Hello, Mr Mafia!

Hello, Mr Mafia!
Episode 30


__ADS_3

Jones duduk seorang diri, menyandarkan tubuhnya dan memejamkan matanya. Rasanya rileks dan nyaman, meskipun hanya untuk beberapa jam setidaknya ia dapat sedikit beristirahat melupakan penatnya bekerja yang begitu banyak. Kursi empuk itu secara otomatis mundur. Sensor merah di bagian tangan kursi menyalah, sesaat setelah Jones menekan tombol hitam di bagian badan sebelah kanan kursi. Jones mendesah, merasakan getaran yang di timbulkan dari kursi itu. Otot-otot tubuhnya yang semula menegang akibat kelelahan, berlahan mengendur. Rasanya begitu nyaman, meskipun hanya pijatan dan getaran saja. Ia menikmatinya, hingga berlahan terpejam dan pergi ke alam mimpi.


Saat pilot pesawat memberitahu dengan mengenakan pengeras suara, jika pesawat akan segera lepas landas, mata Jones kembali mengerjap. Ia langsung memasang sabuk pengaman, merekatkan tali-tali itu di tubuh kekarnya. Setelah meyakini sabuk pengaman itu terpasang sempurna, kembali Jones menyenderkan tubuhnya, terpejam dan kembali pergi ke alam mimpi.


Pesawat dengan sempurna lepas landas, meninggalkan pangkalan militer dan mulai mengudara di atas langit. Jones tetap diam di posisinya, terpejam tanpa mempedulikan suara desahan yang terdengar cukup jelas dari ruangan sebelah. Dia sudah sering mendengar itu. Di mulai dari dia gugup setengah mati, karena menahan bir*hinya yang mencuat hingga ia masa bodo tak terpengaruh lagi seperti sekarang ini.


Begitu mereka mengudara, Natasha pramugari bertubuh sexy dalam balutan seragam super ketat melayani Jones dengan menawakan sampanye lagi dan beberapa makanan. Jones menolak, ia hanya ingin sendiri dan merasakan pijatan dari kursi empuk itu. Namun, nampaknya Natasha sedang merayu Jones atau memang menyukai lelaki itu. Ia terus datang, dengan menawarkan apapun yang ada di dalam pesawat, meskipun tetap terus di tolak oleh Jones.


"Natasha bisakah kau pergi meninggalkan ku?" Kali ini Jones tak tahan. Ia membuka sabuk pengamannya dan menatap Natasha tajam.


"Aku hanya ingin..." Suaranya tergagap, ia menundukkan kepala dan meremas rok ketat berwarna merahnya.


Jones mendesis. Mengusap wajahnya kasar, dan membuang pandangannya ke arah jendela pesawat. "Bawakan aku salmon asap juga tambahkan sampanye. Tolong"


Mendengar Jones meminta sesuatu kepadanya. Seketika mata Natasha berbinar. Dengan cekatan ia langsung pergi menyiapkan apa yang di inginkan Jones. Menyiapkan dengan begitu efisien juga tentunya dengan penuh rasa bahagia.


"Kau menyukai tuan Jones?" Sarah pramugari lainnya yang tadi juga menyambut Reza bersama Natasha datang menghampiri. Membantu Natasha menyiapkan apa yang tadi di pesan oleh Jones sambil memandangi wajah Natasha penuh selidik.


"Tidak ada wanita yang tidak menyukainya. Meskipun ia seorang duda beranak dua, wajah tampan dan sifat misteriusnya menjadi daya tarik tersendiri untuknya. Tuan Jones benar-benar serasi dengan tuan Reza yang sama-sama misterius dan penuh dengan pesona."


Kepala Sarah menggeleng. Kembali melanjutkan aktivitasnya.


"Lalu bagaimana tuan Reza? Apa dia berada bersama dengan Tuan Jones?"


"Tidak." Natasha meletakan pisau kecil di atas meja kitchen. Menatap salad segar diatas piring dan mulai membumbuinya dengan mayones. "Dia sedang melakukan mile high club."

