
"Kau bercanda? Memang aku ini terlihat seperti om-om?"
Stella mengangkat kedua bahunya, sambil terus menyeruput esspreso miliknya. Gelak tak dapat lagi terhindar dari keduanya. Baik Stella maupun Reza tertawa dan menghapus karakter dingin, cuek, dan menyebalkan dari diri mereka. Berbaur menjadi satu, seperti dua pasang yang sedang di mabuk asmara. Tentu, demikian. Melihat mereka saling menatap satu sama lain, semua sudah terlihat jelas ada sesuatu yang melebih rasa suka dari keduanya. Baik Reza maupun Stella, sama-sama begitu dalam terpikat akan pesona masing-masing.
"Ceritakan tentang keluargamu."
Wah... Apakah ini pertanyaan formal? Mengapa tiba-tiba dia bertanya demikian? Stella bermonolog dalam hati.
"Ayahku Firman Sasmita, seorang jurnalis sama sepertiku. Penyair juga aktivis seperti yang ku ceritakan malam itu."
"Ibumu?"
"Aku tidak terlalu mengenalnya. Jika anak lain begitu dekat dengan ibu, maka aku kebalikannya. Aku hanya mengenal ibuku sebagai wanita pemabuk, dan pendendam."
Reza mengerutkan keningnya. Kalau tak salah, Stella juga melihat raut wajahnya berubah drastis.
"Apa dia seorang yang to..."
"Tidak! Ibuku bukan seorang yang toxic. Hanya saja..." Stella menjeda ucapannya. Menimbang-nimbang dengan apa yang akan ia katakan. "Dia seorang yang tegas dan mudah marah."
"Aku mengerti." Dia mengendus, katanya begitu datar.
"Lalu bagaimana denganmu?"
"Apa?" Reza mengangkat alisnya heran.
"Bagaimana tentang mu? Keluarga mu? Mr Emmanuel."
"Bukankah kau sudah tau tentangku? Semuanya!"
Deg...
Gelak yang begitu keras terdengar, seketika terhenti menjadi bongkahan batu es yang siap hancur kapan saja. Tiba-tiba tubuh Stella membeku, dan bergetar hebat. Entah apa maksud dari ucapan dan tatapan Reza yang penuh selidik dan muslihat.
"Uhmm... Aku tau tentangmu? Dimana? Bahkan kita baru mengobrol santai kali ini." Stella berusaha menutupi rasa ketakutannya. Jantungnya kembali terpacu begitu kencang.
Wajah dingin tanpa ekspresi itu beberapa detik menatap lekat Stella. Mengunci pandangannya dengan gadis itu sangat dalam, sebelum sebuah garis lekuk tercipta di bibirnya. Reza tergelak begitu keras sampai-sampai membuat Stella terlonjak saking begitu terkejutnya.
"Jelas kau mengetahui ku. Semua tentangku terlampir di internet. Kau hanya tinggal mencari namaku, dan google langsung akan memperlihatkan wajahku."
Demi tuhan. Rasanya Stella ingin berteriak kencang-kencang dengan sikap Reza. Hampir saja, ia mati berdiri karena ketakutan rahasianya tentang berprofesi sampingnya menjadi seorang hacker, dan fakta jika dia adalah dalang sebenarnya peretasan sistemnya beberapa hari yang lalu.
"Ya. Aku pikir juga begitu." Stella memaksa diri untuk tersenyum. Menyembunyikan rasa geramnya di balik wajah ceria tanpa dosa dan penyesalan.
Untuk beberapa saat mereka senyap tak bersuara. Stella begitu asik memandangi segala bentuk ciptaan tuhan, berupa alam dari balik kaca jendela kafe hotel. Sementara Reza, memandangi pahatan mahakarya tuhan dalam bentuk sosok Stella. Begitu lekat, nyaris dalam.
Kepala Stella menoleh, merasakan pandangan tak enak dari Reza. Saat matanya melirik kearahnya. Tangan kanan Reza terangkat. Menampilkan tangan kekar berbulu yang begitu seksi sedang mengangkat cangkir kopi. Stella tertegun, menyaksikan tangan kekar yang di tumbuhi oleh bulu dan ada tatto bergambar naga berkepala merah di pergelangan tangannya. Oh, tunggu mengapa Stella merasa melihat sosok pangeran tampan dari diri Reza. Mati-matian Stella menahan degup jantungnya yang kembali terpacu karena pesona. Sesekali, ia menelan salivanya untuk meredakan rasa keterpesonaannya akan sosok Reza.
"Kau memiliki seorang kaka?"
"Ya, satu laki-laki dan dua perempuan," jawabannya cepat. Sialan. Wajah Stella memerah, saat Reza meliriknya. Cepat-cepat dia membuang mukanya, menundukkan muka merah merona itu agar dia tak ketahuan habis mengangumi ketampanannya.
"Mengapa kau tidak tinggal dengannya? Apa mereka tak ingin kau..."
