
Stella menerima keputusan Michael untuk menempatkan bergabung dengan divisi VOA. Tidak masalah, justru itu bagus. Dirinya tak perlu susah payah mencari informasi mengenai semua segala tentang Reza di Inggris. Dirinya sudah bertekad untuk menemui Reza dan meminta pengampunan dan memohon untuk bergabung dengannya untuk mencari Esocial.
Panggilan telpon berakhir. Stella bergegas pergi dari bandara. Tujuannya kali ini adalah kafe favorit Michael yang letaknya tak jauh dari gedung TTV. Stella melesat cepat meninggalkan bandara menuju kafe yang dimaksud menggunakan taksi.
Saat dirinya tiba di kafe, dia menemukan Michael duduk sendiri dengan secangkir kopi hitam kesukaannya dan sebuah amplop besar yang ia sisihkan di ujung meja.
Tergopoh-gopoh, Stella masuk sambil menyeret koper besar dan menggendong tas ransel besar miliknya di bahu.
"Hai."
Kepala Michael terangkat, mendengar sebuah sergahan yang ditangkap oleh gendang telinganya begitu dekat. Seketika itu juga, gurat wajah tampan cowok keturunan Jawa Tiongkok itu berubah. Binggung sekaligus kaget, melihat Stella datang dengan setumpuk bawaan yang begitu banyak. Seakan telah siap berangkat ke Inggris hari itu juga.
"Stella, kau minggat dari rumah mu?" terka Michael di iringi gelak meledek.
"Anggap saja begitu." Stella menarik kursi di depannya. Menjatuhkan dirinya di sana, sembari meletakan barang-barang bawaannya seaman mungkin.
"Ada apa?" tanya Stella kepada Michael. Pasalnya cowok itu terus memperhatikannya dengan raut wajah ambigu.
"Kau benar-benar minggat dari rumah?" Michael tak menjawab pertanyaan Stella. Dan malah berbalik bertanya dengan suara sedikit berbisik, juga jangan lupakan raut wajahnya yang menyelipkan banyak keinginantauan akan apa yang baru saja terjadi kepada Stella.
"Michael, aku tidak apa-apa."
Masih tetap terus berusaha untuk mengulik sesuatu mengenai Stella, Michael menelengkan kepalanya menatap Stella sembari berujar, "kau butuh tempat tinggal sementara?"
Stella menatap Michael sesaat, mengubah gelagatnya yang semula santai dan sedikit lelah karena habis menempuh perjalanan cukup jauh menjadi kesal dan menjengkelkan.
"Aku memiliki apartemen pribadi, bos." Sengaja, Stella menekankan kata bos di akhir ucapannya.
Mendengar ucapan Stella, segera Michael menutup pikirannya. Mengenyahkan segala pikiran dan keinginan taunya dengan hati terselap memaksa.
"Kau akan berangkat ke Inggris malam ini." Seru Michael sambil meraih amplop yang semula di letakkan di ujung meja kepada Stella. "Ini semua yang kau butuhkan. Tiket, surat izin bekerja, Visa, cek uang dalam bentuk poundsterling, Id baru untuk mengenali dirimu."
Dengan semangat Stella menerima. Membuka isi amplop berwarna cokelat muda itu dan langsung mengeluarkan isi di dalamnya tergesa-gesa.
__ADS_1
"Sebelum kau pergi, apa lain yang kau butuhkan? Biar aku urus sekarang."
Sejenak Stella kembali meletakan barang-barang itu kedalam amplop, dan memalingkan pandangan untuk menerawang wajah tampan milik Michael. Takut-takut dia pun berucap
"Beberapa hari lalu, aku baru saja di copet. Tas dan isi di dalamnya hilang semua."
Mendengar pernyataan Stella, Michael yang sedang menyeruput kopinya tersendat. Hingga sedikit mengeluarkan kopi dari dalam mulutnya.
"Kau di copet?" Sergahnya. "Lalu kau tidak kenapa-kenapa, kan? Kau tidak trauma psikis yang akan mengganggu pekerjaan mu, kan?"
Mungkin jika kau yang menjadi aku, kau sudah masuk rumah sakit jiwa. Pikir Stella jenggah dengan sikap dan sifat Michael yang selalu bersikap berlebihan.
"Is ok, bos. Aku tidak apa-apa." Memijat-mijat keningnya yang terasa pening menghadapi tingkah atasannya itu.
"Lalu apa yang hilang?"
"Beberapa barang ku. Ponsel, dompet, jurnal pekerjaan ku, dan pouch kosmetik."
Michel menghela napas lega. "Lalu apa saja yang kau butuhkan untuk mengantikan barang-barang mu yang hilang itu?"
"Bantuan ku?"
"Ya. Tolong jualkan apartemen milikku. Jika sudah laku, bisakah kau transfernya ke rekening ku yang baru?"
"Kau tidak berniat untuk meninggalkan Indonesia, kan Stella?"
****
Berita tentang bencana yang melanda dunia akibat ledakan reaktor nuklir milik Oxley General sudah tersebar kesepenjuru dunia, tak terkecuali di telinga Chris. Laki-laki yang kini masih berada di kota Yogyakarta itu, bahkan tercengang tak percaya dengan berita yang beredar di mana-mana. Dirinya sulit untuk percaya, karena setahu dirinya Stella akan melakukannya bersama dirinya dan bukan menghancurkan Oxley General seperti ini. Hanya akan membuat Reza menyesali perbuatannya menjadi seorang tirani mengerikan.