__ADS_1


Mulut Sarah ternganga. Cukup, sudah cukup pembicaraan tentang tuannya jika sudah mengarah ke urusan pribadi Reza. Mereka tak ingin melanjutkan, meskipun hati mereka menggebu-gebu ingin terus bergosip. Mereka masih ingin hidup, dan sayang akan pekerjaannya. Mereka tak mau tertangkap basah sedang membicarakan Reza oleh Jones. Bisa-bisa hidup mereka di ujung tanduk.


Setelah pergulatan panjang yang melelahkan namun begitu nikmat, Reza kembali ke tempat duduknya semula. Sudah dengan mengenakan setelan jas yang baru. Begitupun dengan Jones, mereka nampak begitu menawan di balik jas yang selalu melekat membungkus tubuh kekar mereka.


"Kita akan segera tiba, sir." Jones memulai percakapan.


"Siapa saja yang akan datang di acara makan malam?"


"Tidak banyak, hanya seluruh keluarga Hartanto juga Hermawan."


Kening Reza mengerut binggung.


"Siapa Hermawan?"


"Keluarga yang anaknya akan di jodohkan oleh tuan Judika."


Setelah mengudara selama kurang lebih lima belas jam, akhirnya pesawat mendarat dengan mulus di terminal pacuan bandara Soekarno Hatta. Saat tiba di sana, hujan deras yang di sertai petir dan angin kencang menyambutnya. Untuknya saja, sebuah mobil Rolls-Royce hitam metalik sudah siap membawanya pergi dari sana, tanpa menunggu cek-in melalui bandara. Tidak seperti biasanya, kali ini Jones tidak menyupir Reza. Orang lain, yang sudah di tugaskan oleh Liliana datang menjemput. Mengantarkannya ke sebuah rumah asri di kawasan kota Bogor. Sengaja memang, karena Reza sendiri yang meminta rumah yang berada agak jauh dari kerumunan dan penatnya ibukota.


Saat ia dan Jones tiba di Indonesia, itu masih pukul setengah delapan pagi. Masih begitu lama menuju acara makan malam, yang akan di adakan dirumah utama keluarga Hartanto. Begitu dirinya tiba di rumah bernuansa coklat, dengan taman yang melingkar rumah tersebut Reza segera berganti pakaian dan berisitirahat sejenak. Sementara Jones, kembali melanjutkan aktivitasnya; bekerja menyelesaikan urusan tuannya yang belum terselesaikan.


Reza mungkin masih begitu asing dengan suasana disana. Namun, ia merasa sama saja seperti di kota Manchester; sepi dan sunyi tak ada orang lain yang dapat menemani kesendiriannya selain Jones. Mungkin hanya suasana dan hawa udaranya saja yang berbeda, sedikit panas juga terlalu pengap. Maklum di Indonesia hanya memiliki dua musim, berbeda dengan di Inggris yang memiliki beragam musim yang selalu tepat berganti.


Saat, ia selesai membersihkan diri. Reza berjalan berlahan mendekati balkon kamar. Berdiri beberapa saat sambil termangu menatap taman yang terbentang luas ditumbuhi berbagai macam tanaman dan juga bunga. Ia mendesah, memejamkan mata sesaat dan kembali mengerjap. Ia kembali berkecamuk dengan pikirannya sendiri. Bertanya-tanya pada dirinya, apakah langkah yang dia ambil sudah benar; membantu ibunya dan mulai berdamai dengan masalalunya yang menyakitkan. Sungguh, jujur saja ini amat berat baginya. Keputusan ini benar-benar cukup berat untuknya. Dia tidak tau reaksi seperti apa yang akan di perlihatkan oleh dunia, saat ia mengumumkan jika Liliana adalah ibu kandungnya. Dan selama ini Christopher bukanlah adik kandungnya. Reza tak tau, apakah dunia akan marah dan mencemoohnya atau justru malah iba dan melihatnya kasian. Reza tak suka kedua-duanya dia tak suka di mencemooh dan di hina itu menyakitkan, mengingatkan kepada masalalunya bersama Chris saat hidup di jalanan. Di hina, di caci, bahkan di pukuli oleh orang-orang hanya karena bocah ringkih itu meminta sisa nasi yang mereka makan. Ia juga tidak suka di kasihani, itu memalukan. Sangat memalukan. Seperti harga diri yang sudah ia bangun cukup lama jatuh dan terinjak-injak dengan cara tidak terhormat. Reza tak sudi. Dia tak Rela.


