
Kaki-kaki jenjang itu beringsut, turun dari atas kasur. Berjalan dengan gontai menuju kamar mandi indikos. Stella mengucap wajahnya dengan kasar. Membasuhnya berulang kali untuk meninggalkan jejak, sisa mimpi buruk yang baru saja dia alami.
Nestapa telah terlalu lama bersemayam pada dirinya. Hingga membuatnya lupa akan rasa asa bahagia seperti apa. Rekam jejak kehidupan kelam saat sang ibu tega menjualnya dengan sekumpulan orang yang menyebut mereka Cyberfrends, tak pernah terhapus dalam benaknya. Meskipun ia telah pergi, dan memenjarakan semua anggotanya sepuluh tahun silam. Wajah, perilaku monster-monster itu bagai sebuah bayangan hitam, yang selalu datang menghalangi langkah kakinya di siang hari. Stella muak, bermacam cara telah ia lakukan. Mendatangi psikiater, dokter ahli jiwa, hingga mengonsumsi morfin. Ia hanya ingin bebas, lepas, dan tenang sama seperti manusia normal lainnya hidup di sekelilingnya.
Lintingan tembakau kelima sudah kembali terselip di sela jemarinya. Pemantik besi berlogo klasik buatan jerman tahun tujuh puluhan menyala. Mengeluarkan percikan api yang begitu memukau matanya, hingga berkilau dan berbinar-binar. Dia menghisap kuat-kuat tembakau itu, menyesapnya hingga asap membumbung di langit malam tak berbintang dan secepat kilat menghilang. Dan malam itu untuk kesekian kalinya, Stella terbangun dan terjaga akibat mimpi buruk yang selalu datang di sela tidur nyenyaknya. Membuat kepalanya pening, saat siang tiba karena kurang tidur dan anemia.
"Stella Sasmita?"
Gadis itu terperanjak, saat namanya di panggil. Berkas lamaran di genggamannya hingga terjatuh dan berserakan di lantai putih lobi penerbit pagi itu. Ia kembali tertidur di sela-sela waktu menunggu interview. Untuknya saja, dia tidak bablas hingga membuat namanya terhapus sebagai calon pegawai baru.
"Kau baik-baik saja?" Wanita Sopan yang berdiri di daun pintu ruang HRD bertanya. Berkacak pinggang sambil memperhatikan Stella yang tengah sibuk merapikan kertas-kertasnya.
"Uhmm... Ya saya baik-baik saja." Stella mencoba tersenyum, sebagai kamuflase rasa kesal pada dirinya sendiri yang selalu melakukan kebiasaan buruk saat menunggu sesi interview.
"Baiklah. 2 menit lagi waktu mu habis. Cepat beresan itu, jika ingin bekerja disini," ucap wanita sopa itu kembali dan langsung kembali masuk ke dalam ruangan HRD.
Dengan cekatan tetapi tetap hati-hati, Stella merapihkan semua kertas-kertasnya yang berserakan. Berdiri, dan merapihkan blazer miliknya, satu-satunya itu lalu berjalan masuk mengikuti sang wanita sopan tadi.
Sorotan mata tajam dari lima orang yang tengah duduk melingkar membentuk huruf C menyambutnya. Salah satu dari mereka, ia mengenal. Itu Judika. Membuat rasa gugup yang sedaritadi menjalar pada tubuh sedikit berkurang. Dengan sopan, Stella menganggukkan kepala dengan tangan masih memegang gagang pintu menyapa semua dewan direksi disana. Kaki-kaki jenjangnya berlahan membawanya masuk lebih dalam. Duduk tepat di tengah-tengah para dewan yang siap menginterviewnya, yang bagai rasanya sedang mempertanggungjawabkan amal kebaikan di dunia.
Sekali, dua kali, dan tiga kali Stella menghela napas panjang. Memejamkan matanya sesaat dan mencoba mengusir rasa gusar yang menyelimuti dirinya. Huh... Padahal ini bukan kali pertamanya, ia menghadapi orang-orang HRD seperti ini, tapi entah mengapa tubuh dan perasaan selalu saja sama. Gugup setengah mati, seperti sedang melihat malaikat menyerahkan catatan amal kebaikannya.
"Stella Sasmita?" Seorang wanita paruhbaya berkacamata tebal menatapnya, sambil membulak-balikan kertas daftar riwayat hidup Stella di hadapannya.
__ADS_1
"Ya, saya Stella Sasmita."
"Sarjana sastra yang sedang melanjutkan Pascasarjana..."
"Namun akan dikeluarkan karena melanggar hukum." Seorang pria dengan wajah enak di pandang berucap. Menatap Stella sambil menaikkan pulpen di tangannya, dan tersenyum.
Kepala Stella menggeleng. "Saya tidak di keluarkan. Saya mendapatkan beasiswa disana. Hanya saja memang bulan depan beasiswa saja di tangguhkan. Namun, saya masih bisa melanjutkan kuliah saya di sana dengan jalur normal seperti mahasiswa lainnya."
Pria berwajah enak di pandang itu tersenyum. Membuat Judika yang duduk tepat di sebelahnya menatapnya dengan tatapan tak suka. Jelas lelaki itu memandang Stella begitu rendah, apalagi dengan rekam jejak kriminal tertulis jelas di daftar riwayat hidupnya.
