
Stella berjalan tergopoh-gopoh, mengikuti langkah kaki Reza yang lebar. Nyaris mampir terjungkal karena tak dapat mengimbanginya. Namun, untuk saja Reza menahan tangan gadis itu hingga dirinya tak benar-benar sampai terjatuh.
Reza menarik tangan Stella, menyeretnya dengan paksa tak memperdulikan ringisan yang keluar dari mulut gadis itu. Berang sudah mencapai tarafnya. Sungguh, sialan perasaan yang tiba-tiba datang menghampiri Reza. Dia tak pernah bisa menyentuh dan menyakiti Stella saat berada di dekatnya. Padahal, saat gadis itu tak ada dari pengelihatannya, jiwa serigala pembunuhan menguasai dirinya. Reza sungguh tak mengerti apa yang terjadi pada dirinya, dengan gadis itu.
Sepi menyergap, menyambut mereka ketika Reza tiba di ruangan rapat. Segera ia mendorong tubuh Stella untuk masuk lebih dalam, dan mengunci pintu ganda tersebut hingga tak ada satupun orang yang dapat masuk dan mendengarkan pembicaraan mereka berdua.
Kaki-kaki berbalut sepatu kets itu kembali merasa limbung dan bergetar. Bukan hanya kaki-kakinya saja, semua tubuhnya bergetar tak dapat ia tahan lagi. Mati-matian Stella melangkahkan kakinya mundur, saat Reza perlahan berjalan mendekati dirinya. Tanpa berkata sedikitpun, membuat rasa panik menderu dirinya semakin menjadi.
"Tell me, Stella Sasmita." Suaranya terdengar serak, dan begitu amat dingin.
"W... What?"
"Katakan padaku, jika kau bukan penjahat yang bekerjasama ingin menjatuhkan ku." Masih terus berjalan mencoba mendekati Stella, dengan tatapan mata tajam bak seekor singa yang siap menerkam dan mencabik-cabik mangsanya.
Bruk...
Tubuh Stella membentur dinding. Tanpa menyia-nyiakan keadaan, Reza segera menghambur menahan setiap pergerakan Stella dengan kedua tangannya. Kini tak ada lagi jarak antara mereka. Baik Stella maupun Reza, bahkan sama-sama dapat menghirup aroma tubuh masing-masing.
"Tell me, Stella. That you're not a criminal!"
Dengan kasar Stella mendorong tubuh Reza. Dia melangkah menjauhi lelaki itu dengan raut wajah merah membara.
Mereka seperti dua orang bodoh, pemarah, keras kepala saling melotot satu sama lain.
__ADS_1
"I am not criminal, Mr.Oxley!" bentak Stella keras.
"Jika kau bukan penjahat, lalu apa?" Reza mendekati Stella. Bersih tatap dengannya sambil menunjukkan wajah tak kalah merah membara menahan marah. "Atau seorang jal*ng, huh? Yang telah berhasil melumpuhkan semua anggotanya karena telah melecehkan mu selama lima tahun? Menjebloskan mereka semua ke penjara dan menganti indentitas menjadi orang lain? Cih." Reza meludah kasar di depan Stella. "I no you, Stella!"
"Saya juga tau kamu siapa..."
"Ya. Jelas kamu tau! Kamu sendiri yang telah mencuri data pribadi saya, menjualnya kepada Big Bos pimpinan Esocial dan menuduh Joseph sebagai pelakunya."
Deg...
Seketika tubuh Stella berubah menjadi batu es. Apa segampang itu, Reza dapat mengetahui dirinya? Tidak. Dia menggelengkan kepala menyakinkan diri. Tidak mungkin Reza mengetahui itu dia. Pasti lelaki di depannya sedang menggertakan dia saja. Iya. Reza tidak mungkin tau, jika Stella lah dalang dari pencuri data miliknya. Dia sudah menjalankan program sesuai rencana. Memakai proxy hebat yang dapat menyembunyikan alamat id-nya menjadi anonim atau tak terbaca. Dia bahkan sudah begitu apik, menaruh alamat Id-nya Joseph di sana yang seakan-akan memang Joseph lah dalang dari semua itu. Tidak mungkin, jika Reza mengetahuinya dengan mudah.
"Kenapa? Kau binggung mengapa aku bisa melacak mu begitu cepat, Stella?"
Reza memutar tubuhnya. Kembali pandangan mereka saling bertemu dan mengunci. Beku semakin kian mendera pada diri Stella, ia bahkan seperti tak dapat lagi merasakan otot-otot sendinya sendiri. Apa mungkin mereka tiba-tiba lumpuh?
"Jangankan untuk melacak keberadaan mu Stella. Memusnahkan satu negara pun aku bisa." Suara terdengar begitu dingin mencekam. Ada beberapa kata yang seperti sengaja ia tekankan.
"Kau jal*ng." Mata Stella berkaca-kaca menatap Reza. Hatinya begitu sakit. Amat sakit, mendengar Reza mengatainya seperti itu. "Kau hanya seorang pencundang yang berkerja untuk para kriminal. Kau menikmati bukan posisimu dulu, menjadi budak seks dari mereka semua, dan menuruti keinginan mereka untuk mencuri..."
PLAK...
Satu tamparan keras mendarat mulus di pipi ramping Reza. Seketika darah menetes di ujung bibirnya yang sedikit berwarna gelap akibat rokok. Dia tersenyum, mengelap dengan hati-hati darah itu.
