
Suara Reza terdengar begitu serius. Judika yang semula tak berniat meladeni panggilan abangnya itu, terpaksa bangkit dari tidur dan mau tak mau pasang telinga untuk mendengarkan apa yang ingin Reza katakan.
"Apa?"
Lama Reza tak menjawab. Di seberang telpon, Judika hanya mendengarkan napasnya yang begitu teratur.
"Lo mau ngomong gak, sih? Kalau gak gue..."
"Stella hamil."
Judika berdiri tercengang. Mulutnya ternganga dan tenggorokannya tercekat. sendi-sendi dalam tubuhnya seperti baru saja lepas dan luruh jatuh berserakan. Dia menggeleng, berusaha mengembalikan akal sehatnya yang seketika tadi pergi terbang entah kemana.
"Lo bercanda, kan bang?" tanya Judika dengan suara nyaris tak terdengar. "Gak mungkin, Stella ngelakuin berbuat hina itu. Dia gadis baik baik-baik, dan gue tau itu."
Reza hanya mampu mengusap kasar wajahnya. Sebelum menelepon Judika, memang Reza telah memikirkan masak-masak tentang kehamilan Stella. Karena jika boleh jujur, setelah masalah ini terjadi Reza berpikir hidupnya tak akan lama lagi. Seperti kematian semakin dekat dan siap menjemputnya.
Namun, dengan keadaan Stella yang hamil muda seperti ini, tentu Reza tidak akan membiarkannya menjalankan kehidupan sendiri. Bagaimana pun, anak yang di kandung Stella adalah anaknya, dan Reza harus memastikan anaknya baik-baik saja sebelum dia benar-benar mati. Dan, orang yang dapat menghujudkan itu; menjaga Stella dan anaknya hingga lahir baginya hanya Judika yang mampu.
"Saya yang menghamilinya, Judi."
Seketika hati Judika terasa tersayat-sayat. Lelaki itu bahkan meneteskan air matanya. Hatinya sungguh hancur dan masih belum percaya jika abangnya sendiri tega melakukan itu kepadanya.
"Lo... lo bercanda, kan bang?" Judika menyeka air matanya. Dia masih meyakinkan diri jika ucapan Reza hanyalah bualan semata.
"Saya bercanda. Saya terlibat masalah beberapa bulan lalu dengan dia, dan suatu hari amarah saya memuncah dan tak bisa saya kendalikan. Malam itu, di apartemen barunya saya memperkosa, Stella."
Judika benar-benar terguncang. Dia begitu shock dengan perkataan Reza yang bagaikan petir di siang hari. Seketika meluruhkan hatinya hingga hancur berkeping-keping. Judika terisak, seperti seorang anak kecil yang baru saja kehilangan sesuatu.
Sedangkan di ujung sana, Reza bangkit dari duduknya. Berjalan menuruni satu persatu anak tangga mendekati taman besar yang mengelilingi rumah besar itu. Reza tak terkejut dengan tanggapan dari adiknya yang berlebihan seperti ini. Karena sejatinya, Reza sudah lama mengetahui jika Judika menyimpan rasa kepada Stella. Tentu sudah pasti sekarang ini hatinya hancur karena abangnya sendiri telah menikung dan merebut wanitanya.
"Judika, tapi bukan itu yang ingin saya katakan kepadamu." Reza berhenti tepat di depan sebuah taman berbentuk labirin. Di helanya napas kuat-kuat kemudian dia memejamkan mata untuk merasakan hawa sejuk nan menenangkan di sekitarnya.
"Apa?" Suara Judika terdengar parau. Tapi Reza dapat merasakan, adiknya itu berusaha menahan emosi yang pastinya di tunjukkan kepada dirinya.
"Saya titip, Stella." Ucapnya dengan suara lemah. "Jika saya pergi dan tak kembali, saya harap kamu bisa menjaga dan merawat anak saya kelak. Stella pantas bahagia, Judika. Dengan semua yang dia alami selama hidupnya. Dan, saya berharap kebahagiaannya itu bukan bersama orang lain. Tapi bersama kamu."
"Lo ngomong apa, sih bang? Dia hamil anak lo. Udah sepatutnya, lo yang bertanggungjawab atas anak itu. Lo bapaknya, bukan gue."
