Hello, Mr Mafia!

Hello, Mr Mafia!
S2: Mencari


__ADS_3

Di sebrang telpon Chris mengusap wajah kasar, dirinya juga binggung dan tak tau menahu Stella berada di mana. Kawasan rumah yang di tempati Stella memang begitu terkenal bukan hanya di dataran Britania tetapi juga eropa dan dunia, namun yang membuat Chris binggung dirinya tidak tau rumah siapa yang di tempati oleh Stella. Dan jelas, Chris meyakini jika rumah itu bukanlah milik Jones.


"Stella kau harus tetap tenang. Jangan khawatirkan perihal dimana kau tinggal. Sekarang waktunya kau bekerja untuk melacak keberadaan Keira, setelah itu baru kita menyusun rencana untuk membebaskan mu dari sana."


Stella mengangguk patuh. "Baiklah, aku akan segera mencari informasi keberadaan Keira."


"Ok. Akan ku kabari kau jika aku mendapatkan informasi tambahan tentang Keira."


Panggilan berakhir, Stella menguatkan dirinya dengan mensugestikan kepingan-kepingan hal indah jika masalah ini selesai. Dia benar-benar sudah menulis daftar apa saja yang akan dia lakukan setelah masalah ini selesai dan Reza melepaskan dirinya. Dia ingin pensiun menjadi seorang jurnalis, membeli rumah kecil dekat pantai, dan membesarkan anaknya sendiri dengan profesi baru yang sudah dia siapkan matang-matang. Penulis.


Dengan semangat empat lima, Stella merangkak turun dari kasur. Kembali ke meja kerjanya dan mulai meretas website pemerintah Inggris guna mencari tahu informasi lebih lanjut mengenai Keira. Beruntung, gadis itu sudah berusia 19 tahun. Sidik jari, kartu indetitas dan lain sebagainya menjadi mudah di dapatkan.


Jarum pendek jam terus bergulir. Tak peduli ini sudah jam berapa. Stella terus tepekur mencari informasi dan keberadaan Keira, hingga sebuah suara ketukan pintu menyudahi sejenak pekerjaannya.


Stella bangkit dan membukakan pintu yang ternyata sudah ada tiga pelayan bermuka datar berbaris dengan membawa senampan sarapan. Sejenak kening, Stella mengeryit dan tidak menyadari jika hari sudah pagi dan dirinya semalaman tidak tertidur sama sekali.


"Selamat pagi, Nona Sasmita." Sapa salah satu pelayan yang wajahnya agak berekspresi.


Kikuk, Stella menjawab. "Pagi. Kalian ngapain bawa makanan kesini?"


"Ini sarapan anda, Nona. Mr. Anderson menyuruh kami untuk membawakan kemari, dia takut mengganggu anda tidur."


"Sarapan?" Masih belum juga menyadari jika hari telah berganti. "Memang ini sudah jam berapa?"


"Ini sudah jam setengah tujuh pagi waktu Inggris raya."

__ADS_1


Mata Stella membeliak, tangannya terjulur mengambil nampan yang berisikan banyak sekali hidangan termasuk sate padang yang dia inginkan tadi malam.


"Jangan masuk. Biar aku bawa sendiri. Terimakasih sudah mengantarkannya untukku, kalian boleh pergi sekarang." Dengan sedikit tergopoh, Stella memundurkan tubuhnya, menutup kembali pintu kamar menggunakan kaki kirinya.


"Huft, aku tidak mau pelayan itu melihat apa yang sedang ku kerjakan. Bisa-bisa mereka mencurigai ku."


Kembali Stella berjalan masuk ke dalam kamarnya. Kamar yang semula rapih dan bersih, kini sudah tak karuan. Bantal dan sprei tak lagi ada di tempat semestinya. Kertas, buku, dan dokumen berserakan di mana-mana. Juga banyak sisa-sisa bungkus cemilan bekasnya, di lantai, atas tempat tidur, atas meja dah sofa duduk empuk. Semalaman suntuk Stella benar-benar mencari keberadaan Keira, mencari informasi sedetail mungkin mengenai keberadaan gadis itu. Hingga ia meyakini jika saat ini, Keira berada di salah satu desa di kawasan liverpool. Itu tidak jauh dari Manchester, hanya berangkat menggunakan kereta bawah tanah atau bus merah tingkat khas Inggris dirinya sudah dapat sampai di kota Liverpool. Maka rencananya pagi ini, setelah menghabiskan sarapannya Stella akan turun ke bawah dan menjelaskan secara rinci dan detail semua yang berhasil di temukan.


