Hello, Mr Mafia!

Hello, Mr Mafia!
Episode 29


__ADS_3

29 jam sebelumnya...


Montserrat, seberang laut Britania.


Pangkalan militer Inggris, di Montserrat sore itu terlihat ramai karena kedatangan tamu undangan spesial yakni Mr.Oxley. para prajurit gabungan terlihat sibuk mempersiapkan sesuatu yang akan di demostrasikan oleh Reza. Beberapa minuman beralkohol, daging-daging juga makanan lezat lainnya nampak terlihat sedang di hidangkan di sana. Sepertinya hari ini, mereka akan mengadakan acara makan besar.


Bersama dengan jendral besar tentara angkatan darat Inggris dan Montserrat, Reza berjalan mengitari pangkalan. Sambil berbincang-bincang dan sesekali tertawa. Sementara Jones berjalan agak jauh dari rombongan itu, memegang koper besar yang entah berisikan apa.


Hari ini bertepatan dengan ia akan bertolak ke Indonesia, Reza akan menguji coba beberapa produk baru buatan yang telah ia perkenalkan ke depan publik beberapa waktu lalu di Inggris. Dia bersama dengan jajaran dewan kemiliteran lainnya juga staf dari badan Intelijen negara M16 bersiap berangkat menuju gurun pasir berbatu yang letaknya tak jauh dari pangkalan militer itu.


Jaraknya hanya 500 meter dari sana. Mereka bertolak mengenakan mobil lapis baja berjumlah lima belas, yang satu mobil dapat berisikan empat sampai lima orang.


Para prajurit berseragam loreng, dengan topi baseball berwana senada juga kacamata hitam yang melingkar indah di mata mereka, berbaris dengan rapi. Tak ketinggalan beberapa staf dari badan pertanahan negara M16 juga ikut berbaris, ikut serta dalam pengujian produk terbaru buatan Oxley General. Reza berdiri dengan penuh percaya diri diatas batu besar yang berada tepat di depan para petinggi militer. Dengan mengenakan setelan jas hitam, yang kancing kemejanya di buka beberapa buah di bagian atas juga kacamata hitam yang melindungi matanya dari terpaan sinar matahari ia berdiri dengan angkuh. Berkacak pinggang beberapa detik, sebelum kemudian tersenyum dan bertepuk tangan seorang diri. Jones yang berada di ujung, hanya dapat menaik-turunkan alisnya melihat sifat alami tuannya jika sedang mempersentasikan produk; tengil juga sombong.


"Kata orang senjata terbaik di ciptakan tanpa harus di tembakan." Reza turun dari atas batu, memasukan kedua tangannya di kantung celana dan berjalan berlahan. "Aku tidak setuju! Selama aku berkarir dalam dunia teknologi dan senjata, aku sangat menyukai senjata yang di tembakan. Namun, aku lebih menyukai senjata yang di tembakan hanya sekali dan langsung dapat memusnahkan semua tempat persembunyian musuh. Itu bagus membuat kita dapat dengan mudah menciptakan kedamaian dunia."


Semua orang disana, nampak begitu khusyuk mendengarkan perkataaan Reza. Mereka tak ada yang berniat menyela atau mengeritik. Semuanya diam, fokus memasang telinga mereka mendengarkan perkataan orang jenius teknologi itu.


"Dengan mengingat itu, inilah aset paling berharga buatan Oxley General rudal pertama yang berkolaborasi dengan teknologi digital. Tak perlu menyentuh rudal itu untuk menembakkan ke arah musuh, kalian hanya cukup menekan tombol di layar ponsel pintar kalian dan dimana kalian pun berada rudal ini dapat kalian tembakan seperti sedang memainkan game. Tembakan satu dari senjata dahsyat ini semua tempat persembunyian musuh akan musnah dan rata dengan tanah." Kepala Reza berpaling. Menoleh ke sisi kanan sambil menggoyangkan tanganya pelan. Semua mata pun mengikuti kearah mana mata Reza tertuju.


Sebuah rudal besar dengan tiga senjata yang siap di tembakkan berdiri menantang di belakang para prajurit yang berbaris rapi. Rudal berwarna hitam metalik itu bergerak menggangga otomatis, siap menembak kearah atas cakrawala sore Montserrat. Semua mata terkagum tertuju kepada rudal yang di gandang-gandang akan membuat musuh menyerah sebelum perang dimulai. Dengan penuh percaya diri Reza meraih ponsel dari kantung celananya. Menekan-nekan benda pipih itu kemudian tersenyum.

__ADS_1


"Dengan bangga aku mempersembahkan Mark 66." Semua mata kembali tertuju kearah Reza, mereka sudah di hadapi dengan layar ponsel yang menampilkan peta dimana mereka berdiri dengan titik merah yang sengaja sudah di tandai oleh Reza. Dengan cekatan pun, Reza langsung menekan tulisan shoot.


Satu rudal dari tiga yang terpasang segera meluncur bebas ke angkasa. Semua mata terus fokus kemana arah rudal itu terbang. Di atas langit daya kecepatan rudal itu tertahan. Tak lama rudal itu berhenti di angkasa meledak dan membelah diri menjadi beberapa rudal kecil dan kembali meluncur bebas ke titik koordinat yang telah Reza tandai. Ledakan pun terjadi. Dalam skala yang cukup besar, langsung melulu lantakan semua titik koordinat yang di tandai Reza menjadi tanah. Angin bertiup cukup kencang bersamaan dengan debu yang membumbung di langit cakrawala. Dalam sekejap mata, senjata berukuran sedang itu dapat memusnahkan seperempat dari gurun pasir berbatu. Memporak-porandakan semuanya dengan ledakan berapi dan tanah. Inilah salah satu senjata kecil yang Reza buat sebagian dari seri senjata pemusnah massal yang sedang ia ciptakan secara diam-diam.


