Hello, Mr Mafia!

Hello, Mr Mafia!
S2: Alderley Edge


__ADS_3

Setelah memberikan perintah kepada Jones, Reza melepaskan sabuk pengamannya dan turun menyusul Stella. Di luar, Reza melihat Stella sedang berdiri sambil memandangi keindahan desa yang masih masuk dalam kawasan Cheshire.


Tebing tinggi yang curam, suara pasir yang berderu, hutan-hutan lebat terbentang di depan mata Stella. Sungguh, tak pernah dia bermimpi dapat menginjakkan kaki di desa paroki sipil itu. Belum lagi orang-orang yang tinggal di sana bukanlah orang sembarang.


"Aku benar-benar tidak percaya bisa menginjakkan kaki di sini. Ini benar-benar indah seperti surga di dunia." Stella berseru, tersenyum lebar sambil berloncat-loncat kegirangan seperti anak kecil.


Melihat tingkah laku Stella yang benar-benar jauh dari kondisi normalnya sedikit membuat Reza terhibur sekaligus was-was. Dia begitu cantik. Amat cantik, Reza tak dapat memungkiri hal itu meskipun dia selalu menampik hatinya sendiri. Tapi, Reza juga was-was karena takut terjadi apa-apa dengan janin di perutnya jika Stella terus melakukan hal-hal seperti ini; nanti berlari, lompat, jingkrak-jingkrak dan lain sebagainya.


"Akan lebih indah saat fajar dan senja tiba. Kau bisa melihat matahari terbit dan terbenam dari belakang tebing itu." Satu tangan Reza menujuk ke sebuah tebing berwarna merah tinggi curam yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat mereka berdiri. Sedangkan satu tangan lainnya, ia masukkan ke dalam saku celana untuk mengusir ras dingin yang menyelimuti.


"Mr.Anderson sangat pintar mencari hunian. Kelak keluarga pasti akan bahagia dapat tinggal di sini."


"Sudah pernah. Dan mereka malah pergi meninggalkan tempat ini."


Mengernyit, Stella menautkan dahinya menyerupai busur. "Maksudmu, Mr. Anderson sudah pernah menikah?"


Rupanya Stella belum mengetahui kehidupan pribadi Jones. Batin Reza.


Kepala Reza mengangguk, menolehkan kepala melihat kearah helikopter. Sebenarnya, dia takut membicarakan masa lalu Jones kepada orang lain. Karena itu adalah luka yang amat sangat sakit untuk Jones. Di tinggal istri dan tidak di perbolehkan bertemu dengan kedua buah hatinya. Tentu siapapun orang yang mendengar kisah Jones akan mengasihi bahkan menitikan air mata prihatin.


"Dia juga manusia, bukan? Yang butuh cinta dalam hidupnya."


Stella mengerti maksud ucapan Reza. Dia tak ingin privasi asistennya itu di usik orang. Stella pun memilih untuk diam dan kembali memandangi keindahan di depannya.


"Lebih baik kita masuk, hawa dingin ini tidak baik untukmu." Reza melenggang, berjalan masuk ke dalam rumah Jones meninggalkan Stella yang malah terpaku menatap punggung kekar Reza.


Dari belakang sini, entah mengapa Stella merasa begitu amat bahagia bisa memandangi Reza secara langsung. Rasanya ingin sekali malam ini, Reza bisa menemaninya tidur. Agar stella bisa memandangi wajahnya itu sepuas hati.


"Nona, apa kau tidak ingin masuk ke dalam?" Tiba-tiba, suara Jones mengagetkan Stella. Stella tersadar dari lamunannya dan langsung menoleh menatap Jones yang entah sedari kapan berdiri di sebelahnya.


"Mr.Anderson mengapa engkau mengagetkan ku." Hampir saja jantung Stella keluar dari dalam sana karena ulah Jones. Dia mengusap-usap dadanya untuk meredahkan degup jantung yang begitu kencang berdebar.


"Lebih baik kita masuk kedalam, hawa dingin ini tidak baik untukmu."


