Hello, Mr Mafia!

Hello, Mr Mafia!
S2: Ngidam


__ADS_3

Stella menggerutuki dirinya sendiri dalam hati bagaimana bisa saat bersama Reza, dia malah memikirkan Judika yang tak lain adalah adiknya sendiri. Sungguh keterlaluan. Bagaimana kalau Reza cemburu.


Tunggu, Stella mendongakkan kepala menatap Reza. Lama dia menatap wajah tampan lelaki itu yang sedikit di tumbuhi kumis.


Apa aku sudah gila berpikir jika lelaki ini cemburu kepada ku? Cih, bahkan aku yakin jika lelaki ini tidak memiliki hati nurani.


Terpaku dengan menatap wajah Reza lekat, tanpa di sadari sebuah tangan kekar ada di depan wajahnya. Reza menjentikkan tangannya, sampai membuat Stella sadar dari lamanunnya.


"Kenapa kau melihatiku seperti itu? Jangan bilang kau ngidam ingin menatapku terus menerus."


Narsis. Gumam stella dalam hati.


Selain menyebalkan, monster tak punya hati, seorang psychopath ternyata Stella baru tau jika Reza memiliki sifat narsisme juga. Huh, padahal tak ada keinginannya saat ini memandanginya, dia justru sangat muak dan ingin jauh-jauh dari Reza. Tapi apa daya, dirinya juga sayang akan nyawanya sendiri lebih baik Stella menahan rasa muak yang meluap di dada daripada tidur menemani ikan piranhan peliharaan Jones di basement.


"Maaf." Hanya kata itu yang dapat Stella keluarkan. Entah mengapa tiba-tiba dia ingin sekali mencubit kedua pipi Reza. Mengguyel-nguyelnya sampai wajahnya merah padam.


Tanpa sadar, Stella tersenyum membayangkan bagaimana wajah Reza yang di cubitin. Hahaha pasti sangat lucu.


"Hei kau sudah gila? Cengegesan tak jelas saat ku tanya."


Ya! Ya, aku memang sudah gila karena terus berdekatan dengan monster jantan seperti mu.


Sambil memandangi tangannya yang bertautan Stella berkata.


"Aku lapar. Ingin memakan sesuatu." Kepalanya menunduk dan terlalu takut melihat wajah Reza yang di pikir sedang menahan geram.


Bukan menjawab pertanyaannya, eh malah minta makan. Dasar ibu hamil.


"Makanan sudah siap, nona. Maafkan aku membuat mu lapar," kata Jones yang kemudian berjalan menunjukkan arah ke ruang makan.


Stella berjalan mengikuti Jones yang juga di belakangnya di buntuti Reza. Mereka jalan beriringan masuk ke dalam ruangan yang tadi para pelayan keluar dan masuk kembali. Sambil berjalan, Stella terus merekam sekeliling dalam ingatannya. Ruangan bernuansa khas inggris kuno, dengan ornamen-ornamen yang Stella yakinin di buat di jaman dahulu. Juga ada lukisan raja-raja inggris di abad ke 19 hingga 20, ada foto keluarga inggris sekarang seperti ratu Elizabeth, pangeran philip, berserta para pewaris tahta; pangeran Charles, pangeran wiliam, hingga si ganteng pangeran Harry.


Sepertinya Jones tipe lelaki yang sangat mencintai negaranya. Stella tersenyum sembari kakinya terus melangkah hingga sampai di ruangan besar dengan sebuah meja makan berbentuk oval besar di tengahnya yang mampu muat hingga 10 orang.


"Reza?" Tiba-tiba seorang wanita paruh baya muncul dari ruangan lain yang tak lain adalah dapur. Dia tersenyum menghampiri Stella, menyentuh bahunya lembut sebelum berpaling menuju Reza.


"Dia Stella," kata Reza dengan wajah datar.


"Saya sudah mengetahuinya."


Kening Reza mengerut, "Bagaimana?"


"Dari cara mu bersikap. Kau menahan gugup setengah mati, juga berjalan di belakangnya. Kau tidak pernah melakukan itu kepada wanita lain."


Mendengar ucapan wanita paruh baya berpakaian kasual itu, seketika Stella menoleh melirik Reza. Mata Reza langsung melotot menyambut tatapan Stella, buru-buru Stella kembali memalingkan pandangan.


