
Kopi Irlandia yang lembut itu meluncur dari kerongkongan hingga perut Reza, saat ia menunggu seorang gadis perawan di dalam ruangan bermainnya, "Black Room". Hari ini, untuk pertama kalinya, Reza tak suka bermain dengan wanita. Terlalu banyak hal yang sedang, ia pikirkan hingga membuatnya menjadi badmood seperti sekarang.
Beberapa waktu lalu, setelah ia menelpon Jones untuk membawakannya seorang gadis virgin, sebuah telpon tak dikenal dari Indonesia menghubunginya. Ia pikir itu adalah sang ibu, atau adiknya yang menelpon untuk mengucapkan selamat atas berita tentangnya yang akan segera di angkat menjadi seorang Presdir Hartanto Grup. Namun, ia salah. Ternyata itu adalah Leo. Leopard Bay Pyordova. Sedikit terdengar menggelikan memang namanya, tapi jujur saja hanya namanya yang Reza ingat karena terdengar lucu, juga tentunya uhmmm... Sulit untuk di ucapkan.
Ada sesuatu yang terjadi pada rumah sakit milik Leo, Pyordova Hospital dan itu ada hubungannya dengan seorang Robert. Reza sudah mengantongi semua tentang Robert, termasuk dirinya yang kini telah di tangkap oleh polisi karena ketahuan melakukan tindakan kejahatan level 1. Reza terus berkelana dalam pikirannya. Saat ini, dirinya seperti sedang bermain puzzle yang harus menyusun setiap kerangka berantakan untuk menjadi sebuah gambar indah. Ini rumit dan penuh teka-teki. Ada sesuatu yang salah tentang virus Rootkit yang dikirimkan tadi malam dengan nama alamat IP Robert alias Joseph, dan Reza menyadari akan kejadian aneh itu.
Cukup lama, ia berkelana di dalam pikirannya. Hingga sebuah suara ketukan pintu terdengar. Kepala Reza menoleh, bangkit dari tempat duduknya dan langsung membuka baju yang melekat dari tubuhnya. Dia meleparkan dengan sembarang baju itu, kemudian berjalan menghampiri sebuah lemari kayu coklat gelap besar dan membukanya.
Ruangan berdominasi hitam cukup besar dan membuat bulu kuduk berdiri. Begitu hebat dan menakjubkan untuk sang pencipta. Lantai kayu yang sudah tua berwarna hitam juga. Dinding dan langit-langit berwarna merah anggur, begitu redup dan menggigil. Terasa sedikit bau cat kayu baru, dan juga jeruk yang tak tau berasal dari mana. Ada sebuah besi besar berwarna hitam berbentuk X terpampang di tengah ruangan menghadap pintu dengan penahan borgol di setiap sisinya. Sedikit di depannya, satu tiang dipoles, berukir, seperti batang kayu panjang menjuntai dari langit-langit hingga lantai.
Suara decit pintu lemari berbunyi saat Reza membukanya. Dari situ terlihat berayun berbagai macam alat yang mencengangkan dari alat pemukul seperti dayung, cemeti, cambuk pendek untuk berkuda, dan alat berbulu yang terlihat lucu.
Reza mengambil cambuk pendek dan alat pemukul dari dalam sana. Meletakkannya di atas sofa berwarna merah anggur senada dengan warna langit-langit ruangan, dan kemudian kembali menutup pintu lemari.
Kemudian ia beranjak ke sisi sebelah kiri ruangan, yang terdapat sebuah ranjang besar dengan sebelah kanan terdapat besi terpasang vertikal yang berisikan berbagai macam benda menakjubkan juga. Sepertinya, berbagai jenis borgol, tongkat basbol, rantai, juga tali. Sementara di sisi kiri terdapat peti besi yang entah isinya apa.
Namun, apa yang paling dominan pada ruangan ini adalah dengan adanya ranjang berukuran big size dengan borgol rantai yang berada di berbagai sisi ranjang. Dengan kelambu berwarna putih bersih menutupi setiap bagian ranjang. Terlihat begitu romantis, jika saja berada di dalam ruangan normal.
Reza kembali duduk di sofa panjang seperti semula. Membentangkan kedua tangannya dia atas sofa dengan keadaan tubuh tak berbusana lagi. Ia menoleh saat pintu terbuka, dan mengulum senyuman menggoda ketika manik birunya menangkap kedatangan seorang gadis muda bertubuh mungil dengan dress yang menjuntai indah di tubuhnya.
"Sir," sapa lembut dan menggoda sang gadis.
Wajahnya nampak begitu muda, Reza menyakini jika usianya sekitaran lima belas sampai tujuh belas tahun.
"Siapa namamu?"
"Luci. Luciana Watson."
"Well, Luci kau tau apa yang harus kau lakukan, bukan?"
__ADS_1
Kepala gadis bernama Luci itu mengangguk paham. Sedetik gadis itu memberanikan diri melirik Reza. Tak lama, karena lelaki di hadapannya itu terus menyoroti setiap inci tubuhnya dengan sorot mata yang begitu liar.