Ia menghela napas kuat-kuat. Menghembuskan dengan keras sambil mencengkram besi penyangga balkon. Kepalanya tertunduk, matanya terpejam. Seperti ada sebuah benda besar yang menghantam bahunya, hingga membuatnya terasa amat begitu sakit seperti memikul sesuai yang amat berat. Juga hati dan perasaannya, seperti ada yang mengelitik hingga membuatnya ingin menitihkan airmata terlebih saat otaknya memutar kejadian saat Liliana mengatakan usianya tak lagi lama.

__ADS_1


Malam pun datang. Dengan mengenaskannya setelah jas berwarna coklat dan dasi berwarna hitam, Reza siap menghadiri acara makan malam itu. Sementara Jones, dengan mengenakan kemeja kotak-kotak tanpa dasi, ia terlihat lebih sedikit santai dibanding bosnya yang terlihat begitu formal seperti biasanya. Kedua lelaki itu nampak begitu tampan, dengan karakter dan kharismatik yang keduanya miliki.


"Mobil anda telah siap, sir." Reza bangkit dari duduknya. Saat Jones muncul dibalik pintu ganda kamar tidurnya, memberitahukan jika mobil sudah siap membawanya menemui keluarga kandungnya.


"Kenapa kau terlihat lebih santai dibandingkan aku." Langkah Reza terhenti tepat satu langkah di sebelah Jones. Matanya menatap dari ujung kaki hingga kepala. Begitu tapi, namun terlihat lebih santai.


"Saya hanya menyesuaikan diri dengan agenda acara malam ini."


Reza memasukkan tangannya ke kantung celana. Melenggang begitu saja tanpa membalas lagi ucapan Jones.


Mobil membawa Reza meninggalkan kota Bogor. Masuk ke dalam tol dan tiba di kota tujuannya, Tanggerang. Tak butuh waktu lama, ia telah tiba di sebuah kawasan perumahan elite yang dijaga dengan pengawasan begitu ketat.


Mobil memperlambatkan lajunya, ketika tiba di sebuah rumah mewah dan megah berdominasi warna coklat dan emas. Pilar-pilar rumah itu berdiri tegap seperti menantang siapapun yang berani masuk ke dalam sana. Sama dengan rumah yang ia minta di Bogor, rumah utama milik ibunya juga di kelilingi oleh taman yang di tumbuhi bermacam-macam jenis tumbuhan dan pohon. Ada sebuah air mancur tepat besar berdiri di depan pintu rumah utama. Dengan air yang dapat berubah warna dikala malam tiba. Juga pagar besi raksasa yang melingkar, membungkus rumah tersebut yang berdampingan dengan pos keamanan berisikan dua sampai tiga security yang setiap enam jam sekali berganti orang.


Mata Reza terus menyapu pandangannya ke rumah besar itu. Namun, fokusnya buyar manakala ia melihat seorang wanita cantik bergaun hitam sederhana dan jaket tipis tengah di tarik-tarik kasar oleh dua orang security di rumah tersebut. Kening Reza mengeryitkan, begitu pun dengan Jones. Mereka nampak tak asing dengan wajah gadis itu. Entah dimana mereka pernah bertemu, satu yang jelas mereka sama-sama yakin jika mereka pernah melihatnya di suatu tempat.


"Apa kau memikirkan apa yang aku pikirkan, Jones?"


"Yes, sir."


Jones mengeluarkan ponselnya. Melihat-lihat galeri foto di ponsel tersebut. Cukup lama, hingga ia tak menyadari jika mobil telah berhenti tepat di depan rumah utama.


"Apa yang kau cari?" tanya Reza dengan raut wajah datar tak berekspresi.


"Sir... gadis di depan itu adalah Stella Sasmita."

__ADS_1


TO BE COUNTINUE...


__ADS_2