
Di dalam ruangan itu terdapat beberapa keluarga yang hadir. Tak banyak hanya keluarga dekat yang semuanya datang dari pihak Liliana; ada pakde dan bukde Judika membawa satu putranya, bernama Jordan yang kini menjabat menjadi eksekutif manajer di salah satu perusahaan properti milik Hartanto Grup. Juga ada Pakle dan Bukle yang secara khusus hadir jauh-jauh dari Yogyakarta, untuk menyambut kedatangan Reza juga melihat bakal calon istri Judika. Mereka tak memiliki seorang anak. Mereka juga terlihat berbeda dengan kakak-kakaknya yang lain. Mereka sederhana, dan terlihat ramah. Terlihat saat kedatangan Stella tadi, hanya mereka yang menyala begitu hangat Stella saat yang lain menatapnya rendahan dan tak suka. Serta, ada keluarga Inggit; ayahnya Adam, dan ibunya Sukma. Dan pastinya Jones, satu-satunya orang yang tak ikut duduk makan malam di sana. Ia lebih memilih berdiri di pojok ruangan sambil menatap berganti semua orang yang duduk melingkar mengelilingi kursi makan.
Sama dengan sang tuan, ia memandangi sedikit lama ke arah Stella. Menelisik sosok gadis tangguh itu, sambil bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, mengenai sosok seorang Stella.
"Saya hanya seorang jurnalis yang tak memiliki kedua orangtua, tuan," katanya menjawab pertanyaan Reza.
Mata Reza semakin dalam menatap kepala yang menunduk itu. Tubuh mungil berbalut dress hitam sederhana. Entah, mengapa Reza merasa sosok Stella memiliki kepribadian yang berbeda dengan kebanyakan wanita di luar sana. Tak dapat di pungkiri, meskipun hanya mendengar sekilas ibunya tadi menjelaskan sepak terjangnya menjadi seorang jurnalis hingga membuat di cap sebagai pengkhianat negara. Namun, Reza sudah dapat menyimpulkan sendiri bahwa sosoknya adalah wanita yang tangguh dan pekerjaan keras. Lebih-lebih dengan hinaan yang di lontarkan ibunya. Mungkin banyak wanita yang akan mengeram kesal, bahkan merajuk dan sudah pergi sedaritadi. Terapi Stella, ia justru malah menampilkan raut wajah datar seperti bodo amat dana acuh.
"Ceritakan lebih detail tentang kehidupan mu. Masa kecilmu, kedua orangtuamu, keluarga, dan karirmu hingga sekarang."
Semua mata terbelalak, serempak menatap Stella horror bukan main. Pasalnya, ini adalah kali pertamanya
Reza seorang miliuner muda sekaligus pemilik Oxley General memiliki rasa ingin tahu yang cukup tinggi tentang kehidupan pribadi seseorang, lebih-lebih orang itu wanita kelas rendahan seperti Stella. Apakah, ia tertarik akan sosok jurnalis ini? Semua orang di meja makan itu hanya menduga-duga saja di dalam benak.
__ADS_1
"Hidup saya tak menarik sama sekali, Tuan." Kepala Stella menengadah. Memberanikan diri menatap manik biru yang seketika itu juga mengehentikan jagat hidupnya sejenak. Entah, apa yang membuat terpesona akan sosok Reza. Mungkin karena wajah tampan nan dinginnya, atau manik birunya yang mengingatkan Stella dengan aktor kesukaannya; Chris Hemsworth. "Hidup saya hanya di penuhi dengan sekelumit masalah. Tak ada yang menarik." Menggelengkan kepalanya cepat dan tersenyum masam. "Benar-benar tak menarik."
"Saya yakin, semua orang di sini mau mendengarkannya. Menarik atau tidaknya. Karena bagaimana pun, kau adalah kekasih Judika yang cepat atau lambat akan menikah dengannya dan menjadi bagian dari keluarga ini. Sudah sepatutnya, bukan kami semua tau tentang kehidupan pribadi mu?"
Sejenak Stella menghela napas. Kembali menundukkan kepalanya dan memejamkan mata. Jujur saja, ini berat untuknya. Menceritakan masa lalunya yang kelam, terlebih tentang ibunya yang menjual dia kepada seorang penjahat cyber.
"Bang, ini berat buat di..."
"Nama saya Stella Sasmita. Tapi itu bukan nama asli saya." Judika menoleh menatap Stella, ketika gadis itu menyela ucapannya. Ia masih menunduk, memainkan jari-jarinya yang nampak bergetar hebat di bawah meja makan.
