
Di tempat duduk itu Stella masih terdiam ternganga dengan ucapan Reza. Menerka-nerka di dalam pikirannya apa yang bakal di lakukan oleh Reza saat bertemu dengan Chris nanti. Apakah Chris akan di pasung? Di pecut? Atau justru malah di bunuh? Seketika Stella tersentak sendiri dengan pikiran-pikiran negatif thinkingnya.
"Apa yang kau pikirkan?" Reza yang menangkap gelagat mencurigakan dari Stella bertanya sambil menatap wajah wanita itu dalam.
Kepala Stella menggeleng cepat, tangannya terjulur dan membekap sendiri mulutnya ketika sekelebat bayangan tentang Chris yang kesakitan karena di siksa Reza menari-nari di dalam benaknya. Sungguh, Stella takkan pernah bisa membayangkan jika sesuatu terjadi kepada Chris. Dia pasti akan menyalahkan dirinya sendiri karena penderitaan yang Chris alami.
"Ka... Kau tidak akan membunuh Chris, kan?" pelan namun lantang Stella bertanya dengan degup jantung yang melompat-lompat begitu keras bak seekor kodok sawah.
"Kau pikir aku segila itu."
Lega, Stella menghela napas panjang. Syukurlah ternyata Reza masih memiliki hati kepada adiknya sendiri.
"Tapi mungkin akan ku patahkan dua di antara kaki dan tangannya."
Mata Stella membeliak sempurna mendengar ucapan Reza yang di ucapan kan tanpa beban sama sekali. Lelaki bertinggi badan 175 CM itu juga bahkan memarkan senyuman mengerikan namun memikatnya.
"Kau benar-benar akan melakukan itu kepada, Chris?" Dahi Stella mengerut menyerupai anak busur. Dia bahkan sampai menelengkan kepalanya untuk menatap Reza dan tak sabaran menunggu jawaban darinya.
Reza menoleh, dan saat itu juga pandangan mereka saling bertemu dan saling mengunci.
"Dia adikku. Sudah sepatutnya aku menghukumnya jika dia berbuat salah. Dan itu sudah di ajarkan oleh keluarga sejak dari dulu." Suara Reza terdengar begitu dingin hingga menusuk hati Stella. Tubuh, Stella seketika membeku dan tidak mampu berkata apapun lagi. Dia memilih untuk diam dan menganggukkan kepala. Memilih aman dari lelaki di depannya daripada harus berdebat yang tentu akan di menangkan oleh Reza.
Ketika mereka berdua masih tetap diam saling melemparkan pandangan, tiba-tiba dari arah belakang Jones muncul dengan membawa sebuah tablet di tangannya. Dia menghampiri Reza yang sudah berdiri dan bersiap pergi dari sana. Memberikan tablet yang entah berisikan apa, namun jelas berhasil membuat Stella di runduk rasa penasaran.
"Kau sudah mencari tahu siapa pemiliknya?" tanya Reza kepada Jones.
"Mereka mengkamuflase Id menjadi anonim yang tersebar di berbagai wilayah. Kami benar-benar sulit menemukan dimana lokasi asli mereka."
Menghela napas panjang, Reza mengusap wajah kasar. Tak perduli seberapa berbahaya dan sensitif kedua orang di depannya, Stella bangkit dari duduknya berjalan dan berhenti tepat di sebelah Reza lalu melihat apa isi di dalam tablet yang sedang mereka bicarakan.
Itu sebuah peta, yang beberapa wilayah di dunia sudah di titik merahkan. Seperti sebuah lokasi yang sudah di tandai.
"Kalian memburu Esocial?" tanya Reza di sela-sela diskusi antara Reza dan Jones.
Kedua lelaki itu seketika menoleh menatap Stella yang masih tepekur melihat tablet di tangan Reza.
"Aku tau bagaimana menemukan mereka," lanjutnya yang langsung membuat Reza dan Jones tersentak kaget.
"Kau yakin, Stella?"
Kepala Stella mengangguk mengamini.
