
Seseorang kawan pernah berkata kepadaku; tak ada damai di dalam kehidupan ini yang ada hanya istirahat untuk melanjutkan perang yang akan datang lagi. Maka beristirahatlah sesuka hatimu, senyaman jiwamu, dan jangan lupa untuk berlatih untuk menyambut perang yang akan datang tanpa permisi.
Stella Sasmita
Malam itu, saat semua raga telah tertidur di atas pembaringan masing-masing. Stella tepekur menatap layar monitor laptop di depannya. Kali ini, ia kembali melancarkan aksinya. Meretas sebuah sistem bernama The Red Room. Itu adalah situs milik Joseph, yang menjual macam-macam barang antik seperti perkata Jones beberapa waktu lalu. Di dalam dark web, situs itu dapat dengan mudahnya di akses. Begitupun dengan Stella, yang hanyalah memerlukan waktu kurang lebih tiga menit bukan hanya dapat masuk ke dalam situs itu, tapi juga
sistem The Red Room.
Sial, rasanya perut Stella seperti sedang di aduk-aduk. Ia merasa amat mual, melihat video bengisnya Joseph memutilasi korbannya. Mengeluarkan isi perut para korban, bak seekor hewan kurban. Tak ada rasa bersalah apalagi dosa, dari mereka yang bekerja sebagai algojo. Mereka malah terlihat begitu menikmati, setiap potongan-potongan yang mereka lakukan. Apalagi melihat korbannya menjerit kesakitan, ketika perutnya di robek. Mereka bahkan tertawa terbahak-bahak, bersama dengan si perekam kamera.
"Psikopat gila!" Stella bangkit dari kursinya. Berlari ke dalam kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya. Ia tak sanggup. Sungguh tak sanggup, melihat kekejaman para psikopat gila itu memperlakukan manusia. Membunuh, memutilasi mereka dan mengeluarkan organ-organ tubuh mereka dengan begitu brutal. Mereka bahkan amat sangat menikmati. Bak seperti sebuah pesta yang amat menyenangkan dan menghibur.
Deru napas Stella terdengar tersengal-sengal. Ia menatap dirinya di cermin kamar mandi. Memperhatikan wajahnya beberapa saat. Tanpa di sadari ia menyentuh wajahnya. Otaknya tiba-tiba saja memutar ulang adegan dimana ia melihat seorang wanita yang tengah di pecuti di sebuah kamar. Kamar serba merah, dengan wajah dan tubuh penuh darah. Robekan-robekan mengangga juga terlihat di bagian kepala, leher, dan tubuh wanita itu. Stella bergedik, segera membasuh wajahnya untuk menghilangkan memori tentang video kejam yang di lakukan oleh Reza itu. Oh! Tuhan, mengapa dia harus hidup di kelilingi oleh monster-monster berujud manusia seperti mereka berdua?
Setelah merasa kewarasannya telah kembali, Stella keluar dari dalam kamar mandi dan duduk di kursi kerjanya lagi. Membenamkan diri lagi di layar laptop. Ia tak lagi mau melihat video menjijikkan sekaligus brutal itu. Ia lebih memilih masuk ke dalam website dimana Joseph menjual hasil karyanya membunuh dan memutilasi manusia. Ada banyak sekali yang di jual di dalam situs berlayar hitam dengan tulisan merah itu. Mulai dari kulit kepala manusia, ginjal, hati, usus, hingga tangan dan kuku sebagai jimat kesuksesan dan umur panjang. Harga yang di tawarkan pun tak main-main, semua di atas angka lima puluh juta. Kulit kepala lah yang paling murah, dan jantung serta tulang tengkorak yang paling mahal. Harganya bahkan menyetuh dua miliar.
Mata Stella melongok tak percaya dengan harga-harga yang tertera di dalam sana. Anehnya, ada saja peminat yang mau membeli barang-barang itu. Bukan satu dua yang sudah melakukan pemesanan bahkan telah menerima barang antik itu, namun sudah ratusan bahkan ribuan orang yang telah membeli. Stella berdecak, bergumam sambil menyenderkan tubuhnya di kursi kerja.
__ADS_1
"Gila! Jaman benar-benar udah edan. Tangan orang aja mereka percaya dapat membuat panjang umur dan sukses? Kiamat beneran dunia bentar lagi."