__ADS_1
"Aku memang yang sudah mencuri data mu, aku juga memang yang telah memfitnah Mr.Robinson untuk menutupi kejahatan ku. Tapi jika, kau menuduhku menjadi dalang kerusuhan pagi ini dengan bergabung dengan Esocial kau salah, Reza!" Air mata tak dapat lagi di bendung oleh Stella.
"Aku tau perbuatan ku salah. Aku tau aku hanya seorang pencuri amatir, yang meraup keuntungan dari dirimu. Tapi kau tidak pantas untuk menghina ku seperti itu. Kau tidak tau bagaimana semenderitanya aku, di penjara, dikurung, bahkan di pasung untuk melayani mereka semua. Kamu tidak tau, bagaimana rasanya otakku di suruh bekerja menghapal semua sistem jaringan di usiaku yang masih belia. Kamu tidak akan pernah tau." Stella memukul-mukul dada bidang Reza. Tak perduli lagi jika ia sedang berhadapan dengan siapa. Hatinya begitu sakit. Amat sakit, mendengar penghinaan yang keluar dari mulut Reza. Lupakan jika dia pernah berkata Reza berbeda dengan sang ibu, Liliana yang memiliki rasa hormat dan sopan satu tinggi. Nyatanya hari ini, dia melihat sisi lain yang lebih mengerikan dari Liliana pada sosok Reza. Bukan hanya dapat membunuh menggunakan tangannya, lelaki itu mampu membunuh menggunakan mulut dan kata-katanya juga.
"Kau tidak akan pernah tau rasanya di hantui oleh mimpi-mimpi dari masa lalu mu setiap malam. Kau tidak akan pernah tau rasanya menjadi orang yang dianggap kurang waras, dan harus ke psikiater setiap minggu. Kau tidak pernah tau rasanya ketakutan, saat memikirkan manusia-manusia bedebah itu keluar dari dalam penjara dan mencari mu. Aku hanya ingin bebas, mencari jalan ku sendiri dan hidup normal seperti orang lain. Bukan seperti ini..."
"Tapi kau tidak perlu melakukan itu Stella..."
"Tidak perlu apa?" Teriak Stella semakin keras. "Mencuri data mu, rahasia gelapmu? Senjata pemusnah massal yang sedang kau ciptakan?"
Mati-matian Reza menahan geram di dadanya. Benar sudah, jika Stella dalang di balik pencurian data pribadinya. Stella bahkan mengetahui senjata yang sedang ia ciptakan. Sial.
"Iya. Kau tidak seharusnya berbuat seperti itu. Kau masih bisa mencari perlindungan kepada peme..."
"Orang-orang seperti mu tidak akan pernah menganggap ku ada." Potong Stella. Kening Reza mengerut binggung dengan ucapannya.
"Large hadro collider 61 miliar, james webb space telescop 140 Triliun, Arleigh burke DFG 41 destroyer 1.39 kuadtriliun, internasional space station 2 kuadtriliun, pendaratan manusia di mars 7 kuadtriliun, dan F-35 Lightning II 20.4 kuadtriliun. Sains, teknologi, dan senjata mereka ciptakan dengan nominal sebegitu besarnya dengan mengeruk uang rakyat, dengan pajak-pajak tertentu mengatasnamakan perdamaian dan kesejahteraan dunia. Tapi nyatanya, melihat gembel di tengah jalan aja mereka bilang sampah negara. Bagaimana denganku, seorang penjahat cyber? Cih." Stella tersenyum kecut, menghapus airmatanya dengan kasar dan meraih tas jinjingnya. "Jangan pernah mengatasnamakan perdamaian dan kesejahteraan dunia, jika semua hasil ciptaan mu dan orang-orang besar lainnya malah justru makin membuat rakyat menderita. Aku hanya seonggok sampah, yang memiliki hati lebih baik di bandingkan denganmu. Membebaskan dunia dari keserakahan tirani seperti kalian. Menciptakan dunia yang benar-benar damai dan sejahtera. Orang besar seperti mu dan para penjabat negara tidak akan pernah melihat wanita lemah seperti ku. Mereka hanya akan berbuat baik untuk pencitraan dan nama baik mereka, setelah itu aku mati di jalanan pun takkan ada satupun dari mereka yang perduli. Maka dari itu, aku bertekad membebaskan dunia dari orang-orang munafik seperti mu." Berjalan dan meninggalkan Reza yang tercengang di dalam ruangan rapat seorang diri.
TO BE COUNTINUE...
NP
Hello guys aku mau kasih sedikit informasi mengenai jalan ceritaku. Buat kalian yang nungguin Reza bucin sama Stella rasa-rasanya gaakan ada di novelku. aduh Authornya udah langsung bikin down pembaca...
__ADS_1
Gini ya guys, dari awal aku memang bikin genre ini itu lebih menonjol ke sisi crime, cyber atau hacker dan psikolog. Tapi bukan berarti gaada unsur romance di ceritaku. Ada, liat kan sinopsisnya bahkan akan ada cinta segitiga antara Reza, Stella, dan Judika. Tapi sayangnya, ceritaku gaakan sama seperti cerita Mafia lainnya yang bakal bucin pake banget sama seorang wanita. Jadi yang nungguin aku bikin scene Reza bucinin Stella kayanya gaakan ada, Reza punya cara sendiri buat bikin Stella jatuh cinta sama dia. Mereka sama-sama memiliki satu bakat yang ga di miliki oleh orang lain yakni jenius teknologi, jadi kisah mereka akan berbeda dengan cerita-cerita mafia lainnya, dan gaakan kalah seru karena akan ada rintangan juga pelajaran hidup yang patut di jadikan teladan. 🙏🙏🙏