
Stella Pov On...
Semua orang di dunia ini terus membicarakan tentang perdamaian. Sok merasa bersolidaritas tinggi, dan paling benar tentang menjujung tinggi sebuah perbedaan. Mereka berlomba-lomba menciptakan sesuatu yang katanya demi menjaga perdamaian dunia dan ilmu pengetahuan tentang keberadaan manusia. Masyarakat dunia begitu menjujung tinggi orang-orang itu, membicarakan mereka bahkan memuja-muja mereka layaknya tuhan. Shit! bagiku itu semua omong kosong yang tak berarti. Mereka orang-orang besar itu tetaplah sekumpulan manusia sampah yang memanfaatkan kepolosan masyarakat dunia demi mengejar ambisi mereka. Menciptakan dunia baru, dengan tatanan atau aturan hidup sesuai dengan keinginannya.
Aku tidak percaya dengan mereka, sekalipun mereka membuktikan. Seperti mereka mencoba untuk pergi ke bulan dan planet mars untuk tujuan sains dan mencoba membuat manusia bisa hidup di sana suatu hari nanti. Mengurangi populasi manusia yang semakin hari semakin memenuhi bumi.
Padahal nyatanya uang yang di gunakan untuk pergi ke bulan dan mars hingga sampai sekarang masih diragukan hasilnya, dapat di gunakan untuk memberi makan seluruh manusia bumi yang di landa kelaparan. Dapat dibuat untuk membuat gerakan sosial untuk menekan pertumbuhan di dunia. Atau seperti menciptakan mesin-mesin dan senjata yang mereka klaim untuk perdamaian dunia. Padahal nyatanya perdamaian bisa di tempuh tanpa harus ada peperangan.
Ingin hanya pola pikirku, yang terkadang menurut orang lain terlalu naif dan ketinggalan jaman. Entah bagaimana pemikiran orang-orang yang pro akan semua yang orang-orang besar itu lakukan.
Mungkin hal ini juga yang mendasari ku ingin membantu Chris, meskipun hingga saat ini ada begitu banyak keraguan akan sosok Christopher. Aku tidak tau apa alasannya. Meskipun aku tau dia jelas-jelas adalah adik Reza dan kakak Judika. Aku sudah mengeceknya. Diam-diam melakukan Phising. Meretas semua akun media sosialnya, keuangan, asuransinya, dan lain-lain sebagainya. Dia dokter yang bersih, lelaki pintar dengan pengetahuan yang begitu banyak. Jangan lupakan jiwa sosialnya yang begitu tinggi, dia menghabiskan seluruh warisan mendiang Oxley untuk membantu rakyat Afrika yang di landa kelaparan. Sejenak aku berpikir dia yang sepatutnya di anggap dan disebut orang-orang besar itu. Mencoba merubah dunia menjadi lebih baik lagi. Tapi, sedikit aku juga menemukan kejanggalan dengan hidupnya yang mungkin harus kutanyakan langsung pada dirinya, atau Reza, bahkan Judika.
"Stella! Stella."
Oh, shit lagi-lagi aku ketahuan melamun saat bekerja. Ini bukan kali pertama ku. Untungnya aku selalu ketahuan oleh Alisya bukan manajer tua berkepala botak menyebalkan itu. Sungguh, untuk beberapa alasan otakku benar-benar sakit memikirkan rencana konyol namun brilian milik istri Chris, Anne.
"Are you oke, Stella."
"Ya, aku baik-baik saja."
Untuk beberapa alasan mungkin Alisya adalah seorang teman yang baik dan penuh perhatian. Tapi, untuk orang introvert atau mungkin antisosial seperti ku, jujur saja kehadirannya sangat menganggu. Aku tak bisa berbuat apa-apa, selain memasang topeng agar membuatnya nyaman berteman denganku. Bagaimanapun aku masihlah orang baru di tempat ini, dan Alisya adalah ketua tim ku. Dia seorang wanita pekerja keras, sedikit Insecure, dan pengganggu.
Bukan. Bukan maksudku tak menyukainya. Hanya saja dia terlalu cerewet dan selalu menganggu privasi ku. Aku benar-benar tidak menyukai itu.
Kini dia sedang berdiri di depan meja kerjaku. Seperti biasa, membuatkan ku secangkir teh meskipun dia tau aku sangat membencinya. Aku tau, dia datang ke mejaku dengan banyak pertanyaan yang keponya melebihi seorang wartawan.
"Terimakasih." Terpaksa aku kembali menerima teh hijau beraroma aneh itu. Meminumnya sedikit sebagai kamuflase aku menghargainya. Sebelum kemudian ku singkirkan cangkir itu ke pojok meja kerjaku. Diam-diam membuangnya, saat dia tidak memperhatikan ku.
"Are u good."
"Ya, aku sangat luar biasa hari ini."
__ADS_1
Dia mengulmukan sebuah senyum yang selalu terlihat tulus. Dan entah mengapa aku selalu saja dengan cepat membalas senyuman itu. Seperti ada sebuah sihir yang menggerakkan ku.
"Uhmm... Gimana kabar pak Judika? Dia baik?"
