
Berdiri dari duduknya, Reza berjalan menujuh meja kerjanya. Di sana sudah terdapat banyak sekali barang-barang miliknya. Dia duduk kembali, di kursi putar yang sangat empuk dan tangannya melambai menyuruh Jones untuk mendekat.
"Kau perhatikan apa yang ku lakukan," Reza berkata dengan tangan yang menunjuk ke arah komputer yang sudah menyalah.
"Aku mengirimkan sebuah hack," dia melanjutkan. "untuk memonitor semua aktivitasnya. Baik, Chris, Judika, maupun Stella."
Bagaimana bisa, Reza melakukan itu? Jones berpikir keras. Untuk beberapa alasan bekerja dengan Reza memang bukanlah keahliannya, dia bukan hanya gaptek akan teknologi tetapi semuanya termasuk dunia cyber seperti yang Reza jelaskan.
"Sorry. Aku tidak mengerti, sir." Pelan Jones berkata. Raut wajahnya menunjukkan kekecewaan dan penyesalan amat dalam.
Tapi, Reza mengerti dengan kelemahan asistennya itu. Dia tak marah, tidak ada alasan untuk Reza marah dengan kapasitas otak Jones yang memang sulit menyaring pelajaran tentang dunia teknologi. Baginya, Jones tetaplah anak buah kepercayaannya yang paling bisa dia andalkan.
"Kau ingat, saat terakhir kali Chris mengirimkan kabar kepadaku?"
Kepala Jones mengangguk mengamini. Tentu, dia mengingat hari itu. Hari dimana, Chris mengirimkan sebuah pesan panjang kepada Reza yang meminta ijin dirinya untuk menikah dengan seorang wanita bernama Anne di Afrika. Dan, setelah surat itu di terima, Chris tak lagi muncul dan mengirimkan pesan kepada Reza. Seperti di telan bumi, lelaki itu hilang entah kemana.
"Aku melacak keberadaannya, yang katanya dirinya berada di Afrika. Namun, kenyataan dia berada di Manchester kala itu, dan ini lokasinya." Telunjuk Reza menujuk sebuah di monitor yang menunjukkan sebuah peta negara Inggris. "Aku mengutus seseorang untuk melacak dan melihat keadaan Chris, dan aku menemukan fakta jika Chris bertemu dengan Esocial."
"Sir, bukankah Esocial sebenarnya sudah tidak ada semenjak kau menangkap pemimpinnya dan membunuhnya di Sisilia beberapa tahun lalu?"
"Aku tau itu."
"Lalu bagaimana bisa, Chris bertemu dengan Esocial bahkan menjelma menjadi pengganti pemimpin Esocial?"
"Karena yang dia nikahi adalah anak dari pendiri Esocial."
"Lalu apa hubungannya dengan tuan muda Judika, Sir? Mengapa di telpon tadi kau mengira tuan muda yang menjadi pimpinan Esocial?"
__ADS_1
"Karena Judika masih bagian dari klan Abute. Dan, di dalam hatinya, dia masih punya ambisi untuk merebut kekuasaan Marco dari tanganku seperti dulu. Well, aku pikir dia akan bergabung dengan Chris untuk sama-sama menjatuhkan dan menghancurkan ku."
"Aku pikir, tuan muda Judika punya ide jauh lebih licik ketimbang bergabung dengan anak dari wanita yang telah menghancurkan keluarganya."
****
Seharian suntuk, Stella menghabiskan akhir pekannya di dalam unit apartemennya. Duduk termenung dengan wajah muram memandangi jendela balkon kamarnya. Otaknya terus berputar, memikirkan bagaimana caranya dia berangkat ke Manchester tanpa harus berhenti dari pekerjaannya. Stella harus pergi ke Manchester, untuk membalaskan apa yang sudah di lakukan Reza pada dirinya.
Sejujurnya jauh di dalam lubuk hatinya, dia memang menikmati permainan panas Reza semalam. Hanya saja, Reza memperlakukannya bak seorang budak dengan begitu kasar. Hal itu membuatnya mengingat lagi kejadian masalalu menyakitkan yang pernah menimpanya. Dan, Stella sangat benci itu.
Benar kata, Chris tirani seperti Reza memang harus di hancurkan. Paling tidak di beri pelajaran untuk mengenal kata jera. Dan untuk memberikan pelajaran untuk seorang penguasa tirani seperti Reza, maka Stella harus berangkat ke Manchester dan bergabung dengan Esocial yang asli untuk menghancurkan Oxley General sebelum ketua Cyberfriend keluar dari penjara kurang dari satu minggu lagi.