"Aku bersikap biasa saja." Dia berjalan melengos dan duduk di salah satu kursi makan.


Dengan sigap para pelayan yang tadi menghadap Jones di depan, langsung melayani. Membalikkan piring makan di depan Reza, menyendokkan nasi dan lauk pauk ke atas piring.


"Dia menahan hatinya." Tiba-tiba wanita paruh baya itu berbisik di telinga Stella. Membuat Stella yang menatap Reza melongok tak percaya.


"Perkenalkan nama ku Maria Wheels. Aku adalah asisten rumah tangga Reza. Sekaligus teman satu-satunya di rumah." Wanita paruh baya itu memperkenalkan diri, mengulurkan tangan hendak berjabat tangan dengan Stella.


Canggung, Stella menerimanya. Dia tersenyum kaku menjabat tangan dengan Maria Wheels.


Wanita ini asisten rumah tangganya, tapi mengapa. dia memanggil nama depannya bukan belakang dan tidak dengan embel-embel sir?


Seperti tau isi hati Stella, Mrs. Wheels berkata


"Aku sudah sangat lama mengenalnya. Aku adalah adik ipar dari mendiang Mr.Oxley, Stella. Sejak berpacaran dengan suamiku, aku sudah mengasuh Reza dan Chris kecil." Suaranya begitu lembut menjelaskan, senyumnya mereka. Dia nampak sempurna menjadi seorang ibu yang bahagia.


Kepala Stella mengangguk paham. "Jadi kau bibinya Mr. Oxley?"

__ADS_1


"Aye, Miss."


Mereka tertawa kecil bebarengan. Nampaknya keduanya cukup cepat akrab. Reza yang melihat interaksi keduanya terdiam sesaat, menjentikkan tangan diam-diam menyuruh Jones mendekat.


"Aku ingin Mrs. Wheels tinggal disini. Mengurus semua keperluan Stella sampai keadaan perusahaan stabil." Bisiknya di telinga Jones.


"Baik, sir." Jones kembali melangkah mendekati Stella dan Mrs. Wheels yang masih bercengkrama sambil beberapa kali Mrs. Wheels mengelus lembut perut rata Stella. Seperti dia mengetahui jika wanita itu sedang hamil.


"Mrs.Wheels?" Di sela obralan dua wanita, Jones menyela. "Ada sesuatu hal yang ingin ku sampaikan."


"Bicaralah cepat. Aku ingin menujukkan kamar Stella setelah ini, memperlihatkan beberapa baju yang cantik untuk dia kenakan saat perutnya membesar," Dia menjawab ucapan Jones dengan panjang lebar, tapi begitu enggan melihat sedikit pun kearah lelaki itu. "Kau pasti akan terlihat cantik menggunakan dress rancangan ku," lanjutnya penuh dengan antusias.


"Mrs.Wheels seperti kalian berdua cocok untuk tinggal bersama."


Mengibaskan satu tangannya tapi masih tetap enggan melihat ke arah Jones. "Tentu. Dia mirip anakku," Akhirnya menoleh dan mendongakkan kepala ke arah Jones. "Mantan istrimu."


Jones hanya berdehem mendengar ucapan Mrs. Wheels yang tak lain tak bukan mantan mertuanya. Sabar! Jones mensugestikan dirinya sendiri. Dia tetap harus berwibawa dan profesional.


"Karena kalian berdua terlihat cukup dengan maka Mr. Oxley memutuskan menyuruh mu untuk tinggal di sini hingga Oxley General stabil."


Tanpa di duga, baik Mrs. Wheels dan Stella berteriak kegirangan. Keduannya bertepuk tangan, berpelukan dan tertawa bahagia.


"Aku senang, Mrs. Wheels bisa bersama mu disini."


"Tentu, Stella. Ya, meskipun aku harus melihat mantan menantu ku sekaku kanebo kering setiap hari. Tapi tidak masalah, setidaknya dengan kehadiran mu itu bisa mengobati kerinduan ku kepada anakku."


Sabar! Sabar Jones. Jika bukan Mrs. Wheels mantab mertua sekaligus bibi dari tuannya, sudah sedari dulu Jones pasti melemparkan tubuh Mrs. Wheels ke dalam danau belakang rumahnya yang di penuhi dengan buaya air asin yang dia pelihara.


