
Ibu menamparku hingga aku tersungkur di ke tanah. Lalu dengan kasar dia menarik tanganku, membawa aku masuk kedalam mobil. Matanya menatap ku dengan tatapan tajam yang di selimuti api kemarahan. Aku tak mengerti, mengapa ibu semarah itu kepadaku?
Ia membanting pintu mobil setelah aku duduk sambil menahan isak di belakang kursi pengemudi. Mencengkeram kedua tanganku sendiri kuat-kuat, agar suara isak ini tak terdengar oleh ibu. Aku tak ingin, karena suara bising ku membuat ibu yang sedang dalam keadaan kalut akibat meminum air berwarna kuning kecoklatan yang baunya sangat menyengat bertambah marah. Sudah pasti ibu pasti akan berteriak, memaki bahkan menghajar ku nanti.
Mobil van berwarna silver lusuh berkarat dengan plat Jakarta, berjalan berlahan memecah kesunyian malam ibukota. Jam dua tepatnya kini. Mataku masih begitu mengantuk, tetapi rasa penasaran ku lebih kuat hingga membuat mataku tak bisa terpejam, dan rasa kantukku lenyap begitu saja. Aku menatap ibu takut-takut, dari kaca spion mobil. Wajahnya masih begitu muda, hanya saja garis halus menutupi cahaya cantiknya, juga lingkaran hitam yang berada tepat di bawah matanya. Seperti seorang yang tidak tidur beberapa hari. Ia menyeringai mengerikan saat mengetahui aku meliriknya diam-diam. Kembali, ia meraih minuman yang tak ku kenal itu. Meminumnya hingga tandas tak tersisa. Ibu tergelak, aroma tak sedap dari minuman yang baru Ibu minum langsung menyeruak memenuhi seisi dalam mobil. Mual. Pening. Rasanya aku ingin muntah. Perutku seperti sedang diajak lompat-lompatan.
Mobil Van lusuh berkarat, lama kelamaan menjauh meninggalkan ibukota. Sunyi menyapa, saat tulisan selamat datang kota Bekasi menyambut kami. Hutan masih ada di kawasan itu. Dingin langsung menyambut kedatangan ku. Begitu asri, walaupun hawanya tak jauh berbeda dengan kota Jakarta yang begitu panas dan berpolusi tebal. Jalanan berbatu dan berlubang, membuat perutku semakin terasa mual. Rasanya aku tak dapat lagi menahan isi perutku yang memberontak minta untuk di keluarkan. Tangan kecilku berusaha menekan perutku, mencoba menahan rasa mual ini agar tak keluar di dalam mobil ibu.
Hingga tiba mobil itu berhenti, di sebuah kawasan sunyi tak berpenghuni. Semua begitu gelap tak nampak pelita sedikitpun. Kanan terdapat sawah lebar dengan padi yang menjuntai berwarna hijau yang menandakan siap panen, sedang di sebelah kiri terdapat hutan tak lebat tetapi mampu membuat bulu kuduk berdiri akan kerimbahannya. Suara jangkrik dan kodok saling bertautan, menciptakan lagu indah mengisi kekosongan dini hari itu menjadi lebih berwarna. Entah warna seperti apa? Setidaknya rasa menyeramkan sedikit berkurang karena alunan suara indah mereka.
Entah sejak kapan ibu turun dari dalam mobil. Aku pun sampai tak menyadarinya. Kini wanita yang telah melahirkan ku itu, tengah berdiri seorang diri di luar mobil. Bersandar pada pintu mobil sambil merogoh kantung celana jeans ketatnya. Mengeluarkan sebuah pemantik dan sebungkus tembakau gulung. Ia mengeluarkannya satu batang, kembali menyimpan bungkusan rokok itu ke dalam celana jeans. Berlahan api dari pemantik menyalah, bersamaan asap berbau nikotin terbakar. Bau menyeruak tak enak dan memabukkan membuat dadaku sesak kembali terhirup. Aku sedikit terbatuk-batuk menghirup asap yang secara sengaja telah mencuri udara segar ku. Tubuhku beringsut, menjauh dari kaca jendela mobil agar tak lagi dapat mencium bau rokok mematikan itu. Tubuhku bersedekap, kembali diam merintih sambil memejamkan mata.
Ibu nampak tak takut, dengan alam disini yang begitu gelap dan sunyi. Dia malah nampak begitu tenang dan santai. Menikmati nikotinnya sambil memandangi langit yang gelap kelabu, tanpa ada bintang atau setitik air hujan yang turun.
__ADS_1
Hingga ku buka kembali mataku, saat gendang telinga ku mendengar deru suara mobil berhenti tepat di depan mobil ibu. Samar-samar dari kegelapan malam yang dingin, ku lihat dua lelaki berbadan kekar keluar dari sana. Berpakaian serba hitam, dan topi berwana senada. Keduanya mendekati ibu. Menyalami ibu, dan berbincang-bincang seputar masalah yang tak ku mengerti. Aku kembali bersedekap, mencoba tertidur di sela hawa yang begitu dingin membungkus tulang-tulang ku.
Namun, saat mata ini mulai berdamai dengan jiwa. Tiba-tiba sel saraf otakku bekerja. Meloncat kaget, saat pintu mobil terbuka dan menampakkan dua lelaki besar tadi tengah menyeringai dengan raut wajah menyeramkan ke arahku. Aku semakin beringsut, mencoba menjauh dari mereka. Tetapi naas tangan besar mereka begitu gampangnya meraih tanganku. Menarik aku kedalam gendongan salah satunya. Aku menjerit, tetapi dengan sigap ibu menamparku. Membuat aku memaksa mulutku terkunci dan merasakan mendidih di pipi kurus ku.