"Aku yang menciptakan virus itu. Tentu aku tau caranya melacak virus itu di kendalikan."
Pandangan Reza beralih menatap Jones. Jones berdehem, beringsut lalu berbisik di telinga Reza
"Sir, apakah nona jurnalis ini punya jimat yang mematikan? Dia baru saja mengakui dosanya di depan kita, tapi entah mengapa aku sulit untuk marah padanya. Apa aku termasuk yang terkena pelet olehnya?"
Mata Reza mendelik. Ucapan mistis dan tahuyul sesungguhnya datang dari asistennya pribadinya yang nyentrik itu. Entah mengapa, rasanya sulit sekali untuk Jones tidak berpikir negatif kepada Stella. Seperti, baginya tak ada yang baik pada diri Stella.
Reza menolehkan kepala. Kini gantian, dia yang berbisik di telinga Jones.
"Tutup mulut mu, atau malam ini kau tidur bersama Abraham!"
Kelakuan kedua lelaki mafia yang terlihat aneh itu tentu mengundang reaksi penasaran Stella. Di tatapannya secara bergantian wajah Reza dan Jones dengan tatapan wajah binggung bercampur penasaran.
__ADS_1
"Apa orang besar seperti jika berdiskusi akan berbisik-bisik seperti itu?" seru Stella yang mana membuat keduanya terjinjit kaget.
Menjunjung tinggi harga dirinya, Reza yang sebenarnya terkejut bukan main karena seruan Stella yang secara tiba-tiba hanya menjawab dengan deheman seraya mengembalikan tablet kepada Jones. Dia melangkah meninggalkan Jones dan Stella yang masih termenung kikuk di tempat.
"Sebaiknya nona ikut dengan kami," pungkas Jones sebelum kemudian melangkahkan kaki menyusul Reza.
Tak mau di tinggal seorang diri di kastil indah namun menyeramkan itu, Stella berlari menyusul keduanya. Reza yang melihat Stella berlari langsung menarik lengan wanita itu untuk berhenti.
"Kau mau mati, ya!" Tubuh Stella menegejang takut. "Kau ini sedang hamil. Bagaimana bisa kau lari-lari seperti atlet marathon?"
Apa sih pria ini. Kenapa berlebihan seperti itu.
Tak ingin masalah menjadi panjang, karena tau siapa yang dia lawan. Stella lebih memilih untuk meminta maaf dan menyesali perbuatannya. Dan, respon Reza sungguh sangat mengejutkan. Karena tak ingin terjadi apa-apa dengan janin di kandungan Stella, dengan sigap Reza langsung mengangkat tubuh Stella. Menggendongnya ala bride dan membawanya masuk ke dalam helikopter yang telah siap mengudara.
"Mr.Oxley apa yang lakukan? Turunkan aku, akhhh." Stella berusaha memberontak, tapi tenaga tentu kalah jauh oleh Reza. Seperti orang yang sedang mengangkat barang tanpa beban, Stella seperti begitu kecil dan ringan sekali untuk Reza. Dirinya bahkan mampu melewati dua anak tangga sekaligus sambil menggendong Stella.
"Kau ringan seperti kapas. Jones malam ini carikan makanan terbaik untuk ibu hamil. Aku tidak ingin anakku kekurangan gizi."
Mata Stella membulat, mendengar perkataan Reza. Tak terima Stella mengerucutkan bibirnya sambil bersedekap dan tak lain memberontak.
"Kau pikir aku tidak mampu membeli satu kotak susu hamil atau makan-makanan sehat lainnya. Gajiku besar tau."
"Apa itu cukup membuat mu tinggal dan kabur dari Abraham?"
Stella diam membisu. Tentu jawabannya tidak. Sebesar-besarnya gajinya menjadi jurnalis, tidak akan cukup untuknya pergi, menetap, dan bersembunyi dari kejaran Abraham. Dia juga tidak perlu menjual apartemen melalui Michael.
"Cih," Reza berdecak dan tertawa. "Tentu jawabannya tidak."