Selepas selesai, mereka semua kembali ke pangkalan militer. Dan saat tiba disana, sebuah pesawat jet pribadi Boeing 787-8 BBJ lengkap dengan karpet merah terbentang sepanjang dua meter telah menunggu. Beberapa staf baik dari tentara gabungan atau badan intelijen negara ternganga. Berdecak kagum dan bertanya-tanya siapa pemilik pesawat mewah itu. Namun, mereka juga dapat dengan mudah mengetahui siapa pemilik. Siapa lagi, jika bukan Reza. Nama Oxley General dalam tulisan biru yang sangat besar melintang di badan pesawatnya. Mereka sudah tak heran, orang-orang besar berpangkat tinggi macam Reza dapat menyalahgunakan properti perusahaan, dan menggantinya menjadi milik pribadi.


"Terimakasih atas semuanya Mr.Oxley." Jendral besar Rowley berjabat tangan dengan Reza. Menepuk-nepuk punggung Reza beberapa kali sambil terus menatapnya dengan mata berbinar bahagia.


"Terimakasih telah mengambil peran besar untuk menghujudkan perdamaian dunia." Kali ini sir John kepala intelijen negara M16 memeluk Reza beberapa detik. Itu sedikit membuat Reza risih, terlihat ia menggelengkan kepalanya sambil memejamkan mata sesaat.


"Tak masalah," jawabnya buru-buru melepaskan pelukan Sir John.


"Sir, pesawat telah siap. Kita sudah di tunggu oleh keluarga Hartanto." Tiba-tiba saja, Jones muncul entah dari arah mana. Berbisik pada telinga Reza, sambil memasang tatapan tak suka kepada Sir John. Entah ada dendam apa dengan lelaki paruhbaya itu, yang jelas nampaknya Jones tak menyukai dia dekat-dekat dengan tuannya.


Semua prajurit mengangguk kepalanya serentak. Bersamaan Reza yang berjalan sambil melambaikan tangan menujuh pesawat pribadi super mewahnya. Menaiki satu persatu anak tangga pesawat, dan berhenti tepat i depan pintu pesawat. Ia memutar tubuhnya, kembali melambaikan tangan sebagai ucapan perpisahan terakhir kepada semua prajurit yang telah berdedikasi kepada negara itu. Ia tersenyum dan berkata


"Takkan ada perdamaian di dunia, jika di dalam hati tidak ada rasa perikemanusiaan." Berbalik dan masuk ke dalam kabin pesawat.


Di dalam kabin, Reza telah di sambut oleh Christian dalam seragam pilotnya berwarna putih.


"Selamat datang di penebangan ini, Mr. Oxley." Ia tersenyum kepada Reza berganti kepada Jones yang berdiri di belakang Reza. "Perjalanan menujuh Indonesia akan memakan waktu tempuh sekitar 14-16 jam."

__ADS_1


"Semoga perjalanan ini menyenangkan." Reza menepuk punggung Christian, dan berjalan masuk lebih dalam ke dalam kabin.


"Yes, sir." Berdiri tegap layaknya seorang prajurit yang sedang dalam keadaan siap siaga. "Semoga anda menikmati perjalanan ini."


Dua orang wanita dalam balutan seragam lain menyebut Reza dengan senampan sampanye, buah-buahan segar, juga beberapa handuk berukuran berbeda.


Pesawat itu terlihat begitu mewah. Lantai marmer, dengan kursi empuk yang dilengkapi dengan pijatan kaki dan bahu. Juga ada mini teater dan sebuah kamar beranjang big size yang berada di ruangan sebelahnya. Perjalanan panjang kali ini, Reza tak ingin menghabiskan waktunya percuma. Jones telah menyiapkan seorang gadis cantik yang siap melayani Reza kapanpun tuannya inginkan. Juga minuman-minuman beralkohol yang amat sangat di gemari Reza.


"Kau mau makan, sir?" Jones duduk kursi empuk berwarna putih. Kini mereka duduk di dua kursi yang saling berhadapan, dengan meja kecil yang di pelitur penuh diantara mereka.


"Tidak," jawabannya singkat.


"Perjalanan menuju Indonesia sangat panjang, Sir. Aku telah menyiapkan gadis perawan untuk melayani mu, jika anda merasa lelah."


Seketika mata Reza menatap Jones dalam. Menyeringai menakutkan sambil melepaskan jas yang melekat pada tubuhnya. Tubuh beringsut bangkit, melemparkannya ke wajah Jones dan berjalan menuju ruangan lainnya.


"Bakar jas itu, benar-benar sangat menjijikkan di peluk oleh seorang penjilat seperti dia." Menghilang dan mengunci pintu ruangan.


NOTE:


DIALOG DAN SENJATA RUDAL DALAM EPISODE INI DIAMBIL DARI TEKS DAN TERINSPIRASI DARI SENJATA BUATAN TONY STRAK (FILM IRON MAN 1)

__ADS_1


TO BE COUNTINUE...


__ADS_2