Bruk...
Tubuh Luci bergetar, saat Reza melemparkan borgol rantai hitam besar di hadapan Luci. Kepalanya terangkat, menatap dengan takut-takut ke mata Reza. Mencoba menyelidiki maksud keinginan tuannya.
"Buka heels mu. Dan kenakan itu." Reza berangsur berdiri. Mendekati Luci dan berdiri tepat di belakang tubuh gadis cantik berpipi merah itu.
Tangan kekar Reza dengan lembut mengumpulkan rambut pirang Luci, menggenggamnya dalam satu genggaman dan mulai mengepang rambut itu.
"Kau tau, Luci? Jones membawakan ku umpat yang salah hari ini. Aku tak mungkin menyakitimu terlebih dengan usiamu yang masih belia."
Jantung berdebar begitu hebat, saat Reza membisikan hal demikian tepat di telinga Luci. Tubuh gadis itu bahkan mengeliat geli bercampur nikmat yang belum pernah ia rasakan.
Sementara di luar ruangan, Jones duduk di sofa panjang besar yang menghadap langsung ke arah Black Room. Ia nampak begitu sibuk, membolak-balikkan berkas yang berada di tangannya.
Suara pekikan, jeritan, dan rintihan terdengar begitu menyayat hati terdengar dari dalam Black Room. Namun, itu tak serta-merta menganggu pendengaran Jones. Lelaki berusia tiga puluhan itu, terus bekerja tak memperdulikan jeritan minta tolong dari gadis yang tadi dia bawa.
"Sir?" Jones membuka pintu ruangan Black Room. Terlihat begitu sunyi dan sepi.
Bau anyir langsung menyambut indra penciuman Jones, saat ia masuk ke dalam ruangan. Jones melangkah lebih dalam, dan menemukan Luci tergeletak dengan bersimbah darah diatas ranjang. Keadaannya begitu mengenaskan; di beberapa bagian tubuh robek, bagian inti gadis itu mengeluarkan darah yang tak henti-hentinya, juga jangan lupakan wajahnya yang terlihat begitu berantakan.
"Kau seharusnya tak membawa gadis remaja itu kesini, Jones?" Reza muncul dari dalam kamar mandi, dengan wajah yang penuh dengan luka cakaran.
"Maafkan saya, sir. Saya pikir remaja akan membuat mood anda lebih baik."
"Lihat. Belum aku memulai permainan gadis itu sudah pingsan." Reza melemparkan handuk dengan noda darah yang begitu banyak ke ranjang pakaian kotor.
"Bereskan dia. Dan jangan bawakan aku seorang remaja lagi," lanjutnya dan kemudian mengenakan kembali pakaiannya dan beranjak pergi dari sana.
__ADS_1
"Baik, sir."
"Jadi apa yang kau temukan mengenai Joseph?"
Kini Reza berjalan menuju ruang kerjanya. Dia duduk di kursi kebesarannya dan bersabar menunggu jawaban Jones.
"Sir, saya menemukan fakta yang akan sedikit mengelitik anda."
Alis Reza saling bertautan.
"Joseph melarikan diri dari penjara kita sekitar empat setengah tahun lalu. Ia meninggalkan Inggris melalui pelabuhan-pelabuhan dengan menjadi penumpang gelap. Selama tiga bulan lamanya, akhirnya ia tiba di sebuah kota indah tempat banyak turis berwisata."
"Uhmm... Uhmmm biar ku tebak." Reza berdiri dari duduknya, menuangkan segelas minuman beralkohol. "Kota Bali?"
Kepala Jones mengangguk, sejurus dengan senyum yang tak kala memikat dari milik sang majikan.
"Selama dua bulan Joseph hidup di Bali dengan menjadi seorang gelandangan. Hingga akhirnya, ia membunuh seorang turis bernama Robert Robinson. Ia mulai melanjutkan hidupnya dengan nama baru dan status baru. Ia bekerja sebagai pengusaha obat-obatan dibantu dengan teman lamanya. Baru-baru ini juga, sebuah rumah sakit bernama Pyordova Hospital melaporkan kejahatannya, sir."
"Ah, Pyoradova... Uhmm maksudku Pyordova, pemiliknya baru saja menelpon dan akan datang ke sini untuk bertemu dengan ku. Dia akan membahas mengenai Joseph, ah maksud ku Robert." Reza menenggak habis minuman beralkoholnya dan meletakan gelas itu kembali ketempatnya.
"Anda mengenal tuan Leo, sir?"
"Tentu, dia temanku."
Kedua alis Jones saling bertautan, seperti tak percaya orang seperti majikannya memiliki teman. Terlihat seorang seperti Leo.
"Kau tidak percaya, Jones?"
"Uhmm..." Jones menggaruk-garuk kepalanya yang tak terasa gatal. "Saya hanya sulit percaya anda memiliki teman, sir."
__ADS_1
TO BE COUNTINUE...