
Pintu kayu tua berderit, engsel penyangganya berbunyi cukup kuat. Mengingat sudah lebih tiga bulan tak di berikan pelumas. Jones dan Tony muncul dari sana, menampakkan kegagahan mereka di balik baju yang terlihat kontras perbedaannya.
Ada tujuh orang di sekap didalam ruangan lembab, gelap, berukuran tiga kali tiga meter. Semua dalam keadaan kacau. Tubuh terikat memeluk lutut dengan tangan ke belakang, wajah lebam, dan baju sobek-sobek. Sudah dapat di tebak siapa yang melakukannya.
Mata ketujuh orang itu sekejap berbinar, saat melihat kedatangan Jones yang bak bagaikan dewa penolong. Mulut yang tersumpal oleh lakban, terus berusaha berceloteh mengadu nasib mereka atau sekedar ingin meminta tolong kepada orang terkenal di Inggris itu.
Namun, rasa senang mereka sekejap itu pula menghilang saat Jones duduk di kursi kayu tanpa senderan, menghadap kearah mereka dengan sarung tangan karet sudah melekat di tangannya. Tubuh mereka mengeliat, saling bersedekap satu sama lain menghindari Jones.
"Hanya tujuh orang?" Jones menyapu pandangannya, menatap secara bergantian ketujuh orang itu. Ada yang berkepala plontos, rambut cepak, hingga panjang di sertai kumis dan janggut di area mulut. Satu yang membuat mereka terlihat sama, yaitu sama-sama babak belur.
"Ken bilang, mereka biang perusuhnya," jawab Tony sambil meletakkan karung berisi tikus itu di atas meja.
"Aku tidak bisa melakukan ini hanya berdua. Aku butuh Ken atau Natasha untuk membantu ku bermain." Kembali Jones menoleh menatap ketujuh orang yang wajahnya mulai mengkilap oleh derasan keringat.
Tidak! Bukan karena ruangan ini panas, mengingat salju yang turun di luar sana cukup lebat membuat siapapun akan mengeratkan baju penghangat mereka di manapun berada. Keringat semakin berkucur. Suara porak-perandai kian mendera di telinga ke tujuh orang itu. Bermain? Kata yang membuat alam bawah sadar mereka bergedik ngeri. Mereka diam, menutup diri dan berdoa di dalam hati. Agar dewi Fortuna datang menyelamatkan mereka.
Tony mengamini perkataan Jones. Pemuda yang tiga tahun lalu nyawanya di tolong Jones itu, tanpa berkata apapun langsung pergi melewati pintu kayu. Menutupnya kembali dan benar-benar menghilang meninggalkan Jones sendirian dengan ketujuh bedebah yang berhasil mencuri istirahat malamnya.
Kursi kayu di seret. Menimbulkan bunyi, bagai tabuh malaikat pencabut nyawa. Jones kembali duduk diatasnya, mendongakkan kepala, melihat pada salah satu dari mereka. Paling tua di antara mereka.
BREK...
Lakban di tarik paksa, membuka mulut pria itu. Rasa panas menjalar di bibirnya. Matanya bahkan berkaca-kaca, namun tak sampai meneteskan buliran. Mungkin malu, sengaja di tahan agar keenam temannya yang lain tak mengejeknya.
"Kau tau aku?"
"Yes, sir."
"Siapa bos mu?"
Diam. Pria itu terdiam, tak menjawab pertanyaan kedua yang di ajukan Jones. Membuat Jones kesal dan menjambak rambut cepaknya hingga membuat kepala pria itu mendongak ke atas.
__ADS_1
Cuh...
Bukan menjawab, pria itu justru meludahi wajah Jones dan menyeringai penuh sarkasme. Beruntung Jones dapat menghindar, dari air liur menjijikan berbau kokain itu.
Tangan Jones melepaskan jambakannya. Ia kembali duduk dan mengelap bekas minyak yang menempel di sarung tangan karetnya di jaket pria tadi. Jijik. Jones merasa jijik dengan rambut berminyak, yang entah kapan terakhir kali di cuci itu.
Pintu kayu tua kembali terbuka. Menampakkan Tony dengan satu pemuda yang tadi menemui Jones di helipad. Ken, mamanya. Kedua orang itu langsung mengangkat tubuh pria yang tadi rambutnya di jambak oleh Jones keatas meja besi, saat Jones menginstruksikannya.
Tali pengikat tubuh di lepas. Ia dibaringkan telentang. Kini berganti kedua kakinya di ikat dengan sesak di kaki meja besi. Kedua tangannya di borgol diatas kepala. Mulutnya di biarkan terbuka. Ia meronta, mengeliat dan berteriak bak seorang anak kecil yang sedang merajuk akibat tak dibelikan mainan.