Roger Rambo helikopter berwarna putih dengan tulisan Oxley General di bagian sayap membuat Stella yang masih berada di gendongan Reza berdecak tak percaya. Sekali dalam hidupnya dia baru pertama kali melihat helikopter pribadi yang begitu bagus, mewah, dan tentunya mahal.
"Apa kita akan naik ini?" tanya Stella sedikit berteriak.
"Tidak memungkinkan untuk kita naik mobil di kondisi kota Manchester yang masih mencekam." Tak mau kalah, Reza juga menjawab dengan suara yang sedikit meninggi.
"Kau akan membawa ku kemana? aku tidak akan dieksekusi, kan?"
Sebuah senyuman licik terbingkai indah di bibir Reza. Jones membukakan pintu helikopter dan segera Reza mendorong Stella untuk masuk ke dalam helikopter.
"Kau akan ku kurung dalam apartemen ku." Menutup pintu helikopter dengan meninggalkan jejak senyuman yang berhasil membuat Stella terkesima dan terkejut.
Mengurung ku? Apa dia gila!
Duduk dengan tubuh bergetar, mata Stella terus mengawasi Reza dari dalam helikopter yang sedang berbincang dengan Jones asistennya. Sekejap pikiran untuk melarikan diri terlintas dalam benak Stella. Tangannya terulur hendak membuka pintu helikopter. Namun, sial pintu itu terkunci otomatis dan sedikit menciptakan dentuman yang membuat kedua orang yang sedang berdiskusi menoleh dan menatap Stella.
"Sepertinya nona jurnalis itu masih memiliki niatan untuk melarikan diri." Jones berkacak pinggang memperhatikan Stella yang pura-pura duduk terdiam tidak melakukan apapun.
"Ayo, lebih baik kita pergi hari semakin gelap."
Jones dan Reza beranjak masuk ke dalam helikopter. Reza duduk di sebelah Stella, sementara Jones bertugas mengendarai helikopter malam itu.
"Pakai sabuk pengamanan mu, jika kau tidak ingin aku dorong dari atas helikopter."
Buru-buru, Stella meraih sabuk pengaman yang berada di sisi kanan kiri tubuhnya. Memasang kedua sisi hingga membentuk huruf X.
Melihat kepatuhan Stella, membuat Reza tersenyum dan tergelak dalam hati. Jones yang melihat tingkah laku tuannya hanya mampu menggelengkan kepala saja.
__ADS_1
Pesawat mengudara meninggalkan kastil. Saat pesawat itu mulai terbang dan melayang di udara refleks Nadila menyentuh tangan Reza, mengenggam erat-erat sambil memejamkan mata berkomat-kamit membacakan mantra ajiguna.
"Kau takut?"
"Aku terbiasa naik pesawat, tapi helikopter benar-benar kali pertama untukku." Dia masih memejamkan matanya saat menjawab pertanyaan Reza. Enggan membuka mata karena takut melihat ketinggian dari dalam sana.
"Oke menara, PDX ini adalah Roger Rambo ganti. Siap untuk lepas landas ganti."
Suara Jones yang sedang melakukan pertukaran informasi kepada pengatur lalu lintas udara sukses membuat Stella membuka mata. Dia menatap punggung Jones dalam, fokus mendengar setiap kata yang keluar dari mulut asisten pribadi Reza itu
"Ok Roger Rambo, kau bebas lepas landas harap konfirmasi tujuanmu, ganti."
"Alderley Edge, ganti."
"Ok, Roger kau bebas lepas landas, ganti."
Mulut Stella ternganga tidak percaya saat mendengar Jones menyebutkan salah satu tempat paling terkenal di Manchester.
Ya Tuhan, apakah Reza memiliki hunian di desa itu? Stella bermonolog dalam benaknya. Dia amat begitu senang mendengar Jones akan membawa mereka ke tempat itu. Sebuah hunian seperti desa yang terkenal elite tempat para mega bintang sepak bola Inggris. Sebut saja Van gaal, Michael Carrick, Rio Ferdinand, dan Mario Balotelli. Meskipun Stella tak yakin, apakah hingga saat ini para pemain bola itu masih tinggal di sana atau tidak. Tapi jelas, dia tahu betul jika hunian di Alderley Edge bukanlah hunian kaleng-kaleng.
