua di berada di bawah mereka bersujud dan bersimpuh di kaki mereka. Menjilati kaki mereka dan menjadikan mereka tuhan kita. Aku ingin membebaskan orang-orang tak bersalah itu Stella. Merubah dunia menjadi lebih baik. Dengan menghancurkan Oxley General, itu menjadi salah satu jalan masuk kita menyelamatkan dunia. Dunia. Seperti yang ayah mu lakukan dulu." Ucapan terakhirnya di iringi dengan teriakan, helaan napas dan dada yang menggebu-gebu. Big Bos amat sangat berharap jika Stella mau membantunya.


Pintu apartemen itu kembali terbuka. Sebuah senyum terukir di wajah Big Bos, yang melihat Stella kembali kepadanya.


"Aku bukan seorang superhero, tuan." Suaranya begitu lemah.


"Kau tidak perlu menjadi superhero untuk mengubah dunia, Stella. Kau ingat perjuangan ayahmu? Bukan kau ingin melanjutkan perjuangannya? Dan inilah jalannya. Jalan menujuh jihad mu."


Mata Stella terpejam, untuk beberapa menit kembali hening tercipta. Stella larut dalam pikirannya. Apa yang sedang dia pikirkan? Mengubah dunia? Itu sama sekali tidak pernah ada di dalam otaknya.


Namun, meneruskan cita-cita dan perjuangan ayahnya itu adalah impian terbesar. Apa sekarang waktunya dia menghujudkan itu? Dengan cara membantu Big Bos untuk menghancurkan Oxley General? Itu sangat beresiko, jika dia tertangkap dan ketahuan tak dapat dia bayangkan bagaimana kejamnya Reza akan menyiksa dirinya. Tapi, bagaimana menyelamatkan dunia dari pemusnahan. Ada benarnya juga apa yang di katakan Big Bos, meskipun dia bukan orang besar seperti Reza. Setidaknya dia memiliki keberanian untuk melawannya. Menghentikan aksi gila Reza yang mengatasnamakan kedamaian untuk kepentingan pribadi dan menyelamatkan berjuta manusia yang kini menjadi dampak dari perang dunia.


"Baiklah." Stella mengerjapkan kembali matanya. "Mari kita buat kesepakatan, uhmm... Big Bos." Menarik garis bibirnya sambil mengulurkan tangan.


"I'm Chris. Christopher." Meraih tangan Stella dan mereka saling berjabat tangan.

__ADS_1


TO BE COUNTINUE...


__ADS_2