Mereka menatap Stella dengan tatapan berbeda-beda. Ada yang kaget, shock, bahkan masa bodo seperti Jordan. Sementara Liliana nampak bener-bener shock, paruhbaya itu bahkan sekarang sedang memijat-mijat keningnya. Sambil memejamkan mata dan tak berselera melanjutkan acara makan malam yang telah ia rancang sedemikian rupa. Juga Inggit, yang tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Gadis itu bahkan ternganga. Berdecak tak percaya dengan ucapan pembuka Stella.
"Ayah saya seorang aktivis yang begitu aktif saat masa pemerintahan orde baru. Beliau bersama rekan-rekan aktivis lainnya berjuang begitu keras untuk membela dan mencari keadilan untuk rakyat. Melalui jalan demostrasi langsung memerangi ketidakadilan, atau lewat jalur seni. Membuat lagu, syair, atau puisi yang semua isinya mengeritik pemerintah orde baru agar sadar dengan kesengsaraan rakyat."
__ADS_1
"Cih, pantas saja anaknya seperti ini. Ternyata itu semua turunan dari ayahnya." Liliana bersedekap, sambil menatap Stella tak suka.
Mendengar hinaan lagi dari mulut Liliana. Stella tetap diam, tak melawan. Dirinya bahkan membalas dengan senyuman yang membuat rasa tak suka Liliana akan dirinya naik berkali-kali lipat.
"Semasa hidup ayah saya, beliau tak henti-hentinya mencari keadilan untuk Rakyat, nyonya. Mencoba menjadi penyambung lidah rakyat kepada kepala negara. Ayah saya bahkan tak pernah gentar dan rela mati demi rakyat. Bukan seperti dewan rakyat jaman sekarang yang takut mati karena jabatan, dan tega mengorbankan rakyat hingga sengsara demi meraih cuan yang besar."
Dalam diam Judika tersenyum. Dia merasa Stella sedang menyindir ibunya yang saat ini memang ketahuan oleh Stella melakukan tindakan korupsi. Sama halnya dengan Judika, sang kakak juga tersenyum. Hanya saja, Reza secara terang-terangan menampakkan gigi-gigi putihnya itu di depan sang ibu. Tak perduli ibunya merasa tersinggung atau tidak. Toh dalam hati kecilnya pun, bisa dikatakan Reza adalah seorang anti dengan pemerintah monarki.
"Hingga akhirnya perjuangan ayah saya harus terhenti di bulan November tahun 98..." Kembali Stella menghela napasnya panjang. Merasakan degup jantungnya yang belum juga stabil, mungkin malah semakin berdebar keras karena ditambah dengan emosi yang tiba-tiba meluap memenuhi dirinya. Ini sudah menjadi kebiasaan untuknya. Saat menceritakan perihal sepak terjang ayahnya sebagai aktivis, Stella selalu emosional dan terbawa perasaan. Wajar bukan? Seorang anak begitu bangga dan menggebu-gebu menceritakan perjuangan orangtuanya menjadi seorang pahlawan modern?
"Beliau hilang. Hilang bersama dengan rekan-rekan lainnya di Jakarta. Hingga sekarang beliau tak di temukan, dimana keberadaan beliau apakah beliau masih hidup atau sudah mati saya tidak tau. Dan, selama itu pula saya berjuang menutut keadilan kepada pemerintah." Stella memejamkan matanya. Mencoba menahan airmata yang tiba-tiba ingin keluar. "Saya bergabung dengan analisis lainnya yang menuntut pemerintah mengungkapkan kasus pelanggaran HAM, berdiri di depan istana merdeka setiap hari Kamis dengan pakaian serba hitam." Emosi mulai meluap di dadanya. Stella mulai terisak. "Selama 9 tahun saya ikut dalam aksi itu, tak pernah penguasa negara datang menemui kami. Berbincang dan menanyakan kami sedikitpun. Kami hanya meminta kasus ini di usut. Kami tak banyak meminta dari pemerintah. Jika memang keluarga kami masih hidup tolong cari keberadaan mereka, tapi jika memang mereka telah tiada, setidaknya beritahu kami dimana makam mereka."
TO BE COUNTINUE...
__ADS_1
NP:
Aksi Kamisan adalah sebuah aksi yang dilakukan setiap hari Kamis di depan Istana Negara yang dilakukan oleh korban pelanggaran Hak Asasi Manusia di Indonesia. Aksi ini pertama kali dimulai pada tanggal 18 Januari 2007. Sumber Wikipedia.