Hello, Mr Mafia!

Hello, Mr Mafia!
Episode 83


__ADS_3

Pembicara panjang lebar dengan Chris akhirnya berakhir. Lelaki itu telah pergi dari apartemennya, meninggalkan Stella dengan setumpuk beban di pikirannya.


Kesepakatan bersama Chris, Stella pikir adalah jalan terbaik untuknya terhindar dari kejaran Cyberfriend. Namun, untuk menggoda Reza itulah kesalahan dari rencananya.


Bagaimana bisa, di saat status dia masih menjadi kekasih pura-pura Judika, dia juga berusaha menggoda Reza. Membuat lelaki itu terpikat dan jatuh cinta kepadanya. Itu tidak mungkin dia lakukan. Selain dirinya memang tak mau, dia juga tak mungkin. Apa kata orang-orang nanti? Selain menjadi pengkhianat negara, pasti dia juga akan di cap sebagai wanita murahan.


Oh, sih sialan Chris bagaimana bisa dia membuat ide semacam itu? Pasti ada cara lain untuknya mendapatkan ponsel Reza tanpa harus menggoda lelaki itu.


Dan, malam itu Stella berpikir keras menemukan ide untuk menyadap ponsel Reza, tanpa harus mengikuti ide gila Chris.


Sementara itu, selepas kepergiannya dari apartemen Stella. Dengan menggunakan mobil sedannya, Chris menujuh ke sebuah yayasan sosial di daerahnya Jakarta barat. Yayasan sosial, tempat anak-anak mengidap penyakit mematikan yang tak memiliki biaya di rawat di sana. Yayasan yang telah lama berdiri, namun tak terlacak oleh pemerintahan.


Sebelum sampai di yayasan bernama pelita kasih sayang itu, tak lupa Chris membawakan berbagai macam jenis makanan sehat untuk anak-anak penghuni yayasan. Itu sudah seperti kebiasaannya, yang sangat perduli dengan kesehatan anak-anak dunia. Dia bahkan secara diam-diam sering melakukan kerjasama dengan WHO dan Unicef, untuk menanggulangi bencana kelaparan yang melanda benua Afrika, yang banyak menjangkiti anak-anak. Tak hanya itu, di sana Chris juga mendirikan camp bagi para pengungsi yang rumah-rumah mereka habis karena perang saudara kepanjangan. Mendirikan sarana kesehatan dan air bersih, juga menjadi guru bagi anak-anak di sana. Khususnya negara Sudan.


"Dokter, Chris." Teriak seluruh anak-anak yang sedang bermain, saat ekor mata mereka melihat kedatangan mobil Chris.


Mereka yang berjumlah lebih dari lima belas orang itu, langsung berhamburannya meninggalkan mainan mereka sembarangan dan berlari menghampiri Chris.


Dengan wajah mengembang, Chris turun dari sana. Menyapa satu persatu anak-anak itu, sesekali mengelus-elus kepala mereka dengan lembut.


"Dokter, kenapa dokter jarang banget main kesini? Apa dokter sudah tak sayang dengan kami?" Seorang bocah lelaki dengan wajah pucat pasi dan kepala botak berkata. Matanya memancarkan binar ketulusan. Terlihat begitu sendu, namun juga sangat menenangkan.


"Maafkan dokter," suaranya lembut dengan aksen Inggrisnya yang begitu sangat kental. Maklum, Chris belum terbiasa berbicara bahasa Indonesia. Ucapannya juga tidak terlalu lancar, tetapi masih bisa dipahami. "Akhir-akhir ini dokter banyak sekali pekerjaan." Dengan lembut dia menangkup pipi bocah lelaki itu dan mengelus pipinya dengan lembut.


"Dokter, apa dokter hari ini akan menginap di sini bersama kami?" Seorang anak perempuan lucu kini gantian berkata. Nada sedikit cadel, dan itu sangat menggemaskan bagi Chris.


"Ya, tentu." Chris beringsut, jongkok di depan bocah perempuan yang di kepang dua itu sambil tersenyum. "Dokter juga membawakan makanan lezat untuk kalian. Kalian suka?"

__ADS_1


"Ya, dokter," jawab mereka serentak, di iringi dengan loncatan kecil bahagia.


****


Keesokan paginya, Stella sudah bersiap untuk berangkat menujuh kampus sesuai dengan rencananya dua hari lalu yang mengatakan kepada dewan kampus akan datang hari itu untuk membicarakan perihal beasiswanya.


Dia berangkat masih sangat pagi. Karena, dia juga mengejar waktu bekerja. Stella berangkat dari stasiun Jakarta kota menujuh stasiun Bekasi. Jaraknya cukup jauh, memakan waktu satu hingga satu setengah jam. Itu cukup untuknya kembali tidur sebentar, sebelum akhirnya seharian bergelut dengan pekerjaan yang memeras tenaga.