Stella berdecak, ternganga tidak percaya menatap Jones yang sudah berjalan menyusul Reza. Bagaimana bisa dua lelaki itu bicara dengan kata-kata yang sama? Nada suara yang sama, bahkan intonasi dan mimik wajah yang sama? Sungguh, Stella terkagum-kagum dengan ke klop-an kedua bos dan anak buah itu.


Tepat di ambang pintu ganda megah kedua orang itu berhenti, menolehkan badan dan menatap Stella bersamaan. Mengerti maksud arti tatapan Reza dan Jones, segera Stella berlari menghambur menghampiri keduanya.


Berlari lagi. Iya lagi. Dan Reza hanya dapat mengusap wajah kasar sambil menghela napas panjang menahan sesuatu yang bergejolak di dalam dada.


"Maaf menunggu. Apa aku akan tinggal disini? Lalu bagaimana dengan barang-barang ku?" Menoleh, melemparkan pertanyaan kepada Jones.


"Nona akan tinggal disini hingga menemukan tuan Chris dan komplotannya. Serta menghentikan Oxley General dari kehancuran." Dia menjawab dengan mimik wajah datar seperti wajah Raditya dika, atau Dodit Mulyanto.


"Akh... Itu berarti jika aku sudah menyelesaikan tugas ku, kalian akan melepaskan ku, kan?" Sumringah berkhayal dirinya terbebas dari dua orang tampan namun menyeramkan ini.


"Kata siapa?" seru Reza tiba-tiba. "Kau akan tetap tinggal dengan ku hingga anak ini lahir."


Melotot, Stella terkejut mendengarnya. Ambyar sudah khayalan dirinya bisa hidup bebas dengan anaknya yang akan lahir nanti.


"Kenapa harus begitu? Aku kan sudah bilang, kau tidak harus bertanggungjawab dengan kehamilan ku. Lagi pula, mana mungkin aku tinggal di sini terus. Nanti bagiamana dengan privasi Mr.Anderson?" Mendongakkan kepala, berbisik di telinga Jones. "Kalau kau membawa wanita, aku tidak mungkin kan mengitip kalian pacaran?"


Dasar wanita hamil. Kenapa hormonnya tidak jelas seperti itu. Ngomong sembarangan, dan sesuka hatinya saja.

__ADS_1


"Kok diam? Apa pertanyaan ku salah?"


Tak mempedulikan ucapan Stella, Reza dan Jones kembali kembalikan badan dan berjalan masuk ke dalam rumah melalui pintu ganda tinggi besar dan mewah yang terbuat dari kayu jati asli.


Saat melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah pribadi milik Jones mata stella berdecak kagum tak henti-hentinya. Ini kali pertama baginya masuk ke dalam rumah besar yang lebih pantas di sebut istana. Rumah itu amat begitu besar, dengan lantai marmer kualitas terbaik, dinding beton putih yang di hiasi lukisan, pilar-pilar panjang besar yang menyokong bangunan rumah yang ternyata terbuat dari emas murni, lift yang terbuat dari kaca, juga tangga berkarpet sutra.


"Apakah istana Buckingham pindah ke Manchester?" Matanya tak henti menatap langit-langit berhias awan dengan lampu ganti super besar menempel. "Aku benar-benar merasa seperti masuk ke dalam rumah queen Elizabeth."


Luar biasa dua kata yang tepat menggambarkan rumah berlantai 3 dengan kamar berjumlah sepuluh.


"Berapa pelayan yang kerja di sini Mr.Anderson?" tanya Stella dengan mata yang masih berbinar-binar.


"15 orang. Belum termasuk tukang kebun dan supir pribadi."


Apa? Sebanyak itu kah? Stella terngaga tak percaya.


"Lalu berapa jumlah pelayan di rumah mu, Mr. Oxley?"


"Satu," jawabnya singkat sambil menuruni anak tangga enggan mendengarkan celotehan dari mulut Stella.


"Hah satu? Apa iya? Masa asisten dan bos lebih keren asisten. Atau jangan-jangan kalian sebenarnya tertukar, ya?"


