
Kamis, 6 Juni 1996
Roma, Italia
Reza tak berhasil membersihkan sisa noda darah yang menempel di celana jeans denimnya. Ia sudah menggosok-gosok celana ketat tebal berkancing itu, menggunakan cairan pemutih bahkan kimia. Semua sia-sia, hingga akhirnya ia kesal dan lebih memilih menanggalkan celana itu dan menggantinya dengan yang baru. Di letakkannya celana jeans denim itu di atas tumpukan plastik berisikan cairan darah, berjalan menghampiri lemari pakaiannya dan mengambil celana jeans lainnya yang berwarna lebih gelap. Ia menggosok-gosok kumis dan janggut tipis yang menghiasi wajahnya, seraya bercermin. Matanya sesekali tertuju kepada sebuah rumah di sebrang jalan.
Rumah itu tidak mewah. Biasa saja. Seperi rumah bergaya Eropa lainnya. Rumah panggung berpagar kayu dengan rumput menghiasi halaman. Harus diakui, itu adalah rumah yang cukup nyaman ketimbang rumah flat tempat menyimpan celana jeans denim dan sekantung darah serta bagian tubuh yang menunggu di bakar. Juga tempat rahasia penyimpanan pisau-pisau berkilauan yang baru selesai ia bersihkan, dijejalkan di balik lemari brangkas rahasia yang berada di ruangan bawah tanah. Tempat, ia juga menyimpan tumpukan jari-jari manusia bekas buruan Joseph.
Pemilik rumah itu bernama Sandoro De Luca, tapi Reza lebih mengenalnya dengan sebutan ayah tiri. Dia adalah seorang paruhbaya, dan banking yang memperistri Marinna De Luca atau lebih tepatnya Missha Abute. Sudah hampir tiga hari, Reza mengamati rumah itu. Memata-matai semua anggotanya yang berisikan; ayah, ibu, dan dua bayi kembar sepasang. Beberapa saat yang lalu, Reza melihat Marinna berjalan keluar dari rumah bersama dengan kedua anaknya masuk ke dalam sebuah Mercedez dan pergi meninggalkan rumah. Saat Mercedez itu mulai berjalan meninggalkan rumah, segera Reza meraih kunci mobilnya. Bergegas keluar dan masuk ke dalam mobil mengekori Mercedez putih tersebut.
Jalanan Roma sore itu setengah padat. Meskipun nyaris saja, Reza kehilangan Mercedez itu. Tepat di jalan pemukiman sekitar lima km dari rumahnya, ia berhasil melacak dan menemukan dia. Dengan hati berdebar-debar, Reza terus mengikuti Marinna pergi. Hingga mereka sampai di sebuah rumah flat kumuh di pinggir kota. Reza berhenti tak jauh, pura-pura memarkirkan mobil dan menyenderkan bahunya di jok pengemudi.
Marinna beranjak masuk ke dalam salah satu flat kumuh itu. Membawa dua bayi kembarnya, tak lama ia keluar lagi dengan meninggalkan bayi kembar itu. Seorang wanita paruhbaya, menyembur di balik pintu flat kumuh melambaikan tangan sambil tersenyum geli kepada Marinna yang sudah kembali masuk ke dalam Mercedez. Tubuh wanita parubaya itu sangat kurus, hampir nyaris tak kelihatan dagingnya. Wajahnya tajam, dengan rahang keras dan mata elang berwarna hijau, serta rambut yang di kuncir sanggul berwarna terang. Ia benar-benar nampak seperti seorang yang memiliki penyakit atau kelainan fisik.
Sepersekian detik Mercedez itu kembali melaju. Buru-buru, Reza menyalahkan mesin mobil dan kembali membututi Mercedez itu. Melewati flat kumuh dimana paruhbaya tadi masih berdiri, dan menatap binggung sekaligus was-was dan curiga dengan mobil yang berjalan di belakang Mercedez milik Marinna. Reza tak memperdulikan itu, ia mempercepat laju mobilnya. Memecah kembali keramaian kota Roma menjelang malam. Mereka terus berjalan. Menjelang matahari terbenam Marinna memberhentikan mobilnya di sebuah apartemen di kawasan Ludovisi.
Angkara murka tiba-tiba saja menggelegak. Saat melihat Marinna turun yang langsung di hujami oleh ciuman bertubi-tubi oleh seorang lelaki asing untuknya. Bibir, pipi, kening, dan kembali lagi ke bibir untuk beberapa saat. Reza tak mengenalnya. Entah lelaki itu siapa, satu yang jelas itu bukan Sandoro, apalagi ayahnya Marco. Dia lelaki yang jauh lebih muda ketimbang umurnya. Mungkin sekitar dua puluh tiga, hingga dua puluh tujuh tahunan.
__ADS_1
Sesudah Marinna turun dari mobil, mereka berjalan masuk ke dalam apartemen masih dengan ciuman yang tak rela di lepaskan. Mereka naik mengenakan lift, menujuh lantai lima. Sementara Reza yang berada di dalam mobil, mulai berpikir. Dia memiliki rencana hebat untuk wanita itu malam ini. Seringaian kecil melengkung indah di bibirnya. Tidak ada orang yang boleh tahu, meskipun itu Joseph sekalipun. Takkan boleh ada yang tau. Dan dia memiliki sesuatu yang sangat berharga untuk di berikan kepada wanita itu. Sesuatu yang amat berharga, yang musti Reza berikan kepadanya.
