
Stella terperangkap di dalam dimensi halusinasi lagi. Kali ini, bukan sejuta rasa yang setiap kali ia rasakan ketika berhalusinasi mengenai Judika. Ya! Dia selalu berhalusinasi hanya tentang Judika, memikirkan lelaki itu dan berharap dapat menjadikannya teman hidup suatu saat nanti. Namun, kali ini berbeda. Dia terjebak di dalam halusinasi yang luar biasa membuatnya takut. Di sana gelap dan dingin, tak ada jalan keluar. Semua jalan bagai tertutup olehnya. Dimana, ia melangkah selalu ada wajah menakutkan Reza yang menghantuinya. Sial! Dia terjebak dalam permainan yang ia ciptakan sendiri. Entah, mengapa dirinya menyakini jika Reza dan lelaki di belakangnya itu sedang mengawasinya atau malah mulai mencurigainya. Gestur tubuh dan caranya bercakap kepada dirinya, sudah mewakili itu semua. Apalagi tatapan matanya. Oh! Sungguh sangat tajam bagai belati. Meskipun Stella bukan lulusan sarjana psikologi, namun sedikit dia dapat membaca situasi dan gerak-gerik seseorang. Meskipun semua itu berkat ajaran dari Cyberfriend.
"Jadi bagaimana nona Sasmita?"
Suara berat itu kembali berkata. Stella yang melamun membisu sambil menatap kartu di tangannya terperangah dan langsung cepat-cepat mengumpulkan kesadaran dirinya.
"Saya akan mempertimbangkannya, tuan." Menatap Reza sambil memaksa untuk tersenyum.
Diam. Reza hanya terdiam dan masih terus menatapnya lekat Stella. Jujur saja, untuk beberapa alasan Stella amat begitu risih di perhatikan oleh Reza seperti itu. Beberapa kali dia berdehem, untuk memberikan kode kepada lelaki itu jika dirinya tak suka di pandangi selekat itu. Namun, itu sia-sia. Seperti tuli dan bodo amat. Reza masih terus memandangi hingga detik ini. Tanpa berekspresi apapun, hanya diam dan memandanginya lurus ke depan.
"Saya akan memikirkan tawaran yang berharga itu, Mr. Oxley." Tambahnya untuk menekankan jawaban kepada Reza.
Seulas senyum tercipta dari bibir tipisnya. Reza tersenyum. Begitu tulus. Matanya juga menyipit, menatap Stella dengan pandangan birunya yang tulus. Sejenak, Stella merasa sedang melihat wajah teduh milik Judika yang selalu tersenyum kearahnya sepanjang waktu tanpa ia minta. Mereka benar-benar mirip bak pinang di belah dua. Hanya saja yang membedakan; Judika memiliki wajah tampan yang selalu ceria dan terlihat humoris. Berbeda dengan Reza yang memiliki duplikat Judika dengan versi dingin dan menyeramkan.
"Saya akan menunggu jawaban kamu." Mengedipkan satu matanya, dan menyuap makanan ke dalam mulut.
Jones mundur. Kembali ke tempatnya semula. Tak ada lagi pembicaraan mengenai Stella. Semua orang di sana sibuk dengan makanannya sendiri. Suasana ruangan itu pun, tak seperti makan malam keluarga yang terasa hangat penuh cinta. Begitu panas dan mencekam. Bagaikan itu adalah makan malam terakhir untuk mereka. Hingga sampai, Liliana memecahkan kebisuan di ruangan itu akhirnya suasana sedikit melunak. Tetapi, tentunya dengan cara menyombongkan diri dan menghina serta menyindir Stella.
"Jadi kamu sekarang lagi sibuk apa, nggit?" Liliana menyetuh tangan Inggit dan mengusapnya. Memperlihatkan kepada semua, jika wanita yang di sukai Liliana modelan seperti Inggit bukan seperti Stella.
Serempak semua mata tertuju kepada dua wanita yang duduk bersebelahan itu. Ada yang memandangi penuh antusias, bahagia, suka, dan cuek. Seperti Judika dan Stella.
Inggit tersenyum malu-malu. Gadis itu menyeka mulutnya mengenakan tisu. Stella mengerutu di dalam hati. Oh! Sungguh, Inggit benar-benar wanita cantik dari kelas atas. Setiap gerak-geriknya selalu terlihat elegan dan keren. Berbeda dengan dirinya, yang kadang kala saja sehabis makan tak ingat untuk menyeka sisa makan di mulut malah langsung beranjak tidur tanpa memperdulikan sisa makanan di dalam mulut.
"Inggit sedang fokus dengan pendidikan kedokteran Inggit tante. Rencananya setelah lulus, Inggit ingin pergi ke Afrika untuk membantu anak-anak yang menderita gizi buruk di sana."
__ADS_1
Liliana tersenyum bangga. Menyetuh pipi gadis itu dan mengelusnya.
"Adik tiri saya juga ada di sana..." Tiba-tiba Reza menyela. Meletakan sendok makan di atas piring, lalu menatap Inggit dengan senyum mempesonanya. "Sudah dua bulan dia tak ada kabar. Asisten saya bilang..." Menunjuk Jones yang sibuk dengan tabletnya. Kemudian mendongakkan kepalanya lalu berbisik. "Dia di makan suku primitif di perdalam Afrika."