Berturut-turut, Stella mencoba menghubungi semua orang-orang dari divisi berita yang dapat membantunya. Mulai dari ketua tim regunya, Alisya. Hingga orang yang tak ia kenal, yang dia yakin bisa membantu kesulitannya.
Saat ini, nomer ke dua puluh satu yang dia telpon. Itu Michael, cowok kekar berotot mirip Chris Hemsworth si dewa petir dalam serial Marvel yang di ketahui menjabat sebagai wakil manajer di kantor TTV. Feeling, Stella berteriak jika Michael dapat membantunya pergi ke Inggris, tanpa harus dirinya keluar dan meninggalkan pekerjaannya dari TTV.
"Halo pegawai baru." Michael bersuara di sebrang sana. Dan itu adalah panggilan favoritnya untuk Stella sehari-hari.
"Pak... Uhm maksud ku Michael apa aku menganggu akhir pekan mu?" untuk beberapa alasan, Stella tak mengerti mengapa Michael tidak ingin di panggil dengan sebutan bapak, atasan, senior, atau sebagainya. Dia tipe lelaki humble dan hangat, yang selalu memandang semua pegawai TTV sama, tanpa harus membedakan jenis kelamin dan jabatannya.
"Tentu, tidak. Ada apa? apa kau membutuhkan sesuatu?"
"Apa boleh aku minta tolong kepada anda?"
Michael terkekeh di sebrang sana. "Tentu. Apapun untuk mu, calon istri pak Judika."
Ok. Sebenarnya memang salah satu alasan para pegawai baik kepada Stella, meskipun Stella selalu menunjukkan sifat cuek dan dinginnya kepada yang lain adalah jika mereka semua yang bekerja di kantor TTV mengetahui jika, Stella adalah kekasih Judika yang tak lain adalah calon CEO mereka semua.
__ADS_1
Penjilat. Mungkin satu kata itu yang pantas mewakili sifat dan sikap mereka. Mungkin, secara harfiah bagi Stella itu sangat menjengkelkan. Stella benci seorang penjilat. Namun, jika dalam posisi seperti sekarang ini. Buatnya sungguh sebuah keberuntungan.
"Aku ingin bertanya, apakah di perusahaan kita ada jurnalis yang di terbangkan ke sebuah negara tinggal di sana untuk meliput apa yang sedang terjadi di negara sana."
"Maksud mu jurnalis internasional seperti VOA, Stella?"
Terserah, Stella tak perduli namanya apa. "Ya semacan itu."
"Tentu ada, dong. Memangnya kenapa?"
Benar. Stella menghela napas lega mendengar akan hal itu. Dia memiliki kesempatan untuk pergi ke Inggris, ya meskipun kemungkinannya hanya sedikit.
"Michael, aku ingin melamar. Aku ingin melamar menjadi jurnalis di Inggris. Apa itu bisa?"
"Tentu. Semua jurnalis TTV bisa melamar, Stella. Kau hanya perlu mengirimkan CV mu ke bagian HRD..."
"Michael, I'm sorry," Stella memotong ucapan Michael. "Apa kau tidak bisa langsung memberikan ku pekerjaan itu tanpa harus melalui HRD. Aku yakin itu pasti sangat lama sekali."
"Uhmm, tentu. Tapi aku harus mengecek dulu apa ada posisi jurnalis Indonesia untuk di Inggris."
"Ok. Aku akan menunggu. Terimakasih, Michael."
"Sama-sama, Stella."
Sambungan telpon terputus. Stella menghela napas lega, karena satu masalah telah selesai. Sekarang waktunya, dia menyusun ide untuk menjalankan misi sebelumnya dari Chris. Stella harus menghubungi Red Army. Memintanya untuk berpikir ulang dan mau bergabung bersama mereka untuk menghancurkan Oxley General.
Sungguh sepanjang hidupnya menjadi seorang hacker, Stella tak pernah bersemangat seperti ini untuk meretas sebuah tempat. Dulu, dia selalu muram dan merasa bersalah kala di perintahkan untuk meretas sebuah sistem perusahaan. Namun, kini obsesinya untuk menghancurkan Reza naik berkali-kali lipat. Mungkin jauh lebih besar ketimbang obsesi milik Chris.
__ADS_1
TO BE COUNTINUE....