Di taruhnya nampan berisikan makanan di atas meja kerja. Perlahan Stella mulai memakan satu persatu makanan yang semuanya makanan khas Indonesia, tak terkecuali dengan sate padang yang sangat sangat dia inginkan itu. Dia berdecak, terkagum-kagum dengan rasa yang begitu enak dan khas seperti di masak oleh tangan orang Indonesia asli. Sambil tetap terus mengunyah, Stella menatap penuh takjub hasil kerjanya semalam. Dia pun bergumam


"Sepertinya aku berbakat menjadi agen FBI atau CIA."


****


"Apa yang kau lihat?" Reza bersama Jones tengah duduk di taman rumah. Mata Jones terus memicing ke arah tiga pelayan yang tadi dia utus untuk ke kamar Stella. Sedang Reza, nampak enggan dekat-dekat dengan para pelayan yang menurutnya menjijikkan itu.


Kening Reza mengerut, kali ini pandangannya mau tak mau menyoroti pelayan yang dia ambil dari salah satu musuh besarnya.


"Apa maksudmu?"


"Nona tidak mengijinkan kami masuk, kami hanya melihat samar kamar Nona yang begitu berantak."


Jones mengibaskan tangan kanan, menyuruh untuk para pelayan yang memiliki luka di kaki dan tangannya itu untuk pergi.


"Seperti, Nona jurnalis itu benar-benar bekerja keras, sir." Komentar Jones.

__ADS_1


"Aku harap seperti itu, agar aku mendapatkan alasan untuk mempertahankan dia atau bahkan menikahi dirinya."


Jones hanya diam tak berniat menjawab. Sebenarnya dalam benak, Jones berpendapat jika memang sudah sepatutnya Reza berhenti menjadi seorang pemain wanita. Dirinya harus berubah karena bagaimana pun sudah ada sebuah benih yang patutnya dia jaga dan lindungi.


"Bagaimana bursa ekonomi hari ini?"


Jones tersadar dari lamunannya dan langsung sigap menggapai sebuah tablet yang ada disisi meja bundar taman. Dia menggeser layar tablet berlogo apel tergigit itu.


"Untungnya hingga kini bursa ekonomi oxley general tetap stabil." Menyerahkan tabletnya yang berisikan traffic.


"Bagus. Usahankan tetap seperti itu, hingga aku dapat menemukan isti adikku." Mengembalikan kembali tablet tersebut setelah sekejap melihat.


"Satu hal lagi." Jones yang semula hendak berdiri dari duduknya dan berniat akan pergi ke kantor berhenti. "Aku ingin kau membawa segala senapan laras pendek ke rumah ini, pagi ini juga. Dan jadikan halaman belakang menjadi tempat latihan tembak."


Tak ingin banyak bertanya tentang alasan Reza memerintahkan itu kepadanya, Jones hanya mengangguk patuh dan benar-benar berdiri kemudian pamit untuk pergi.


Selepas kepergian Jones, Reza duduk termenung sendiri. Menyesap kopi Irlandia kesukaannya sambil menatap hamparan tebing tinggi yang dan hutan lebat yang menjuntai di hadapannya. Sejak Stella menyatakan dirinya sedang mengandung anaknya, entah mengapa pikirannya di runduk pilu. Hatinya berasa campur aduk tak menentu. Ada rasa bahagia, juga ketakutan yang mendera. Diam-diam, Reza merasakan jika dirinya akan pergi jauh dan tak bisa menjaga Stella dan anaknya seperti pikiran dalam benak Jones.


Mentah-mentah, dia mengenyahkan pikiran negatif itu, meraih ponselnya dan menekan tombol panggilan.


"Hallo," Sebuah suara serak terdengar dari sebrang sana. "Di sini tuh dah malam, gak bisa besok apa?"


"Judika, kita harus bicara."


TO BE CONTINUE....

__ADS_1


MAMPIR JUGA KE CERITA INI. SEKUEL DARI HELLO, MR. MAFIA! AKAN ADA TOKOH-TOKOH PEMAIN HELLO, MR.MAFIA! DISANA.



__ADS_2