
Derap langkah kaki Stella begitu berat menujuh meja komputer. Dalam diam, dia menundukkan kepalanya sambil tetap berjalan dengan pistol yang di todongkan ke kepalanya. Sekali dalam hidupnya, kini dia merasakan begitu berat hati itu melakukan kejahatan cyber. Dia tak rela dan tak sudi menghancurkan perusahaan orang yang dia cintai. Tapi mau bagaimana? Kaka perempuannya dalam bahaya. Keluarga satu-satunya yang dia punya akan jadi korban jika Stella tak mau melakukan itu.
Di tariknya kursi putar berbantalan empuk. Dia duduk, menarik napasnya dalam-dalam dan mulai mengalahkan komputer.
Matanya melirik ke kanan dan kiri. Sial, Stella takkan bisa bekerja dengan dua pistol yang setia menempel di kepalanya.
"Bisakah kalian menurunkan senjata kalian? Aku benar-benar merasa terganggu dengan mereka." Stella tetap berusaha tenang. Meskipun di dalam hatinya dia sudah menangis darah karena akan melakukan hal gila ini.
Mata Sebastian dan Tyler menatap Anne. Mendengar ucapan Stella, dan sikap Stella yang menurutnya benar-benar akan menuruti kemauannya Anne pun memberikan instruksi dengan anggukan kepala untuk Sebastian dan Tyler menurunkan senjata mereka.
Lega, Stella kembali menghela napasnya karena pistol sialan itu sudah turun dari ke kepalanya. Tangannya pun terjulur, menekan-nekan tombol keyboard dan mulai menjalankan program untuk membuat virus Friday 13.
"Kau harus ingat, Anne." Stella berkata dengan pandangan yang teralihkan dari layar monitor. "Virus ini akan menguntungkan juga merugikan mu."
"Apa maksudmu, huh?"
Stella mendengus jenggah, sambil tetap bersabar dan fokus dengan apa yang dia kerjakan. Wanita ini, benar-benar tak tau apapun dengan dunia cyber. Pikir Stella.
"Tak ada Debugging yang bisa mengurangi kerusakan akibat virus ini. Kau bisa menjalankan apapun sesuai kemauan mu. Mengalihkan seluruh lalu lintas internet Oxley General, termasuk mengambil alih semua produksi persenjataan dan... Kode nuklir. Sayangnya untuk menjalankan virus ini aku tidak bisa menggunakan jaringan TOR (the onion router) setelah mereka semua mengetahui Bug yang ada di dalam jaringan mereka kalian semua akan... Boom. Tertangkap."
"Kau mau mati, huh?" Geram dengan ucapan Stella tanpa merasa bersalah dan takut sedikitpun, kembali Sebastian mengarahkan pistolnya ke kepala Stell. "Ada lima peluru di dalam sini, yang bisa melubangi kepala mu."
Stella menghela napas, menghentikan aktivitasnya dan menyenderkan bahunya di kursi putar.
"Kau pikir aku takut dengan ancaman mu, Bas? Dulu dimana tempat ku berasal, setiap harinya aku melihat tubuh teman-teman ku di kuliti di depan mata kepalaku sendiri. Pistol itu, haha hanya sebuah mainan tak berguna bagiku."
__ADS_1
Degup jantung Stella berdebar cukup keras. Dia melirik ke arah Sebastian diam-diam, berharap sikap angkuh dan percaya dirinya mampu membuat Sebastian takut.
"Kalian Esocial, kan? penjahat cyber terbesar kedua setelah anonymous. Lalu untuk urusan seperti ini kalian tidak mengerti? oh come on bro, semua kejahatan tidak ada yang sempurna termasuk apa yang kita buat ini. Kalau kalian mau aku menjalankannya akan ku lanjutkan, tapi kalian harus menerima keuntungan dan kerugian virus ini. Jika tidak, ya sudah." Stella bersedekap. Diam dan tidak melanjutkan aktivitasnya membuat virus.
"Buat virus itu sekarang." Tiba-tiba Anne merebut senjata milik Tyler mendorong isi peluru di dalam pistol dan siap menarik pelatuknya. "Aku tidak perduli jika setelah ini Reza menemukan ku."
"Anne kau gila?" Sebastian melotot tak percaya dengan ucapan Anne. "Kita semua akan mati di tangannya."
"Aku sudah lama mati, Bas. Dan jiwa ku akan tenang jika aku telah berhasil menghancurkan Oxley General."
Terdiam semua anggota Esocial di sana tertegun. Mereka semua tak percaya jika Anne akan mengorbankan diri mereka untuk dapat menghancurkan Oxley General dan membalaskan dendam yang selama ini bersemayam di dalam dirinya. Tidak! Sebastian tidak ingin mati sia-sia dan mengenaskan di tangan Reza. Lelaki berbadan kekar dan berotot besar itu menurunkan senjatanya. Menyembunyikan senjatanya di balik bahu besarnya.
