
Bus berhenti di halte Cawang. Segera, Greta berdiri dan menyimpan pisau lipatnya di saku sweaternya. Dia berjalan hendak turun dari bus tersebut. Namun, menyadari jika Stella tak juga ikut turun dengan enggan dia kembali dan mencekal tangan Stella. Membawa, wanita itu turun dari dalam bus meskipun Stella secara terang-terangan menolaknya.
"Greta, pemberhentian ku bukan di sini." Stella berkeras kesal.
"Ikut aku, atau kau akan mati di apartemen mu." Tak mempedulikan kekesalan Stella, Greta menyembunyikan kepalanya di tudung sweaternya, dan berjalan keluar dari halte bus.
"Greta, kau ingin membawaku kemana?" Stella berlari mengejar Greta.
"Menemui mu dengan Red Army."
Langkah Stella terhenti. Dia terperangah mendengar ucapan Greta barusan. Red Army? Tidak. Itu tidak mungkin, mana mungkin Red Army berada di Indonesia. Greta pasti bercanda.
Berpikir jika, Greta sedang mempermainkannya Stella memutar tubuhnya hendak kembali masuk ke dalam halte. Saat dirinya tengah menempelkan E-money di pintu halte, tiba-tiba Greta berujar.
"Kau masuk ke dalam halte dan pulang ke apartemen mu, aku bertaruh TTV besok akan menyiarkan kematian tragis mu, Stella." Stella menoleh ke arah Greta. "Kau akan mati dengan jerat tali pancing di lehermu." Tersenyum sarkasme dan kembali melanjutkan perjalanannya.
"Aku tidak mungkin percaya dengan mu, Greta. Mana mungkin Red Army berada di Indonesia. Kau hanya membual."
"Cih." Greta memutar tubuhnya, "Kami hacker tidak mempercayai siapapun di dunia ini, bahkan diri kami sendiri. Siapa yang membuat kalimat itu, Nadila? Kau!"
Memandangi Greta beberapa saat, Stella mencoba berpikir keras antara menerima ajakan dari mantan patnernya atau pulang dan mengabaikan segala perkataan Greta. Tapi jika, Stella pikir-pikir lagi perkataan yang di ucapkan Greta ada benarnya juga. Jika, dia pulang ke apartemennya malam ini pasti antara Reza atau Jones asistennya itu menunggu Stella di sana. Dia tak mungkin pulang, malam mengerikan itu saja belum hilang dalam benaknya. Dia takkan tau hal mengerikan apa lagi yang akan Reza lakukan kepadanya untuk menggali informasi kepadanya. Mungkin saja, dia akan di temukan mati tragis dengan jerat tali pancing di lehernya seperti apa yang Greta katakan.
"Baiklah, aku akan ikut dengan mu." Akhirnya, Stella memutuskan.
Dengan setengah berlari, Stella mengejar Greta. Mereka berjalan bersebelahan dengan langkah penuh ke hati-hatian. Sesekali baik, Stella maupun Greta menelisik sekitarnya. Memantau apakah ada anggota Cyberfriend yang menemukan keberadaannya di sana.
Lama mereka berjalan. Melewati jembatan, menembus ke sebuah perkampungan di pinggiran kota Jakarta, lalu menembus jalan setapak yang terhubung dengan pabrik bekas kumuh yang di tutupi lumut dan rumput yang menjalar. Stella yakin, jika tempat yang di tujukan Greta sama persis dengan tempat persembunyian Esocial yang berada di Bogor waktu itu.
"Dimana kau akan membawaku, Greta?" Stella berjalan kesusahan karena gelapnya malam dan jalanan licin berbatu dan berumput.
"Sebentar lagi. Kau akan menyukainya, Nadila."
"Namaku, Stella."
Greta terkekeh geli. "Bagiku kau tetap Nadila."
"Terserah."
Akhirnya setelah perjalanan panjang yang melelahkan, mereka tiba di sebuah rumah panggung ala orang korea atau jepang yang begitu terang karena cahaya lampu yang menderang.
"Rumah?" Stella tercengang karena Greta membawanya bukan ke sebuah persembunyian seperti Esocial, melainkan rumah biasa yang letakkan memang jauh dari pemukiman lainnya.
"Ayo masuk. Diaz telah menunggu."