Tak ingin menanggapi ucapan Mrs. Wheels yang hanya akan membuatnya geram, Jones kini berpaling berkata kepada Stella.


"Nona, Mr. Oxley sudah menunggu anda untuk makan. Silahkan, anda makan terlebih dahulu, setelahnya anda boleh bebas memilih kamar yang tersedia di sini." Jones membungkukkan tubuhnya sedikit, menjulurkan satu tangan kanannya mempersilahkan Stella untuk duduk di kursi makan yang telah di sediakan.


"Mrs.Wheels mari makan bersama ku." Menggandeng tangan Mrs.Wheels dan menuntutnya duduk di sebelah kursi makan.


Baru saja satu pelayan menggeser kursi untuk Stella, tiba-tiba Reza di serang rasa mual yang amat mendera. Dia bahkan langsung berdiri dsn berlari ke kamar mandi saking tak kuat menahan rasa mual.


Di sebelah Mrs.Wheels malah santai mengambilkan nasi dan lauk pauk ke atas piring Stella, meletakkannya tepat di depan Stella, dan menyuruhnya untuk tetap tenang.


"Biarkan itu wajar, kok."


"Wajar? Apa Mr.Oxley memiliki sakit maag aku seperti ku yang tidak boleh telat makan sedikit pun?"


Mrs.Wheels terkekeh mendengar ucapan polos Stella. Dia berpikir jika wanita ini benar-benar wanita yang amat sangat lugu dan polos.


"Bukan seperti itu, Stella."


"Lalu?"


"Kau kan sedang hamil, wajar saja jika Reza mengalami mual-mual seperti itu. Itu bertanda jika bayi didalam kandungan mu memiliki kontak fisik yang erat dengan Reza."


Jelas punya kontak fisik yang kuat, wong bapaknya dia.


Stella hanya manggut-manggut seperti burung perkutut paham.


"Sudah biarkan saja. Nanti juga hilang sendiri."


"Benar, nona lebih baik anda makan supaya bayi dalam kandungan nona mendapatkan nutrisi yang cukup," ucap Jones yang sama santainya seperti Mrs. Wheels. Bahkan dirinya sudah menyuap makanan ke dalam mulutnya, mengunyah makan itu dengan lahap tanpa memperdulikan suara huekan Reza yang begitu keras.


Benar saja tak lama Reza keluar dari kamar mandi dengan langkah terseok-seok. Tidak! Dia tidak baik-baik saja, wajah pucat sekali. Seperti seorang yang baru di tangkap berbuat mesum oleh warga.


"Sial!" Dengan kasar, Reza mengusap mulutnya dengan tisu kamar mandi. Membuangnya sembarang ke lantai lalu kembali duduk bersama di kursi makan.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Stella khawatir. "Perlu di buatkan teh atau susu?"

__ADS_1


"Tidak," jawabnya ketus. Dia kembali melahap lagi makanan, tetapi lagi-lagi mual menyerang dirinya.


Bulak balik Reza masuk ke dalam kamar mandi, memuntahkan isi perutnya. Reza tak mengerti apa yang terjadi kepadanya, sekali seumur hidup dia merasakan mual seperti ini. Apa dia terserang sakit Maag? Tidak! Reza menggeleng cepat menatap dirinya


di cermin wastafel kamar mandai, dia tidak memiliki sakit Maag. Baru beberapa hari yang lalu dia cek up ke dokter dan dia terbebas dari penyakit berbahaya kecuali sakit kepalanya yang akut.


Lalu jika, dia tidak memiliki sakit Maag lalu kenapa dia mual dan muntah-muntah seperti ini. Melihat makanan yang biasa menjadi semangat tidak berselera dan bernafsu.


"Mrs.Wheels seperti aku ingin melihat Mr.Oxley dulu. Aku mengkhawatirkan kondisinya." Di meja makan Stella sudah selesai menyantap makanan, dia bangkit dan pergi meninggalkan Mrs.Wheels dan Jones yang masih melahap makanan mereka dengan padangan mengerikan. Seperti mantan menantu dan mantan mertua ini memiliki masalah pribadi yang cukup berat. Pikir Stella sembari berjalan menuju ke kamar mandi.


Di ambang pintu, Stella berdiri melihat Reza yang sedang berdiri termenung menatap dirinya sendiri di cermin wastafel. Stella mengetuk pintu, masuk ke dalam kamar mandi tanpa menunggu izin dari Reza.