Mata Inggit mendelik kaget mendengar ucapan Reza, seketika tenggorokannya terasa seperti sedang di ganjal oleh sesuatu. Buru-buru, ia meminum air yang sudah terisi di dalam gelasnya. Meminum hingga habis tak tersisa, dan di lanjutkan dengan menghela napas dalam.
Reza tersenyum sarkasme melihat Inggit yang terlihat panik dan kaget mendengar ucapannya. "Yahh kau tau bukan? Bukan hanya tentang kelaparan yang melanda benua itu. Juga perang saudara yang berkepanjangan, membuat benua itu menjadi mengerikan. Padahal aku sangat menyukai benua itu. Mereka kaya dengan adat dan budaya yang masih terjaga hingga sekarang..." Menjeda ucapannya, dan kembali menatap Stella. Namun, kali ini juga Judika. "Tapi, itu bukan masalah kan untuk seorang yang memiliki jiwa aktivis besar?" Mengajukan pertanyaan kepada Stella dan Judika. "Dan seingat ku, kau pernah hilang di perdalam Papua saat berniat membuat film tentang pulau itu?" Menunjuk Judika sambil mengangguk-angguk kepalanya.
Kepala Judika mengangguk mengiyakan ucapan Reza. "Ya! Seharusnya seorang aktivis atau relawan sudah tau resiko apa yang bakal dia hadapi ke depannya. Dan, menurut gue pekerjaan aktivis atau relawan itu bukan pekerjaan yang di kerjakan karena ajakan seseorang atau melihatnya di suatu tempat dan mengklaim kalai aktivis atau relawan itu keren."
"Apa lagi kalau menjadi aktivis karena ikut-ikutan. Bisa mati di tengah jalan." Stella menambahkan secara tidak sengaja. Membuat Judika refleks tertawa, dan membuat Reza berdecak.
"Saya ga ikut-ikutan kok jadi seorang relawan!" Protes Inggit tiba-tiba. Merasa Stella sedang menyindirnya.
Mulut Inggit mengerucut sebal. Satu poin dari sifat Stella yang membuat Inggit makin tak menyukainya.
Makan malam pun berjalan dengan lancar, meskipun beberapa kali ada perkataan yang menyinggung hati Stella. Namun, dapat gadis itu balas dengan jawaban yang begitu elegan. Hingga di pengunjung acara pun, satu persatu tamu undangan berlahan pulang. Meninggalkan rumah utama dan kembali ke rumah mereka masing-masing. Kini hanya tinggal, Inggit, Reza berserta Jones, dan Stella yang masih duduk di ruang tamu rumah utama.
"Saya harap kamu bisa bekerja sama dengan saya. Membangun perusahaan ibu, sebelum dia benar-benar pergi." Menunjuk Liliana yang tengah menikmati secangkir teh mengenakan matanya.
Kening Judika mengeryit binggung. Pergi? Kemana ibunya akan pergi?
"Pergi? Pergi kemana?" Menatap Reza binggung.
"Uhum..." Liliana berdehem. Membuat Reza yang hendak berucap tak jadi dan serentak menatap Liliana.
__ADS_1
"Ibu berharap, kalian bisa menjadi tim, ya." Tersenyum dan menatap berganti kedua putranya.
"Tim? Mana bisa. Bahkan otak gue sama dia jauh beda." Gumam Judika kesal.
"Buk, ibu tau kan aku ga mau megang perusahaan. Yaudah si, kasih aja sama bang Reza selesai pekara," lanjut Judika dengan nada sedikit tinggi. Lelaki itu benar-benar tidak terima, jika harus hidup di dalam kekangan rutinitas pekerjaan kantoran seperti itu. Dia muak, itu bukan jalan hidupnya. Judika ingin bebas, menentukan jalan hidupnya sendiri.
"Tapi ini sudah kewajiban dan hak kamu, Judi!" Liliana berdiri. "Sudah! Ibu tidak mau ribut, antar pacar kamu pulang. Ibu ingin menyiapkan kamar untuk Inggit dan orangtuanya."
Judika berdecak. "Lah, mereka nginap?"
"Kenapa kalau keluarga Inggit menginap di sini?" Menoleh dan menatap Judika.
Judika membuang mukanya, sambil menjulurkan lidah meledek sang ibu. Melihat sang ibu sudah kembali berjalan menjauh Judika pun berkata dengan kencang.
"Anak orang aja di sayang. Giliran anak sendiri di buang."
"Judika!" Teriak Liliana menggelegar di ruang tamu.
Cepat-cepat Judika bangkit dari duduknya. Meraih tangan Stella dan menarik gadis itu. Membawanya berlari keluar dari rumah utama. "Ayo cepet pergi singa betina mulai ngamuk."
"Judika!" Liliana berjalan tergesa-gesa mengejar Judika. Namun sayang anak lelakinya itu sudah lebih dulu meninggalkan rumah utama membawa gadis pujaan hatinya. Liliana hanya dapat mengeram kesal di ambang pintu rumah utama sambil mengepalkan tangan kuat-kuat.
TO BE COUNTINUE...
Udah ya guys untuk hari ini 3 episode dulu. Di lanjutkan besok lagi. Insyaallah Author bakal update setiap hari. Terimakasih. Semoga kalian selalu dalam keadaan baik-baik saja.
__ADS_1