"Wait." Stella menghambur, berdiri di depan Greta dan menghadang jalan. "Siapa yang akan kita temui? Jelaskan kepadaku, Greta." Suara Stella terdengar serius, matanya mendelik penuh curiga dan pertanyaan kepada Greta.
Namun, tak memperdulikan bagaimana Stella bereaksi. Greta yang memang tipikal wanita tomboi hanya bersedekap seraya membuang napas jengkel.
"Di dalam sana, kau akan menemukan bukti siapa musuh sebenarnya Reza. Kau juga akan tau, seperti apa orang-orang yang selama ini hidup di sekitar mu."
__ADS_1
Kening Stella mengeryit. "Kau bukan mau menemui ku dengan Red Army, kan? Melainkan White Army?"
Greta tersenyum sumringah sambil menjentikkan tangannya. "Smart Girl." Kembali berjalan masuk ke halaman rumah yang di dominasi terbuat dari kayu itu.
Mereka tiba di depan rumah. Perlahan, Stella melepaskan sepatunya dan naik ke atas rumah mengikuti langkah Greta.
"Diaz, where are you?" Greta bersenandung manggil nama seseorang.
"Siapa, Diaz? Apa dia pemimpin White Army?" Berbisik, Stella berjalan di belakang Greta dengan kedua tangan tak mau dia lepaskan.
"GRETA!"
"Akh!" Stella terjengit kaget, saat muncul seorang pria bertubuh besar, penuh dengan lemak secara tiba-tiba dari salah satu ruangan di rumah itu.
"Nadila perkenalkan ini adalah Diaz. Satu-satunya white hacker yang masih tersisa di dunia."
"White Hacker?" mata Stella menyipit binggung.
"Ya, begitulah kami menyebut klan kami dulu, Stella." Pria gemuk itu berkata dengan logat khas orang Jepang.
"Kau mengenalku?" Stella bertanya kepada Diaz.
"Tentu." Diaz mempersilahkan Stella dan Greta masuk. Mereka duduk di sebuah ruangan kosong yang hanya diisi dengan satu buah meja kecil di tengah ruangan. Diaz menyuruh mereka untuk duduk di sana.
"Bagaimana kau mengetahui ku, Diaz."
Selama, Diaz pergi tak ada pembicaraan yang berarti antara Stella dan Greta. Stella terpaku, menikmati ruangan itu. Rasanya begitu nyama, meski udara di luar rumah terasa pengap tetapi berbeda di dalam sana yang begitu sejuk bahkan dingin, meskipun tak di pasang AC.
"Greta aku masih menuntut jawaban berarti darimu." Setelah sekian lama keheningan akhirnya terpecahkan dengan ucapan Stella.
"Tenanglah. Kau ingin mengetahui siapa musuh sebenarnya Reza bukan?" Greta merogoh sebungkus rokok dari dalam kantongnya, mengambil satu batang dan langsung membakarnya. "Kau mau?" tawarnya.
"Sorry, aku sudah berhenti merokok."
"Cih." Lagi-lagi, Greta tertawa geli. "Kau benar-benar sudah berubah, huh? Kalau sudah berubah, kenapa kembali? membuang sia-sia saja waktu lima tahun mu itu."
"Aku kembali karena ingin menyelamatkan hidup ku dari Cyberfriend, Greta."
"Ya-ya-ya, Aku tau." Greta menyesap dalam-dalam rokoknya. "Kau seharusnya tidak meretas Oxley General, jika tidak ingin berurusan dengan klan Abute. Terlebih dendam-dendam yang mengelilingi keluarga mereka, kau bisa mati masuk ke jurang."
"Dia memperkosa ku, Greta." Stella mengatupkan bibirnya. Menautkan kedua tangannya dan menundukkan kepalanya dalam.
"Kau serius?"
"Ya, tapi itu tidak sesimpel yang kau duga, Greta."
"So?"