"Bukan seperti itu." Lagi-lagi Stella memotong ucapan Reza, saat dia berbicara yang berspekulasi negatif tentang keluarganya. Stella seperti tidak terima. Mungkin! "Aku hanya tak ingin menyusahkan mereka," lanjutnya mencoba meluruskan spekulasi negatif Reza.
Kepala Reza mengangguk. "Aku mengerti."
__ADS_1
Stella kembali menghisap kopinya, dengan di tonton Reza penuh perhatian. Sesekali, ia juga menyuap makanan manisnya dengan berakhir cream kue yang menempel di ujung bibirnya. Itu tidak di sengaja. Benar-benar tidak di sengaja. Apalagi berniat untuk menggoda Reza. Sungguh, itu bukan sifat alami Stella. Namun, Reza tetaplah seorang lelaki dewasa normal. Melihat sikap lucu Stella membuatnya imajinasi liarnya bermunculan.
"Kau menguji ku, Stella."
"Maaf?"
Reza menunjuk ujung bibir Stella dengan matanya yang tajam bak burung elang. Tangan Stella segera terangkat, dan menyentuh sesuatu di ujung bibirnya. Oh, sialan! Dia menyadari kecerobohannya. Cepat-cepat, ia mengambil tisu dan membersihkan ujung bibirnya. Tak perduli lagi jika kalau lipstik yang ia pakai ikut terhapus juga. Dia benar-benar malu, sial.
"Maafkan aku, aku..."
"Tak masalah, Stella." Reza mengangkat kedua bahunya, mata birunya kembali berbinar.
"Ceritakan tentang mu, yang tak di ketahui oleh google?" Stella bertanya.
Dia mengangkat bahunya lagi. Takjub dengan kegigihan Stella mengorek tentang kehidupannya.
"Ayah kandung ku seorang mafia yang bengis. Sementara ayah angkatku seorang miliarder dalam bidang properti. Ibuku kandungku seorang pendendam berdarah dingin yang akan menjadi mertuamu nanti, sedang ibu tiriku seorang jal*ng yang gila harta. Dia mati karena di bunuh, dan ayah kandungku menjadi tersangkanya. Padahal saat wanita itu mati, ayahku sudah terlebih dulu mati di tiang gantung."
"Apa?" Stella tak mampu menahan keterkejutannya dengan pengakuan gamplang Reza. Apa dia seorang yang begitu terbuka? Atau memang sengaja memberitahu dengan tegas kepada Stella untuk menjebaknya.
"Aku yakin, kau tidak akan menemukannya di mesin pencari internet. Termasuk internet tergelap. Kecuali seseorang mencuri informasi ku dan menjualnya di sana."
Stella menarik garis bibirnya. Begitu kencang dan rapat.
"Ti... Tidak akan ada yang berani melakukan itu kepadamu."
"Tentu pasti ada, jika orang itu mempunyai nyali yang berani."
Mata Stella berkabut seperti ada sesuatu yang menutupi indra pengelihatannya itu.
Apa ini? Apa Mr.Oxley sedang menyindirnya?
Reza menganggukkan kepala cepat menyetujui. Dan pandangan birunya masih tetap melekat menatap Stella.
"Ya. Aku sangat menantikan siapa orang yang berani itu."
Kembali Stella bersemu, antara rasa kagum atau ketakutan.
Merasa arah pembicaraan sudah terlalu dalam, dan membuat Stella terancam. Benak dan alam bawah sadarnya langsung menarik Stella untuk menyudahi pembicaraan ini. Dengan cepat ia melirik jam tangannya. Oh, ini sudah sangat larut. Aku harus pulang. Gumamnya dalam hati.
"Sepertinya aku harus pulang, bang... Reza."
Reza melirik juga jam tangannya. Dia benar ini sudah larut, dan dia harus pulang.
"Akan ku antar kau pulang."
"Tidak perlu, aku biasa naik busway."
"Jangan menolak tawaran ku. Karena itu tidak akan datang dua kali."
Stella berdecak tak percaya, dan menunjukan senyuman geli sambil bangkit dari kursinya.
"Terima kasih atas kopinya."
"Dengan senang hati, Stella."
Reza tersenyum aneh, dan pandangan mereka untuk beberapa saat saling bertemu dan mengunci.
__ADS_1
Mereka berjalan kembali menujuh lift, turun kebawah dan menelusuri koridor lobi hotel. Tak ada yang memulai pembicaraan. Mereka seperti dua orang idiot yang saling binggung dan kikuk ingin melakukan apa.
Saat mereka tiba parkiran mobil, sebuah Audi hitam metalik terparkir di sana. Reza mendekat, merogoh kantong celananya dan mengeluarkan kunci Audi itu. Stella berdecak. Apa dia akan pulang dengan Audi ini? Oh tuhan apa ini nyata?
"Silahkan masuk." Dengan sopan Reza membuka pintu mobil untuk Stella. Dan lagi-lagi, Stella tidak menduga hal itu.
"Kau tidak perlu melakukan ini."
"Tidak masalah, untukmu."
Stella masuk ke dalam mobil. Memasang sabuk Audi dengan begitu hati-hati. Dia tidak ingin merusak segala sesuatu di dalam sana, pasti akan sangat mahal jika ia merusak dan harus menggantinya.