"Jones bukan kah di rumah ini ada ruang bawah tanah." Kesal dengan celotehan Stella, Reza berujar bertanya kepada Jones.


"Ya, sir. Tempat itu biasa ku jadikan gudang dan tempat meletakkan hewan peliharaan ku."


Reza membalikan tubuhnya, kembali menaiki anak tangga menghampiri Stella dan Jones yang masih terdiam.


"Bagus sebenarnya. Jadi Tonya memiliki teman jika nona jurnalis ini kita kurung dalam ruang bawah tanah."


"Tonya? Siapa Tonya?" Merasa nyawanya terancam, dengan suara terbata sambil mencengkram tas jinjing Stella berkata.


"Ikan yang berasal dari perdalaman hutan Amazon."


"What, kau memelihara piranha? Di rumah ini?" Mendelik Stella berteriak kaget.


Jones hanya menaikan bahunya saja sebagai jawaban. Bulu kuduk Stella seketika langsung meremang. Dia segera menghambur mendekati Reza, meraih tangannya tanpa tahu malu dan berkata.


"Aku minta maaf jika aku punya salah. Tapi... Tapi tolong jangan biarkan Jones membawaku untuk menemani Tonya. Aku mohon!" Mengusap tangan Reza untuk mencoba mengambil hatinya.


Melihat Stella yang meminta maaf seperti itu membuat, Reza tertawa dalam hatinya. Entah mengapa dia begitu senang dan sangat terhibur dengan mimik ketakutan Stella ini. Sungguh kelainan sadismenya seperti sudah sangat akut, terlebih kepada Stella.


Reza amat gemas melihat mimik wajah ketakutan Stella. Dan masih dalam posisi memohon, tiba tiba sebuah ide licik terlintas dalam otaknya. Reza kembali berjalan menuruni satu persatu anak tangga dengan di ikuti Stella yang meski mengalungkan tangannya di lengan kekar milik Reza.


Mereka berjalan secara beriringan, sesekali Stella mendengus sebal karena Reza yang berjalan terlalu cepat hingga membuat kakinya terasa sakit dan linu.


"Kau pernah menonton film piranha?" tanya Reza dengan posisi masih menggandeng tangan Stella.


"Kenapa?"


"Ya mungkin seperti itulah gambaran Tonya di bawah sini." Tersenyum penuh kemenangan seraya melepaskan lingkaran tangan Stella.


Stella berdiri mematung di tengah anak tangga, memperhatikan Reza yang sudah tiba di lantai dua. Tubuhnya kaku sekaku jempol yang baru saja bengkak.

__ADS_1


Di belakang Jones berjalan, menepuk punggung Stella untuk menyadarkan wanita itu dari lamunan.


"Kamar mu sudah siap," serunya kemudian pergi menurun anak tangga.


Stella tak mengerti bagaimana cara kerja orang-orang besar seperti Reza dan Jones. Entah mengapa mereka bisa dengan gampang melakukan apa yang mereka inginkan, seperti kembalikan telapak tangan saja. Jangan lupakan sikap Reza yang biasa-biasa saja, padahal jelas semua tau jika perusahaannya sedang di ambang kehancuran. 4 pembangkit listrik tenaga nuklir meledak di negara maju dan seketika melumpuhkan perekonomian dunia, melayangkan banyak korban tak bernyawa, dan mengakibatkan udara berbahaya tercemar. Tapi lihat wajahnya, sama sekali tidak stres, kalang kabut. Stella malah berpikir saat ini Reza sudah kehilangan akal sehatnya, makanya dia terlihat biasanya saja. Tak peduli bagaimana keadaan di dunia karena perusahaannya. Ah! Ralat. Mungkin karena Nadila alias Stella.


Turun ke lantai bawah, hal pertama yang Stella lihat adalah sofa besar empuk berwarna merah marun. Tersusun rapih membentuk huruf U dengan di tengah terdapat meja kayu jati kokoh. Sedang di sebelah kanan ada tiga ruangan berpintu ganda berwarna putih susu yang Stella yakini adalah tiga dari beberapa banyak kamar yang ada di rumah ini.


Ini rumah atau hotel, sih? Besar amat.


