
Dari lantai atas kamar hotel, Reza dapat melihat dengan jelas pemandangan menakjubkan kota kuno London. Begitu antik seperti negeri dongeng. Salju masih setia turun, membuat jendela kaca berembun dan basah. Jemari Reza menyentuh dengan lembut jendela berembun itu, mengelapnya dengan berlahan. Dingin menyergap seketika ujung jari, menjalar ke telapak tangan, melalui pergelangan. Matanya terkesima menatap jembatan London yang berdiri menantang, membentang di Sungai Thames antara Borough High Street di Southwark dan King William Street. Dulu, sewaktu ia bersekolah di salah satu universitas London, dia dan beberapa temannya sering mengunjungi jembatan itu. Sekedar hanya untuk lari pagi, atau berkumpul bersama menghabiskan senja. Namun, sekarang bahkan ia tak tau kabar teman-temannya sepermainannya dulu. Apakah mereka sudah sesukses dirinya, atau justru mereka sudah ada yang di panggil tuhan.
"Otakku berkecamuk sendiri beberapa hari ini." Reza mulai bercerita, sementara Jones setia mendengarkan. "Selain karena ibuku yang sakit, juga serangan Rootkit yang menurutku bagai kepingan puzzle yang berantakan."
"Saya pikir anda tidak terlalu harus khawatir tuan. Saya berjanji akan segera menangkapnya, jika memang benar bukan Joseph pelakunya."
Reza menjentikkan tangan, mengintegrasikan Jones untuk diam. "Bukan itu maksudku, Jones. Apa kau berpikir jika ada yang aneh dari serangan Rootkit waktu itu?"
Jones mengeryitkan dahi binggung. "Maksud anda, Sir?"
Tubuh Reza berputar, melangkahkan kaki menghampiri Jones yang berdiri di ujung meja kerjanya. Matanya mengunci tatapan Jones lekat. Bukan tatapan marah apalagi menggoda.
"Jika hacker handal di dunia saja sulit untuk meretas sistem ku, mengapa orang seperti Joseph yang katanya gaptek teknologi begitu mudahnya meretas sistem. Pasti..."
"Ada orang dalam yang membantu dia."
Kini Jones mengerti arti tatapan tuannya. Matanya mendelik, sementara Reza menganggukkan kepalanya dan tersenyum penuh arti.
"Itu maksudku, pasti ada seseorang yang tau dengan jelas kelemahan sistem kita. Dan jangan lupakan waktu saat peretasan itu dan waktu dimana Joseph tertangkap. Hampir bersamaan kurang dari dua puluh empat jam."
"Saya akan melakukan penyelidikan menyeluruh." Dengan cepat Jones merogoh ponselnya di kantong jas, dan segera menelpon seseorang.
Reza kembali termangu, duduk diam di kursinya sambil fokus menatap laptop yang menyalah. Pikirannya begitu yakin, jika bahwasanya bukan Joseph dalam dari peretas malam itu.
****
Restoran mewah berlokasi di 1-5 West Street, London menjadi tempat pilihan untuk kedua keluarga kaya raya makan malam. Beberapa jam sebelum acara makan malam, Jones menghubungi Leo memberitahukan kepadanya tempat acara makan malam diganti sesuai keinginan tuan Reza. Dan sekarang disinilah mereka berada The Ivy restoran. Sebuah restoran paling terkenal dikota London, di nobatkan sebagai restoran dengan makanan terbaik. Bahkan David Beckham pun menjadikan restoran itu sebagai restoran favoritnya.
Pukul delapan lewat lima belas menit waktu London. Leo dan Shena telah tiba terlebih dahulu di restoran yang sebenarnya tutup akibat pademi. Dengan mengenakan sebuah mobil Ferrari, Leo terlihat tampan dengan setelan jas berwarna hitam dengan dasi kupu-kupunya. Sementara Shena dengan mengenakan dress berwarna pastel terlihat begitu anggun dan mempesona. Mereka berjalan beriringan, Leo nampak posesif mengandeng tangan sang istri menuju beranda restoran.
__ADS_1
"Good night Mr and Mrs Pyordova." Seorang pelayan wanita dengan ramah membungkukkan tubuh menyambut kedatangan Leo dan Shena. Shena tersenyum ramah membalas, sementara Leo hanya membalas sekenanya saja.
"Mari ikut saya, Tuan Oxley telah menyiapkan meja khusus." Pelayan itu mengayunkan tangannya, kemudian berjalan memasuki restoran yang diikuti oleh Leo dan Shena.
Dahi Leo mengerut binggung, melihat begitu senyapnya restoran itu. Tak nampak batang hidung Reza atau asisten menyebalkannya itu disana. Sementara Shena, tak henti-hentinya berdecak kagum melihat interior mewah restoran itu. Ini baru pertama kalinya, ia menginjakkan kaki di sebuah hotel bintang lima semewah dan sebagus The Ivy restoran.
