
Malam semakin larut, di dalam kamar mewah bak hotel bintang tujuh itu stella masih tepekur menatap layar monitornya untuk menonton satu demi satu video yang berada di file ke dua.
Otaknya semakin di runduk pikiran negatif tentang Reza dan Oxley General. Video-video yang dia tonton semua adalah tahap-tahapan sterilisasi yang di lalui para tahanan Reza. Pertama-tama, pakaian mereka di lucuti, mereka di cambuk tanpa henti sampai mau menjawab jujur semua pertanyaan yang di ajukan oleh wanita paruh baya yang wajahnya sampai detik ini belum juga Stella kenali. Tahan kedua, para tahanan yang kebanyakan wanita usia 16 hingga 20 tahunan itu di letakkan di kursi yang sudah di pasang sengatan listrik berkekuatan tinggi. Para tahanan itu tubuh hingga tangan di ingat memutar, sementara kakinya di rantai erat hingga rasanya semua sendi-sendi di sana lumpuh total. Mereka di suruh mengigit sebatang kayu untuk mereda atau sedikit mengurangi rasa sakit akibat sengatan listrik tersebut.
Satu satu pertanyaan di anjukan, mereka hanya perlu mengangguk atau menggeleng. Namun, sayangnya kebanyakan dari mereka sama sekali tidak bereaksi apapun baik menggeleng maupun mengangguk, wajah mereka terlihat seperti menunjukkan bahwa 'lebih baik aku mati daripada aku menjawab pertanyaan mu'.
Sengatan demi sengatan kuat mereka para tahanan rasakan. Mereka ada yang berteriak, menggigil, menggeliat, bahkan ada yang langsung pingsan atau tewas seketika. Tak ada rasa bersalah, menyesal, atau berdosa sedikit pun dari wanita paruh baya itu. Dia justru segera memperihatinkan kepada anak buahnya untuk mengenyahkan mayat yang baru saja tewas di setrum olehnya dan di gantikan dengan tahanan lainnya.
Lama, Stella termenung di kursi kerjanya, memijat keningnya yang terasa amat pening bukan kepayang. Ada sedikit rasa janggal dan curiga yang menyelimuti dirinya, juga rasa binggung yang membuatnya kini berpikir dua kali apakah dia tetap menjalankan rencana untuk membantu Reza menangkap Anne atau kabur dari rumah ini dan mengungkap sisi gelap Oxley General. Pasalnya, Stella amat tak tega melihat para gadis tak bersalah di siksa, di kurung, di jadikan budak, bahkan di perilaku bak seekor binatang oleh Reza. Karena bagaimana pun, perbuatan yang di lakukan oleh salah satu keluarganya kepada Oxley General bukanlah kesalahan mereka. Stella setuju kalau mereka tidaklah bersalah, dan Reza seharusnya mengerti itu. But bagaimana caranya untuk merubah pola pikir Reza? Stella tak ingin terjerembab masalah terlalu dalam oleh lelaki itu.
Setelah beberapa menit dia termenung, tiba-tiba telinganya mendengar deru suara mesin mobil berbunyi. Entah bagaimana bisa, Stella binggung karena meskipun rumah ini begitu besar nyaris bak seperti istana suara-suara sekecil apapun yang berasal dari luar rumah terdengar begitu jelas di telinga Stella. Bagai memang sengaja di buat sedemikian rupa.
Penasaran akhirnya dia bangkit dari duduknya, berjalan menghampiri jendela dan menyibak gorden besar tebal untuk melihat mobil milik siapa yang berada di luar sana.
__ADS_1
Mobil Jones terlihat berada di halaman depan dengan pintu mobil yang terbuka lebar. Stella mengernyitkan kening, pasalnya dia tak menemukan siapapun di halaman sana selain mobil dengan pintu penumpang terbuka lebar.
Namun tak beberapa lama muncul dua orang bodyguard berbadan kekar tengah menyeret tubuh seorang wanita berseragam pelayan dengan wajahnya yang di tutupi oleh karung. Dua bodyguard itu menyeret paksa tubuh gadis malang tak berdaya masuk ke dalam mobil. Stella juga melihat, Jones yang berjalan dengan santai masuk ke kursi pengemudi. Mobil pun tak lama berjalan meninggalkan rumah itu dengan rasa penasaran dalam benak Stella.
Stella kembali menutup gorden jendela, meraih ponselnya dan menghubungi Chris.
"Chris, aku merasa ada yang aneh dengan Oxley General." Suara Stella terdengar sedikit tersengal. Napasnya juga naik turun ketakutan. Keringan mengucur deras di keningnya, seperti Stella merasa nyawanya terancam di rumah ini.
"Aku berpikir, Reza menyembunyikan Keira. Dan ada yang tidak beres dengan rumah yang ku tempatkan bersama Reza."
"Rumah? Bukan kah kau tinggal di sebuah apartemen di kawasan Oldham RD?"
"Tidak. Aku tidak tinggal di kawasan itu. Aku tinggal di rumah yang katanya milik asisten Jones."
__ADS_1
Di sebrang sana, Stella mendengar Chris yang tertawa.
"Kenapa ketawa? Memang ada yang lucu?" Protes Stella tak terima. Pasalnya sekarang bukan waktu yang tepat untuk tertawa karena apapun. Nyawanya sedang di ujung tanduk, Reza bukanlah hanya seorang mafia yang kejam tetapi juga penuh dengan misteri.
"Stella, kau harus tau rumah Jones itu berada di New York, Amerika. Di Inggris, dia tinggal berpindah-pindah tempat, mulai dari plat, apartemen, hingga hotel. Reza yang menyuruhnya seperti itu, untuk tetap menjaga kerahasiaan Identitasnya dari orang-orang besar seperti FBI atau CIA jikalau sewaktu-waktu kebusukan Reza terkuak ke permukaan, Reza akan membersihkan nama Jones dari kejahatan. Alasannya tentu, untuk menyelamatkan harta-hartanya yang berada di tangan Jones."
Sungguh, Stella tak tau harus bereaksi seperti apa atas penjelasan panjang lebar dari Chris. Sungguh, Stella merasa telah gagal dua kali baik menjadi jurnalis yang mampu membuka kedok kejahatan Reza, maupun jadi hacker yang seharusnya juga mampu menguak rahasia kejahatannya ke permukaan.
Lagi-lagi kepalanya terasa pening bukan main. Di jatuhkanya tubuh mungil berbadan dua itu ke atas ranjang empuk. Stella terbaring dengan lagi-lagi tangan mungilnya yang memijat kening.
"Chris, lalu aku berada di mana?"
TO BE CONTINUE...
__ADS_1