Reza tersenyum getir. Kali ini, dia kembali berjalan dan melihat beberapa pelayan rumah yang sedang sibuk mengerjakan tugas mereka masing-masing di perkarangan rumah.
"Suatu saat, kamu akan mengerti arti ucapan saya hari ini. Saya berharap, jika hari itu tiba kamu sudah menyadarinya dan berniat menghujudkan apa yang saya minta."
Judika kembali terdiam. Dirinya benar-benar tak mengerti arti dari ucapan abangnya itu.
"Saya tutup telponnya dan maaf sudah menggangu istirahat malam kamu."
Tanpa menunggu jawaban dari Judika, Reza benar-benar menutup telponnya, memasukkan ponsel berlayar pipih itu ke dalam kantung jas mahalnya dan melanjutkan langkahnya kembali masuk ke dalam rumah.
****
Di dalam kamar, Stella telah selesai sarapan. Semua makanan yang tersaji tandas tak tersisa. Stella merasa amat begitu bahagia karena dapat merasakan makan super lezat itu hari ini. Dia bersumpah tidak akan pernah melupakan pagi indah ini seumur hidupnya.
Setelah puas menghabiskan sarapan lezatnya, Stella bangkit dan berjalan membawa perut buncit akibat kekenyangan masuk ke dalam kamar mandi. Tak beberapa lama, shower kamar mandi menyalah menandakan Stella yang sedang mandi untuk membersihkan diri.
Berlama-lama di dalam kamar mandi, akhirnya setelah tiga puluh menit lebih Stella keluar juga dari dalam sana dengan setelan blazer kerjanya.
Suara pintu kamar kembali terketuk, kali ini pengetuknya adalah Mrs. Wheels yang tak kalah modis dengannya dalam balutan dress kode yang elegan.
"Good morning, Dear." Sapanya hangat.
Stella berdecak kagum melihat penampilan Mrs. Wheels yang begitu mempesona dalam balutan busananya pagi itu. Meskipun di usia senjanya, pesona kebangsawanannya nyaris tak memudar sedikit pun. Dia begitu cantik, terlebih dengan tubuh langsing dan tegap tidak seperti kebanyakan paruh baya umumnya. Bahkan, jika Stella di sandingkan di depan umur orang-orang akan berpikiran jika dirinya sedang jalan sama kakaknya.
"Morning, mom. Woah, kau... kau tampak luar biasa."
Mendengar pujian Stella, Mrs.Wheels tersipu malu. Dia mengibaskan tangannya sambil menutupi mulutnya menahan rasa malu.
__ADS_1
"Kau ini bisa saja."
Mata Stella berbinar, berusaha menunjukkan jika ucapannya tidak bercanda atau gurauan semata.
"Tidak. Aku benar-benar serius. Wel, apakah hari ini akan ada acara spesial hingga kau berdandan secantik ini, Mrs. Wheels."
"Tidak, Dear. Ini setiap hari memang penampilan ku seperti ini. Aku ini adalah perancangan busana terkenal di kota Manchester sudah sepatutnya bukan, aku berpenampilan modis untuk menarik perhatian para pembeli ku."
Untuk kesekian kali, Stella berdecak kagum ketika mendengar sebuah fakta baru jika sebenarnya Mrs. Wheels adalah seorang designer terkenal.
"Ok," Stella mengusap-usap rahang lancipnya. "Apa busanan yang kau gunakan salah satu ciptaan mu?"
"Yes, Dear. Kau menyukainya?"
Mantap Stella mengangguk. Matanya berbinar cerah.
"Jika kau menyukainya, kapan-kapan akan ku bawakan gaun rancangan ku yang terbaik. Tapi sebelum itu, sekarang lebih baik kau keluar dan temui Reza di halaman belakang."
Mata Stella menelisik, mencoba mencari sesuatu dari sudut pandangan meneduhkan Mrs.Wheels.
"Reza mencari ku, untuk apa?"
"Di halaman belakang, dia sedang mempersiapkan lapangan tembak pribadi. Dia ingin menunjukkannya kepadamu, sekalian mengajarkan mu menembak."
"Ah, begitu, ya?" Kikuk, Stella menggaruk tekuk lehernya yang tidak gatal.
