
Stella kembali ke kamarnya setelah berbincang panjang dengan suasana creepy dari Reza. Tapi sebelum, dia benar-benar masuk ke kamarnya dirinya meminta sesuatu kepada Mrs.Wheels; di buatkan secangkir kopi latte, beberapa cemilan, dan di pasangkan saluran Netflix dan Disney di kamarnya.
Namun, sebelum Mrs.Wheels menyiapkan itu semua tentu dia harus mendapatkan izin terlebih dahulu dari Reza. Dan di luar dugaan, Reza tidak mengizinkan Stella untuk meminum kopi di tengah malam seperti ini, dan menganti cemilan dengan sepiring salad dan berbagai macam jenis buah-buahan.
Dirinya benar-benar tercengang, ketika semua pesanan datang dengan paket yang berbeda. Stella benar-benar kesal dan jengkel kepada Reza. Sudah, dia tidak mendapatkan sate padang keinginannya, sekarang untuk meminum kopi dan makan cemilan saja dia juga tidak boleh. Stella hanya dapat mengerutu kesal, sembari meremas baju tidurnya.
Saat, dia masih di runduk kekesalan karena sikap Reza tiba-tiba dering ponsel berbunyi. Ada sebuah notifikasi pesan Email yang di kirimkan oleh Chris. Segera, dia membuka pesan itu, tapi tidak melalui ponsel melainkan komputer. Karena, Stella menyakini jika Chris baru saja mengirimkan beberapa informasi mengenai keberadaan Keira, adik Anne.
Benar saja pikirnya saat Email itu di buka, Stella langsung menemukan file-file rahasia bersampul hitam polos yang Chris kirimkan. Bahkan untuk membuka file itu, Stella harus memasukkan tiga kata sandi keamanan berbeda-beda. Untungnya, Chris mengetahui ketiga kata sandi file tersebut. Karena jika tidak sudah pasti untuk akan menjadi pekerjaan tambahan untuknya yang pasti akan membuang waktu berharganya.
Matanya mulai fokus menatap layar monitor, ketika file yang dia klik terbuka. Ada beberapa dokumen di dalam file itu dengan judul dokumen berbeda-beda. Stella pak mengerti dengan bahasanya. Judul dalam dokumen ini di tulis dengan bahasa Ibrani Jelas itu bukan keahliannya. Tapi karena penasaran, Stella memutuskan untuk membuka dokumen itu satu persatu.
Dokumen paling pertama yang di buka berisikan sebuah informasi dari kawasan Italia barat tentang sebuah narkotik di seludupukan melalui laut Mediterania ke pesisir Afrika. Nama penerimanya adalah Solomon Stan. Seorang kartel Karkotik yang juga piagam saham ulung ilegal yang memiliki rumah besar, kapal pesiar super mewah, helikopter, dan jet canggih pribadi yang dian dapatkan dari hasil memeras orang-orang kulit putih kaya raya.
Stella tak mengerti apa hubungan Solomon Stan dengan keberadaan adik Anne. Apa mungkin Chris salah memberikannya informasi?
__ADS_1
Stella yang sebenarnya juga penasaran pun beralih ke dokumen yang kedua. Jika dokumen pertama berisikan data-data penting transaksi narkotika yang di lakukan mafia Italia dengan kartel narkoba Solomon Stan, di dokumen yang ke dua Stella menemukan foto-foto pertemuan yang dia yakini adalah Solomon dengan mafia Italia tersebut.
Foto pertama menunjukkan sebuah kapal pesiar super besar dan mewah yang bersiap berlayar meninggal laut Mediterania. Kapal itu berwarna putih dengan sedikit cat berwarna emas di tengah-tengahnya. Dan di ujung kapal terdapat nama yang Stella tidak asing 'Marco'.
Siapa Marco? Stella berusaha mengingat nama kapal yang dia yakini bukan pemilik asli pembuat kapal. Karena dia sendiri tau, jika kapal itu buatan jerman dan mengenal siapa penciptaan sesungguhnya. Namanya bukan Marco. Jelas, Stella tak mungkin salah.
Beralih pada gambar kedua, foto itu memperlihatkan aula besar di salah satu ruangan di kapal pesiar itu. Ruangan besar nan mewah yang juga banyak di kelilingi meja dan kursi. Yang membuat Stella terus memandangi foto itu, bukan karena dia mengagumi kemewahan kapal pesiar itu. Tapi karena adanya seorang pria berkulit hitam dengan perawakan gempal sedang berjabat tangan dengan pria berkulit putih.
Merasa belum menemukan petunjuk apapun, dia kembali ke foto yang ketiga. Namun, foto yang ketiga ini sukses membuat Stella membelalakkan matanya. Karena foto itu menunjukkan seorang pria berkulit hitam tengah duduk bersama seorang pria berkulit putih yang tak lain adalah Reza dengan di kelilingi penari telanjang.
Setelah meyakini kamarnya aman, dia kembali duduk dan memperhatikan detail foto itu. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya, yaitu seorang gadis yang dia yakinin masih belia tengah duduk dengan raut wajah murung di sebelah Reza. Pakaian begitu minim nyaris telanjang, wajahnya bermake-up full tapi Stella dapat menangkap gurat kesedihan dan kemerahan dari wajahnya.
Bukan tanpa alasan, Stella tertarik dengan wanita yang duduk di sebelah Reza. Pasalnya wajah wanita itu amat mirip sekali dengan seseorang. Anne.
Lagi-lagi, Stella berdecak. Tiba-tiba saja, kepalanya seperti baru saja di hantam oleh sebuah benda tak kasat mata. Sakit, pening. Dirinya benar-benar tak mengerti dengan teka-teki di depannya. Apakah mungkin, Reza sendiri mengenal Kiera?
__ADS_1
Masih mencoba menerka teka-teki yang ada, Stella beralih pada gambar yang keempat. Kali ini gambar memperlihatkan sebuah lorong sepi tak berpenghuni seperti di sebuah rumah sakit. Itu juga di perjelas dengan sebuah brankar atau tempat tidur dorong yang berada di sudut lorong. Di ujung foto tersebut, Stella menemukan sebuah catatan kecil yang berisikan tanggal di mana foto itu di ambil. 12-04-2017.
Itu empat tahun lalu...
"Sebenarnya apa ini semua?"
Tangan berjari-jari mungil itu menggeser papan mouse, menggeser layar monitor dan menunjukkan sebuah foto terakhir di dalam dokumen yang ke dua.
Sebuah ruangan tanpa jendela dan pentilasi udara sedikitpun dengan di tengah ruangan berdinding putih, beratap hitam, dan alas hitam sekumpulan para wanita muda berbaris dengan keadaan telanjang dan tubuh penuh luka cambuk.
Lagi-lagi, Stella tertegun melihat sosok Reza yang kini juga ditemani oleh Jones berada di antara para wanita-wanita itu. Bahkan, Stella pun terkejut melihat keberadaan Mrs.Wheels yang terlihat seperti seorang guru bagi para wanita-wanita itu dengan membawa papan kertas, dan sebilah kayu. Di ujung foto, Stella kembali menemukan sebuah catatan. Ruangan sterilisasi.
Stella menghempaskan tubuhnya untuk bersandar di kursi putar yang dia duduki. Sambil matanya tetap terpaku dan enggan teralihkan dari sisi monitor. Beribu pertanyaan muncul dalam benaknya. Tentang misteri dan kekejian apa yang selama ini Oxley General sembunyikan. Dan tiba-tiba saja naluri ke jurnalisannya mencuat.
"Apa yang kamu sembunyikan, Reza?"
__ADS_1
TO BE CONTINUE...