"Menghina, menunggangi aksi demo, bahkan melemparkan sepatu ke pada dewan rakyat pernah kamu lakukan untuk mengejar berita?" Kini seorang wanita muda berambut panjang menjuntai bertanya, dengan nada sedikit terkejut karena membaca riwayat hidup Stella.
"Saya bukan mengejar berita." Matanya berbinar percaya diri. Sebuah garis lengkung samar terlihat di bibir ranumnya.
"Lalu?"
Seketika hening tercipta. Membuat suasana yang tadinya tenggang, berubah canggung akibat jawaban Stella. Bahkan lelaki berwajah enak di pandang itu, tak menutupi rasa keterkejutannya dengan jawaban yang entah spontanitas saja apa memang lahir dari dalam hati Stella.
"Kau melakukan semua tindakan melanggar hukum sedang dalam waktu bekerja. Bukan..."
"Saya seorang warga negara Indonesia yang memiliki hak yang sama, meskipun dalam keadaan bekerja maupun tidak bekerja. Saya seorang mahasiswa, yang mempunyai kewajiban menyuarakan isi hati rakyat yang selama ini terpendam oleh wajah sok suci pemerintah yang nyatanya begitu busuk kelakuan dan isi otaknya. Saya juga seorang jurnalis yang di tugasnya untuk memberikan apapun yang berada di lapangan, sebagai sarana komunikasi antara pemerintah dan rakyat. Jelas saya melakukan itu, bukan semata-mata profesionalitas saja. Melihat rakyat menderita bagai makanan saya sehari-hari."
Wajah teduh yang selama ini di impikan Stella menjadi pangeran hidupnya, menatap dengan tatapan tak terbaca. Judika melongok sambil mencengkram lembar kertas yang ada di genggamannya. Jiwa aktivis yang berada di dalam diri Stella, kini sudah mendarah daging. Seperti, ia tak rela bahkan di singgung sedikit saja tentang masalah hukum yang pernah menjeratnya.
__ADS_1
"Apa kelebihan mu, selain melanggar hukum yang nampaknya membuat diri mu begitu bangga?" Si pria berwajah enak di pandang berujar, kembali memasang wajah merendahkan yang mana membuat Judika begitu eneg melihatnya.
Kepala Stella tertunduk. Ia menghela napas dalam-dalam, seperti membuat ancang-ancang. "Saya dapat mencari informasi sedetail-detailnya, yang mana jurnalis lain tak dapat menemukannya."
"Contohnya?"
"Jeremy Teddy lahir 16 Agustus 1989. Seorang manajer HRD yang baru di angkat enam bulan lalu." Kepala Stella terangkat. Menatap pria berwajah enak di pandang itu dengan senyum mematikan.
"Kau pasti membaca riwayat hidup ku, sebelum datang..."
"15-23-7798 adalah nomer kartu asuransi mu. Akun Facebook mu bernama Jeremy Teddy, kau menyukai aktor Chris Hemsworth tapi tidak menyukai perannya sebagai hacker di film blackhat. Password rumahmu 08712 yang mana kau ambil dari tanggal anak pertama mu lahir. Kau pernah memperkosa seorang pelayan bar dan memberikannya uang sebanyak lima belas juta untuk tutup mulut."
Semua orang di sana tercengang. Tercekat, bahkan ada yang terkejut hingga menjatuhkan pulpen yang ada di genggaman. Terkecuali Judika. Lelaki itu malah nampak menundukkan kepalanya dalam, menyembunyikan wajah tampannya sambil memijat keningnya. Entah, siapa wanita yang sedang mereka interview ini. Mengapa untuk hal privasi seperti ini, dirinya dapat mengetahui dan menjabarkan dengan gamplang, bak seorang yang telah menghapalkannya di hari-hari sebelumnya.
"Saya yakin, jika papan pencarian internet pun tak ada yang dapat menemukan informasi penting itu mengenai diri anda, Tuan Jeremy!"
"Kau... Kau... Seorang Cyber?" Suara pria berwajah enak dipandang, yang namanya Jeremy itu berucap dengan terbata-bata. Sementara ketiga rekannya hanya saling melemparkan tatapan berdecak kaget, kagum, dan takut kepada Stella. Hanya Judika yang tetap bergeming tak berkata sepatah katapun. Menatap Stella nanar, dengan raut wajah teduh yang selalu di rindukan Stella.
"Ya. Saya seorang cyber. Maka itu saya tidak takut dengan pemerintah yang selalu menyerang saya dengan segala fitnah mereka. Karena saya..."
"Cukup!" Judika berdiri dari kursinya. Berjalan tergesa-gesa menghampiri Stella. Menarik tangan gadis itu kasar, hingga membuat terbangun dari duduk. "Interviewnya selesai." Menatap dengan tatapan tajam kearah keempat orang yang masih terperangah.
Stella meringis, berusaha melepaskan cengkeraman Judika yang semakin erat dan menyakitkan. Judika tak menggubris ringisan Stella. Lelaki itu justru meraih tas jinjing dan kertas lamaran Stella. Menarik tubuh gadis itu dengan kasar, untuk keluar dari dalam ruangan interview.
__ADS_1
TO BE COUNTINUE....
Update segini dulu ya, Authornya masih gak enak badan, nanti kalau Authornya kuat ditambahkan lagi. Semoga kalian suka🙏🙏🙏