Stella menggeser tubuhnya untuk sedikit lebih mendekat dengan Greta. Kemudian dia berbisik dan berkata
__ADS_1
"Awalnya aku berniat untuk membatalkan rencana ku," Stella mulai bercerita. "Dengan memberikan flashdisk yang berisikan semua hasil curian ku dari perusahaannya. Juga aku berniat ingin meminta pertolongan kepada dia untuk mengadopsi ku dan membawaku keluar dari Indonesia. Pokoknya menjauh dari Cyberfriend. Tapi dia malah salah paham kepadaku. Dia pikir, aku ini bekerjasama dengan Esocial dan Big Bos. Yah, meskipun memang pada awalnya seperti itu tapi sebelum aku menjelaskannya, dia keburu kepancing emosi dan menganggap ku musuhnya. Dia yang tidak terima langsung menangkapku, memukuli aku dan memperkosa aku malam itu..." Stella menjeda ucapannya. Napasnya terdengar tersengal, dia tak dapat lagi melanjutkan ucapannya karena kembali mengingat kejadian mengerikan malam itu.
"Lalu?" Greta mematikan rokoknya, dan kembali mengambil satu batang rokok lalu membakarnya lagi.
"Paginya aku berniat ingin kembali membantu Esocial untuk mengirimkan sebuah virus yang dapat mengendalikan semua lalu lintas perusahaannya. Mulai dari websitenya, pabriknya, keuangannya, hingga kode nuklir yang dia sembunyikan. Namun, aku merasa ada yang aneh di sini, Greta. Dan aku belum menemukan ke anehan itu."
Greta tertawa, di ikutin Diaz yang Kembali masuk dengan membawa hidangan untuk mereka berdua.
"Kalau kau memang berniat menghancurkan Oxley General lakukan saja sendiri. Semua orang tau, kau itu tidak akan bisa kerjasama secara team. Jadi untuk apa kau susah-susah mencari keanehan itu."
Frustasi, Stella mengepalkan kedua tangannya gemas.
"Greta aku menyukai Reza. Sangat menyukainya, dan sekarang aku merasa akan ada perang saudara antara Reza dan adik tirinya. Bahkan mungkin adik kandungnya. Jika aku tetap melanjutkan rencana ku untuk membuat virus itu, maka akan di pastikan perang itu benar-benar terjadi."
Mendengar pernyataan cinta dan kekhawatiran Stella secara gamblang, kedua orang di dalam ruangan itu ternganga. Diaz bahkan melongok tak percaya dengan ucapan Stella. Dalam hati, dia mengerutu kesal. Capek-capek dia menyamar jadi badut tadi siang untuk menarik minat Stella membantunya menghancurkan Oxley General, ternyata tanpa di duga wanita itu terpesona dengan ketampanan Reza.
"Kau menyukai orang yang telah memperkosa mu? Kau gila, huh?" Greta berteriak kesal. "Atas dasar apa kau menyukai psikopat seperti dia? Kau bisa saja terbunuh tadi. Dan kau harus ingat itu karenanya."
"Aku tau, tapi aku benar-benar tidak bisa. Dan rasa ingin tau ku tentang Esocial dan Anne terus mendorong ku dan menguatkan aku jika aku harus membela Reza."
Sejenak, Greta dan Diaz saling membuang pandangan. Greta berdehem, dan Diaz langsung menoleh menatap Greta lalu berkata
"Aku tau tentang Anne, Stella."
Mata Stella berbinar cerah. "Apa? Beritahu aku. Aku mohon."
Greta merentangkan kedua tangannya ke depan dan memotong ucapan Stella. "Tenang dulu." katanya seraya duduk di antara Stella dan Diaz. "kamu kenal aku kan, Stella?"
Kening Stella mengeryit. "Maksudnya?"
Greta terkekeh dan memukul bahu Stella agak kencang. "Kau pura-pura lupa atau pura-pura bodoh, huh?" ledeknya.
"Aku sedang tidak bercanda, Greta."
"Baiklah, Baiklah. Kau tau bukan, tak ada yang gratis di dunia ini?"
Nampak Stella mulai mengerti maksud ucapan Greta.
"Stop!" Potong Stella. "Kau mau imbalan apa?"
Sebuah senyum licik tiba-tiba terukir di bibir Greta, dan Stella merasa ada sesuatu di balik senyuman itu.
"Sebuah kesepakatan," Seru Greta.
"Kesepakatan apa?"
"Jika Diaz memberitahu mu tentang siapa Anne dan rencana apa yang sedang dia buat. Kau harus membuatkan aku virus yang kau maksud."
TO BE COUNTINUE...
__ADS_1