"Mr.Anderson, apakah kita benar-benar akan pergi ke Alderley Edge?" Kepala Stella mendongak mendekati Jones.
"Iya nona. Untuk sementara waktu kau akan tinggal di rumahku, hingga menemukan Tuan Christopher."
"Ahhh..." Stella mengangguk-angguk kepalanya kembali menyenderkan tubuh, masih dalam posisi tidak sadar tengah menggengam tangan Reza.
Hilang rasa takut karena ketinggian, kini Stella tepekur melihat Jones dengan lihai mengendarai helikopter. Sesekali, dia bahkan berdecak terkagum-kagum akan kelihaian Jones yang begitu mengerti dengan kemudi helikopter yang katanya buatan Oxley General sendiri.
"Woaw..." Tersenyum masih terkagum-kagum melihat Jones mengemudikan helikopter.
Sedangkan di sebelah, Reza hanya berdiam diri memandang ke luar jendela helikopter dengan pikiran melayang entah kemana. Jujur saja, ucapan Stella mengenai Chris yang sudah menikah dan di manfaatkan oleh istrinya kini mengganggu pikiran Reza.
Dia begitu tidak percaya dengan situasi yang sedang di hadapinya kini. Reza tak pernah menyangka, Chris yang selalu bersikap hormat, humble, dan perhatian, serta menyayanginya ternyata juga banyak menyimpan luka karenanya. Pusing, Reza memijat kepalanya. Rasa-rasanya, sakit kepala yang di deritanya akan kembali menyerang dia malah ini. Untuk meredakan sakit kepala yang mulai mendera, Reza menyandarkan tubuhnya, memejamkan mata dan membiarkan tangannya di genggam oleh Stella.
Helikopter mendarat, tepat di sebuah rumah mewah bak istana berlantai 4 yang begitu megah dengan panduan warna hitam, putih, dan emas.
Saat baling-baling pesawat berhenti berputar, saat itu juga Stella baru menyadari jika sedari tadi tangannya menggengam tangan Reza. Dia menggerutu, menggigit bibir bawahnya sambil memandangi wajah teduh Reza yang sedang terpejam.
"Nona, kita sudah sampai." Suara berat Jones, berhasil membuyarkan lamunan Stella. Kepala Stella pun menoleh, melihat Jones yang sedang melepaskan perlatan yang menempel pada tubuhnya.
"Mr.Anderson, apakah kita biarkan saja Mr. Oxley tidur disini."
"Turunlah nona, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan terlebih dulu dengan Mr. Oxley."
Meskipun binggung dan penasaran sesuatu apa yang ingin di bicarakan oleh Jones, tapi Stella lebih memilih patuh dan mengikuti intruksi Jones.
Di bukannya sabuk pengaman berbentuk X yang melekat pada tubuhnya dan sedikit membuatnya sesak, kemudian di raih tas jinjing yang sedaritadi dia bawa-bawa lalu melompat keluar dari dalam helikopter saat pintunya terbuka otomatis.
Sebenarnya mereka berdua ingin membicarakan apa sih? Jangan sampai mereka ingin bicarakan bagaimana caranya mengeksekusi ku.
Menoleh-noleh ke arah helikopter dan berusaha mendengar pembicaraan antara Jones dan Reza. Namun, entah karena helikopter tertutup rapat atau memang sengaja di dalamnya di pasangkan peredam suara membuat, Stella sama sekali tidak dapat mendengar pembicaraan mereka.
"Apa yang kita harus lakukan, sir?" Jones sudah mengubah posisi duduknya. Memandangi patuh penuh hormat kepada Reza yang masih memejamkan mata.
"Suruh Stella mencari keberadaan anggota Esocial. Dan habisin mereka di tempat. Seret Christopher dan Anne kepadaku, biar ku putuskan sendiri apa yang akan ku lakukan kepada mereka."
__ADS_1
TO Be continue...