"Kamu baik-baik saja?" Sekali lagi Stella bertanya. Matanya memancarkan manik kekhawatiran yang begitu dalam.


"Ya, saya baik-baik saja." Meraih tisu kamar mandi dan mengelap mulutnya yang basah karena air keran. "Habiskan makanan mu, setelah ini pergi lah bersama Mrs.Wheels berbelanja ke butiknya."


Stella menggelangkan kepala. "Tidak! Aku tidak mau belanja. Aku mau barang-barang lama ku. Lagi pula dengan kondisi perusahaan mu yang sedang krisis tidak baik menghamburkan uang untuk hal yang tidak penting."


Mata Reza melotot lebar, dia tersinggung dengan ucapan Stella.


"Kau pikir aku ini miskin? Ulah mu itu tidak akan berdampak besar pada Oxley General. Bahkan jika saat ini kau meminta ku belikan pulau, 5 pulau akan ku belikan untuk mu."


Cih, sombong banget sih jadi orang. Tau gitu dulu aki lebih baik merampok uangnya saja di bandingkan mencuri data pribadi yang malah membuat ku sekarang terjebak bersamanya.


Stella mendengus kesal mendengar ucapan Reza. Tiba-tiba, saraf otaknya membayangkan sesuatu yang amat membuat nafsu makannya naik lagi. Dia tersenyum manja menatap Reza, mengerjap-ngerjap mata sambil menautkan tangannya.


"Apa? Aku benar-benar ingin minta ku belikan pulau?"


Kepala Stella menggeleng. "Tidak," jawabnya dengan suara manja.


"Lalu ngapain kau bertingkah seperti itu. Ingin mengoda ku di sini?"


Reza tersentak kaget, ketika tiba-tiba Stella mendongakkan kepalanya tepat beberapa senti di mukanya. Dia bahkan kini dapat mencium wangi mint dari mulut Reza. Segar.


"Aku ingin sate padang. Boleh kan, carikan ku sate padang? Ini kan buat anak mu juga."


Sungguh, Reza terhenyak mendengar keinginan Stella. Sate Padang? Di Manchester? Oh, shit! Reza merasakan tidak beres dengan permintaan ngidam Stella ini.


"Kau gila! Mana ada yang jual sate padang di Manchester? Jangan mengada-ngada, Stella."


Stella mengerucutkan bibir kecewa. "Aku kan tidak meminta pulau, atau nonton konser coldplay seperti impiankan ku, atau ingin melihat prince Harry naik kereta kuda dengan Megan markle, atau memegang jengot tipis ciptain Amerika, atau..."


"Stop." Reza mengangkat satu tangannya, menyuruh Stella untuk berhenti berkata yang membuat kepalanya pening. "Kau menulis list itu semua di otakmu? Atau memang semua itu adalah keinginan ku."


Sambil mengedarkan pandangan menatap kamar mandi yang lebih pantas di sebut studio itu dengan wajah imut dan manjanya. "Ada sebagian yang memang keinginan ku, ada sebagai yang tiba-tiba muncul di otakku dan ingin sekali aku lakukan."


"Misalnya?"


"Mengelus jenggot captain Amerika."


"Kau gila ya? Masa aku menyuruh Jones membawa Chris Evan ke sini dari Boston hanya untuk kau elus jenggotnya?"


"Ya kan ini keinginan anak kamu, Reza!"


TO BE CONTINUE...


PENGUMUMAN GIVEAWAY


SEBELUMNYA MOHON MAAF PENGUMUMAN GIVEAWAY TELAT SATU HARI, KARENA KEMARIN AKU SIBUK NGURUSI PERSIAPAN PUASA.


OK, UNTUK PEMENANG GIVEAWAY MENYAMBUT BULAN SUCI RAMADHAN YAKNI 2 ORANG DENGAN MASING-MASING PULSA TOTAL 25K


1. SAD👉NiaRefald🌵🌷

__ADS_1


2. Ina Casper


UNTUK PENGAMBILAN HADIAH SILAHKAN FOLLOW AKU, DAN KIRIM NOMER HANDPHONE KALIAN VIA CHAT PRIBADI. TERIMAKASIH DAN SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA.


__ADS_2