Benar bukan apa kataku? Dia sudah menyiapkan pertanyaan yang harus aku jawab. Dan, sepertinya teh itu adalah imbalan atas jawaban dari pertanyaan yang dia ajukan.
"Dia baik, sedikit berjenggot, berkumis, kumel, dan bau."
Mendengar ucapan ku, Alisya malah tergelak hingga hampir saja menumpahkan teh yang dia pegang ke komputer milikku. Entah, apa alasan tertawa. Apa jawaban ku ambigu?
"Tapi meskipun begitu, kepulangan pak Judika membuat suasana hatimu berbeda, Stella. Dan aku merasakan itu." Dia mengangkat tangannya, membentuk sebuah pistol dengan kedua jarinya ke arah aku.
"Apa aku terlihat begitu mencolok?"
"Ya. Sangat mencolok. Kau terlihat lebih segar, merona, dan tentunya tidak suram."
Aku tak mampu menahan rasa berdecak ku dengan ucapannya. Bagaimana bisa, dia berkata demikian. Apa memang semencoloknya aku hingga Alisya berkata begitu.
"Orang yang sedang jatuh cinta itu memiliki hormon yang berbeda, Stella. Bagaimanapun kau menutupinya, hormon itu akan keluar dan menguasai dirimu. Efeknya, semua dapat merasakan itu."
"Oh, Alisya tolong jangan berlebihan."
"Oke. Aku akan kembali kemeja ku. Aku senang kau kembali tersenyum, Stella."
Perasaan ku sedikit menghangat mendengar ucapan yang terdengar begitu tulus dari Alisya. Tanpa kusadari, aku menarik bibirku untuk tersenyum kepadanya. Memandanginya hingga ia kembali duduk di kursi kerjanya.
Stella Pov Off ...
Sementara itu di gedung pusat Hartanto Grup. Ternyata bukan hanya Stella yang begitu mencolok menunjukkan rasa bahagianya atas kepulangan Judika. Liliana, saudara-saudaranya, hingga Reza dan Jones juga ikut larut dalam rasa bahagia atas kepulangan anak bungsunya itu. Liliana bahkan tak henti-hentinya menitihkan airmata bahagianya atas kepulangan Judika. Membuat acara makan siang, yang di hadiri oleh para penjabat Hartanto Grup. Sebenarnya itu juga acara untuk penyerahan secara sah Hartanto Grup untuk Reza kelola hingga Judika siap menggantikannya. Acara yang sebenarnya seharusnya di lakukan beberapa bulan lalu.
"Kau gugup, tuan?" Jones duduk dengan memangku sebuah tablet di sofa sambil mengamati sikap aneh tuannya, yang sedaritadi mondar-mandir tak karuan.
__ADS_1
"Tidak, tidak... Aku tidak gugup." Reza menampik perkataan Jones, masih tetap berjalan mondar-mandir sambil mengacak-acak rambutnya yang sudah mulai tumbuh lebat.
"Lalu, apa yang membuat mu sefrustasi ini?"
Reza menghentikan aktivitasnya. Berdiri menghadap Jones dan menatap lelaki itu lekat. Sebelum kemudian dia menghambur dan duduk di sebelah jones dan kembali memasang wajah frustasi dan mengacak-acak rambutnya. Melihat tingkah tuannya, jujur saja membuat Jones ingin sekali menggunting habis rambut tuannya yang kritik itu.
"Kau tau?"
"Tidak, tuan."
"Aku belum selesai bicara tau."
Kepala Jones menunduk saat mata Reza mendelik menatapnya. Dia berusaha untuk diam dan mendengarkan apa yang membuat Reza seperti ini.
"Teman-teman ku akan datang dari Inggris dan mengundang ku ke acara makan malam mereka. 2 minggu lagi." Mengangkat dua jarinya ke depan mata Jones.
"Lalu apa yang membuat mu sefrustasi ini? Kau hanya tinggal hadir ke acara tersebut, itu juga jika kau inginkan."
"Aku sangat menginginkan datang kesana. Sungguh. Tapi ada satu masalah, Jones."
"Apa?" Jones mengangkat kepalanya dan menatap tuannya dengan tak sabaran.
"Aku tidak memiliki kekasih yang harus ku pamerkan kepada mereka."
Dalam hati jones berkata, dari dulu kan sudah ku katakan untuk mencari pacar. Kau malah sok jual malah, mentang-mentang tampan dan seorang miliuner. Sekarang saja kau kocar-kacir binggung karena tidak memiliki pasangan. Apa harus aku berubah menjadi seorang wanita dan pura-pura menjadi kekasihmu, tuan?
TO BE COUNTINUE....
Hallo, ada yang kangen sama abang Reza??? akhirnya Author bisa kembali lagi. Maaf ya Authornya lama ga up, soalnya urusan dunia nyata itu lagi banyak-banyaknya ini juga belum kelar semua. Tapi insyaallah Author bakal up lagi, meskipun gak setiap hari...
__ADS_1
Aduh kenapa abang Reza disini mirip sama mas Thor yaðŸ¤ðŸ¤ (maaf ya bucinnya Chris Hemsworth lagi kambuh)