Sore itu, kota Yogyakarta di guyur hujan cukup deras. Chris berdiri di atas balkon kamarnya. Menatap nanar ke arah perkebunan indah di depan matanya sambil berkelana memikirkan keadaan Stella. Semenjak wanita itu menghubungi dengan nada bicara yang terdengar begitu mengkhawatirkan, Chris terus memikirkan Stella. Terlebih saat dia mengatakan akan menyambangi Chris di Yogyakarta beberapa hari lalu.
Sepatutnya, Stella sudah tiba di sini dari beberapa hari yang lalu. Jarak antara kota Jakarta dan Yogyakarta, tidak terlalu begitu jauh seperti halnya jarak Indonesia dengan Antlatis, yang harus menempuh perjalan beribu-ribu kilometer yang memakan waktu berhari-hari lamanya. Dan, yang membuat kecemasan Chris semakin bertambah parah adalah ponsel milik Stella tak dapat di hubungi. Dirinya sudah melacak posisi terakhir dimana Stella berada, tapi anehnya Stella bagaikan di telan bumi. Tak ada jejak Stella di Indonesia bagian manapun.
__ADS_1
"Pimpinan Cyberfriend bebas hari ini." Chris menutup pikirannya dan menolehkan kepala kearah sumber suara yang berasal.
Nampak terlihat seorang lelaki berkulit hitam berdiri di ambang pintu kamar. Menggenggam gagang pintu kamar Chris, dan menyembulkan kepalanya.
"Mereka langsung berangkat ke Manchester hari ini juga. Di jemput oleh seseorang yang kami yakini adalah Jones."
"Lalu apa kalian sudah menemukan keberadaan, Stella?"
Mendorong pintu kamar Chris, lelaki berperawakan besar dengan beberapa lemak yang terlihat jelas di beberapa titik tubuhnya berjalan mendekati Chris. Menyerahkan sebuah tablet yang menampilkan rekaman kamera CCTV di sebuah bandara.
"Dia berada di bandara beberapa jam yang lalu. Menurut informasi, dia ingin memesan tiket menuju Manchester. Tetapi karena pandemi yang masih melanda, pihak bandara masih menutup dan melarang. Kecuali dirinya memiliki surat izin dari pemerintah."
Chris mengelus dagunya yang sedikit di tumbuhi janggut halus karena sudah lebih empat hari tidak ia cukur teraba begitu kasar. Beberapa kali dia menghirup udara dan dalam-dalam dan menghembuskan keras. Ada sesuatu yang terganjal di hatinya, dan lagi-lagi rasa kecemasan mengenai sosok Stella menyelimuti dirinya.
"Stella tak boleh pergi ke Manchester. Nyawanya dalam bahaya."
****
Kembali lagi kepada Stella yang telah bersiap pergi meninggalkan Indonesia menujuh Inggris. Dirinya kini tengah duduk sendiri di lobi bandara. Baru saja beberapa saat yang lalu, dirinya memberikan keterangan kepada seorang petugas bandara akan keberangkatannya. Cukup alot memang di dalam sana tadi, beberapa kali dirinya di interogasi dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya harus menarik napas dalam-dalam.
Namun, semua kesabarannya itu terbayar. Pada akhirnya, dirinya di perbolehkan untuk berangkat dengan transit terlebih dahulu di Turki.
Sungguh, Stella bersyukur dirinya dapat berangkat juga ke Inggris. Dirinya sudah amat menguatkan tekad untuk menemui Reza dan membujuknya untuk percaya kepada dirinya mencari Esocial. Entah mengapa, Stella merasa amat sangat sedih melihat pemberitaan yang berada saat ini. Tentang bencana ledakan nuklir di beberapa kota di dunia. Pasti, Reza amat sangat down saat ini. Sekejam apapun dirinya, Stella yakin ada sedikit rasa kesedihan dan sakit yang kini menyelimuti diri Reza. Memikirkan itu, rasanya Stella ingin sekali berada di sisi Reza dan menemani lelaki itu melewati masalah yang kini dirinya hadapi. Menghibur laranya, hingga luka dan kesedihannya tak terlihat.
Aku benar-benar sudah gila memikirkan lelaki sepertinya. Sadarlah Stella kau bukan Anastasia Steele, ataupun Issabella swan yang bisa mendapatkan seorang lelaki sekaya Christian Grey atau sehebat Edward Cullen.
Hatinya meronta-ronta. Stella benar-benar tak mengerti dengan perasaannya sendiri. Apa dirinya menyukai Reza atau hanya merasa bersalah kepada lelaki itu.
Dan, saat dirinya masih bermonolog tanpa di sadari telinganya menangkap sebuah suara dari pembawa berita yang sedang membawakan berita di saluran televisi yang disiarkan oleh bandara.
Setelah menjalankan hukuman lebih dari lima tahun, pimpinan hacker yang pernah menggemparkan Indonesia yakni Cyberfriend hari ini dinyatakan bebas dari segala hukuman.
"What?"
__ADS_1
TO BE CONTINUE...