"Sayang, kau yakin temanmu mengajak kita makan malam disini? Ini sangat mewah. Luar biasa." Shena tak henti-hentinya berdecak kagum, menyapu setiap sudut restoran dengan kedua mata cantiknya.
"Tentu, lagi pula bukan kamu mendengar pelayan tadi mengenal kita?"
"Tapi ini begitu mewah."
"Aku bisa membelikannya untukmu. Agar kamu puas memandangi interior restoran ini setiap saat." Mata Leo mengerjap sebelah, menatap Shena dengan raut wajah menggoda.
"Jangan aneh-aneh, deh."
Pelayan wanita berhenti, di sebuah meja lingkaran besar yang muat enam orang. Gelas-gelas bertatahkan kristal berjejer rapih di atasnya meja bertaplakan sutra.
Leo mendesah kesal. Ia mengerutu sebal, bersumpah serapah pada teman ayahnya itu. Bagaimana bisa, lelaki itu terlambat sementara ia dan Shena sudah sampai terlebih dahulu. Menyebalkan sekali. Leo tidak suka menunggu.
"Jadi dia terlambat datang?" Matanya mendelik menatap kearah pelayanan restoran.
Dengan lembut Shena menyentuh tangan Leo, berusaha mereda amarah suaminya itu. Sementara sang pelayan hanya tertunduk kikuk tak tau menahu.
"Sayang, sudahlah menunggu sebentar saja kan tidak membuat waktu mu habis percuma. Lagi pula lihat, restoran ini sangat menakjubkan."
Leo mengalah, mengamini permintaan istrinya dan memiliki duduk di sana. Sementara pelayan tadi sudah pergi dan mulai mempersiapkan makan malam.
Selang lima menit kemudian sebuah mobil Rolls-Royce Sweptail merah metalik berhenti tepat di depan restoran. Dengan gagah Reza keluar dari dalamnya di buntuti oleh Jones. Seketika Shena berdiri, tersenyum ramah menyambut kedatangannya. Namun, berbeda dengan Leo yang nampak merenggut kesal sambil memainkan gelas berisikan Wine.
__ADS_1
"Lama sekali. Apa kau datang dari Manchester?"
Mata Reza mendelik, beralih menatap Leo sesaat setelah tersenyum membalas sambutan Shena. "Jalanan macet."
Leo mengedus kesal. "Alasan."
Tak mempedulikan kekesalan Leo, Reza lebih memilih menyapa ramah istri Leo, Shena. Dia tersenyum memperlihatkan gigi putihnya. Sementara Shena terlihat kikuk, dan canggung.
"Apa mata istrimu baik-baik saja?" Reza bertanya tiba-tiba kepada Leo.
"Apa maksudmu?"
"Aku hanya khawatir matanya bermasalah, karena telah memilih suami seplayboy dirimu."
"Kau berkata, untuk dirimu sendiri. Ingat ya, seplayboynya aku mana pernah aku membawa wanita untuk menghangatkan ranjangku. Karena aku hanya bernafsu dengan Shena saja. Tidak dengan yang lain. Tidak sepertimu!"
Spontan Jones tertawa, membuat Reza dengan kesal menginjak kakinya. Asisten sialan. Gumam Reza.
"Jadi kalian sama-sama playboy? Apa semua pengusaha seperti kalian, berganti-ganti pasangan?"
Baik Reza maupun Leo terkesiap mendengar ucapan tiba-tiba Shena. Mereka berdua mengerjapkan mata cepat. Binggung, kikuk, dan tentunya kaget dengan pertanyaan spontan istri Leo itu. Sementara Jones, yang duduk tepat di sebelah tuannya hanya menekan keras garis bibirnya menahan tawa. Tak perlu susah payah dia balas dendam kepada Leo, karena istrinya sendiri yang membuatnya malu setengah mati.
"Uhmm... Bukan begitu sayang... Kami berbeda, jelas berbeda." Leo tertawa salah tingkah, menatap Reza meminta bantuan. Bicaralah sialan atau malam ini aku tidak dapat jatah. Begitulah arti tatapnya. Namun, yang ditatap malah termangu sambil memasang wajah tanpa ekspresi.
"Saya suka tidur dengan wanita karena itu candu untuk saya."
Uhuk... Uhuk... Uhuk...
Shena begitu terkejut dengan ucapan gamplang Reza hingga terbantuk. Membuat Leo yang duduk di depannya mengepalkan tangan kesal menatap Reza.
__ADS_1
"Jangan dengarkan dia. Dia itu orang sinting, sayang."
TO BE COUNTINUE....