"Come on, Dear. Jangan membuat Reza menunggu terlalu lama. Dia akan berubah menjadi monster jantan yang pastinya tidak ingin kau lihat."
Stella gelagapan. Segera, dia menutup pintu kamarnya dan berjalan mengikuti kemana kaki Mrs.Wheels membawanya.
Di halaman belakang, Stella mendapati sebuah ruangan serba hitam dengan tiga jendela terbuka berjumlah tiga buah. Di depan, ada sebuah bidikan, patung menyerupai seseorang yang di tata begitu apik tepat menghadap ke arah jendela. Sedangkan di sisi kanan ruangan terdapat banyak senjata baik laras panjang dan pendek yang sama sekali tidak Stella mengerti jenis dan daya bidiknya. Juga ada sebuah earphone besar yang dia yakini berfungsi untuk menutup telinganya dari kerasnya suara tembakan.
"Kau sudah bangun?"
"Ya."
Kening Reza mengerut saat matanya melihat ada lingkaran hitam di bawah mata Stella. Begitu tebal.
"Ada apa dengan mu?" tanyanya sembari berdiri begitu dekat di depan Stella. Menyentuh pipinya, dan menelisik lebih jauh lingkaran hitam yang membuat kadar kecantikan pada diri Stella menurun tapi membuat terlihat jauh lebih imut.
"Kenapa ada kantung mata? Apa semalaman kau tidak tidur?"
Stella menghela napas, berusaha menepis sentuhan tangan Reza yang begitu lembut namun dingin hingga menusuk jantungnya.
"Aku lembur tadi malam."
"Lembur? Untuk apa?"
"Mencari keberadaan, Keira."
Mendengar itu, Mrs.Wheels yang berdiri di belakang Stella berdehem membuat Reza meliriknya sinis.
"Lalu apa hasil dari kerja lembur mu?"
Berbinar semula wajah yang tertunduk rikuh itu menengadah. Melepaskan senyuman merekah yang seketika membuat jantung sih pengelihat berdetak tak karuan. Mati-matian, Reza menahan gejolak luar biasa yang dia sendiri tak mengerti gejolak macam apa.
"Aku menemukannya."
Alis Reza saling bertautan, "Benarkah?"
Mantap, Stella mengangguk. "Aku sudah mengumpulkan semua informasi yang ku dapatkan dari Chris dan menghubungkannya dengan informasi yang ku temui di internet. Aku menyimpulkan jika, Keira saat ini ada kota liverpool. Rumah pribadi milik keluarga yang tidak di ketahui oleh siapapun termasuk kau."
"Liverpool?" tanya Reza datar. "Kenapa saya baru mengetahui akan hal itu, ya?" Sebisa mungkin Reza memasang wajah berdecak tak percaya dan terkagum-kagum dengan pekerjaan lembur Stella. Namun sayangnya, raut wajah di buat-buat Reza nampak begitu jelas bohongnya. Stella sendiri bahkan dapat mengetahui tanpa harus bertanya kepada psikolog.
"Kau berbohong." Tukas Stella.
__ADS_1
"Berbohong untuk apa?"
"Jelas kau mengetahui Liverpool dan Keira. Wajah tampan mu itu ternyata tidak berbakat menyembunyikan kebohongan."
Tentu ucapan Stella membuat Reza berdecak. Pasalnya selama dia mengenal begitu banyak wanita, hanya Stella lah satu-satunya wanita yang berani berkata demikian kepadanya. Tetapi anehnya, Reza tidak marah ataupun tersinggung. Lelaki itu merasa biasanya saja dan malah terkesan menanggapi Stella seperti dia menanggapi mulut Jones yang terkadang tidak ada rem.
"Terserah apa pendapat mu, yang jelas aku memang tidak mengetahui kota liverpool ataupun rumah peninggalan orangtua, Anne. Kita bisa membahas itu ketika Jones pulang dari kantor, tapi sebelum itu bagaimana jika kau belajar menembak." Sudah dengan pistol di tangannya, Reza memberikan pistol yang sudah berisikan peluru itu kepada Stella.
Ragu Stella menerimanya. Memandangi senjata api yang hanya dia pernah liat dari barang bukti yang di sita polisi ataupun televisi tanpa pernah memegangnya sedikitpun.
