
Hacker...
Kami terlahir untuk tidak saling percaya dengan siapapun, termasuk sesama kami. Kami tidak akan percaya dia, dan mereka. Selalu ada dinding pemisah diantara kami. Dinding yang takkan mampu kami lewati satu sama lain.
***
Demi apapun, Stella tak mengerti arti dari perkataan sosok bertopeng di layar itu. Esocial? Apakah itu sebuah komunitas? Komunitas jaringan seperti Anonymous? Jika 'Iya' bolehkah Stella bertepuk tangan akan keberaniannya? Menyerang secara terang-terangan sistem Hartanto Grup dan menyatakan perang terbuka dengan Oxley General.
Dia tak dapat menyembunyikan rasa takjubnya akan keberanian Esosial. Stella diam-diam menarik bibirnya membentuk sebuah senyuman tipis. Begitu tipis hingga nyaris tak terlihat. Sungguh siapapun mereka, rasanya Stella ingin bergabung bersama mereka. Menghentikan konspirasi dunia mengenai Oxley General.
Tiba-tiba, ketika Stella memutar matanya sambil menyembunyikan senyumannya. Tak sengaja, ia menangkap sebuah tubuh tegap berdiri sambil berkacak pinggang tengah melihatnya dengan tatapan begitu tegas, tajam, dan sangat mengintimidasi. Saat itu pula, senyuman Stella berubah menjadi raut kecemasan dan ketakutan melihat wajah menyeramkan milik Reza yang terus menatapnya tak rela pergi.
Mata biru itu benar-benar membuat Stella ketakutan. Lantas, tanpa berpikir panjang Stella segera berlari meninggalkan gedung Hartanto. Namun, sialnya Reza dan Jones mengejarnya. Kedua lelaki itu yakin, jika orang yang berada di dalam tayangan itu memiliki sebuah hubungan dengan Stella. Entah itu hanya hubungan sesama hacker, atau komunitas yang sudah erat.
Kaki-kaki pendek itu terus melangkah di bawa terik matahari yang mulai meninggi. Sambil terus menoleh kearah belakang, Stella mengerutu frustasi mencari Ridwan yang entah memarkirkan motor milik Ardy di mana.
Bahkan, hingga dirinya hampir tiba di gerbang utama gedung Hartanto yang memiliki jarak lima belas meter dari berdiri gedung Hartanto, Stella tak urung juga menemukan keberadaan Ridwan.
Sial, dua lelaki itu semakin mendekatinya. Stella mulai panik. Dia berdiri di trotoar jalan, mencoba memberhentikan transportasi umur yang lewat. Begitu amat sulit, seperti transportasi umum hari ini di bayar oleh Reza untuk tidak mengijinkan Stella naik.
Keringat dingin mulai membasahi wajahnya. Dia terus menoleh ke belakang. Melihat bagaimana perjuangan Reza dan Jones untuk mengejarnya.
"Stel, lo udah kelar?"
Mata Stella langsung berbinar bahagia, seketika melihat Ridwan sedang menunggunya di depan pos security kantor Hartanto Grup. Stella segera menghambur. Berlari dan meloncat naik ke atas motor dan menyuruh Ridwan untuk segera pergi dari sana.
"Lo kenapa?" Teriak Ridwan yang siap menancapkan gasnya.
"Udah jalan, ayo. Nanti gue ceritain di kantor. Genting, nih." Masih menatap Reza dan Jones yang semakin mendekat.
Tak lagi mau banyak bertanya kepada Stella, Ridwan langsung menancapkan gasnya pergi meninggalkan gedung Hartanto Grup. Sementara kedua lelaki yang mengejar Stella menggerutu kesal, bahkan meninju-ninju angin.
__ADS_1
"Jones, cari tau apa ada hubungan video itu dengan Stella. Jika ada, segera rencanakan penculikan gadis itu. Seret dia ke Sisilia."
"Baik, sir."
