Hello, Mr Mafia!

Hello, Mr Mafia!
Episode 45


__ADS_3

Beku langsung merajam tubuh Stella, saat sebuah suara berat dengan aksen barat memanggil namanya. Sepertinya, ia familiar dengan suara itu. Seperti pernah mendengar, tapi dimana.


Daripada otaknya di suruh bekerja untuk berpikir mencari satu nama, dia lebih memilih untuk menoleh, memutar tubuhnya untuk melihat siapa seseorang yang memanggil namanya. Karena, tidak mungkin jika yang memanggilnya adalah Mr.Robinson. Lelaki tua bangka berhati monster itu pasti sudah berada di dalam selnya atau bahkan mungkin tengah bersiap untuk perpindahannya ke lapas Nusakambangan atau pulau Sisilia di mana penjara Oxley General yang baru berada.


Setengah tubuhnya menoleh, mata biru langit begitu indah langsung mengusik pandangannya. Stella terkejut bukan main, saat mengetahui siapa yang baru saja memanggil dia. Seorang Reza Eerste Oxley berada di lapas ini? Sendiri. Tanpa pengawalan atau asisten pribadinya berwajah sama tampan dan menyeramkan itu.


"Hello Mr.Sasmita... Kebetulan yang sangat beruntung, aku bisa bertemu dengan mu di sini." Dia memperlihatkan gurat wajah serius namun tampan seperti tadi malam. Sialnya, Stella tak mampu menyembunyikan rasa keterkejutannya hingga mulutnya nyaris terbuka lebar.


"Uhm... Ya, kebetulan yang sangat luar biasa, dapat melihat anda berada di sini Mr.Oxley." Degup jantungnya kembali terpacu maksimal, dua kali lebih cepat mungkin, di bandingkan dengan mimpi buruk tadi pagi dia alami. Oh, sialan kini Stella di rundung rasa cemas dan ketakutan. Tak ada yang kebetulan gratis di dunia ini, dan Stella percaya itu. Pasti semesta kembali akan membuatnya dalam masalah besar.


"Ada sesuatu hal yang membuat mu datang kesini Stella?" Dia mengoyangkan kepalanya ke kiri dan kanan, dan pandangan birunya tak pernah mau beranjak pergi. Stella amat risih, tapi rasa risih itu jauh lebih rendah ketimbang rasa takut yang sudah menguasai hampir seluruh nyalinya.


"Hanya sedang mengerjakan tugas pertama." Stella mengangkat sebuah jurnal kecil bercover hitam. Mengangkat tinggi, untuk memperlihatkannya kepada Reza. Sebisa mungkin, dia tetap bisa baik-baik saja. Bersikap biasa tanpa menimbulkan rasa curiga kepada lelaki tiga puluh lima tahun itu.

__ADS_1


Reza menyungingkan senyum sinisnya. Gadis itu tidak pandai berbohong ternyata. Berusaha bersikap baik-baik saja, tanpa dengan bahasa tubuh yang kaku dan tegang bukan main. Reza bukanlah bocah kemarin sore yang terpukau dan percaya akan akting buruk Stella. Namun, dia tetap diam. Merendam darah pembunuh pada diri Stella, hingga Jones tiba dan menyelesaikan pekerjaannya. Reza harus segera menyelidiki gadis itu, menyelidiki masalalu yang tadi dikatakan Joseph. Jujur saja, rasa kecurigaannya kepada Stella semakin naik berkali-kali lipat, setelah ia menemukan fakta-fakta mencengangkan seputar dirinya dan Joseph, seperti tempat tinggal mereka sama di Bekasi, Stella adalah orang terakhir yang di temui oleh Joseph lima menit sebelum penangkapan Joseph, juga daftar riwayat hidup Stella yang ternyata adalah seorang jenius komputer, dan berkas-berkas yang di berikan oleh tim penyelidik yang mengatakan jika IP bernama Dandelion666 adalah orang yang telah mengirimkan bukti kejahatan Joseph, dan IP itu mirip dengan alamat email milik Stella untuk melamar pekerjaan di TTV. Jones telah banyak melaporkan perihal mengenai gadis itu. Hanya saja, asisten setianya itu belum tau mengenai masalalu Stella yang di katakan Joseph. Dirinya amat penasaran, sangat-sangat penasaran. Apalagi jika benar kecurigaannya terhadap Stella yang ternyata dalang dari pembobolan sistemnya. Sudah sangat di pastikan, Reza tidak akan pernah melepaskan gadis itu.