****
Berita pembunuhan mafia perdagangan organ tubuh bernama Robert Robinson, langsung merebak di sepenjuru Indonesia dengan cepat. Bahkan dalam kurun waktu kurang dari dua puluh empat jam, berita tersebut sudah trending bukan hanya di Twitter saja yang menempati urutan nomer satu di dunia, tetapi juga di sosial media lainnya.
Stella yang sore itu seharusnya sedang menyiapkan perlengkapan untuk besok hari pertamanya bekerja, justru mendapat telpon dadakan dari kantornya yang memerintahkan dia untuk segera bergegas ke kantor TTV.
Saat dirinya tiba di kantor TTV, ia segera melenggangkan kakinya ke lantai 7, dimana divisi berita berada. Stella begitu kaget saat mendapatkan sebuah sambutan berupa kekacauan yang amat luar biasa di sana; ada yang sibuk mengangkat telpon, dengan memegangi gagang telpon di kedua telinga mereka, ada yang sibuk dengan berkas-berkas yang entah berisikan apa hingga nyaris hilang atau rusak karena terjatuh dan berterbangan, dan ada yang sibuk tepekur dengan monitor di depannya. Mengetik papan keyboard dengan begitu nafsunya, dengan pandangan mata yang begitu liar. Stella tak tau apa yang terjadi disana. Bahkan dirinya tak tau apapun mengenai mafia yang terbunuh dengan begitu sadis di dalam kamar selnya sendiri.
Stella termangu dengan keadaan di hadapannya. Berdiri dengan mulut ternganga tak percaya dengan kekacauan yang ada di depannya. Hingga sebuah tepukan di punggung, berhasil menariknya ke dunia nyata lagi. Stella menoleh dan sadar akan kehadiran seorang lelaki tua berkacamata tebal tengah berdiri di sebelahnya dengan sorot mata yang begitu menakutkan.
"I... Iya, pak," jawab Stella gugup, sambil menganggukkan kepalanya sopan menghormati lelaki tua di depannya.
"Ikut saya." Lelaki itu memutar tubuhnya, beranjak pergi dari sana. Dengan rambut di kuncir dan tas jinjing yang ia letakkan di dalam pelukannya Stella berjalan dengan tergesa-gesa, namun penuh kehati-hatian mengikuti langkah kaki lelaki parubaya itu. Berjalan masuk ke dalam ruangan besar yang berada di dalam ruangan devisi berita, yang memiliki dinding kaca tempus satu arah.
Mereka masuk ke dalam, yang ternyata berisikan enam sampai tujuh orang di dalamnya duduk saling berhadapan melingkar meja panjang berwarna biru tua yang berisikan banyak kertas yang berhamburan, laptop di setiap masing kursi, juga berbagai macam cemilan dan kopi.
__ADS_1
"Dia Stella Sasmita," kata lelaki tua itu memperkenalkan Stella sekenanya. "Duduk, aku akan menjelaskan tugas pertama untukmu."
Stella sedikit tergagap mendengar instruksi dari lelaki tua itu. Segera ia menggeser kursinya dan duduk di kursi putar yang berada dekat dengan pintu ganda kaca. Di sebelahnya ada seorang nona muda, berusia antara dua puluh hingga tiga puluh tahunan. Tersenyum kearahnya sambil memberikan selembaran kertas putih.
"Mana Id card mu?" Stella menoleh saat pria tua itu berdiri, menujuk ke arahnya dengan telunjuk tanganya. Cepat-cepat Stella merogoh kantong celana jeans-nya, mengeluarkan Id card berlaminating berwarna putih dan sedikit biru di bagian atasnya. Di kalungkan Id card itu di lehernya, setelahnya ia fokus dengan laptop di depannya yang memperlihatkan gambar mayat seseorang dengan jerat di bagian leher.
Mata Stella fokus memandangi foto mayat itu. Dia nampak tak asing dengan wajahnya. Di perbesarannya gambar di laptop itu, hingga membuat wajah sang mayat kini nampak jelas terlihat.
Seketika, Stella terkejut bukan main. Dirinya bahkan membuat semua orang di dalam ruangan menoleh serentak kearahnya. Memandangi dirinya yang sedang terkaget-kaget sambil menutupi mulutnya yang menganga itu.
"Apa kau belum pernah meliput kasus pembunuhan, anak baru?" Seorang lelaki berkemeja garis-garis coklat cream memandangi Stella aneh sambil memainkan pulpennya.
Kepala Stella menggeleng cepat. "Tidak. Bukan seperti itu. Maksudku, aku hanya terkejut dengan mayat ini. Aku mengenalnya..."
"Semua orang disini juga mengenalnya Stella. Bahkan seluruh penjuru Indonesia pasti mengenalnya. Berita penangkapan dan kejahatannya menjadi trending nomer satu di Indonesia beberapa minggu belakangan ini." Nona muda berwajah enak di pandang di sebelahnya berujar. Nona dengan Id card Stevani itu tersenyum sinis, sambil kembali berfokus dengan laptop dan jurnalnya lagi.
Stella tertegun. Memandangi wajah mendelik mayat lelaki itu nanar. Entah mengapa saraf-saraf di otaknya bekerja berkali-kali lipat. Merasakan dentuman rasa takut yang mendera di selimuti dengan rasa penasaran akan sosok pembunuh yang telah membunuh mayat tersebut.
__ADS_1
"Siapa orang yang membunuh Mr.Robinson?" Stella berpikir keras.
TO BE COUNTINUE...