****
Gedung TTV pagi menjelang siang itu terlihat amat kacau balau. Ridwan yang memang tak tau jika baru saja terjadi pembobolan sistem besar-besaran hanya berjalan binggung menatap rekan-rekan kerjanya binggung.
"Heh, mereka pada kenapa sih?" Menarik jaket jeans yang di pakai Stella.
"Lo gak tau, kak kalau barusan pas kita ke kantor pusat semua sistem di hack?"
Mata Ridwan membulat penuh.
"Di hack? Sama siapa?"
"E..."
"Kenapa?" Stella dan Ridwan berjalan menghampiri.
"Ada apaan, sih? Kenapa kacau gini?" Sungguh, Ridwan benar-benar seperti ingin pingsan karena menahan rasa penasarannya.
"Meeting penting. Ayo!," Jawab Ardy dan mengajak kedua rekannya untuk masuk di dalam ruangan meeting yang berada di dalam ruangan devisi berita.
"Esocial adalah komunitas hacker besar seperti Anonymous yang tersebar di seluruh dunia."
Ketiga orang itu masuk ke dalam ruangan. Duduk di tempat mereka masing-masing bergabung dengan yang lain mendengarkan informasi yang sedang di sampaikan oleh Marcelo.
"Esocial?" Serentak semua orang yang berada di ruangan meeting menatap kearah Stella. "Apa maksudmu, Evil society?"
Kepala Marcelo mengangguk untuk mengamini perkataan Stella. Semua berdecak kagum kepada gadis itu. Entah darimana gadis itu mengenal komunitas hacker satu ini.
__ADS_1
"Bukankah komunitas itu sudah lama tak ada?"
"Mereka kembali. Dan perkembangan mereka begitu pesat kurang dari dua puluh jam. Lihat ini." Marcelo menunjukkan sebuah tablet dimana di dalamnya terlihat sebuah peta dunia dengan warna merah dan hijau di setiap wilayah.
"Mereka berkembang pesat di Inggris, Jerman, Rusia, dan Mexico. Dimana pusat hacker dan Mafia besar banyak terdapat di wilayah itu." Marcelo menujuk satu demi satu wilayah di dataran Inggris, Jerman, Rusia, dan Mexico yang di warnai dengan warna merah.
"Ini gila. Mereka akan menjatuhkan bukan hanya Oxley General, tetapi juga Hartanto Grup." Salah satu dari mereka berkata.
"Alisa apa yang kau dapat?" Pak manajer berdiri dari duduknya. Berdiri mensejajarkan diri dengan Marcelo di depan meja meeting.
"Big Bos. Namanya Big Bos, orang di balik dari kembalinya Esocial. Lokasinya berpindah-pindah, tapi satu yang jelas profesi dia adalah seorang dokter bukan hacker."
Stella tak dapat menutupi rasa keterkejutannya mendengar ucapan yang baru saja di katakan oleh Alisa.
Big Bos? Apa maksudmu adalah Big Bos yang sama dengan Big Bos yang ia temui di dark web untuk menjual data pribadi Oxley General?
"Baiklah. Segera lakukan siaran breaking news, dan cari informasi sedetail-detailnya mengenai Esocial dan Big Bos itu."
"Baik, pak."
Setelah memerintahkan semua anak buahnya, pak manajer berjalan perlahan pergi dalam ruangan meeting. Meninggalkan mereka semua yang langsung sigap bekerja mencari informasi mengenai Big Bos juga komunitas Esocial. Mereka segera membuka laptop masing-masing, mengetik sana sini mencari informasi. Ada juga yang menghubungi narasumber kepercayaan mereka yang mereka percaya dapat membantu mereka.
"Lis, kok lo bisa tau si sedikit tentang Big Bos?" Stella menyeret kursi putarnya mendekati Alisa yang tengah sibuk mengetik.
"Tau, dari seorang informan."
"Bohong." Stella memancarkan mata menelisik penuh selidik.
"Stella aku sedang sibuk, kembalilah dengan pekerja lo."
"Lo hacker juga, kan."
__ADS_1
TO BE COUNTINUE...