"Kau sudah gila, Anne."
Anne tersenyum kecut, dan Stella hanya mampu melirik secara diam-diam.
"Ya. Aku akan mundur. Siapa yang mau ikut dengan ku? Mari kita pergi, dan jangan sampai nyawa kalian sia-sia hanya untuk wanita penuh dendam itu." Tubuh Sebastian berbalik hendak melewati pintu keluar, tetapi tiba-tiba
Dor...
Tubuh Stella bergetar hebat, ketika suara tembakan memekakkan telinganya, satu peluru melesat melewati dirinya. Tubuh sebastian roboh seketika, ketika kepalanya tertembak oleh pistol yang di pegang Anne.
"Siapapun yang berani keluar dari dalam sini, akan menyusul Sebastian ke alam barkah."
Stella tertegun, dia tak dapat lagi menyembunyikan rasa takutnya. Wanita itu... Anne bukanlah wanita sembarang. Mungkin dia tak alih dalam dunia hacker atau Cyber, tapi untuk urusan senjata wanita itu tak dapat di ragukan lagi.
__ADS_1
"Lakukan sekarang, Stella. Atau..."
"Oke... Oke aku akan buatkan virusnya tapi jangan ada mayat lagi di depan mataku. Uhhh, itu menjijikkan." Kepala Stella menggeleng jijik, melihat darah yang mulai membanjir lantai tanah di depan matanya.
Kembali Stella melanjutkan pekerjaannya. Mereka yang berada di dalam sana memperhatikan setiap detail apa yang sedang Stella buat. Saat virus itu hampir selesai, dia melirik kepada para anggota Esocial lainnya. Mereka seperti sedang memberikan kode satu sama lain termasuk kepada Stella. Namun, sialnya Stella tak mengerti arti kode yang mereka tunjukkan.
Pada saat yang bersamaan juga, tiba-tiba dering ponsel milik Anne berbunyi. Dia merogoh sakunya dengan tangan sebelah kiri, sementara kanan satunya masih setia menodongkan pistol ke kepala Stella. Anne mendengus kesal, saat tau Chris yang menelpon dirinya Dia pun menurunkan senjatanya berjalan keluar ruangan seraya berkata "Awasi dia, aku masih tidak percaya dengan anggota Cyberfriend sepertinya."
Mulut Stella mengerucut sebal. "Aku bukan anggota Cyberfriend."
"What ever!"
Selepas kepergian Anne, diam-diam Stella menutup tab bar pada layar. Login ke sebuah akun chat rahasia antar Hacker. Dia mengirimkan sesuatu kepada sebuah akun dengan nama 'WolfMan' sebuah kode red yang berarti pertolongan.
Sadar jika semua anggota Esocial lainnya mengetahui apa yang dia lakukan tetapi tetap bungkam, kedua bahu Stella terangkat "Aku akan memasukkan lokasi persembunyian Esocial dan DNS milik Anne disini. Setelah ini kalian bisa kabur dan pergi. Aku berjanji, kalian bersih dari keterlibatan virus ini... uhmm, sama dengan ku."
Serentak kepala anggota Esocial mengangguk paham, tidak kecuali Tyler. Mereka mendukung rencana Stella.
Melihat Anne yang kembali, buru-buru Stella menutup tab bar di layar monitornya dan kembali ke website rahasia yang di gunakan untuk membuat virus. Dia sedang mengunduh sesuatu dari sana, Anne memperhatikan dengan detail.
"Virus ini sudah selesai ku buat. Mereka sedang mengunduh diri mereka ke lalu lintas internet Oxley General. Setelah unduhan virus ini selesai, kau hanya tinggal menekan tombil enter untuk menyebarkan virus itu dan mengendalikan Oxley General." Stella menjelaskan panjang lebar kepada Anne.
Tapi anehnya, wanita itu bungkam seribu bahasa. Merasa ada yang aneh, Stella pun menghentikan pekerjaannya dengan perlahan tubuhnya menoleh. Namun, saat tubuh itu belum sepenuhnya menoleh untuk melihat apa yang terjadi tiba-tiba saja kepalanya di hantam oleh sebuah gagang besi panjang. Seketika, Stella terjatuh ke lantai dan kepalanya mengeluarkan darah. Pening menjalar kembali memenuhi kepalanya, dia berusaha untuk tetap terjaga. Sebelum dirinya benar-benar kehilangan kesadaran, samar-samar dia melihat Anne yang berdiri bersebelahan dengan seorang lelaki melempar senyuman penuh kemenangan seraya berkata.
"Tugasmu selesai di dunia ini, Stella. Kau akan menyusul orangtua mu."
__ADS_1
Tamat...