Tanpa berpikir panjang lagi, Stella mulai mengutak-atik laptop. Mengetik sana-sini, dan mengklik sana-sini. Selang lima menit, sebuah garis lengkung tercipta di bibirnya. Dengan penuh rasa percaya diri, dia langsung mengklik tombol konfirmasi. Dan, dalam seketika website The Red Room lenyap tanpa meninggalkan jejak. Juga tak selang beberapa detik tulisan sukses terlihat di layar laptopnya.
"Mati lo, kali ini Joseph. Lo pikir gue hacker amatir yang bisa di susup dan langsung menyerah sama lo. Monster gila kaya lo, harus membayar apa yang telah lo lakuin."
Sebuah selebrasi penuh kemenangan ia pertunjukan. Ia bangkit dari duduknya, mematikan layar laptop dan berjalan menuju kasurnya sambil berjoget-joget ria. Sesekali gadis itu bahkan berteriak berkata "aku pemenang".
Sementara di tempat yang berbeda dengan jam yang sama, Jones juga sedang tepekur di dalam ruang kerja tuannya. Menatap layar monitor komputer di depannya, sambil sesekali mengusap mengusir rasa kantuk yang menerjang.
Bogor, memang tak sedingin Manchester. Suhu di tempat itu pun hanya berada di kisaran dua puluh hingga dua puluh satu derajat celsius. Namun, entah mengapa Jones malah terlebih mengeratkan jaketnya. Sesekali bersedekap dan menggosok-gosok kedua tangannya.
Hingga suara pintu terbuka, Jones terkesiap. Segera berdiri dari kursi kerja tuannya, saat ia tau yang muncul adalah sang pemilik.
"Tuan, apa yang ada perlukan." Wajah Jones terlihat khawatir bercampur terkejut. Pasalnya Reza nampak begitu lemas dan pucat. Dirinya menyakini jika tuannya sedang dalam keadaan tak baik-baik saja.
"Apa yang kau lakukan dini hari seperti ini? Bukan kah besok kita harus ke lapas menemui tua bangka itu?" Bukan menjawab, Reza malah balik bertanya dengan suara serak yang sedikit tercekat.
__ADS_1
"Euhm... Ketika kita di perjalanan pulang. Tuan Leo menelpon ku menggunakan nomer Indonesia..."
"Leo?" Reza berjalan masuk lebih dalam. Menjatuhkan dirinya di sofa panjang berwarna coklat, lalu mendesah panjang.
"Ia. Tuan Leo Pyordova. Dia mengatakan jika istrinya, nona Shena dan saudara lelakinya telah di culik oleh Carlos. Dia membutuh bantuan anda untuk melacak keberadaan Carlos, tuan."
"Lalu apa kau telah menemukannya?"
Jones diam. Menundukkan kepalanya dalam-dalam. Reza sudah dapat mengetahui apa jawaban. Maka tanpa basa-basi, ia berdiri. Berjalan mendekati Jones dan duduk di kursi kerjanya. Dia mulai mengutak-atik komputernya. Memasang sebuah benda kecil berbentuk bulat dan menempelkan di sisi komputer. Sedetik itu juga, tampilan layar komputer berubah menjadi hitam, penuh tulisan berbahasa Inggris dan kode-kode yang entah apa artinya.
Reza membentur tangannya di papan keyboard. Mengetik sesuatu di sana, hingga beberapa saat layar komputer kembali menampilkan, tampilan berbeda. Kali ini sebuah gambar. Tidak! Lebih tepatnya sebuah peta, dua peta berbeda yang menunjukkan satu di sebuah desa di daerah Bandung, Jawa barat, dan di sebuah hutan di daerah Dieng, jawa tengah. Reza menghetikan tangannya, menyuruh Jones untuk mendekat. Jones pun, patuh ia mendekat dan mendongakkan kepala menatap ke arah monitor.
"Lihat." Menempelkan jari telunjuknya di gambar peta yang menunjukkan daerah Bandung. "Dia menyembunyikan Shena, dan saudara lelaki Leo di tempat yang berbeda. Bandung." Merubah telunjuknya ke gambar sebelahnya. "dan dataran tinggi Dieng. Cepat beritahu dia sebelum terjadi sesuatu."
Tubuh Jones kembali menegakkan. Ia menganggukkan kepalanya sebagai tanda mematuhi ucapan tuanya. Segera, Jones mengeluarkan ponselnya menekan-nekan layar benda pipih itu untuk melakukan panggilan kepada Leo.
"Halo tuan Leo, saya sudah menemukan di mana keberadaan istri dan saudara lelaki anda."
__ADS_1
TO BE COUNTINUE...