
Sejak mengenal dan bersahabat dengan Stella. Judika kini bukan hanya seorang yang pandai mengungkapkan fakta, kini Judika juga pandai menyembunyikan fakta. Fakta, jika dirinya jatuh cinta kepada Stella dan tak berani mengungkapkannya.
Selama empat tahun persahabatan mereka terjalin, Stella bagaikan sebuah karya sastra tulisan yang patut dan wajib ia baca. Semua mengenai wanita itu adalah yang terindah dan terbagus baginya. Bukan hanya pesona cantiknya yang selalu Judika bayangin setiap malam menjadi ratu dan ibu untuk anak-anak, juga kecerdasan yang di miliki wanita itu membuatnya menjadi spesial di bandingkan wanita yang pernah di temui oleh Judika.
Pikiran kritis, terbuka, dan lugas menjadi Stella teman yang asik untuk mengobrol, berdiskusi, maupun beradu argumentasi. Mulai dari konspirasi Bill gate, sampai pusingnya mikirin lagu Slank yang agak menyeleneh semua sudah pernah mereka bahas. Mulai dari film, boyband, sampai urusan paling berat di dunia seperti elit global dan konspirasi-konspirasinya.
Namun, meskipun begitu tetap saja baik itu Judika maupun Stella tetap dua orang manusia yang hidup dengan satu atau dua rahasia yang tak seorangpun tau akan rahasia itu. Meskipun mereka bersahabat begitu dekat dan klop, tetap saja ada dinding yang membatasi ruang gerak mereka.
Seperti halnya Stella, yang mengakui Judika sebagai sahabatnya dan selalu bercerita keluh kesah kehidupannya, namun begitu apik menyembunyikan masalalunya dengan Cyberfriend, Judika sama. Lelaki itu juga mengakui Stella sebagai sahabatnya, bahkan keburukan dan tingkah aneh Judika saja Stella tau. Namun, tidak untuk rahasia keluarganya. Ayahnya, kakaknya, juga tradisi aneh Abute. Dia bahkan menyembunyikan alasan mengapa dirinya mengantikan marga di belakang namanya seperti yang dilakukan Reza, abangnya.
"Abute adalah nama keturunan keluarga gue."
Hanya kalimat itu yang selalu Judika lontarkan, ketika teman-temannya menanyakan arti nama Abute di setiap buku kuliah. Tak ada yang lain, Judika begitu pandai menyembunyikan fakta akan keluarganya.
****
"Gue mau pergi." Satu kata yang dikatakan Judika kepada Stella, saat ia hendak mengantarkan Stella pulang setelah makan malam penyambutan kedatangan Reza.
__ADS_1
Stella diam, tak menjawab. Mereka masih terus berjalan menelusuri trotoar. Sesekali mengeratkan jaket, agar udara malam ibukota tak menusuk tulang-tulang.
"Stel, gue mau per..."
"Judi, lo gak perlu anterin gue balik ke rumah. Gue bisa naik kereta, ada sesuatu hal juga yang musti gue kerjakan. Jadi kita berpisah di sini, ya." Tanpa menunggu jawaban dari Judika, Stella segera berlari dengan heels yang masih terpasang di kakinya masuk ke dalam stasiun MRT.
Judika hanya diam mematung. Membisu dengan sejuta rasa yang menggebu-gebu pada dirinya. Padahal, ingin rasanya ia memeluk tubuh wanita itu untuk terakhir kali sebelum kemudian dia pergi dan entah kapan akan kembali. Namun, sayangnya sepertinya Stella begitu sibuk. Sampai-sampai, ia mungkin tidak mendengar ucapan yang dikatakan oleh Judika tadi. Ada sedikit kekesalan yang menggerogoti hati Judika, tetapi segera ia tepis begitu keras. Mungkin memang benar Stella sedang sibuk, dan dia malah menyalahkan diri sendiri karena tidak memberitahukan wanita itu dari jauh-jauh hari. Minimal satu atau dua minggu sebelum keberangkatan. Namun, memang tak dapat di tampik beberapa minggu kemarin Judika amat begitu sibuk mengurus keberangkatannya ke tanah Papua, juga ia yang terlibat sedikit problem dengan Stella karena masalah interview pekerjaan beberapa waktu lalu. Membuat, dia baru dapat memberitahukannya hari ini.