"Pakai ini." Kali ini Reza memberikannya sebuah baju anti peluru, dan kacamata besar, serta merta earphone yang pertama kali Stella tangkap saat masuk ke dalam ruangan ini.
Setelah semua perlengkapan selesai terpasang di tubuh Stella, Reza menjentikkan tangannya menginstruksikan Stella agar mendekat. Dengan perlahan dan lembut, Reza menarik tangan Stella agar berdiri di depan salah satu jendela terbuka dan Reza tepat berada di belakangnya.
"Lihat bidikan bulat itu, huh?" tanya Reza berbisik di telinga Stella.
Stella mengangguk samar.
"Rentangkan tangan mu."
Tanpa meminta ijin, Reza tiba-tiba menyentuh kedua tangan Stella yang memegang pistol. Memposisikan pistol itu di depan wajahnya.
"Tembak tepat di titik merah itu, kau bisa?"
Kepala Stella menoleh ke arah Reza. Bagaimana caranya? Jarak sangat jauh sekali. Apa mungkin pistol ini mampu menembus hingga ke sana.
"Aku tidak yakin."
"Fokus ke depan." Kali ini tangan Reza menyentuh kepala Stella. Menyuruh gadis itu untuk fokus ke arah bidikan yang ada di depan.
"Pusatkan pandangan mu ke satu titik kecil itu. Jika kau sudah yakin, tembak titik kecil itu."
Kepala Stella mengangguk paham. Sebenarnya dia sendiri tidak mengerti mengapa Reza menyuruh untuk melakukan latihan tembak. Tapi, dia tidak memiliki pilihan lain selain menuruti kemauannya.
Stella berkata demikian, Reza memundurkan tubuhnya dua langkah ke belakang. Dia memberikan ruang bernapas dan fokus kepada Stella yang siap menembak. Di perhatiankannya lekat-lekat gerakan Stella, hingga stella berhasil mengeluarkan satu peluru.
Dor...
Namun, sayang peluru itu tidak mengenai target yang di inginkan Reza. Bahkan tak mengenai bidikan sama sekali. Peluru itu malah melenceng mengenai pembatas besi ruangan.
Kepala Stella menunduk, entah mengapa mendengar suara tembakkan jantungnya berdetak begitu kencang. Samar-samar ingatan tentang Anne menembak anak buahnya di depannya kembali terlintas di otak Stella. Itu mengerikan. Sangat-sangat mengerikan.
Dor... Dor... Dor...
Stella memekik sampai-sampai menjatuhkan pistol di tangannya, saat tanpa dia sadari Reza sudah berdiri di sebelahnya dan menghempaskan tiga peluru ya g semuanya tepat mengenai bidikan titik merah. Stella tercengang, jantungnya seperti baru saja copot dari dalam sana saking terkejut mendengar suara tembakkan yang menggema nyari di telinga.
"Jangan pernah menjadi wanita lemah." Mata Reza menyalang menatap Stella lekat. "Jika kau lemah, di luar sana banyak orang yang ingin memanfaatkan mu, Stella! Apa kau merasakan itu, huh?"
Seluruh sendi Stella serasa di kunci. Ada sebuah letupan di dadanya yang mendadak membuat dirinya banjir air mata.
"Jangan pernah menangis di depan saya. Karena saya benci air mata wanita." Segera, Stella menghapus air matanya.
"Mrs.Wheels panggilkan salah satu anak buah ku untuk mengajari Stella menembak dan bela diri."
"Reza itu tidak mungkin. Stella sedang hamil dan tidak baik untuk..."
"Jangan membantahku. Lakukan saja apa yang ku suruh."
"Baik."
Kemudian tak lama setelah itu, Reza berjalan menjauh dari Stella, meletakkan pistolnya di atas meja dan bersiap pergi meninggalkan ruangan itu. Namun, sebelum dirinya benar-benar melangkah pergi Reza sempat berkata kepada Stella yang membuat Mrs.Wheels yang sedaritadi berdiri di sana berdecak tak percaya.
"Ganti baju mu, kita akan pergi ke London untuk berbelanja."
TO Be CONTINUE...
__ADS_1