"Siapa yang kau temui di sini? Seorang *******? Pengedar narkoba? Atau gengster?"


"Mafia perdagangan organ manusia," katanya keras penuh dengan percaya diri.


Alis Reza bertautan.


"Ma... Mafia?" Ia pura-pura terlihat kaget. Mencekatkan suaranya sendiri agar Stella percaya.


Reza kembali tersenyum.


"Baiklah. Semoga harimu menyenangkan Miss. Sasmita." Berlalu dan kembali masuk ke dalam lapas.

__ADS_1


Sejenak Stella menatap punggung lebar lelaki itu, hingga sosoknya menghilang di persimpangan lorong lapas. Segera Stella berlari keluar dari lapas, dia berdiri di depan gerbang dan merasakan udara mendung Jakarta. Sekarang dia bebas. Dia mengangkat wajahnya, menyembur menatap langit abu-abu kelabu. Dia memejamkan mata dan menarik napas yang dalam, mencoba untuk memulihkan apa yang tersisa pada keseimbangannya.


Pertemuan tak terduga dirinya dengan Reza membuat Stella semakin terguncang. Lebih-lebih dengan ucapan dari Mr.Robinson, dia benar-benar terjerambab tak ada jalan keluar selain bersembunyi dan bungkam, tentu melupakan niatnya menjual data pribadi Oxley General kepada Big Bos. Itu terlalu beresiko, pasti akan mengundang rasa curiga dan murka Reza, kalau tau jika datanya di jual ke pasar gelap. Namun, sialnya dia juga tergiur dengan tawaran dari Big Bos. Tiga ratus juta dollar adalah imbalan untuk Stella, jika dia dapat mengumpulkan semua rahasia Reza dalam kurun waktu tiga minggu. Itu yang di katakan Big Bos, saat Stella menawarkan diri dan menyakinkan dirinya jika dia dapat menemukan dan mengumpulkan apa yang di minta Big Bos. Untuk sejenak, Stella binggung bukan kepalang. Saat ini dia duduk di kursi yang berada di trotoar jalanan. Termenung dengan pikirannya yang terbagi-bagi. Tentang tawaran Big Bos, juga tentang ucapan Mr.Robinson, dan kehadiran Reza di dekatnya.


Lama ia termenung, hingga makan siang tiba dirinya masih tetap diam di tempat. Duduk sendiri, melamun tidak perduli dengan mata yang melihatnya binggung. Semua jalan buntu baginya. Dia yakin apapun jalan yang dia pilih, pasti Reza akan tau siapa dia sesungguhnya nanti. Salah satu pemicunya tentu hadiah dari Mr.Robinson untuk Reza. Meskipun Stella sendiri tak tau apa isinya, tapi yang jelas dia sudah menduga bahwa Mr.Robinson akan mengungkapkan indentitas asli Stella.


"Apapun jalan yang gue ambil, semuanya udah buntu. Reza akan tetap tau siapa gue. Hanya tinggal tunggu waktunya aja buat dia menemukan gue." Stella bangkit dari duduknya. Matanya membulat penuh binar. Hatinya menggebu-gebu, napasnya juga terdengar memburu. Ia memantapkan diri, dan menyakinkan tekad untuk meneruskan niat awalnya untuk menjual data pribadi Reza kepada Big Bos. Tidak perduli apa yang akan terjadi pada dirinya nanti. Ia percaya semua jalan yang ia tempuh pasti akan tetap membawanya masuk ke dalam hukuman Oxley General.


"Setidaknya gue bisa ngerasain jadi orang kaya, sebelum gue mati di tangga Reza!"


TO BE COUNTINUE...


NP;

__ADS_1


SUMPAH KALAU KALIAN GA NGERTI DENGAN PART INI AUTHOR MINTA MAAF YA, KARENA HARI INI AUTHOR NULIS DALAM KEADAAN KACAU. INSYAALLAH AUTHOR JANJI DI PART BERIKUTNYA AUTHOR BAKAL PERBAIKI TULISAN AUTHOR LAGI, AGAR BISA DI MENGERTI OLEH KALIAN. TERIMAKASIH YANG MASIH DUKUNG AUTHOR HINGGA SEKARANG.


__ADS_2