Seperti biasa saat naik kendaraan umum, Stella selalu memasang earphonenya. Membenamkan dirinya larut ke dalam lagu milik Kodaline. Sebuah lagu ballad yang cukup bagus untuk di dengarkan. Dengan suara vokalisnya yang unik, yang berhasil membuat mood Stella naik sedikit. Itu terbukti, tanpa sadar dia menarik garis bibirnya hingga menyerupai garis lengkung, dia begitu menikmati kata demi kata yang di nyanyikan oleh band asal Irlandia itu hingga akhirnya terlelap tidur.


Saat kereta berhenti di tujuan akhir, Stella segera turun dan melanjutkan perjalanannya menggunakan ojek online.


Kampus, tempatnya dulu berbagi hampir setengah hidupnya itu terlihat begitu sepi. Tak ada siapapun di sana, baik dosen apalagi mahasiswa. Halamannya pun terlihat kotor, banyak daun-daun kering yang berjatuhan dan berserakan di halaman kampus. Stella mendesis, menghela napas panjang untuk beberapa saat. Dia merindukan kuliah, suasana kampus itu, orang-orangnya, dan mata kuliahnya. Entah apa setelah ini dia bisa melanjutkan kuliahnya lagi atau tidak? Stella sudah pasrah.


Tiba-tiba, saat dirinya masih tengah termenung bernostalgia dengan suasana kampus sebelum masa pandemi, sebuah suara parau lelaki memanggil namanya mengejutkan Stella. Stella terhenyak, terbangun dari alam bawah sadarnya dan langsung mencari sumber suara.


Itu salah satu dosennya. Segera Stella berlari menghampiri. Menyapa dosen tersebut dengan nada sedikit ngos-ngosan.


"Pa... Pagi pak," katanya sambil mencoba mengatur napas. Membungkukkan tubuh dengan kedua tangan bertumpu kepada dengkul kaki.


"Ayo masuk. Dekan sudah menunggu kamu."


Tubuh Stella menegak. Kepalanya mengangguk mengamini, kemudian berjalan mengikuti kemana langkah kaki dosen membawanya.


Di sisi lain tak lama kedatangan Stella, Judika juga tiba di kampus dengan setumpuk buku di di genggamannya. Lelaki itu tergopoh-gopoh berjalan memasuki kampus. Melewati koridor yang biasa di padati para mahasiswa, dan berhenti di sebuah perpustakaan.


Bruk...

__ADS_1


Seorang wanita berbadan gempal yang sedang fokus menulis sesuatu di buku bersampul cokelat langsung menoleh, saat setumpuk buku tiba-tiba di letakan di atas mejanya. Sejenak ia menatap Judika, memastikan siapa orang yang pagi-pagi sudah datang kesini dengan setumpuk buku.


"Oh, Judika. Aku baru mendengarkan kabar kepulangan mu di tv, dan sekarang kau berada disini."


Kepala Judika mengangguk. "Ya. Aku ingin mengembalikan buku ini. Kamarku akan di renovasi, aku takut buku ini akan rusak atau hilang."


"Baiklah. Kau kesini hanya untuk mengembalikan buku, atau ada kepentingan lainnya?" Wanita bertubuh gempal dengan baju berwarna merah dan rok hitam menatap Judika dengan tatapan penuh selidik.


"Ya. Hanya membalikkan buku saja. Aku tak ada kerjaan di sini, buk Rumi."


Kepala Buk Rumi mengangguk. Tangannya meraih sebotol cairan anti virus, menuangkan di kedua telapak tangan dan mengusap hingga ke seluruh. Setelah itu, Buk Rumi mengambil semua buku yang Judika bawa, mengecek satu demi satu buku itu. Memastikan jika tak ada yang rusak sedikitpun.


"Aku pikir kau mengantarkan Stella."


Kening Judika mengeryit binggung.


"Stella? Buat apa dia kesini?"


Sejenak buk Rumi menghela napas panjang. Menutup buku tersebut sedikit kencang dan menatap Judika nanar.


"Kau tak tau, jika beasiswa Stella di cabut oleh kampus dua bulan yang lalu, dan dia baru datang ke sini sekarang karena waktu itu dia sangat mengkhawatirkan kamu. Dan, kampus pun memberikan kompensasi waktu kepadanya hingga hari ini."


Mendengar ucapan buk Rumi, wanita penjaga perpustakaan tubuh Judika langsung terhenyak. Dia kaget bukan main mendengar temannya ternyata sedang di rundung kesusahan.


"Bea siswa Stella benar-benar di cabut? Hari ini?"


Kepala buk Rumi mengangguk membetulkan pertanyaan Judika.

__ADS_1


TO BE COUNTINUE


__ADS_2