Di belakang tangga yang di turuni Stella muncul sekitar lima pelayan yang semuanya seorang wanita cantik berambut pirang berumur sekitar 25 hingga 30 tahunan. Stella mundur beberapa langkah, ketika para pelayan berbaris dan serentak membungkukkan tubuh menyambut kedatangan mereka.


"Apa kalian sudah menyiapkan makan malam untuk Mr. Oxley?"


"Ya, sir makanan sudah siap." Stella Terjenjit kaget mendengar suara serentak para pelayan.


Mereka seperti pantas di panggil paskibra di bandingkan pelayan. Suara mereka lantang sekali, dan jangan lupakan cara berbaris mereka yang amat teratur dan rapi. Benar-benar seperti melihat anggota paskibra di bandingkan pelayan rumah.


"Kalian boleh pergi. Tapi sebelum itu, tolong panggil tolong panggilkan Mrs. Wheels kemari."


"Baik, Sir." Lagi-lagi mereka menjawab serentak dengan suara lantang.


Para pelayan kembali masuk ke ruangan yang letakkan ada di bawah tangga. Berjalan masih dengan berbaris rapi dan langkah kaki serentak yang terdengar benar-benar seperti pasukan paskibra.


"Apa mereka para prajurit angkatan Inggris?" Stella bertanya. "Mereka nampak terlihat seperti seorang prajurit dibandingkan Pelayan."


"Mereka wanita-wanita yang semua berasal dari keluarga musuh Oxley General. Mereka sudah di latih dan di sterilkan sebelum Mr. Oxley pekerjaan kan."


Mata Stella memandangi keduanya orang yang kini tengah duduk di sofa secara bergantian, mengerutkan kening binggung bercampur ketakutan.


"Sterilkan? Semacam Black Widow?"


"Ya, bisa di bilang," Seru Jones seraya menaikan satu kakinya.


Di sofa single, Reza tertawa cengegesan mendengar obrolan mereka. Stella menoleh, menatap Reza dengan pandangan penuh selidik.


Apa? Kenapa dia tertawa? Apa ada yang salah?


"Apa ada yang lucu, Sir?" Ternyata pikiran Jones juga sama dengan Stella.


"Dia." Tangan kekar berotot terjulur, jari telunjuk Reza menunjuk Stella sambil terus tertawa cengegesan bahkan seperkian detik kemudian berubah menjadi gelak. "Black Widow, Natasha Romanoff haha aku akan lebih kejam daripada itu. Bukan hanya otak, pikiran, dan tubuh yang ku sterilkan tetapi semuanya termasuk kehidupan masa lalu."


Oh tuhan, kuatkan Stella menghadapi monster berwujud manusia di depannya ini. Jika bukan karena berhutang dosa kepada Reza tidak akan sudi Stella berada di dekat-dekatnya. Dan jangan lupakan dengan hadirnya nyawa di perutnya. Andai oh andai Stella tak nekad menuruti kemauan Chris dulu yang menyamar menjadi BiG BOS, mungkin hari ini dia masih dapat bertemu dengan Judika.


Tunggu, ngomong-ngomong tentang Judika sudah lebih dari dua minggu Stella tidak mendengar tentangnya. Karena ponselnya hilang, Stella tak dapat menghubunginya. Bagaimana kabarnya sekarang yang telah menjadi seorang CEO? Oh god, Stella baru ingat terakhir kali mereka bertemu itu berakhir dengan sebuah pertengkaran kecil yang membuat lelaki itu salah paham. Bagaimana kabarnya? Stella mengigit kukunya menahan rindu akan sahabat sekaligus pujaan hatinya.


Reza yang melihat Stella tak merespon ucapannya dan malah menunjukan wajah gusar seperti sedang memikirkan sesuatu, bangkit dari duduknya dan menghampiri Stella. Berdiri sembari berkacak pinggang, menyoroti sosok Stella dari ujung kaki hingga atas kepala. Nanar.


"Apa yang kau pikirkan?"


"Judi. Eh..."


TO BE CONTINUE...

__ADS_1


__ADS_2