Namun, sayangnya kata yang seharusnya ia ucapakan sebagai salam perpisahan tidak pernah tersampaikan hingga saatnya Judika berangkat. Beberapa kali, lelaki itu mencoba menghubungi nomer Stella tetapi tetap saja tak diangkat. Sampai-sampai dia benaran kesal dan memutuskan tidak memberitahukan Stella selamanya akan keberangkatan dia bersama dengan dua kawan lainnya ke tanah Papua.
Secepat kilat hari merangkap, tak terasa hari itu adalah hari keberangkatan Judika. Tanpa di dampingi dan di temani oleh keluarga seperti dua teman lainnya. Judika berangkat, dengan di iringi rasa yang meminta dan berharap Stella datang mengiringi kepergian.
Sorong, Papua
Sorong, Papua...
Konon katanya Sorong adalah pintu gerbang menujuh tanah Papua. Saat saya tiba di sini dan menginjak kaki di tanah ini, saya merasa baru saja terpental di dunia yang asing. Dunia yang penuh keindahan dan beranekaragam kebudayaan. Saya benar-benar tak sabar, menantikan petualangan menantang untuk membuat film dokumenter mengenai keragaman budaya tanah Papua.
__ADS_1
Maaf seribu maaf kepada kamu. Saya tidak sempat mengucapkan salam perpisahan yang layak kepadamu. Saya harap kamu tidak marah sama saya, dan menunggu saya kembali pulang ke ibukota. Huh, rasanya baru sehari saya meninggalkan ibukota, tapi nampaknya saya merindukan gado-gado dekat kampus yang sering kita makan bersama setiap sore.
Oh, ya tadi ketika saya mendarat Abang saya memberitahukan kepada saya, jika kamu datang kantor pusat dan mencari saya. Kata abang saya, kamu sempat bertengkar dengan dua orang security disana. Kamu seperti lelaki kata bang Reza, dapat melawan dua security dan tidak merasa takut. Seperti bang Reza cemburu dengan saya yang memiliki kekasih yang sangat menyayangi saya. Huh, bagaimana ya, jika dia tau kalau kita pura-pura pacaran?
Pesan itu adalah pesan pertama yang Judika kirimkan kepada Stella. Setelah itu, selalu ada pesan masuk yang rutin di terima Stella dua hari sekali. Meskipun tak setiap hari Judika mengirimkannya pesan karena keterbatasan sinyal disana, itu tidak masalah bagi Stella. Setidaknya selalu ada kabar dan cerita tentangnya yang membuat rasa was-was dan khawatir Stella berkurang.
Sampai sebuah pesan masuk pada malam hari yang mengatakan jika Judika saat itu akan pergi ke perdalaman. Dimana di huni oleh para pemberontak yang menginginkan Papua melepaskan diri dari Indonesia. Setelah pesan itu tak ada lagi kabar dari Judika, lelaki menghilang hingga sebulan lamanya.
Namun, itu sudah berlalu. Kini lelaki yang selama ini Stella nanti-nantikan akhirnya akan kembali lagi dua hari lagi. Tak sabar rasanya, ingin bertemu, memeluk dirinya dan mendengarkan cerita perjalanan yang pastinya penuh dengan pelajaran itu.
TO BE COUNTINUE...
****
DARI BAB INI AKAN DI MULAI, KISAH CINTA SEGITIGA ANTARA REZA, STELLA DAN JUDIKA. KIRA-KIRA SIAPA YA YANG BAKAL DI PILIH OLEH STELLA? KETIKA DUA LELAKI MEMILIKI SIFAT BERTOLAK BELAKANG SAMA-SAMA MENYUKAI DIRINYA. APAKAH JUDIKA, LELAKI TAMPAN YANG MEMILIKI SIFAT LEMBUT DAN PENUH KEROMANTISAN. ATAU JUSTRU REZA, LELAKI TAMPAN, KAYA, NAMUN MISTERIUS, KASAR, DAN SEORANG MAFIA?
KIRA-KIRA KALIAN DI TIM MANA?
__ADS_1
JUDIKA OR REZA