Jones berdiri. Menyeringai kepada enam orang yang meringis dan menatap kalut kearahnya, sebelum ia beringsut mendekati pria yang sudah tergeletak diatas meja besi. Kedua tangan bersarung karet terangkat. Dengan sengaja, Jones menarik sarung karet itu hingga terdengar suara.
Platak...
Yang tertidur di meja besi, semakin berteriak histeris. Seperti tau monster seperti Jones akan melakukan apa terhadapnya.
"Kau takkan pernah tau siapa bosku," kata pria itu terus meronta-ronta berusaha melepaskan diri.
"Aku hanya disuruh balas dendam kepadamu, dan kalian harus menganti ganti rugi apa yang telah kalian perbuat," lanjut Jones.
Tertawa. Pria itu malah tertawa terbahak-bahak mengejek ucapan Jones. "Aku takkan sudi menganti kerugian yang tidak ku lakukan. Bedeba sialan itu dan temannya yang seharusnya ganti rugi."
Jones menyibak karung bekas tepung itu. Mengeluarkan satu tikus yang ternyata ukurannya cukup besar. Ia menyeringai, menatap pria itu dengan tatapan mengerikan.
"Kau pernah menonton film fast and furious?" Meletakan tikus di atas perut yang sudah tak berbusana lagi. Entah sejak kapan Ken sudah melucuti pakaian pria itu. "Bagaimana kita bermain ala film fast and furious?"
"Bajing*n, kau gila. Lepaskan aku!" Meronta. Mengeliat, terus hingga tangan terjerat borgol memerah dan melepuh.
Kembali, Jones mengayunkan tangannya. Kali ini, Tony bergerak mengambil tempat es biasa untuk menyimpan minuman beralkohol yang terbuat dari besi berukuran sedang. Jones meraihnya dan langsung menutup tikus yang berada di atas perut pria tersebut, sehingga tikus itu tak memiliki akses jalan keluar.
"Tikus itu akan menggerogoti perut mu untuk menemukan jalan keluarnya." Ken yang memegangi borgol tertawa cukup keras. Sementara keenam orang lainnya yang masih tersungkur tepat di belakang Ken, diam seribu bahasa. Tak meronta, mengeliat, atau berusaha meminta tolong. Mereka diam, menunggu giliran sambil berdoa di dalam hati agar dewi Fortuna menyelamatkan.
__ADS_1
Cit... Cit... Cit...
Suara cicitan tikus terdengar menggelitik telinga. Jones duduk diam sambil menyalahkan tembakau gulungnya. Sementara Tony dengan penuh nafsu menekan tempat es diatas perut pria itu agar tikus di dalamnya tak bisa keluar. Ia menyeringai, mengejek pria itu dengan senyuman mengerikannya.
"Ah, sakit! Mereka mulai menggigit perutku."
Jones tetap diam.
Ken semakin tergelak, diikutin dengan seringai Tony menatap sarkasme kepada keenam orang yang duduk saling bersedekap.
"Jones kau gila! Bajing*n sialan, Ah. Tikus ini terus mengigit perut ku."
Peluh dan buliran airmata keluar berbarengan. Tak lagi memperdulikan gengsi kepada keenam rekan lainnya. Sakit yang menjalar itu mendera tak hanya di perut yang mungkin sudah robek akibat gigitan tikus, tapi juga seluruh tubuhnya. Ia meringis, mengumpat dan terus menyumpahi Jones dengan kata-kata kasar. Tanpa mau meminta maaf dan mengamini permintaan Jones untuk menganti rugi apa yang terjadi.
Hingga lima menit kemudian, akhirnya pria itu menyerah dan mau menganti kerugian termasuk membayar Leo dan temannya Rendy. Tony yang masih bernafsu melihat pria itu tersiksa dengan berat hati membuka tempat es. Darah langsung mengalir begitu deras. Perut itu sudah terbuka parah. Tikus Kotor dan menjijikan menginjak luka terbuka itu. Tony menyeringai penuh kemenangan.
"Tulis dua puluh ribu poundsterling." Jones melemparkan setumpuk cek kepadanya.
Pria yang sudah di lepaskan ikatan dan borgolannya itu meringis, beringsut bangkit sambil menekan luka terbuka di perutnya.
Matanya mendelik lebar kearah Jones. Seperti kembali menabuh genderang peperangan lagi.
"Kau mau merampok ku, huh?" Protes pria itu.
"Tidurkan lagi. Biar tikus berikutnya yang memberikan dia pelajaran."
"Tidak... Tidak." Mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah. "Aku akan memberikanmu dua puluh ribu poundsterling."
Jones menyeringai, melepaskan kedua sarung tangan karetnya dan melangkah keluar menuju kamar yang di tempati Leo dan Shena.
TO BE COUNTINUE....
__ADS_1