"Sudah siap?" Reza duduk di kursi pengemudi disebelah Stella. Menyalahkan mesin Audi dan siap meluncur.
"Ya." Gumam Stella.
Audi itu menyalah, berjalan berlahan meninggalkan hotel. Stella duduk sambil mencengkram erat sabuk hitam Audi. Sesuatu yang tak kasat mata mengguncang dirinya. Antara rasa bahagia juga ketakutan, bisa naik mobil mewah bersama miliader muda seperti Reza. Oh, otak. Stella menggelengkan kepalanya. Menyandarkan dirinya, jika Reza memang bersikap baik hanya karena ia merasa bahwa Stella adalah kekasih Judika, adiknya.
"Aku pikir ini bukan mobil dari Indonesia?"
"Ya. Ini milik asistenku. Dia sangat mencintai Audinya." Reza menjawab sambil terus konsentrasi menyetir.
"Aku yakin asisten mu seorang yang perfeksionis."
"Dia menyebalkan. Tapi ya, bisa di bilang dia seorang yang perfeksionis. Dan, sialnya aku membutuhkan dia."
Perjalanan Bogor-Bekasi memakan waktu kurang lebih satu jam. Dan, selama itu pula tak ada pembicaraan berarti baik dari Stella maupun Reza.
Mobil tiba di sebuah kampung kecil dengan jalanan sempit dan pengelihatan agak gelap di dekat kawasan elite Summarecon. Stella mengintruksikan Reza untuk berhenti di sebuah rumah berlantai besar, mirip flat dimana Reza kecil dulu tinggal. Mobil berhenti, dan Reza mematikan mesinnya. Mereka sama-sama keluar dari dalam mobil. Stella sedikit binggung, mengapa Reza harus ikut keluar juga?
"Apa ini rumah mu?"
"Bukan. Aku menyewa disini."
"Sebuah apartemen?"
Stella tergelak. "Bukan hanya sebuah indekos... Uhmm rumah flat mungkin jika di negara mu."
Kepala Reza mengangguk. "Kau tinggal di tempat yang bagus. Sunyi, dan tenang. Itu bagus."
Stella meng-iyakan perkataan Reza sambil mengulum senyum hangat dan tulus.
"Baiklah, kalau begitu aku masuk dulu."
Tanpa menunggu jawaban dari Reza, Stella berjalan hendak masuk kedalam indekosnya. Namun langkahnya terhenti, ketika sebuah tangan besar menyentuh dirinya dan menariknya. Stella terhenyut, dia terkejut saat Reza membawa tubuhnya ke dalam dekapannya. Satu tangannya begitu kuat menahan pinggul Stella untuk tidak lepas atau melepaskan diri dari pelukannya. Sementara tangan satunya, berlahan naik menyetuh pipi Stella. Ibu jarinya menyapu bibir bawah Stella dengan lembut, dan Stella dapat mendengar deru suara napasnya.
Stella Manarik napasnya dalam-dalam. Menghirup aroma begitu menyegarkan dari tubuh Oxley. Oh, sial aroma segar itu mampu membuat Stella mabuk kepayang. Pandangan mereka kembali saling bertemu, dia menatap Stella penuh selidik. Sementara Stella hanya dapat memandangi semua wajahnya; mata, alis, hidungnya, hingga pandangan jatuh ke dalam bibirnya. Oh, sial untuk dua puluh tujuh tahun hidup rasanya baru kali ini Stella berpikiran liar. Rasanya ia tak kuasa, ingin sekali mencium bibir milik Reza. Pikiran Stella lumpuh total, akal sehatnya hilang berganti fantasi aneh dan asing yang mengerubuti indra-indranya. Dia terpesona akan Reza, jauh melebihi keterpesonannya akan sosok Judika.
"Aku tidak bisa menyakitimu, Stella." Bisiknya begitu pelan di telinga Stella. "Aku mohon, kau tau kemana langkahmu tertuju, jika kau memang memiliki penyesalan."
Stella terperangah, akal sehatnya berlahan kembali berkumpul membentuk jiwanya lagi.
"Karena sejauh apapun aku melihat mu. Aku memiliki ikatan dan tradisi yang jauh lebih kental, Stella. Maka aku mohon, menyerah lah dan akui apa yang pernah kau perbuat."
TO BE COUNTINUE...
**NOTE:
__ADS_1
HELLO TEMAN-TEMAN MAAF YA AKU BARU UPDATE. SOALNYA AKU LAGI ADA DI LUAR NEGERI, DAN GAK TAU JAM BERAPA DI INDONESIA ðŸ˜ðŸ˜, KARENA DI SINI MASIH MALAM. TIDAK LEBIH TEPATNYA PAGI MENJELANG SUBUH. AKU UPDATE SATU BAB DULU YA, NANTI KALAU DI SINI SUDAH PAGI (MUNGKIN DI INDONESIA SIANG ATAU SORE) AKU TAMBAHIN BAB LANJUTANNYA. JANGAN LUPA JAGA KESEHATAN YA TEMAN-TEMAN 🤗🤗**