Wajah ramping dan rambut ikal panjang itu menatap ku lekat. Matanya menyalang bak seekor singa yang sedang menandai mangsanya. Aku terdiam, tak mampu berbuat apapun selain menyembunyikan wajahku di dalam dada bidangnya.
"Anak ini akan berguna untuk kita. Terlebih dengan otaknya yang pandai. Aku yakin, bos akan menyukai dia." Salah satu dari kedua lelaki itu berkata. Namun, bukan lelaki berambut panjang yang tengah menggendong ku. Dia berbicara setengah tertawa, sambil memberikan selemparan kertas persegi panjang kepada ibu. Aku dapat melihatnya dari celah-celah kecil jemari yang menutupi wajahku. Ibu menyeringai, mencium lembaran yang nampak seperti harta karun untuknya.
"Dia akan kami ajarkan dunia criminal. Mengendalikan semua sistem jaringan yang biasa kalian kenal cyber."
Ibu menarik senyumannya. Menahan garis bibirnya dan menatap lekat bergantian kedua lelaki bertubuh kekar itu. "Jangan katakan, kau akan menjadikan dia hacker?" Tebak ibu sambil menunjuk bergantian keduanya.
Pria berambut panjang yang tengah menggendong ku, mendongakkan kepalanya berbisik kepada ibu sambil tertawa. "Kau bukan hanya seorang jalang tapi kau peramal ulung, yang tau apa saja yang sedang kami rencanakan."
__ADS_1
Mereka bertiga tergelak beberapa saat. Menyaingi suara jangkrik dan kodok yang sudah terlebih dahulu mengeluarkan bakatnya. Tak beberapa lama, ibu berpamitan. Aku pun memberanikan diri untuk menampakkan wajahku, menatap ibu dengan penuh rasa memelas, menunggu ibu untuk mengambil ku dari gendongan lelaki menyeramkan ini. Namun, dengan tega ibu masuk begitu saja ke dalam mobil. Mengunci mobil itu dan pergi meninggalkan aku sendiri bersama dua lelaki menyeramkan ini. Berlahan airmata yang sedaritadi sudah ku tahan, kini tak mampu ku bendung lagi. Semua luruh jatuh membasahi pelupuk. Isakan pun kini terdengar begitu pilu, bagaikan gaungan musik di tengah suara merdu sang alam.
"Sudah jangan menangis, ibu mu sudah menjual mu kepada kami. Kau akan kami didik, tidak seperti ibumu itu yang tidak perduli dengan masa depan cerah mu. Namun semua itu tentu tidak gratis!" Mereka tertawa bersama.
Kedua lelaki itu membawaku masuk ke dalam mobil. Mendudukan aku di kursi belakang, dan memasangkan sabuk pengaman. Aku memberontak, mencoba berlari dan kabur dari sana. Namun, apalah tenaga anak kecil seperti ku. Mereka dengan kasar menarik kepangan rambut ku, hingga wajahku mendongak. Mengeluarkan suntikan yang jarumnya amat sangat aku takuti. Dia Mengangkat tinggi-tinggi jarum kecil yang mengerikan itu di depan wajahku. Aku menangis sejadi-jadinya, takut jika mereka menyuntikkan itu kepadaku.
"Jika kamu nakal dan tidak mau menuruti kata om. Om bakalan nyutik kamu biar kamu tidur dan gak bangun-bangun lagi. Mau, huh?"
Kepalaku menggeleng, tentu aku tidak ingin tidur dan tidak dapat bangun lagi. Aku masih ingin bermain bersama teman-teman, sekolah bersama, juga tentunya bertemu ibuku. Aku terdiam mencoba mematuhi apa kata dua lelaki itu, agar aku tidak di suntik. Jambakannya pun kini terlepas, mereka beringsut menjauh. Aku pun dapat menghela napas lega. Namun, saat mataku awas dari mereka. Tiba-tiba saja mereka kembali menyergap ku, dan berusaha menyuntikku. Aku berteriak sekeras-kerasnya, berusaha melepaskan diri dari mereka atau setidaknya ada seseorang yang mendengar teriakkan ku dan menolong ku dari mereka. Namun, entah mengapa teriakan ku justru tak bersuara. Aku bisu seketika. Berlahan aku membuka mata dan melihat sesuatu putih, seperti cat yang di lemparkan sembarangan arah di sekeliling ku. Aku meronta-ronta mencoba menyadarkan diri, namun sayang aku tak dapat berbuat apapun. Aku dimana? Mengapa semua putih?
Stella terbangun dengan napas menderu. Degup jantung berdebar begitu keras. Keringat dingin mengalir membasahi tubuh. Peluh terkuras hingga membuat jejak di pelupuk dahinya. Dia menatap sekeliling kamar indekosnya dengan mata waspada. Terus menatap dari depan kesamping kanan dan kiri berpindah ke belakang posisinya. Rasa was-was dan takut menyeruak menyelimuti perasaannya. Dua lelaki menyeramkan yang selalu mengisi malam-malam sunyinya, bagaikan sebuah bayangan yang tak pernah rela meninggalkan tubuh Stella walupun kerap kali awan berhasil menyembunyikan keberadaannya.
TO BE COUNTINUE....
__ADS_1